Terjerat Cinta Segitiga Kakak

Terjerat Cinta Segitiga Kakak
Mencari jalan kabur


__ADS_3

Keesokan harinya, semua penghuni rumah di kejutkan dengan penampilan Rey yang sudah tampak rapi mengenakan setelan jas yang biasa dikenakan untuk bekerja.


Rey tak menghiraukan tatapan aneh dari orang-orang yang saat ini tengah duduk di meja makan.


"Kak Rey? Tumben Kak Rey mengenakan pakaian itu. Mau kemana pagi-pagi sekali?" Melodi lebih dulu bertanya.


Rey merasa terkesan karena mendapat perhatian dari Melodi, "Aku memutuskan untuk mencari kegiatan selama berada disini. Hanya berdiam diri di rumah ternyata sangat membosankan sekali." Jawab Rey sambil merapikan dasinya yang tidak berantakan.


"Kegiatan apa maksudmu? Apa kau ingin melamar pekerjaan?" Tanya Hito.


Rey menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan betapa bodoh nya pertanyaan Hito, "Ayolah Hito! Tidak mungkin orang seperti aku melamar pekerjaan. Lagi pula aku hanya berniat membantu Mentari bekerja di rumah sakit." Rey menjawab dengan percaya diri.


"Apa-apaan? Kau memutuskan sesuatu sesuai keinginan mu tanpa meminta izin terlebih dahulu!" Hito tiba-tiba marah sampai tak sadar menggebrak meja di hadapannya.


Hito menyadari telah bersikap berlebihan ketika Kakek Mahendra menatapnya, "Maaf, Kakek!" Hito meminta maaf atas kesalahannya kemudian mengatur nafasnya agar emosinya lebih terkontrol.


"Sepertinya, Rey bisa jadi alasan, agar Hito menyadari perasaannya terhadap Melodi." Batin Mahendra setelah melihat reaksi Hito barusan.


Mahendra langsung memiliki ide yang ingin Ia jalankan, "Menurut Kakek, itu tidak buruk! Melodi, Biarkan Rey membantu pekerjaan mu di Rumah Sakit! Setidaknya dia bisa membantu merapikan management disana." Ucap Mahendra kepada Melodi.


Melodi menganggukkan kepalanya, "Baiklah! Jika Kakek saja sudah setuju, maka aku tidak keberatan." Jawab Melodi.


Rey tersenyum Lebar kemudian menjulurkan lidahnya kearah Hito, membuat Hito ingin sekali mumukul kepalanya, jika saja disana tidak ada Kakek Mahendra.


Melodi bangkit dari tempat duduknya, "Kakek, aku sudah selesai sarapan dan akan berangkat bekerja." Melodi berpamitan kepada Mahendra, kemudian kepada Rey, "Kak Rey, aku duluan ya!"


Rey segera bangkit dan meninggalkan piring yang berisi sandwich nya, "Tunggu! Mulai sekarang, kita bisa berangkat bersama dan kau tidak perlu menyetir mobil bukan?" Rey menawarkan tumpangan kepada Melodi.


Sebelum Melodi menjawab, Hito kembali berkata, "Kau belum sarapan Rey, biarkan Melodi berangkat lebih dulu, atau dia akan terlambat jika menunggu mu selesai sarapan."


"Tidak apa-apa, aku bisa sarapan di kantin rumah sakit nanti. Kakek, Hito, aku dan Melodi pergi dulu." Tanpa menghiraukan raut wajah Hito yang tampak kesal, Rey berjalan menyusul Melodi.


Hito yang telah kehilangan selera makannya segera berpamitan kepada Mahendra, "Kakek, aku pergi dulu." Pamit Hito.


Mahendra mengangguk sambil menahan tawanya. Setidaknya saat ini Mahendra yakin Hito sedang merasakan cemburu karena Rey berusaha mendekati Melodi.

__ADS_1


***


Kondisi Feli sudah mulai pulih karena Albert merawat nya dengan baik. Hari ini Albert berangkat bekerja dan Feli di tingglkan dengan seorang perawat dan beberapa pelayan yang bekerja di rumh itu.


Feli mendekati jendela kamarnya. Dari jendela itu, Feli hanya bisa melihat taman yang cukup luas. Jarak rumah dengan gerbang masuk memang lumayan jauh.


Feli sedang mencari ide agar bisa kabur dari tempat itu.


"Sepertinya hari ini Albert tak akan datang. Aku harus mencari jalan untuk keluar dari tempat ini." Gumam Feli.


Tanpa meminta izin kepada perawat yang menjaganya selama dua puluh empat jam, Feli hendak membuka pintu kamar untuk keluar, akan tetapi tentu saja perawat itu menghentikannya.


"Nona! Anda mau kemana?" Tanya perawat.


Feli mendengus kesal, "Apa aku harus meminta izin pada mu, kemana aku ingin pergi?" Jawab Feli dengan arogan.


"Tentu saja Nona. Anda tidak boleh keluar tanpa seizin Tuan."


"Hei..dengarkan aku! Aku ini calon istrinya dan aku sedang mengandung anaknya. Jika kau bersikap tidak sopan, aku akan melaporkan mu kepada Tuan mu. Apa kau ingin kehilangan perkerjaan?" Feli mengeluarkan kata-kata ancaman kepada sang perawat.


Perawat itu menggelengkan kepalanya, "Saya tidak ingin kehilangan pekerjaan saya Nona, untuk itu, saya tidak akan membiarkan Anda keluar tanpa seizin Tuan Albert. Karena itu yang Tuan perintahkan kepada saya." Jelas perawat.


”Sepertinya aku harus memakai cara halus." Gumam Feli dalam hati.


Feli berusaha merubah sikapnya dan tersenyum kepada perawat.


"Suster, aku minta maaf karena telah mengancam mu. Tapi, bisakah kau menolongku sekali ini saja? Aku sangat bosan dan ingin berjalan-jalan di taman sambil mencari udara segar. Bukankah untuk seorang Ibu hamil tidak baik jika hanya berdiam diri di kamar?" Feli berusaha merayu perawat dan merubah sikapnya seratus delapan puluh derajat di hadapan perawat itu.


"Baiklah, Nona. Saya akan menghubungi Tuan Albert dan meminta izin untuk Anda." Jawab perawat. Feli pun mengangguk setuju.


Mata Feli berbinar ketika ia mengetahui Albert telah memberi nya izin. Feli segera mengenakan baju hangat yang di berikan oleh perawat dan cepat-cepat keluar dari kamarnya.


Feli cukup terkejut ketika mengetahui Albert meminta perawat dan dua orang pengawal untuk menjaganya.


"Kau akan ikut? Dan para pengawal bertubuh besar itu? Apa mereka akan membututi ku juga?"

__ADS_1


"Benar Nona. Jika Anda keberatan, Anda bisa mengurungkan niat Anda untuk berjalan-jalan di luar." Jawab perawat dengan tegas.


Dasar singting! Albert benar-benar sudah gila!


"Psikopat itu pasti sudah menduga aku akan berusaha kabur. Baiklah! Tak masalah mereka mengikuti ku. Setidaknya aku bisa melihat-lihat dulu dan mencari jalan untuk kabur." Gumam Feli dalam hati.


.


.


.


.


Feli tampak senang ketika ia telah memiliki gambaran untuk jalan keluar dari tempat yang saat ini mengurung nya. Ia berniat akan pergi esok hari ketika para pelayan masih tertidur.


"Hito, tunggu aku! Aku berjanji akan berusaha pergi dan kembali kepada mu!" Janji Feli pada dirinya sendiri.


Setelah menghabiskan makan malamnya, Feli bergegas untuk tidur. Ia tak boleh terlambat bangun karena ia hanya memiliki kesempatan ketika para pelayan yang menjaga nya tertidur lelap.


"Suster, aku akan tidur cepat karena sepertinya aku mulai tidak enak badan lagi. Malam ini, kau bisa tidur di kamar mu. Aku akan menghubungi mu jika membutuhkan sesuatu."


"Tidak, Nona! Saya akan tidur di sofa. Anda bisa beristirahat kapan saja Anda mau." Jawab suster.


"Dasar! Keras kepala sekali dia? Bagaimana aku bisa membunyikan alarm jika dia tidur di sofa kamar ku?" Batin Feli.


Feli mencari cara agar suster itu lengah dan tak akan mengganggu rencananya. Sampai akhirnya Feli memiliki suatu ide.


"Suster, aku sedang ingin minum jeruk hangat. Bisakah kau membuatkan nya untuk ku?" Pinta Feli.


"Baik Nona, saya akan membuatnya untuk Anda."


Feli tersenyum lebar. Setelah suster itu meninggalkan kamarnya, Feli mencari obat tidur yang biasa ia konsumsi kemudian melarutkan ke dalam botol minuman milik suster yang terletak di meja kecil disebelah sofa tempat suster tidur.


"Dengan obat tidur ini, suster itu akan tidur sampai siang hari. Dan aku bisa kabur dari sini." Gumam Feli sambil tersenyum senang.

__ADS_1


***


Bersambung..


__ADS_2