
Melodi tengah duduk di ruang tunggu yang di sediakan untuk keluarga pasien yang di rawat di ruang president suite rumah sakit tersebut. Entah kenapa ketika Hito menggoda nya di depan Kakek Mahendra Melodi begitu kesal dan ingin marah, mungkin karena selama ini Melodi memang sedang menahan perasaan kesalnya kepada Hito, karena Kakak angkat nya itu tidak pernah menghubungi nya selama satu tahun ini walaupun hanya untuk menanyakan kabar.
"Melo, apa kau marah kepadaku?" Tanya Hito yang baru saja tiba menyusul Melodi.
"Untuk apa aku marah? bahkan ketika Kakak tidak pernah menghubungi ku selama satu tahun ini, walaupun hanya menanyakan kabar ku saja, aku tidak marah." Jawab Melodi.
"Benarkah? bukankah dengan berbicara seperti itu artinya kau sedang protes dan marah karena aku tidak pernah menghubungi mu?" Hito terkekeh dan kembali menggoda Melodi.
"Kakak!" Melodi melebarkan matanya dan mendengus kesal karena Hito mengatakan yang sebenarnya, ada rona merah di tulang pipi Melodi yang akhirnya berhasil ia sembunyikan.
Hito menghela nafas panjang, "Maafkan aku Melo, akhir-akhir ini aku sangat sibuk dengan pekerjaan ku dan..."
"Dan Kak Feli?" Melodi melanjutkan kalimat Hito yang belum selesai.
Hito menatap Melodi, termenung sejenak karena memang selama ini tanpa ia sadari, selain karena mengurus pekerjaan nya yang berat, Hito nyaris tidak ada waktu untuk Kakek Mahendra dan Melodi hanya karena Feli yang banyak mau nya, dan mengharuskan Hito menurutinya karena rasa bersalah yang ia rasakan terhadap kekasihnya itu.
Melihat reaksi Hito yang tak membantah tuduhan nya, Melodi mengerti bahwa dugaannya selama ini benar. Hito terlalu sibuk untuk menghabiskan waktu bersama kekasihnya sehingga melupakan dirinya dan juga Kakek Mahendra.
Melodi menghela nafas sedikit panjang, " Kakak, maafkan aku, tak seharusnya aku marah kepada Kakak, jika Kakak bahagia dengan menjalani itu semua, aku sangat bersyukur. Lagi pula sebentar lagi, aku akan kembali tinggal bersama Kakek, jadi Kakak tidak harus memikirkan Kakek, aku berjanji akan merawat Kakek dengan baik." Melodi tersenyum lembut kearah Hito, menyadari tak seharusnya ia bersikap posesif kepada Kakak angkat nya, terlebih lagi jika itu menyangkut kehidupan pribadinya, toh suatu saat nanti mereka akan di sibukan dengan keluarga masing-masing ketika mereka sudah sama-sama berumah tangga.
Bukannya lega melihat sikap Melodi yang sudah membaik, Hito malah terpaku dan pertanyaan-pertanyaan itu seakan berlarian di kepalanya.
__ADS_1
Benarkah aku bahagia? apa Feli lebih penting dari Melodi dan Kakek yang selama ini hidup satu rumah bersama ku dan merawat ku?
"Aku rasa ini semua yang dirasakan Feli, ketika Paman Leo lebih mementingkan keluarga Kakek dibandingkan keluarganya sendiri. Bukankah ini adil?" Lirih Hito setelah Melodi beranjak meninggalkan nya dan hendak ke ruang perawatan Kakek Mahendra.
***
Tiga hari kemudian Kakek Mahendra sudah si perbolehkan untuk pulang, Melodi dan Paman Leo yang mengurus kepulangan Kakek Mahendra, dikarenakan Hito menelepon dan mengabari dirinya memiliki urusan penting di kantornya, sehingga tidak bisa ikut menjemput kepulangan Kakek Mahendra.
"Kakek, besok aku akan kembali untuk menyelesaikan urusan kuliahku, kali ini tidak akan lama, karena aku hanya tinggal menjalani acara kelulusan saja." Ujar Melodi.
Kakek Mahendra mengangguk dan menyampaikan rasa penyelesalannya karena tidak bisa menyaksikan acara kelulusan Melodi, padahal Ia ingin sekali datang ke acara itu jika saja kondisinya lebih baik.
"Tidak apa-apa Kakek tidak bisa hadir, aku akan minta Bi Irah memegang kamera dan mengabadikan acara itu, dan Kakek bisa melihatnya melaluinya video." Melodi menghibur Kakek Mahendra dengan tersenyum lembut penuh pengertian.
Melodi memeluk Mahendra, kemudian berkata lirih, "Kakek, aku hanya ingin Kakek sehat dan hidup lebih lama untuk terus mendampingi ku"
Mahendra membalas pelukan Melodi dan mengelus lembut rambutnya. Mahendra bisa merasakan punggung Melodi bergetar karena menangis. Tidak ada hal yang lebih menenangkan Mahendra selain bisa memeluk Melodi yang penuh kasih sayang dan perhatian kepadanya. Hal itu membuat Mahendra semakin yakin, tidak ada wanita yang bisa mendampingi Hito sebaik Melodi.
Kakek Mahendra merasakan panas di pupil matanya, membuat butiran air mata seketika jatuh dan melintas di pipinya yang mulai keriput, ia menangis tanpa suara menahan haru dan rasa syukur karena Tuhan memberikan nya hadiah seindah Melodi.
***
__ADS_1
Sepulangnya Hito dari Kantor, Feli tiba-tiba sudah menunggunya di depan mobil yang sudah terparkir rapi oleh petugas valet di depan lobi utama.
"Sayang, aku menunggumu dari satu jam yang lalu, kenapa kau lama sekali dan terlambat pulang?, aku sudah lapar dan ingin kita makan malam bersama, dan karena kemarin kau membatalkan acara makan siang kita secara sepihak, kali ini aku tidak ingin mendengar penolakan lagi". Feli merajuk kepada Hito dengan segala triknya yang biasanya membuat Hito tidak bisa menolak ajakannya.
"Tapi, Kakek akan pulang dari rumah sakit, aku harus ikut menjemputnya". Jawab Hito.
Feli berdecak kesal, kemudian tiba-tiba ia memiliki senjata untuk mematahkan alasan Hito menolaknya. "Bukankah sudah ada Ayah ku yang menjemput Kakek mu? Kalau saja Ayah ku tidak sibuk mengurusi Keluarga mu, mungkin aku bisa menghabiskan makan malam bersama keluarga ku yang utuh di rumah." Wajah Feli berubah menjadi sedih dan minta dikasihani.
Hito bisa melihat raut kesedihan di wajah Feli, akhirnya memutuskan untuk menghubungi Melodi dan memberitahukan dirinya masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan sehingga tidak bisa ikut menjemput Kakek Mahendra di rumah sakit.
Feli tersenyum senang, karena lagi-lagi Hito masuk kedalam perangkapnya. Mereka akhirnya berangkat bersama-sama menuju restoran mewah yang biasa mereka datangi untuk makan malam berdua.
Makan malam kali ini harus Hito selesaikan secepat mungkin, karena ia harus segera pulang dan menemui Kakek Mahendra dan Melodi yang besok akan kembali ke luar negeri untuk mensiapkan acara kelulusannya, "Feli, aku udah selesai, ayo aku antar kau pulang?" Ajak Hito
Feli memang sudah menghabiskan makan malam nya, akan tetapi ia tidak berniat pulang secepat itu, ia ingin bersama Hito lebih lama, misalnya berjalan-jalan dulu di taman, tau belanja di mall, bahkan mereka bisa menghabiskan malam di kelab untuk bersenang-senang.
"Pulang? apa kita akan langsung pulang?" Tanya Feli.
Hito menganggukkan kepalanya kemudian memanggil pelayan untuk meminta tagihan yang harus ia bayar. Hito lebih dahulu bangkit dari tempat duduknya dan tak memberi kesempatan untuk Feli merengek untuk meminta tinggal lebih lama.
Feli berdecak kesal, tapi ia juga tidak bisa memaksakan kehendaknya atau mengeluarkan kata-kata senjatanya terus menerus untuk mengikat Hito, ia harus lebih menahan diri kali ini, dan mengikuti keinginan Hito untuk segera pulang.
__ADS_1
Bersambung...