
Malam itu, Melodi sengaja menunggu Hito yang hingga larut malam. Ia berencana ingin memberitahukan rencananya untuk masuk sekolah kedokteran di luar negeri. Waktu menunjukkan pukul 11.00 malam, suara mesin mobil sport Hito baru terdengar parkir di halaman rumah.
Melodi membuka pintu rumah sebelum Hito melakukan nya, "Melo, kau sedang apa?, kenapa belum tidur? apa kau menunggu ku?" Rentetan pertanyaan yang di lontarkan Hito kepada Melodi yang berdiri di depan pintu.
"Kakak, akhir-akhir ini kau sibuk sekali. Ada hal yang ingin aku beritahukan kepada Kakak, untuk itu aku menunggu Kakak pulang kerja." Sahut Melodi.
Hito mengerutkan dahi nya, merasa yang ingin di sampaikan Melodi merupakan sesuatu yang penting. " Baiklah, tunggu aku di kamar mu, aku akan menemui mu setelah aku membersihkan diri dan berganti pakaian terlebih dahulu." Jawab Hito yang merasa badannya begitu lengket dan ingin segera mandi.
Melodi menuruti Hito dan pergi ke kamar nya.
Beberapa saat kemudian, Hito yang sudah mengenakan pakaian santai nya dan terlihat lebih segar dari ketika ia baru tiba di rumah, mengetuk pintu kamar Melodi yang tertutup tetapi tidak di kunci.
"Masuk Kak!, pintu nya tidak di kunci!" Seru Melodi yang sedang duduk di tepi kasur sambil bermain ponsel.
.
.
__ADS_1
.
.
Hito masuk dan menghampiri Melodi, kemudian ia berkata, "Jadi, hal penting apa yang ingin kau sampaikan kepada ku?" Tanya Hito yang kini sudah duduk disamping Melodi.
"Kakak, aku akan kuliah kedokteran di luar negeri, dan Kakek sudah menyetujuinya." Melodi langsung pada pokok masalah yang ingin ia beritahukan kepada Hito.
"Apa?, kau bilang apa? kuliah di luar negeri?" Hito tersontak kaget mendengar orang yang sejak kecil sudah ia anggap sebagai adik kandungnya berencana tinggal di luar negeri.
"Apa kau marah kepada ku, karena akhir-akhir ini aku hanya sibuk bekerja dan tidak memiliki waktu untuk menemani mu berjalan-jalan di taman? kalau itu masalah nya, besok aku akan mengambil cuti, dan kita bisa jalan-jalan menghabiskan waktu bersama seharian. Kau juga boleh meminta ku membelikan mu apapun yang kau mau, aku sudah memiliki cukup uang dari hasil kerja ku untuk mentraktir mu belanja di Mall". Hito mencoba membujuk Melodi untuk merubah rencananya.
"Tidak Kakak, dengarkan aku!, kenapa kau terus berbicara?, bukankah aku yang ingin Kakak mendengarkan ku?" Melodi mendengus kesal karena Hito tidak memberikan nya kesempatan untuk melanjutkan perkataannya.
"Baiklah, jadi apa yang membuat mu mengambil keputusan seperti itu? dan aneh sekali kenapa Kakek menyetujui nya?" Hito mengetkan dahinya, memikirkan jawaban atas pertanyaan nya sendiri.
"Kakak, aku karena prestasi ku di sekolah, aku mendapatkan beasiswa kuliah kedokteran di luar Negeri. Awalnya Kakek tidak mengizinkanku. Tetapi aku rasa Kakek berubah pikiran. Akhirnya Kakek memberiku izin sekolah di luar negeri, dengan syarat baku harus masuk universitas kedokteran terbaik disana, dan Kakek yang akan membayar semau biayanya." Melodi tampak bersemangat ketika menceritakan nya kepada Hito.
__ADS_1
"Bukankah itu artinya kau akan meninggalkan Kakak dan Kakek yang menyayangi mu disini?" Giliran Hito yang mendengus kesal sambil mengerucutkan bibirnya nya.
"Kakak, kenapa kau sama saja seperti Kakek? kalian pikir, aku akan meninggalkan selamanya?, tentu saja aku akan kembali setelah beberapa tahun, dan aku telah menjadi seorang dokter handal yang bisa kalian banggakan. Bukankah selama ini kalian selalu menganggap ku gadis kecil?" Bukannya merayu Hito yang sedang marah, Melodi malah berbalik menunjukan dirinya yang sedang kesal.
"Kau ini, selalu seperti itu!, sekarang aku mengerti kenapa Kakek sampai memberi mu izin. Baiklah, kapan kau akan berangkat ke luar negeri?".
"Syukurlah jika Kakak memahami keputusan ku juga. Lagi pula Kakak sudah ada Kak Feli yang akan menemani mu, jadi Kakak tidak akan merasa kesepian." Ujar melodi yang mengingat Kakak nya sudah memiliki Feli sebagai kekasih nya.
"Kau ini gadis kecil, tau apa tentang kekasih dan rasanya kesepian?" Hito menarik nafas panjang, "Tentu akan sangat berbeda, karena kau memiliki posisi sendiri dalam hidupku." Hito mengelus lembut ujung kepala Melodi dan menyenderkan kepala nya di bahu nya.
"Melo, apa kau akan memiliki kekasih juga?" Tiba-tiba pernyataan itu terlontar dari mulut Hito.
Melodi mengangkat kepalanya dari bahu Hito, kemudian terlihat sedang berfikir, "Entahlah, aku belum memikirkannya. "Mungkin, jika suatu saat aku bertemu dengan laki-laki sebaik Kakak, aku akan menjadikannya sebagai kekasih ku." Jawab Melodi sambil menunjukan gigi rapi nya.
"Benarkah? jika begitu kau tidak akan pernah memiliki kekasih, karena akan sulit sekali menemukan laki-laki sebaik dan setampan diriku." Hito menggoda Melodi sambil mengusap kasar ujung kepala gadis itu.
"Kakak, kau tega sekali menyumpahiku tidak akan memiliki kekasih. Keluarlah, aku sudah mengantuk dan ingin tidur !" Melodi menarik dan mendorong tubuh Hito sampai keluar dari pintu. Membuat Hito terkekeh karena telah berhasil mengerjainya.
__ADS_1