
Dinginnya udara pagi tak menyurutkan langkah Melodi untuk bangkit dan keluar dari jeratan selimut tebal yang menghangatkan tubuh. Hari ini adalah hari terakhir nya merawat Kakek Mahendra sebelum ia kembali, sudah pasti harus ia pergunakan untuk memastikan pria sepuh kesayangannya
itu di tinggalkan dalam kondisi baik-baik saja.
"Selamat pagi Kakek, apa Kakek sudah lebih baik?" Melodi menyapa Kakek Mahendra yang baru saja membuka matanya karena merasa sesuatu menyilaukan pupil matanya setelah tirai jendela besar di kamarnya di buka oleh Melodi.
"Kakek sudah lebih baik" Sahut Kakek Mahendra dengan suara masih sedikit parau.
"Maaf harus membangunkan Kakek sepagi ini, karena Kakek harus sarapan dan minum obat! sebentar lagi Bi Irah akan membawakan bubur untuk Kakek, dan sekarang aku akan mengecek kembali tekanan darah Kakek hari ini." Melodi menunjukkan sebuah alat tensi darah yang akan ia gunakan untuk memeriksa tekanan darah Kakek Mahendra.
Melodi mengerutkan dahi ketika melihat tekanan darah Kakek Mahendra, "Seratus lima puluh per sembilan puluh. Masih agak tinggi Kek, tapi jauh lebih baik dari kemarin, apa Kakek masih merasakan sakit kepala?"
Kakek Mahendra menggelengkan kepalanya, "Kakek sudah bilang, hari ini Kakek sudah jauh lebih baik".
Melodi tersenyum lembut dan memang merasa kondisi Kakek Mahendra hari ini memang jauh lebih baik.
Karena Kakek sudah jauh lebih baik, aku akan mengatakan rencana ku dan Kakak untuk pergi bersama kepada Kakek.
Sebelum Melodi sempat membuka mulutnya untuk memberitahukan rencananya dan Hito, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dan membawakan semangkuk bubur untuk Kakek Mahendra.
"Kakak, kenapa kau yang membawa bubur dan bukan Bi Irah?" Melodi bertanya kepada Hito yang baru saja masuk dengan membawa nampan berisi satu mangkuk bubur dan satu gelas air putih di atasnya.
"Aku bertemu Bi Irah ketika akan membawakan ini, karena aku memang berniat mengunjungi Kakek, jadi aku ambil alih tugas Bi Irah untuk mengantarkan bubur." Sahut Hito
__ADS_1
Mahendra lagi-lagi hanya bisa terkekeh melihat tingkah mereka berdua, di mata Mahendra, Hito bisa menjadi orang yang berbeda setiap kali Melodi berada di dekatnya. Seseorang yang memiliki kepribadian lebih baik dan hangat.
"Jadi, sebetulnya apa yang ingin kalian sampaikan pada Kakek?" Mahendra bisa menebak ada sesuatu yang ingin mereka sampaikan ketika Mahendra secara tidak sengaja melihat mereka saling melempar pandangan.
Hito tersenyum canggung dan memberi isyarat kepada Melodi agar ia yang menyampaikan maksud mereka kepada Kakek Mahendra.
Melodi memutar bola matanya tak terima karena Hito selalu menjadikan nya tumbal jika sesuatu yang berhubungan dengan Kakek Mahendra.
"Kakek, seperti Kakek tahu, aku akan kembali ke luar negeri hari ini untuk menghadiri acara kelulusan ku disana, dan..."
"Dan kalian akan pergi bersama bukan?" Mahendra menyelesaikan Kalimat Melodi yang belum selesai.
Hito mengalihkan pandangannya sambil bersiul pelan seakan tidak ingin ikut campur dengan pembicaraan mereka berdua.
Melodi berdecak kesal melihat tingkah Hito, kemudian ia kembali menatap Mahendra dan mengangguk pelan, membenarkan tebakan Kakek Mahendra.
Mahendra tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa, membuat Hito dan Melodi sama-sama mengerutkan dahi menatap nya.
Hito dan Melodi sungguh tidak mengetahui, kali ini Kakek Mahendra begitu bahagia karena mereka akan pergi bersama, tentu saja hal itu akan membuat mereka semakin dekat dan akan sangat membantu memperlancar rencananya untuk menjodohkan mereka berdua. Tapi tentu saja Mahendra tidak bisa mengatakan yang sebenarnya sebelum waktu nya tepat.
Mahendra menghentikan tawanya ketika menyadari kedua cucunya itu sedang menatap heran kearah nya. "Maafkan Kakek, kalian cucu-cucu ku sungguh menggemaskan. Tentu saja Kakek mengizinkan kalian. Kakek akan minta Leo menyiapkan jet pribadi untuk mengantar kalian. Dan kau Hito, kau bisa menyerahkan seluruh pekerjaan mu di tangan Leo, dia dan asisten mu akan menangani semuanya dengan sangat baik. Pergilah, dan jangan lupa untuk berlibur beberapa hari disana!" Tanpa di duga, Kakek Mahendra mendukung rencana mereka, bahkan membantu menyediakan beberapa keperluan mereka selama disana.
"Kakek, aku menyayangimu..muah!" Melodi menghadiahkan ciuman di pipi Kakek Mahendra kemudian memeluknya sebagai tanda syukur.
__ADS_1
Hito kembali merasakan kehangatan yang menjalar di hatinya melihat kedekatan antara Melodi dan dan Kekak Mahendra. Kedekatan yang tidak bisa ia berikan kepada Kakek Mahendra meskipun Hito adalah cucu kandung nya.
Sungguh hari itu seperti hari baru setelah beberapa tahun mereka di tinggalkan oleh Melodi. Setelah mereka menjalani hari-hari yang membosankan akhirnya dengan kembalinya Melodi bersama mereka, kebahagiaan itu jelas terpancar di hati orang-orang yang berada di sekitarnya.
Semoga kalian menemukan cinta kalian disana, bukan cinta yang dirasakan oleh kakak beradik, melainkan cinta yang Tuhan anugerah untuk kedua pasangan yang akan mengikat janji sehidup semati. Cinta yang akan mengikat kalian dalam jalinan hubungan suami istri.
"Kalian, kedua cucuku, harta berharga ku, tetaplah hidup berdampingan meskipun aku sudah tidak ada di dunia ini!" Gumam Kakek Mahendra dalam hati.
***
Feli masih di penuhi perasaan emosi karena sejak semalam Hito sama sekali tidak menjawab panggilan teleponnya. Saat ini dirinya sedang dalam perjalanan untuk memui Hito di kantornya. Alangkah terkejutnya Feli ketika ia tiba di kantor Hito dan mendapatkan kabar Hito mengambil cuti untuk beberapa hari.
"Pergi ke luar negeri kata mu?" Tanya Feli kepada seorang sekretaris dengan nada tak percaya.
Sejak dulu, sekretaris Hito memang tidak menyukai Feli, jadi ketika melihat Feli bagai seorang kekasih yang di acuhkan, sekretaris itu merasakan kebahagiaan nya tersendiri, dan berniat akan semakin memanasi nya.
"Apa Tuan Hito tidak memberitahu anda, kekasihnya, bahwa beliau akan pergi ke luar negeri selama beberapa hari?" Sekretaris itu sengaja menekan kata kekasihnya untuk lebih mengejek Feli.
"Ah, tentu saja aku tahu, kenapa kau berpikir Hito tidak memberi tahu ku? Tentu saja dia mengabariku, bahkan ingin mengajak ku pergi, tapi karena aku terlalu sibuk, jadi aku tidak bisa ikut." Menyadari akan sangat memalukan jika sekretaris sialan itu menganggapnya sebagai kekasih yang terabaikan, Feli kemudian berbohong dan mengarang cerita sendiri dengan penuh keyakinan.
"Oh begitu? syukurlah Nona, dan apa Tuan Hito juga bilang kalau kepergiannya kali ini untuk menghadiri acara kelulusan Nona Melodi?, mereka kesana menggunakan jet pribadi, berdua dan...."
"Diam...., Hentikan mulut mu!" Feli menyela perkataan sekretaris itu dengan membentaknya, sungguh Feli tidak bisa tahan membayangkan kepergiannya Hito kali ini bersama Melodi dan menggunakan fasilitas mewah yang seharusnya ia dapatkan sebagai kekasihnya.
__ADS_1
Feli meninggalkan sekretaris itu dengan marah, membuat yang di tinggalkan tak bisa menahan diri untuk mentertawakan nya.
Bersambung...