Terjerat Cinta Segitiga Kakak

Terjerat Cinta Segitiga Kakak
Kalung bersejarah


__ADS_3

Mahendra meminta Melodi tinggal, karena ada sesuatu hal yang hendak Kakek Mahendra sampaikan kepada Melodi.


"Sayang, duduklah!" Setelah menyuruh Melodi duduk di tepi ranjangnya, Mahendra kemudian mengambil sesuatu yang di simpan di brangkas miliknya.


Kakek Mahendra tampak membawa sebuah kotak berukuran kecil berwarna putih yang kemudian ia serahkan kepada Melodi.


"Apa ini Kek?" Tanya Melodi.


"Bukalah!" Mahendra meminta Melodi membuka kotak di tangannya.


Melodi membuka kotak tersebut. Ada sebuah kalung emas dengan liontin berbentuk setengah hati. "Kalung ini? apa kalung ini milik istri Kakek?" Tanya Melodi.


Kakek Mahendra menggelengkan kepala, "Bukan! kalung itu milik mu. Satu-satunya benda yang bisa menjadi jejak identitas mu selama ini yang tidak kita ketahui."Jawab Kakek Mahendra.


Tangan Melodi bergetar, ia menggenggam erat kalung di tangan nya. Meskipun selama ini ia tidak mempertanyakan identitasnya, tetapi dalam hati kecil Melodi sangat menginginkan bertemu dengan keluarga asli nya. Melodi sering bermimpi, dirinya yang masih belia sedang berlarian di sebuah taman penuh bunga, ada seorang anak laki-laki yang mengejar nya dengan suka cita. Mereka berdua seperti memiliki ikatan yang kuat. Melodi melihat sosok itu seperti ia melihat Hito, sehingga dalam benak Melodi beranggapan anak laki-laki itu adalah saudara laki-lakinya.


Air mata Melodi menetes, besar kerinduan yang tengah Melodi rasakan saat ini. "Kakek, apa mungkin kalung ini diberikan keluarga ku kepada ku?" Tanya Melodi dengan suara parau karena hampir menangis.


Mahendra menghela nafas pelan, "Mungkin saja, sayang. Kakek ingin memberikan kalung ini sejak lama kepada mu. Akan tetapi, Kakek sangat takut." Mahendra menatap dalam Melodi, mata nya berkaca-kaca, tetapi dari tatapan itu, sangat nampak kasih sayang yang besar untuk wanita di hadapannya.


Melodi mengerutkan dahinya, "Apa yang Kakek takutkan?" Tanya Melodi.


"Kakek takut kau akan pergi meninggalkan Kakek setelah kau menemukan keluarga mu."Jawab Mahendra.


Melodi melihat Kakek Mahendra mulai menangis, gadis itu kemudian memeluk Kakek Mahendra dan berkata, "Kakek, kenapa Kakek masih meragukan ku? aku adalah cucu Kakek, dan sampai kapan pun akan selalu menjadi cucu Kakek. Berhentilah menangis, dan kontrol emosi Kakek!" Melodi mengusap air mata Mehendra kemudian menenangkan pria sepuh itu.


Melodi berusaha kembali tersenyum seperti tidak pernah terjadi sesuatu, "Kakek, jika Kakek mau, Kakek boleh menyimpannya! aku tak membutuhkan benda ini lagi karena aku sudah bahagia dengan kehidupan ku sekarang. Kakek dan Kakak adalah keluarga ku, dan akan selalu menjadi keluarga ku." Ujar Melodi.

__ADS_1


Meskipun Melodi sangat menginginkan kalung itu untuk ia simpan, tetapi ia tak sampai hati jika keinginan nya itu lantas melukai hati Kakek Mahendra.


Mahendra tersenyum bangga, ia begitu mengagumi kebesaran hati Melodi, "Tidak sayang, sudah saat nya Kakek mengembalikan benda milik mu ini. Kau boleh memakainya." Mahendra memakaikan kalung itu di leher Melodi.


Melodi tersenyum senang, ia tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya setelah Mahendra menyerahkan kalung itu.


"Terimakasih Kakek!" Melodi berterima dan memeluk erat Mahendra. Meski demikian keinginan Melodi mencari keluarganya semakin besar. Dengan kalung yang baru saja ia terima, Melodi yakin, suatu saat ia bisa menemukan keluarganya.


"Maafkan aku Kakek, aku berjanji, meskipun aku telah menemukan keluarga ku, aku tidak akan pernah berubah dan akan selalu menjadi cucu Kakek." Batin Melodi.


***


Akhir-akhir ini Hito tak bisa tenang menjalankan pekerjaan nya di kantor, ia masih mencari cara agar pernikahan nya dengan Melodi tidak sampai terjadi. Di tambah lagi dengan Feli yang terus-menerus datang mengganggu nya.


Feli kembali menemui Hito di kantor nya, dengan senyum manis ia menghampiri Hito ketika pemilik ruangan itu mempersilahkan nya masuk.


"Sayang, apa hari mu menyenangkan?" Sapa Feli.


Baiklah, aku akan pergi. Tapi setidaknya kau harus memakan bekal makan siang yang aku bawakan. Bukankah kau belum sempat makan siang?" Feli menaruh kotak makanan di meja Hito dan hendak menghidangkan nya.


Hito menahan tangan Feli. Tatapan Hito jelas merupakan tatapan tidak senang. Hito semakin sadar selama ini ia telah dibutakan oleh rasa iba, sehingga Hito bisa bertahan sangat lama dengan sikap Feli yang keras kepala dan tidak disukainya.


Melihat tatapan dingin Hito, Feli menyerah kemudiannya berkata, "Baiklah, aku akan meninggalkan kotak makanan ini, kau bisa memakannya ketika kau sudah tidak sibuk!" Ucap Feli.


Hito mengangguk tipis kemudian melemparkan tatapan nya kearah pintu, memberi tanda kepada Feli untuk segera meninggalkan ruangan itu.


Feli berdecak kesal, ia berbalik arah kemudian bergumam, "Dasar sialan! lihat saja ketika kau sudah menikah dengan ku nanti! Akan ku pastikan kau akan sangat mencintai ku dan tak ingin sedetikpun jauh dari ku."Gumam Feli.

__ADS_1


.


.


.


.


.


Albert kembali menemui Melodi di rumah sakit, pernyataan Feli tentang rencana pernikahan Melodi dan Hito terus saja mengganggu nya. Albert ingin memastikan kebenaran berita itu langsung dari mulut Melodi.


Melodi menyambut Albert dengan ramah seperti biasanya, "Albert? Masuklah!" Melodi mempersilahkan Albert untuk masuk.


Melodi hendak duduk di sofa tamu, sebelum duduk, Melodi membuka jas dokter nya terlebih dahulu. Alangkah terkejutnya Albert ketika dirinya melihat sebuah kalung yang sangat ia kenal saat ini tengah di kenakan oleh Melodi.


"Kalung itu? Melodi, darimana kau mendapatkan kalung itu?" Tanya Albert.


Melodi meraba kalung yang tengah ia kenakan, keningnya mengerut karena tiba-tiba Albert mempertanyakan kalung yang tengah ia kenalan, "Ah ini, kalung ini pemberian Kakek ku. Apa kau menyukainya? aku juga sangat menyukainya. Karena,..." Melodi tak menyelesaikan kalimatnya, karena ia tak ingin sampai menceritakan sejarah kalung itu kepada Albert.


"Kenapa Melodi tak menyelesaikan kalimatnya, apa ia tak ingin aku mengetahui dari mana sebenarnya ia mendapatkan kalung itu? aku sangat yakin jika kalung itu sama dengan kalung yang aku miliki dari peninggalan ibu. Tetapi jika benar, kenapa Melodi bisa mengenakkan? apa Melodi mengetahui keberadaan adik kandung ku?" Batin Albert.


Albert hendak bertanya lebih jauh, akan tetapi tiba-tiba ponsel Melodi berdering dan gadis itu tampak segera mengangkat panggilan di ponsel nya.


"Hallo Kakak?" Melodi menyapa Hito yang menghubungi nya di sambungan telpon seluler.


"Baiklah, aku akan segera kesana, tunggulah di tempat biasa!" Ucap Melodi kemudian.

__ADS_1


Melodi mematikan sambungan telponnya, kemudian ia kembali menyapa Albert, "Albert, maaf karena aku harus segera pergi. Kita bisa berbincang lain waktu, karena ada hal penting yang harus aku kerjakan!" Melodi berpamitan kepada Albert dan hendak menemui Hito.


Bersambung....


__ADS_2