
Semakin Matahari berada tinggi di atas kepala Mereka, suasana taman terlihat semakin ramai, Hito memperhatikan Melodi yang mulai kelelahan akhirnya memutuskan untuk mengakhiri kegiatan mereka berjalan-jalan di taman kota.
"Hari sudah siang, ayo kita pulang!" Hito meraih pergelangan tangan Melodi, lagi-lagi Feli berdecak kesal melihat pemandangan di depannya. Lalu menyela di tengah-tengah mereka, membuat tangan yang Hito pegang terlepas , "Ah..kau benar, sepertinya aku mulai lelah. Lebih baik kita pulang saja. Aku akan mencarikan taxi terlebih dahulu untuk mengantar Melodi." Feli yang berfikir Hito akan mengantarnya pulang berinsiatif mencarikan taxi untuk Melodi pulang.
"Taxi? kenapa Melo harus di antar taxi?" Hito mengerutkan dahinya.
"Bukankah kau akan mengantar ku?, jadi lebih baik kita mencarikan Melodi taxi terlebih dahulu." Ujar Feli.
"Tidak, Melo tidak pernah naik taxi, apalagi sendirian. Aku juga tidak akan membiarkan nya. Aku dan Melodi akan mengantarkan mu pulang terlebih dahulu, baru pulang bersama Melodi kerumah kami." Tegas Hito merasa geram dengan Feli yang seenaknya mengambil keputusan.
Meskipun Feli bertambah kesal, tetapi ia memilih hanya menganggukan kepala nya saja, karena bagaimanapun Feli bisa melihat Hito sama sekali tidak setuju dengan ide nya.
.
.
.
.
Feli duduk di kursi depan yang berdampingan dengan Hito, mendahului Melodi masuk kedalam mobil, Melodi tak mempermasalahkan hal itu, dan segera duduk di kursi belakang.
Sesampainya di depan gerbang rumah, Feli tampak enggan turun dari mobil, ia seperti tidak rela membiarkan kekasihnya pergi berdua dengan gadis lain. Akan tetapi ia berusaha menahan diri, dan berpamitan kepada mereka berdua.
"Terimakasih telah mengantar ku, Sampai Jumpa!" Feli hanya menatap Hito, tanpa menoleh orang yang berada di belakang nya.
Dalam jarak beberapa meter, Feli menghentikan langkahnya, dan memperhatikan mobil yang baru saja ia tinggalkan, terlihat Melodi yang turun dari mobil dan berpindah duduk ke kursi depan tempat Feli duduk sebelumnya.
__ADS_1
"Cih, kau anak kecil. Perlahan-lahan, aku akan menjauhkan mu dari kekasih ku. Lihat saja!" Dengus kesal Feli.
****
Di dalam mobil, Hito memperhatikan Melodi yang sejak tadi diam saja, " Melo, kau kenapa?, Apa kau sakit?". Tanya Hito
Melodi hanya menggelengkan kepalanya, membuat Hito semakin penasaran di buatnya.
"Mau aku antar ke rumah sakit?" Hito kembali bertanya kepada gadis di sampingnya.
"Tidak, aku baik-baik saja !" Sahut Melodi
"Lalu kenapa kau diam saja? tidak biasanya kau seperti ini? apa kau tisak senang berjalan-jalan bersama ku?"
"Tidak Kakak, aku sangat bahagia. Ta-tapi, sepertinya Kak Feli tidak menyukai ku?" Melodi sebelumnya merasa ragu untuk mengatakan nya kepada Hito, tapi karena Hito terus mendesaknya akhirnya gadis itu mengatakan juga apa yang dipikirkannya.
"Sudahlah, kalian hanya belum terbiasa. Jangan berpikir seperti itu! Jika Feli menjahati mu, tentu saja aku tidak akan membiarkannya."
****
Beberapa tahun telah berlalu. Melodi tumbuh sebagai gadis yang cantik, ia baru saja akan menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Menengahnya Atas. Sejak lulus Sekolah Menengah Pertama, Melodi meminta kepada Kakek nya untuk bisa bersekolah di sekolah umum, dengan alasan ia ingin lebih bersosialisasi dengan teman-teman yang akan di temui nya di sekolah. Kakek Mahendra menuruti keinginan Melodi, karena Hito, satu-satunya orang yang bisa Melodi ajak bicara, akhir-akhir ini sangat sibuk bekerja di perusahaan milik nya. Kakek Mahendra tidak bisa melarang Hito, karena bagaimanapun kelak Hito akan menjadi penerus nya, jadi sudah sewajarnya Hito bekerja keras sejak awal seperti beberpa tahun ini.
Melodi merupakan anak yang cerdas dan berpestsi di sekolahnya. Hal itu menyebabkan ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di luar Negeri. Setelah beberapa hari Melodi ingin membahasnya dengan Kakeknya, Melodi merasa ragu. Akan tetapi karena waktu pendaftaran semakin dekat Melodi pun memberanikan diri untuk mengatakannya.
"Kakek, sedang apa? Apa kaki Kakek merasa pegal?" Melodi menemui Mahendra yang sedang meluruskan kakinya di atas sofa sambil membaca koran dan mulai memijit kaki nya.
Mahendra yang mengetahui sikap melodi yang seperti ada mau nya, mengernyitkan dahi lalu berkata, " Jika kau bersikap seperti ini, Kakek yakin ada sesuatu yang ingin kau sampaikan kepada Kakek." Ucap Mahendra
__ADS_1
"Kakek, kenapa Kakek menuduh ku seperti itu? Hemh..tapi, sebetulnya memang ada yang ingin aku bicarakan dengan Kakek". Melodi menyunggingkan senyuman manja di bibirnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Baiklah, Kakek akan mendengarkan nya." Jawab Mahendra.
"Kakek, aku mendapatkan beasiswa untuk sekolah kedokteran di luar negeri, dan aku berencana menerimanya. Apa Kakek Mengizinkan ku?" Melodi mengakhiri perkataan nya dengan menggigit ujung bibir bawah nya, menunggu reaksi dari Mahendra.
Mahendra yang sebelumnya tengah membaca koran, segera menghentikan nya lalu memandang lekat kearah Melodi.
"Beasiswa?, di luar negeri?, jadi kau berniat meninggalkan Kakek mu yang sudah tua ini?" Tanya Mahendra.
"Kakek, bukan seperti itu. aku hanya beberapa tahun disana, aku janji akan menyelesaikan pendidikan ku secepat mungkin, agar aku bisa kembali bersama Kakek, dan menjadi dokter handal yang akan merawat Kakek dengan baik nantinya".
Mahendra berdiri mondar-mandir sambil mengelus-ngelus janggut tipis nya.
"Tidak..!!" Jawab Mahendra singkat.
"Kakek...!!" Melodi menarik nafas panjang, menundukkan kepalanya, ia ingin sekali memaksa Kakek Mahendra hingga mengizinkannya kuliah di luar negeri, tetapi karena selama ini Melodi memang anak yang baik dan penurut, ia berusaha menerima keputusan Kakek Mahendra, "Ba-baiklah, aku akan pergi ke kamar. Selamat malam Kakek!" Melodi hendak meninggalkan Kakek Mahendra menuju kamarnya, akan tetapi Mahendra menghentikan nya, "Melo tunggu !, kenapa kau tidak membiarkan Kakek menyelesaikan ucapan Kakek dan langsung ingin pergi saja?"
"Maaf Kek, aku tidak ingin memaksa Kakek, lebih baik Kakek istirahat saja!" Sahut Melodi.
"Anak baik...!!" Mahendra mengelus lembut ujung kepala Melodi, "Tentu saja Kakek tidak akan mengizinkan mu menerima beasiswa itu. Kau pikir uang Kakek tidak cukup untuk menyekolahkan mu di luar negeri?". Ucapan Mahendra membuat Melodi kembali mengangkat kepala nya yang dari tadi menunduk lesu, "Maksud Kakek?" Tanya Melodi.
"Berikan beasiswa itu kepada anak berprestasi yang memang tidak mampu kuliah kedokteran di luar negeri!, Kau boleh sekolah di universitas kedokteran terbaik di luar negeri, dan Kakek yang akan membayar semua biaya pendidikan mu!"
Mata Melodi berbinar dengan apa yang baru saja ia dengar, ia berhambur memeluk Kakek Mahendra untuk mengucapkan terimakasih.
"Kakek hanya takut, ketika kau disana, Kakek harus menghadap Tuhan dan tidak sempat melihat mu lagi!" Ucap Kakek Mahendra dengan mata terpejam, sambil memeluk Melodi.
__ADS_1
Melodi mengeratkan pelukannya dan berkata ," Jangan berbicara seperti itu Kek!, Berjanjilah, Kakek akan tetap hidup untuk melihat cucu Kakek ini menjadi seorang dokter yang bisa Kakek andalkan!" Ucap Melodi sambil meneteskan butiran air mata, karena bagaimanapun ia akan merindukan semua orang yang akan ia tinggalkan di rumah ini.
Bersambung...