Terjerat Cinta Segitiga Kakak

Terjerat Cinta Segitiga Kakak
Undangan makan malam


__ADS_3

Melodi dan Hito sedang bersiap untuk menghadiri undangan makan malam di rumah kediaman Aldalard. Albert telah mengutus seorang sopir untuk menjemput mereka dan saat ini, mobil jemputan itu sudah berada di halaman parkir Apartemen milik Melodi.


Mulut Hito terbuka lebar ketika melihat penampilan Melodi, gadis itu mengenakan gaun sederhana warna coklat susu yang kontras dengan warna kulit nya, selain itu Melodi menggunakan riasan tipis di wajah nya, tidak mencolok tetapi membuat gadis itu terlihat sangat cantik malam ini.


Hito mengerjapkan matanya ketika Melodi melihat kearahnya. "Kakak, orang utusan Albert sudah menunggu kita di bawah. Apa kau sudah siap?" Tanya Melodi.


Hito mengangguk tipis, kemudian mereka berjalan menuju lift untuk turun ke lantai bawah dan menemui orang utusan Albert yang akan mengantarkan mereka.


.


.


.


.


.


Sesampainya mereka di rumah kediaman Aldalard, Albert menyambut kedatangan mereka di depan rumah. Rumah itu sangat mewah, memiliki halaman yang luas, rumah yang menampilkan bahwa sang pemiliknya adalah salah satu orang terkaya di negara itu. Hito dan Melodi tidak terlalu terkesima melihat kemewahan di depannya, karena di Negaranya pun Hito dan Melodi merupakan cucu dari Kakek Mahendra yang merupakan orang terkaya di negara tempat merek tinggal.


"Selamat malam cantik" Albert meraih tangan Melodi dan hendak memberi kecupan di punggung tangan gadis itu sebagai tanda sambutan yang biasa ia lakukan, akan tetapi Hito segera menepisnya, dan memberikan tatapan tajam kepada Albert, membuat pria asing itu tersenyum canggung dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ma..mari masuk, yang lainnya sudah lebih dulu tiba dan sedang menikmati jamuan makan malam di dalam." Ajak Albert yang merasa dirinya di tatap penuh ancaman oleh Hito.


Makan malam itu memang diselenggarakan untuk merayakan kelulusan Albert. Bukan hanya Melodi dan Hito yang menjadi tamu undangan keluarga itu, beberapa kerabat Albert juga hadir, ada pula beberapa pejabat negara yang ikut hadir disana. Selain untuk merayakan kelulusan Albert, mereka sengaja di undang oleh Ayah Albert untuk mengumumkan bahwa selanjutnya Albert lah yang akan memimpin rumah sakit milik keluarga mereka.


Sepanjang acara, Albert tidak pernah meninggalkan Melodi dan Hito. Albert meminta Hito menikmati jamuan malam nya atau berkeliling sambil melihat-lihat dengan tujuan agar dirinya memliki waktu berdua dengan Melodi, akan tetapi Hito tak menghiraukan nya dan memilih tetap diam bersama Melodi, hingga Hito terkesan seperti nyamuk pengganggu dimata Albert.


Bagaimana aku bisa mendekati Melodi, jika Kakak nya terus menempel seperti nyamuk?

__ADS_1


"Melodi, apa kau tidak ingin mempertimbangkan lagi tawaran ku?" Akhirnya Albert memutuskan untuk tidak menghiraukan Hito yang terus mengintili nya, dan ia menyampaikan maksudnya kepada Melodi.


Hito mengernyitkan dahi, "Tawaran apa?" Pertanyaan Albert dijawab oleh Hito yang sengaja menguping pembicaraan mereka berdua.


"Albert menawari ku untuk tetap tinggal di Negara ini dan membantunya mengelola rumah sakit milik keluarganya." Melodi menjelaskan tawaran Albert untuk dirinya kepada Hito.


"Benar Brother Hito, Melodi merupakan siswa terbaik yang lulus tahun ini dengan predikat cumlaude, rumah sakit milik keluarga ku akan sangat beruntung jika memiliki Melodi sebagai salah satu dokter di tempat kami." Jelas Albert dengan antusias.


"Beruntung kepala mu!, kau pikir Melodi akan menerima tawaran itu? Kakek ku juga pemilik rumah sakit terbesar di negara kami tinggal, dan tentu saja Melodi akan mendapatkan posisi nomor satu di rumah sakit itu. Jadi jangan mimpi rumah sakit milik mu bisa merebut nya !" Tegas Hito dengan sedikit Arogan.


Albert melebarkan mulut nya, ia tidak tahu bahwa Melodi seperti yang dikatakan oleh Hito. Selama dirinya berteman baik dengan Melodi, gadis itu tidak pernah mengatakan status nya dan selalu bersikap seperti gadis sederhana yang memiliki latar belakang biasa saja. Albert melemparkan tatapan nya kepada Melodi, berusaha mengkonfirmasi apa yang dikatakan Hito kepada dirinya memang banar.


Melodi tersenyum canggung, kemudian mengangguk, membenarkan apa yang baru saja Albert dengar.


"Ya Tuhan, bagaimana bisa kau bersikap layaknya seperti gadis sederhana? aku menjadi semakin mengagumi mu. Jika Aku tidak bisa melamar mu menjadi salah satu doter di rumah sakit ku, semoga saja suatu hari nanti aku bisa melamar mu untuk posisi yang lain, yang mengharuskan dirimu selalu berada dekatku." Albert mengungkapkan kekagumannya kepada Melodi di depan Hito tanpa tahu malu, membuat Hito geram dan mengepalkan tangannya.


"Kakak, kita mau kemana?" Melodi menahan Hito dan bertanya kemana kakak angkatnya itu akan membawanya.


"Tentu saja untuk pulang." Jawab Hito dengan nada kesal.


"Albert maafkan aku, aku dan Kakak ku harus pulang lebih awal." Melodi menyampaikan permintaan maafnya kepada Albert yang masih terdiam kaku melihat wanita kesukaan nya itu di bawa pergi.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Sepanjang perjalanan pulang, Melodi tak ingin berbicara kepada Hito, sesampainya di Apartemen, Melodi langsung masuk kedalam kamarnya dan membanting pintu sedikit keras.


Kenapa Melodi tampak marah? apa ia menyukai laki-laki asing itu?


"Melo, kenapa kau mengunci pintunya? biarkan aku masuk!" Teriak Hito di depan pintu kamar Melodi yang terkunci.


Hening...


Tak ada jawaban yang barasal dari dalam kamar. "Apa kau marah kepada ku gara-gara laki-laki asing itu? apa dirinya lebih penting untuk mu dibandingkan Kakak mu ini?" Hito hendak menjauh dari pintu karena sepertinya Melodi memang marah, dan memilih memberikan waktu untuk Melodi sendiri, akan tetapi, Melodi akhirnya membukakan pintu kamar nya dan mempersilahkan Hito masuk.


"Maafkan aku!" Melodi berkata dengan nada lirih.


"Untuk apa kau minta maaf? bukankah kau sedang marah kepada ku dan itu berarti aku yang salah dan harus minta maaf?" Sahut Hito.


"Tidak Kakak, kau dan Kakek yang terpenting dalam hidupku, selain itu tidak ada lagi." Melodi merasa bersalah setelah mendengar Hito menuduh Melodi menganggap dirinya tidak lebih penting dari pada Albert.


"Gadis kecil ku manis sekali " Hito mengelus lembut kepala Melodi, kemudian menyenderkan kepalanya di bahu Hito.


"Maaf, aku hanya tidak ingin laki-laki itu mengambil keuntungan dari mu." Ucap Hito kemudian.


Melodi mengangkat kepalanya, menatap Hito dan tersenyum lembut kepadanya. Entah kenapa Hito menjadi canggung karena mendapatkan tatapan lembut dari Melodi, "Tidurlah, besok hari terakhir kita disini, bukankah kau ingin berfoto di menara Eiffel?" Tanya Hito kemudian.


Mata Melodi berbinar, kepalanya mengangguk bersemangat, membayangkan esok adalah hari terakhir dirinya dan Hito bisa berjalan-jalan mengelilingi kota ini.


Bersambung...


Baca juga karya Author yang berjudul Menikahi Sopir Kaya yang update tiap hari. Untuk karya ini Author minta maaf karena belum bisa up setiap hari...doakan Author terus yaaa..

__ADS_1


__ADS_2