
"Rey, kenapa kau tiba-tiba muncul di hadapan ku seperti hantu?" Protes Hito kepada Rey yang baru saja membuat nya kaget.
Rey tertawa kecil, "Aku sejak tadi berada di sekitar sini, kau saja yang terlalu asik berbincang dengan Paman Leo hingga tak menyadari keberadaan ku di belakang mu." Jawab Rey.
Hito menoleh kebelakang, ia hanya mendapati sebuah pohon yang mampu menyembunyikan tubuh seorang manusia di baliknya, "Rey....!! Jadi kau menguping percakapan kami?" Hito mendengus kesal dan hampir saja menjitak kelala Rey jika saja Rey tidak dengan cepat menghindar.
"Hei, kenapa kau akhir-akhir ini senang sekali memukul kepala ku? apa kau lupa bahwa aku ini adalah laki-laki kaya dan terhormat dan tak ada orang yang berani melakukan seperti apa yang kau lakukan kepadaku?" Protes Rey sesaat ia berhasil menghindari jitakan Hito.
Mendengar protes dari Rey, Hito malah benar-benar menjitak kepala Rey yang kali ini tak sempat menghindar, "Mulai saat ini, akulah yang berani melakukannya, lagi pula mana pantas seorang yang mengaku laki-laki kaya dan terhormat malah menguping pembicaraan di balik pohon, hah?"
Rey mengusap-usap kepalanya yang baru saja terkena pukulan Hito, jika saja Hito bukan sahabat nya dari kecil, mungkin Rey akan membalasnya dengan pukulan yang lebih keras.
"Baiklah-baiklah, aku mengaku salah. Tetapi ini bukan sepenuhnya kesalahan ku. Kau sendiri yang mengulur waktu untuk bercerita kepada ku tentang Feli dan membuat ku penasaran." Ucap Rey.
Hito bangun dari duduknya dan hendak pergi meninggalkan Rey, tetapi Rey menahan Hito dengan menarik ujung baju nya, "Kau mau kemana? duduklah dan ceritakan kepada ku!"
Hito berdecak kesal kemudian menghela nafas dalam-dalam agar lebih tenang menghadapi Rey yang tingkahnya seperti anak kecil.
__ADS_1
"Bukankah kau sudah mendengar semuanya ketika kau menguping tadi? Lalu apa lagi yang ingin kau dengar dari ku?" Ucap Hito mengingatkan kembali tindakan Rey yang telah menguping pembicaraan nya dengan Leo.
Rey mengusap dagu nya seperti sedang berpikir, "Apa kau merasa ada yang aneh dari sikap Paman Leo?" Tanya Rey.
Hito mengerutkan dahi, mengingat ekspresi Leo saat mereka berbicara tadi. Bukan hanya Rey, sebelumnya Hito berpikir yang sama.
Hito mengangguk tipis kemudian berkata, "Ekspresi Paman Leo memang sedikit aneh, tetapi mengingat Paman Leo adalah orang yang loyal dalam mengabdikan diri kepada keluarga ku, mungkin Paman melakukan itu hanya karena tidak ingin merusak rencana Kakek yang telah tersusun rapi." Hito mengemukakan pendapatnya.
Rey mengerutkan dahi kemudian bertanya balik, "Apa mungkin hanya karena alasan itu? menurut mu, apa Feli benar-benar putri kandung Paman?" Rey tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang Hito anggap konyol hingga kembali menjitak kepala sahabatnya itu.
"Kau ini sepertinya senang sekali aku pukul? tentu saja Feli putri kandung Paman, setidaknya itu yang aku ketahui sejak kecil." Raut wajah Hito berubah sedih ketika ia mengingat setiap kali Feli mengeluhkan sikap Ayahnya yang selama ini kurang perhatian, seketika rasa bersalah menyeruak kembali di hati Hito, "Rey, aku akan kembali ke kamarku untuk beristirahat, karena saat ini, bukan hanya fisik ku yang merasa lelah tetapi hati dan pikiran ku juga."
***
Feli baru saja tersadar dari tidur panjangnya, kepalanya masih terasa sakit dan berat. Feli membuka matanya perlahan, pertama kalinya yang ia lihat adalah atap sebuah ruangan yang tidak ia kenali, "Dimana aku?" Lirih Feli.
"Nona, anda sudah sadar?" Seorang wanita muda yang merupakan perawat yang di tugaskan oleh Albert bertanya kepada Feli sesaat gadis itu membuka mata.
__ADS_1
Feli mencoba mengingat setiap kejadian yang terjadi sebelum dirinya berada di tempat itu, meskipun membuat kepalanya terasa semakin sakit Feli terus berusaha mengingat nya, hingga ia mengingat wanita muda di hadapannya adalah orang suruhan Albert yang ikut membawanya meninggalkan Leo.
"Ayah? dimana Ayah ku? kembalikan aku kerumah ku!" Feli mulai berteriak histeris dan hendak bangkit dari posisinya berniat untuk kabur.
Pada kenyataannya, Feli tak memiliki cukup tenaga untuk melakukannya, pandangannya menjadi gelap dan akhirnya ia kembali tak sadarkan diri.
Selang beberapa saat, Albert tiba di kamar Feli dan langsung menanyakan keadaan gadis itu, "Apa yang terjadi? apa dia bangun dan berusaha memberontak?" Tanya Albert kepada perawat.
Perawat itu mundur beberapa langkah dan membungkuk memberi hormat kepada Albert, "Tadi Nona Feli bangun dan menanyakan keberadaan nya, ia sempat berusaha berdiri tetapi tubuhnya masih lemah dan akhirnya Nona kembali pingsan, Tuan." Jelas sang perawat.
Albert mengangguk tipis, kemudian duduk di sebelah Feli dan memeriksa keadaan Feli dengan beberapa alat kedokteran miliknya.
"Roy, beri tahu anak buah mu, jangan tinggalkan dia sendirian, beri infusan vitamin Ibu hamil agar kondisinya cepat membaik. Dia harus naik pesawat malam ini, meskipun sangat beresiko tetapi aku ingin kau memastikan kondisi fisiknya sudah lebih kuat." Titah Albert kepada Roy.
"Baik Tuan." Jawab Roy.
Albert akan kembali ke Paris malam ini menggunakan pesawat jet pribadi miliknya. Saat ini, Albert belum memiliki gambaran hubungan nya dengan Feli di masa depan, yang terpenting untuk Albert saat ini, ia harus secepatnya membawa Feli pergi jauh, sebelum wanita licik itu berbuat sesuatu yang bisa merepotkan Melodi.
__ADS_1
"Caren, besok adalah hari pernikahan mu dengan Hito. Meskipun yang aku tahu kalian tidak pernah menginginkan pernikahan itu, tetapi aku yakin, tak ada lagi laki-laki yang mencintai mu sebesar aku dan Kakak angkat mu itu." Albert bergumam dalam hatinya sambil membayangkan sosok Melodi yang akan menikah dengan Hito.
*Bersambung....