Terjerat Cinta Segitiga Kakak

Terjerat Cinta Segitiga Kakak
Serangan Jantung


__ADS_3

Semalam, setelah Leo pulang mengantarkan Hito, Leo kembali kerumahnya dan berbicara dengan Feli.


Leo sangat murka, dan memarahi Feli habis-habisan. Akan tetapi, orang yang dimarahi tentu saja tidak terima, mengingat semakin kesini, hubungan ayah dan anak itu semakin jauh, Feli berniat menjadikan masalah ni sebagai senjata untuk nya.


"Ayah, sebetulnya siapa yang anak Ayah? Kenapa Ayah memarahi ku habis-habisan dan menyerahkan aku yang seorang perempuan ini pulang dengan anak buah mu, sedangkan Ayah lebih memilih mengantarkan Hito?" Feli melayangkan protesnya kepada Leo, membuat Leo tersulut dengan emosinya, ingin rasanya kali ini Leo menampar mulut Feli yang lancang, akan tetapi Leo berusaha menahannya sekeras mungkin dan hanya mampu menggertakkan giginya.


"Jaga bicaramu! dia Bos kita, Tuan Muda dari keluarga Mahendra. Kau tahu seberapa penting mereka yang telah memberikan kita kehidupan nyaman seperti sekarang ini?" Leo menjelaskan posisi keluarga Mahendra di matanya.


Feli tersenyum penuh ironi, "Tentu saja...tentu saja sejak dulu mereka lah yang terpenting untuk Ayah." Feli menjatuhkan tubuhnya di atas sofa empuk yang berada di kamar nya, ini bukan pertama kalinya mereka berdebat. Feli yang semakin dewasa bukannya menunjukkan perubahan kearah yang lebih baik, akan tetapi sikapnya semakin buruk, di tambah lagi pergaulannya yang sering mengunjungi kelab malam hingga ia menyeret Hito ikut kedalam pergaulannya itu.


***


Karena permintaan Hito, Leo terpaksa memberikan laporan palsu hari ini kepada Mahendra, selama bertahun-tahun Leo mengabdikan diri kepada Mahendra, baru kali ini ia merasa telah mengkhianatinya. Selain terlalu malu mengakui keburukan putrinya di depan Tuan Mahendra, Leo juga telah merenungkan perkataan Feli tadi malam yang mengatakan dirinya terlalu mengutamakan keluarga Mahendra di banding keluarga nya sendiri. Leo menyadari hal itu benar adanya sejak dulu, akan tetapi Leo tidak pernah menyesalinya, Leo hanya bisa bersyukur dengan kedudukannya sekarang, karena posisinya sebagai orang kepercayaan Tuan Mahendra, Leo bisa memberikan kehidupan yang layak dan tidak kekurangan harta untuk keluarganya selama ini.


.


.


.


.

__ADS_1


.


"Hito, Kakek telah memperoleh laporan dari Leo, bahwa semalam kau pergi ke kelab malam lagi bersama beberapa teman mu." Mahendra menghela nafas panjang, "Kakek membesarkan mu bukan untuk menjadi pemabuk, jika kau memiliki masalah, kau bisa bercerita kepada Kakek, atau kau masih bisa bercerita kepada Melodi melalui sambungan telepon. Melodi akan sangat senang jika ku mau menghubungi nya, meskipun hanya untuk mengeluhkan masalah mu kepadanya." Mahendra menyadari, perubahan sikap Hito terjadi setelah kepergian Melodi, mungkin karena Mahendra berpikir itu semua dikarenakan Hito merasa kesepian dan tidak memiliki teman untuk bicara, untuk itu Mahendra mengingatkan nya untuk terus berhubungan dengan Melodi, meskipun hanya melalui sambungan telepon internasional.


"Kakek, aku sudah dewasa, dan aku rasa sangat wajar jika sesekali pria dewasa menghabiskan waktunya untuk minum-minum sambil berbincang dengan teman-teman nya bukan?" Hito menimpali teguran Mahendra dan berusaha membela diri.


Hal itu membuat Mahendra terkejut dan seketika merasakan sesuatu menghantam jantung nya. Mahendra meremas dadanya yang terasa sakit, kemudian tanpa sadar ia terjatuh dari kursi tempat duduk nya.


Hito menjadi panik, tak menyangka perkataan yang menurutnya biasa saja menyebabkan Kakek Mahendra mengalami serangan jantung tiba-tiba. Dengan segera Hito melarikan Kakek Mahendra ke rumah sakit milik keluarga mereka.


***


"Kakak, maaf aku mengganggu waktu kerja mu, aku menghubungi ponsel Kakek, tapi tidak ada jawaban sama sekali, apa Kakek baik-baik saja?" Melodi sebetulnya merasa kesal kepada Hito yang jarang sekali menghubunginya dan ingin bersikap yang sama untuk tidak akan menghubungi Hito terlebih dahulu, Kakek Mahendra mengatakan kepadanya karena sudah satu tahun ini Hito begitu di sibukkan dengan pekerjaan kantor yang tiada habisnya, tetapi tentu saja Melodi tidak begitu mempercayai nya, Melodi memiliki keyakinan bahwa selain bekerja, Hito juga pasti disibukkan untuk menemani kekasihnya yang jelas sekali tidak menyukai Melodi.


Melodi ingin memberi tahukan kepada Kakek Mahendra bahwa ia mendapatkan nilai yang sangat bagus dan dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude, sehingga tidak lama lagi ia bisa pulang ke negaranya dengan membawa gelar dokter. Tentu saja Melodi akan melanjutkan pendidikan nya untuk dokter spesialis. Tapi ia rasa, ia akan melakukannya di Negara nya saja. Akhir-akhir ini Melodi selalu memimpikan sosok wajah kedua orang tuanya yang tidak bisa ia lihat dengan jelas. Ketika Melodi kehilangan sosok itu, Kakek Mahendra selalu datang untuk memeluknya yang dalam keadaan menangis. Untuk itu, Melodi memutuskan tidak akan tinggal jauh dan akan merawat Kakek Mahendra dengan baik di sisa hidup Mahendra yang sudah senja.


"Melo? Ka...kek..." Hito menjawab panggilan Melodi dengan terbata-bata, membuat gadis yang berada di seberang telpon mengerutkan dahi dan menerka-nerka apa yang terjadi dengan Kakek Mahendra.


"Kakak...Katakan...!!! kenapa Kakek?" Melodi Mendesak Hito untuk berbicara dengan jelas. Jantung nya berdetak kencang, pikiran buruk seketika menyerangnya, takut telah terjadi sesuatu dengan Kakek Mahendra.


"Kakek kena serangan jantung, dan saat ini aku sedang berada di rumah sakit, sedang menunggu kabar dari dokter yang memeriksa Kakek." Akhirnya Hito bisa menjelaskan keadaan Kakek Mahendra dengan jelas, setelah Melodi mendesaknya.

__ADS_1


Melodi menjatuhkan ponsel yang sejak tadi menempel di telinganya, " Bi Irah, bantu aku berkemas! kita akan pulang dan menemui Kakek di rumah sakit." Melodi seketika memutuskan untuk pulang ke negaranya untuk memastikan sendiri kondisi Kakek Mahendra.


Karena melihat Melodi dalam keadaan panik, Bi Irah segera berkemas sesuai arahan Melodi dan tidak banyak bertanya, meskipun pelayan setia itu merasakan kecemasan yang sama di hati nya.


***


Sejak kedatangannya di Rumah sakit, Melodi hanya duduk di sebelah Kakek Mahendra yang beberapa hari ini belum sadarkan diri, bahkan Melodi tidak sempat bercakap-cakap dengan Hito, meskipun mereka sudah lama tidak bertemu dan pastinya banyak sekali pengalaman yang ingin mereka ceritakan satu sama lain.


Melodi merawat Kakek Mahendra dengan bekal pengetahuan nya selama bersekolah di kedokteran, meskipun sudah ada dokter senior ahli yang menangani Mahendra, akan tetapi Melodi memutuskan untuk membantu perawatan sebisanya hingga Kakek Mahendra sadarkan diri.


Perjuangan Melodi membuahkan hasil, tepat di hari kedua sejak ia merawat Kakek Mahendra, akhirnya Kakek Mahendra membuka mata dan sadarkan diri.


"Me..lo..di..." Lirih Kakek Mahendra yang terdengar samar karena terhalang alat pernafasan yang di pasang di mulutnya.


Mata Melodi berbinar, bahagia melihat Mahendra membuka mata dan menyadari keberadaannya, "Kakek, jangan bicara dulu, aku disini, merawat Kakek!" Melodi memeriksa denyut nadi Kakek Mahendra, serta memeriksa detak jantung nya di layar yang terambung dengan kabel-kabel yang menempel di tubuh Mahendra.


"Kakek, syukurlah semuanya baik-baik saja. Aku akan memanggil dokter yang menangani Kekek sejak awal untuk memastikan kondisi Kakek baik-baik saja seperti dugaan ku."


Melodi meninggalkan ruangan untuk memanggil dokter, dan menitipkan Kakek Mahendra dalam pengawasan perawat yang berjaga.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2