Terjerat Cinta Segitiga Kakak

Terjerat Cinta Segitiga Kakak
Hari terakhir


__ADS_3

Matahari nampak malu-malu menujukkan sinarnya, hari ini merupakan hari pertama musim dingin di kota Paris, akan tetapi seolah semua itu tidak menjadi hambatan untuk Melodi yang sejak pagi bersemangat untuk melakukan perjalanan bersama Hito untuk mengunjungi menara Eiffel dan tempat-tempat lainnya di kota itu. Melodi sudah menggunakan mantel tebal nya, ia keluar dari kamar dan hendak membangunkan Hito yang nampaknya masih tertidur.


Pintu kamar Hito tidak di kunci, Melodi masuk dan mendapati Hito masih bergulat dengan selimut tebalnya di atas tempat tidur.


"Kakak, bangunlah! ayo kita berangkat lebih pagi agar bisa lebih lama melakukan perjalan hari ini." Melodi mengguncang lengan Hito dan membangunkan nya.


"Kenapa pagi sekali? cuaca hari ini dingin sekali dan sepertinya aku masih tidur." Sahut Hito dengan suara parau karena dirinya masih merasakan kantuk dan ingin melanjutkan tidurnya.


Melodi tak menyerah, ia terus berusaha hingga Hito terbangun, "Aku akan menyiapkan sarapan, Kakak sana mandi!" Melodi mendorong tubuh Hito hingga ke kamar mandi, kemudian dirinya pergi ke dapur untuk membuat sarapan.


"Melo, makanlah pelan-pelan! tidak usah terburu-buru, kita masih banyak waktu untuk melakukan perjalanan hari ini bukan?" Hito memperhatikan Melodi makan dengan buru-buru, sepertinya gadis itu memang tidak sabar untuk segera pergi jalan-jalan.


"Di hari libur seperti ini, akan lebih ramai di waktu pagi hari, bukankah akan sangat menyenangkan jika kita berada disana dan melihat keramaian yang ada?" Sahut Melodi.


Hito terkekeh dan berniat mengerjai Melodi dengan memperlambat waktu makannya, agar Melodi semakin tidak sabar.


"Kakak, kenapa kau makan lama sekali? aku sudah selesai dari tadi tapi .." Belum selesai Melodi melanjutkan kalimatnya, terdengar dering ponsel yang berasal dari ponsel milik Hito.


"Paman Leo." Hito melihat tulisan di layar ponsel kemudian memberitahukan kepada Melodi, bahwa Leo lah yang menelpon.


Melodi mengangguk memberikan waktu untuk Hito menjawab panggilan Leo. "Ada apa Paman?" Tanya Hito.


"Tuan Muda, Tuan Besar Mahendra masuk rumah sakit, beliau meminta mu dan Nona Melodi untuk segera pulang." Sahut Leo di sebrang telepon.


Suara panggilan yang di keraskan memungkinkan Melodi bisa mendengar apa yang baru saja Leo katakan.


Keduanya tampak kaget, Hito menatap Melodi meminta persetujuan gadis itu, untuk pulang atau tetap tinggal dan melanjutkan perjalanan mereka.


"Kakak, katakan kepada Paman Leo, kita akan segera pulang!" Melodi memahami maksud Hito, kemudian mendahului nya memberikan jawaban untuk Leo.

__ADS_1


Hito mengangguk, kemudian menjawab Leo, "Baik Paman, katakan kepada Kakek, kami akan segera pulang. Paman tolong jaga Kakek untuk kami!"


"Kakak, aku takut terjadi sesuatu pada Kakek, ayo kita pulang sekarang juga!" Melodi menangis memeluk Hito, ia benar-benar merasa khawatir dengan keadaan Kakek Mahendra.


Hito mengelus kepala Melodi berusaha menenangkan nya lalu berkata, "Tidak akan terjadi sesuatu pada Kakek. Percayalah!"


Melodi melepaskan pelukannya, kemudian mereka berdua berkemas secepat mungkin agar bisa segera melakukan perjalanan untuk pulang.


***


Mahendra sebetulnya hanya sakit biasa dan tidak membahayakan nyawanya, ia di rawat di rumah sakit agar mendapatkan perawatan terbaik, dan mempercepat pemulihan nya. Hanya saja, Mahendra berpikir, usia nya sat ini sudah lanjut, bisa saja tiba-tiba Mahendra mengalami sakit yang lebih parah atau tiba-tiba kehilangan nyawanya. Mahendra tidak akan bisa pergi dengan tenang jika semua rencananya untuk mempersatukan Hito dan Melodi belum terlaksanakan. Untuk itu, Mahendra meminta kedua cucunya itu untuk pulang.


"Tuan, Nona dan Tuan Muda telah sampai di negara ini dan sedang dalam perjalanan kerumah sakit." Pada malam harinya Leo memberitahukan Melodi dan Hito akan segera tiba untuk menemui Mahendra.


Mahendra mengangguk tipis, kemudian memerintahkan Leo untuk meninggalkan nya dan menunggu hingga Hito dan Melodi tiba.


Hito dan Melodi tiba di rumah sakit, dengan langkah besar Melodi berjalan mendahului Hito karena ingin segera bertemu dengan Kakek Mahendra.


"Kekek..." Melodi berhambur memeluk Mahendra yang tengah terbaring lemas. Pundak Melodi berguncang, terdengar isak tangis dari gadis itu.


Senyum lembut segera menghiasi bibir Mahendra, ia merasa sangat berarti karena merasa sangat di cintai oleh cucu angkatnya itu, "Tidak perlu menangis cucu ku! Aku sakit karena merindukan mu. Sekarang kau sudah ada disini, tentu saja aku akan segera sehat." Ujar Mahendra sambil mengelus lembut kepala Melodi.


Melodi kembali berdiri dan menatap lekat ke arah Mahendra lalu berkata, "Aku tidak akan percaya sebelum aku memastikan sendiri kondisi Kakek. Apa Kakek lupa, saat ini aku telah menjadi seorang dokter?"


Mahendra terkekeh lalu mengulurkan tangan nya untuk di periksa Melodi, "Sikahkan di periksa Dokter Melodi!" Goda Mahendra.


Melodi melakukan pemeriksaan kepada Mahendra, dirinya bisa bernafas lega setelah mengetahui tidak ada yang membahayakannya dari kondisi Kakek Mahendra saat ini.


"Syukurlah Kakek tidak berbohong. Kondisi Kakek baik-baik saja, hanya saja Kakek kurang istirahat dan banyak pikirkan. Sebetulnya apa yang Kakek Pikirkan?" Tanya Melodi sambil mengerutkan dahi.

__ADS_1


"Sudah Kakek bilang, Kakek hanya merindukan mu." Sahut Kakek Mahendra.


"Ya Tuhan, kenapa kalian seakan-akan hanya sedang berdua saja di ruangan ini?" Hito sejak tadi hanya menyaksikan adegan haru antara Kakek nya dan Melodi, setelah mengetahui tidak ada yang perlu di khawatirkan, barulah Hito bersuara dan menggoda mereka berdua.


"Cucu ku, kemarilah!" Mahendra merentangkan kedua tangan nya sambil berbaring, bersiap untuk di peluk oleh Hito.


"Aku senang Kakek baik-baik saja. Sepanjang perjalanan tadi, Melo hanya menangis karena mengkhawatirkan Kakek." Ujar Hito.


Kakek Mahendra mengerutkan dahi, "Apa hanya Melodi yang mengkhawatirkan ku?"


"Eh..ti-tidak, aku cucu Kakek juga, jadi tentu saja aku mengkhawatirkan mu!" Hito memeluk Mahendra dan Mahendra membalas pelukannya dengan hangat, benar-benar mereka merupakan sebuah keluarga yang bahagia.


Melodi tersenyum haru, melihat Kakek dan cucu laki-laki nya itu saling berpelukan.


Kakek Mahendra mendudukkan tubuhnya di bantu oleh Melodi kemudian berkata, "Karena aku sudah lebih baik, katakan kepada Leo untuk mempersiapkan kepulangan ku malam ini juga!"


"Malam ini?" Hito dan Melodi bertanya secara bersamaan.


"Ya, malam ini. Kalian jadi tidak perlu menunggui ku di rumah sakit yang tidak nyaman ini bukan? lagi pula aku akan cepat pulih jika Melodi yang merawat ku." Ujar Mahendra.


Hito dan Melodi saling bertatapan, kemudian mereka berdua kompak menganggukkan kepala tanda setuju.


Dikarenakan Rumah sakit itu adalah rumah sakit miliknya sendiri, Mahendra bisa segera pulang tanpa harus mengurus administrasi terlebih dahulu. Leo hanya mempersiapkan sopir yang akan mengantar mereka pulang, dan juga menghubungi kepala pelayan untuk mempersiapkan segala keperluan Mahendra, Hito dan Melodi yang akan segera pulang kerumah.


"Tuan Besar, semuanya sudah siap." Kata Leo sambil membawa sebuah kursi roda untuk di gunakan oleh Mahendra.


Mahendra mengangguk tipis, kemudian dirinya, Melodi dan Hito pulang bersama-sama untuk beristirahat di rumah.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2