
Feli tiba di rumah nya dan segera mengunci diri didalam kamar nya, ia menangis karena memang merasa kesal dengan tindakan Hito yang secara terang-terangan meragukan nya di depan Melodi, "Aku harus apa? bagaimana bisa dia menceritakan semuanya kepada anak pungut itu? bahkan Hito secara terang-terangan meragukan ku di didepannya." Gumam Feli sambil berjalan mondar-mandir di sekitar kamar nya.
Feli memutar otak nya, ia bisa saja menghindar dari Hito agar visum itu tidak sampai dilakukan, tapi, sampai kapan ia bisa menghindar? bukankah semua yang di lakukukan Feli hanya untuk membuat Hito semakin dekat dengan nya?
"Aku harus mencari cara, sandiwara ini harus terlihat sempurna dimata mereka, apapun caranya harus aku lakukan agar Hito mempercayai ku dan kemudian memutuskan untuk menikahiku." Gumam Feli lagi.
***
Melodi masih berada di ruangannya bersama Hito yang masih tertidur pulas di atas sofa, ia melihat jarum jam ditangan nya, waktu sudah menunjukkan jam tujuh malam, Melodi memutuskan untuk pulang, karena pasti Kakek Mahendra sedang menunggu nya untuk makan malam bersama.
"Bagaimana dengan keadaan gadis kecil itu setelah menjalani operasi tadi?" Melodi tiba-tiba teringat dengan keadaan gadis kecil yang pagi tadi baru saja ia operasi.
Melodi meraih ujung telepon dimeja nya, menghubungi dokter pendamping yang ia percaya untuk merawat gadis itu, "Hallo dok, bagaimana keadaan gadis kecil itu? apa sudah menunjukkan perubahan?" Tanya Melodi.
"Gadis kecil itu belum sadarkan diri sampai saat ini, Direktur. Akan tetapi denyut nadi dan detak jantungnya sudah normal. Saya akan mengabari anda jika gadis itu sudah sadar." Jawab dokter yang melaporkan keadaan gadis kecil kepada Melodi.
"Hem..baiklah, terimakasih dok! aku akan pulang sekarang, jika ada suatu perubahan, hubungi aku di ponsel pribadiku ya!" Jawab Melodi sopan.
Melodi menutup sambungan teleponnya, meletakan kembali gagang telepon itu pada tempatnya. Ia menghampiri Hito dan berniat membangunkannya agar mereka bisa pulang bersama.
"Kakak, bangunlah! hari sudah malam, ayo kita pulang!" Melodi membangunkan Hito dengan lembut.
Tak butuh waktu lama untuk Hito membuka matanya, Ia melihat wajah cantik mungil yang saat ini ada dihadapannya, wajah yang selalu membawa kedamaian dalam hatinya, "Melo? apa aku tertidur?" Lirih Hito masih dengan suara parau.
"Kenapa bertanya? tentu saja kau tertidur dengan sangat lelap. Bangunlah! Kakek pasti menunggu kita untuk makan malam." Ajak Melodi seraya menarik kedua tangan Hito dan menyuruhnya untuk bangkit dari posisi tidurnya.
Hito menuruti permintaan Melodi, dirinya terlebih dahulu masuk kedalam kamar mandi yang berada di ruangan itu untuk membasuh wajah nya yang pasti sangat kusut karena baru saja bangun tidur.
__ADS_1
.
.
.
.
.
Sesampainya dirumah, pemandangan yang tak seperti biasanya yang Melodi dan Hito lihat. Bukan hanya ada Kakek Mahendra, tetapi dua orang laki-laki lainnya sedang duduk di meja makan dan hendak makan malam bersama mereka. Salah satunya mereka kenali sebagai asisten pribadi Kakek Mahendra yaitu Paman Leo, dan satu orang lagi hanya Hito yang mengenalinya, tapi tidak dengan Melodi yang baru pertama kali bertemu dengan orang itu, karena laki-laki paruh baya itu tak lain adalah pengacara Tuan Mahendra yang biasa Hito lihat ketika datang mengunjungi perusahaan nya.
"Ah, syukurlah kalian sudah pulang, kami menunggu kalian berdua untuk makan malam bersama." Kakek Mahendra menyadari kedatangan Hito dan Melodi dan meminta mereka untuk segera bergabung di meja makan.
Hito dan Melodi saling bertatapan, mereka mencoba menebak apa tujuan Kakek Mahendra mengundang dua laki-laki paruh baya itu makan malam bersama mereka, dan jika benar Kakek Mahendra menunggu mereka berdua, sudah bisa dipastikan ada sesuatu yang berhubungan dengan keduanya yang akan Kakek Mahendra bahas setelah makan malam nanti.
Keduanya mengangguk kemudian duduk di masing-masing kursi mereka dan bergabung untuk makan malam.
Seperti biasa, Melodi mengambilkan makanan untuk Mahendra dan juga Hito. Tanpa Melodi sadari ada seringai kecil di wajah Mahendra, "Aku semakin yakin, bahwa keputusan ku tidak akan pernah salah." Batin Mahendra.
Mereka berlima menghabiskan makan malam tanpa obrolan apapun, karena sesuai ucapan Kakek Mahendra, segala sesuatu yang ingin mereka bicarakan akan dilakukan ketika acara makan malam telah selesai.
.
.
.
__ADS_1
.
Kegiatan makan malam pun telah selesai, mereka berpindah tempat menuju sofa yang berada di ruang keluarga.
Melodi pergi ke dapur dan membuatkan teh untuk mereka semua, sedangkan Bi Ira, sibuk membersihkan meja makan yang baru saja selesai mereka gunakan.
"Melo, duduklah di sebelah Hito! Kakek ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan kalian." Titah Mahendra sesaat setelah Melodi menghidangkan teh dan beberapa makanan kecil di meja.
Melodi mengikuti anjuran Kakek Mahendra dan bersiap mendengarkan apa yang ingin Kakek Mahendra sampaikan kepada mereka.
"Kakak, apa kau menyadari, sepertinya raut wajah Kakek sangat bahagia sekali malam ini?" Bisik Melodi di telinga Hito yang hanya dijawab anggukkan tipis oleh Hito.
"Kakek mengundang Paman Teo dan Paman Leo untuk menjadi saksi keputusan yang ingin Kakek katakan malam ini. Hito pasti sudah mengenal Paman Teo, dan Melo, Paman Teo ini adalah pengacara keluarga Kakek, kau baru pertama kali bertemu dengannya bukan?" Mahendra mulai menyampaikan maksudnya sekaligus mengenalkan pengacaranya kepada Melodi.
Melodi tersenyum ramah kepada Teo, dan dibalas sebaliknya oleh Teo.
Mengendara menghela nafas dalam, sejenak ia memejamkan matanya, membuat Melodi menjadi sedikit khawatir tentang keputusan apa yang dimaksudkan oleh Kakek Mahendra.
"Usia Kakek sudah sangat tua, Kakek juga sering sakit-sakitan, entah berapa lama lagi Kakek bisa mendampingi kalian berdua. Untuk itu, Kakek perlu mengatakannya sekarang." Ujar Mahendra disertai dengan wajah sedikit pilu.
"Kakek....!!" Hito dan Melodi spontan dan serempak menyerukan nama Kekek nya, "Kakek, apa yang Kakek katakan? bukan kah Kakek sudah berjanji kepada ku, bahwa Kakek akan hidup lebih lama?" Melodi dengan cepat berpindah tempat mendekati Mahendra dengan posisi berjongkok di hadapan Mahendra. Melodi meraih kedua tangan Mahendra kemudian menyandarkan kepalanya di pangkuan Kakek Mahendra, ada butiran kecil di mata gadis itu yang hampir saja terjatuh.
Mahendra tersenyum lembut, mengelus rambut Melodi dengan penuh kasih sayang.
"Kakek memang sudah berjanji, dan tentu saja Kakek tidak akan mati secepat yang kau pikirkan." Jawab Mahendra mencoba menenangkan Melodi yang akhirnya tak kuasa menahan tangisnya ketika ia masih berada dalam belaian Kakek Mahendra.
Hito yang menyaksikan pemandangan di depannya, tak kuasa menahan haru di hati nya, ia menyadari apa yang dikatakan Kakek Mahendra memang benar, Kakek nya saat ini sudah tak lagi muda dan kuat seperti dulu. Seketika Hito kembali mengingat masalahnya dengan Feli. Ia mengutuk dirinya sendiri yang bodoh dan tak ingin jika sampai Kakek Mahendra mengetahui kebodohan yang telah ia lakukan baru-baru ini, karena tentu saja hal itu akan menyakiti Kakek Mahendra, bahkan mungkin akan mengganggu kesehatan Kakek yang selama ini menjaga dan merawatnya dengan baik.
__ADS_1
*Bersambung...