
Dalam perjalanan kembali dari rumah Leo, Melodi lebih banyak diam karena masih belum begitu percaya dengan apa yang dikatakan Leo. Hito yang sedang mengendarai mobil sesekali melirik kearah Melodi.
"Hei, kenapa kau diam saja? Apa kau msih memikirkan ucapan Paman Leo tadi?" Hito bertanya kepad Melodi.
Melodi mengangguk, "Sejujurnya, aku masih tidak percaya jika Feli mampu melakukannya, Kak. Apa Kakak yakin Paman Leo berkata jujur?" Melodi balik bertanya pendapat Hito.
Hito terdiam sejenak dan tampak sedang merenungkan sesuatu.
"Sejujurnya aku tidak menyangka jika Feli telah berbuat sejauh itu. Tapi, bukankah sudah ku katakan, malam itu aku benar-benar yakin Feli telah menjebakku." Jawab Hito.
Melodi menghela nafas panjang, entah dia harus bahagia atau bersedih mengetahui nasib Feli saat ini. Melodi tiba-tiba mengingat sesuatu dan mengernyitkan dahinya, ia bertanya kepada Hito, "Kakak, kenapa kau tampak bahagia? Bukankah biasanya seorang akan merasakan sakit atau kecewa ketika dihianati oleh kekasihnya?" Tanya Melodi heran melihat sikap Hito.
Hito tertegun, ia seakan lupa jika Feli memang kekasihnya. Yang Hito tau, ia memang tidak pernah mencintai Feli dan hubungan yang ia jalin selama ini hanya karena ia merasa kasihan terhadap Feli.
Percakapan mereka terhenti ketika tiba-tiba ponsel milik Melodi berdering. Melodi mengambil ponsel di tas nya.
"Hallo Kakek?" Sapa Melodi.
Hito segera mengetahui bahwa Kakek Mahendralah yang tengah menghubungi Melodi dan membiarkan Melodi menyelesaikan percakapannya.
Setelah Melodi menutup panggilannya, Melodi mengatakan kepada Hito bahwa saat ini Kakek Mahendra tengah menunggu mereka untuk makan malam dirumah.
Hito mempercepat laju kendaraan sesuai dengan permintaan Melodi, karena menurut Melodi Kakek Mahendra tidak akan makan sebelum mereka tiba dan bisa makan bersama. Gertakan Kakek Mahendra tersebut tentu saja membuat Melodi khawatir, oleh karena itu, Melodi meminta Hito untuk langsung pulang dan mengikuti permintaan Kakek Mahendra.
.
__ADS_1
.
.
.
.
Sesampainya dirumah, Melodi menyapa Mahendra dan memberi kecupan kecil di pipi orang tua itu, "Selamat malam Kakek, maaf kami terlambat! Tadi kami pergi ke..." Melodi hendak memberi tahu perjalanan mereka tetapi Mahendra langsung menyela kalimatnya, "Tidak perlu memberitahu ku, bukankah kalian sekarang adalah pasangan suami istri? Jadi sudah sepantasnya kalian lebih sering menghabiskan waktu bersama." Ujar Mahendra.
Melodi tersedak ludahnha sendiri, ia bahkan lupa bahwa ia dan Hito telah menikah.
Melodi tersenyum canggung, "Ah iya, Kakek benar." Ucap Melodi.
"Apa kalian akan terus berdiri? Aku dan Kakek sudah kelaparan karena harus menunggu kalian pulang. Ayo duduk dan makanlah bersama kami!" Rey berusaha membantu Melodi keluar dari situasi yang membuat nya bingung.
Disela-sela makan malam Kakek Mahendra menyampaikan keinginannya untuk mengirim kedua cucunya menghabiskan bulan madu mereka.
"Hito, Kakek memberi mu izin untuk tidak bekerja selama sepuluh hari karena kalian akan pergi berbulan madu." Ucap Kakek Mahendra.
Bukan hanya Melodi dan Hito yang tiba-tiba tersedak makanan yang tengah mereka telan, akan tetapi Rey memberikan reaksi yang lebih aneh dengan berdiri dan berkata keras, "Apa? Bulan madu?"
Kakek Mahendra segera menatap Rey dengan tatapan aneh, hal itu membuat Rey segera tersadar dan minta maaf, "Maafkan aku, Kek. Aku hanya sedikit kaget, jika mereka pergi berbulan madu selama sepuluh hari, lalu apa yang akan aku lakukan sendirian disini?" Rey berkata bohong agar tidak membuat Kakek Mahendra curiga.
"Rey benar Kek, sepertinya terlalu lama jika aku harus meninggalkan pekerjaan ku selama itu. Minggu-minggu ini, banyak sekali proyek yang harus kita selesaikan." Hito mencoba mencari alasan agar Kakek Mahendra mengurungkan niatnya.
__ADS_1
"Itulah kenapa Kakek mengizinkan Hito libur untuk sementara waktu, karena ada kau, jadi kau lah yang akan menangani pekerjaan Hito selama mereka berbulan madu." Mahendra akhirnya memilih melimpahkan semua urusan perusahaan nya kepada Rey untuk sementara waktu.
"Tapi Kek..." Hito ingin berusaha membantah tetapi melihat tatapan Kakek Mahendra yang seperti mengintimidasi membuat Hito tak melanjutkan kalimatnya.
Melodi sejak tadi hanya terdiam dan mendengarkan perdebatan diantara orang-orang disekitarnya. Ia tahu betul betapa keraspun mereka menolak, Kakek Mahendra memiliki seribu cara untuk melakukan keinginannya. Tetapi tentu saja Melodi tidak ingin menyerah sebelum berperang. Melodi bangkit dari tempat duduknya dan berdiri dibelakang Kakek Mahendra yang tengah duduk.
Kedua tangan Melodi diletakkan di kedua bahu Kakek Mahendra dan mulai memijitnya dengan lembut, "Kakek, sebagai pasangan pengantin baru, tentu saja kami akan pergi berbulan madu. Hanya saja, jika Kakek mengijinkan, bolehkah kami pergi bulan depan? Kondisi Kakek saat ini sedang kurang baik karena terlalu kelelahan setelah acara pernikahan kemarin. Aku hanya tidak ingin meninggalkan Kakek di saat seperti ini. Ya..mungkin bisa saja aku meminta dokter di rumah sakit untuk merawat Kakek, tetapi rasanya aku tidak ingin mempercayakan kesehatan orang terpenting dalam hidupku kepada orang lain." Melodi akhirnya berhasil mengeluarkan kalimat-kalimat manis yang dapat membuat luluh hati Mahendra.
Mahendra menggenggam tangan Melodi yang masih memijatnya, "Baiklah, kau memamg cucu ku yang paling penyayang. Jika itu mau mu, Kakek akan menjadi pasien yang baik agar cepat pulih dan kalian bisa pergi secepatnya." Ucap Kakek Mahendra.
Hito dan Rey membuang nafas lega secara bersamaan. Rey kembali memandang Melodi dengan satu kelebihan yang dimiliki gadis itu. Rasanya, Rey ingin sekali cepat-cepat mengutarakan isi hatinya, bahwa betapa ia telah di buat kagum dan jatuh cinta oleh Melodi.
Setelah acara makan malam selesai, Melodi terlebih dahulu mengantarkan Kakek Mahendra ke kamarnya untuk memastikan obat-obatan yang telah ia siapkan di minum dengan baik oleh Mahendra.
"Kakek, minum dulu obatnya! Setelah itu, Kakek harus langsung tidur dan tidak boleh tidur hingga larut malam!"
Kakek Mahendra segera menelan obat-obatan yang diberikan Melodi dan mengikuti perintah Melodi seperti anak kecil yang di suruh tidur oleh Ibu nya. Melodi menemani Kakek Mahendra hingga ia memastikan Mahendra benar-benar telah tertidur. Melodi mengetahui kebiasaan Kakek Mahendra yang sering menghabiskan waktu hingga larut malam untuk membaca buku. Dengan kondisi Mahendra yang sudah sering sakit-sakitan Melodi ingin memastikan Kakek Mahandra berhenti melakukan kebiasannya itu.
Setelah melihat nafas Mahendra yang sudah mulai teratur dan tampak tertidur, Melodi meraih tangan Kakek Mahendra dan membelainya dengan lembut, "Kakek, bertahanlah demi aku dan Kakak! Kami masih sangat membutuhkan Kakek dalam hidup kami. Maaf karena kami tidak bisa menjalani kehidupan sesuai dengan apa yang Kakek inginkan." Lirih Melodi yang kemudian kembali meletakkan tangan Mahendra dengan sangat hati-hati sebelum akhirnya bangkit dan kembali ke kamarnya.
Tanpa sepengetahuan Melodi, Kakek Mahendra tidak benar-benar tertidur, ia bisa mendengar apa yang baru saja di ucapkan Melodi.
"Cucu ku, Kakek hanya ingin melihat kalian bahagia sebelum Kakek harus pergi dari sisi kalian untuk selamanya." Lirih Mahendra.
Bersambung....
__ADS_1