Terjerat Cinta Segitiga Kakak

Terjerat Cinta Segitiga Kakak
Pernikahan


__ADS_3

Tak butuh waktu lama untuk berlangsungnya prosesi pernikahan antara Hito dan Melodi, keduanya saat ini telah resmi menjadi sepasang suami istri. Meskipun keduanya sepakat akan menganggap pernikahan mereka sebagai sandiwara, tetapi tetap saja terlihat jelas ketegangan di wajah mereka selama berlangsungnya acara tersebut.


Melodi dan Hito menghampiri Kakek Mahendra yang tengah duduk dengan senyum merekah sempurna di bibir nya. Mahendra berdiri dan menerima kedatangan mereka kemudian memberikan ucapan selamat dan dan memeluk mereka berdua secara bergantian.


"Sayang, berusahalah untuk bahagia dengan pernikahan yang kau jalani, bukan hanya untuk membuat Kakek mu ini bahagia. Karena bahagia Kakek akan datang sendirinya jika melihat kalian bahagia." Ucap Kakek Mahendra yang kemudian memberikan kecupan lembut di kening Melodi.


Meskipun tak yakin bisa melakukannya, Melodi menganggukkan kepalanya dan membalas pelukan Kakek Mahendra. Hanya saja entah kenapa kali ini Melodi merasakan perasaan bersalah kepada Kakek Mahendra, mungkin dikarenakan ia tidak bisa sepenuhnya menerima pernikahan ini sesuai apa yang Kakek Mahendra inginkan.


Mahendra kemudian memeluk Hito, tak ada kata-kata khusus yang Kakek Mahendra ucapkan pada Hito, hanya saja Hito bisa merasakan tatapan penuh harap dari Kakek Mahendra sehingga dirinya tak berani berlama-lama membalas tatapan itu.


Rey yang sejak tadi menunggu giliran untuk memberikan selamat, terlebih dahulu menghampiri dan memeluk Hito, hanya saja ucapan selamat itu agak berbeda dari yang lainnya, "Shabatku, selamat menempuh hidup baru." Kemudian Rey berbisik, "Selama enam bulan nanti, kamar ku selalu terbuka jika kau membutuhkan tumpangan untuk tidur, dan aku jamin Kakek tida akan mengetahuinya." Ucap Rey.


Rey melepaskan pelukannya terhadap Hito, kemudian dengan antusias dirinya hendak memeluk Melodi dan memberi ucapan, akan tetapi secara bersamaan Melodi mundur satu langkah dan menghindari pelukan Rey.


Rey tersenyum canggung dan hanya bisa mengucapkan selamat kepada Melodi, "Adik Ipar, selamat atas pernikahan kalian." Ucap Rey.


Melodi mengangguk tipis, "Terimakasih, Kak Rey."


.


.


.


.


.


Pandangan Hito jatuh pada Leo yang saat itu tengah berbincang dengan salah satu tamu undangan yang merupakan rekan bisnis keluarga Mahendra, Hito menghampiri Leo dan meminta waktu untuk dirinya bisa berbicara.

__ADS_1


"Paman, sekali lagi aku minta maaf karena pernikahan ini tetap terjadi." Hito mengungkapkan perasaan bersalahnya terhadap Leo.


Leo tersenyum lembut kemudian memeluk Hito, "Tuan Muda, berbahagialah dengan pernikahan Anda! Tak ada yang perlu dimaafkan." Ucap Leo sambil memeluk Hito.


"Ta-tapi Feli,..." Hito hendak membahas Feli, tetapi Leo malah tak ingin membicarakan putrinya itu, "Ah, masih banyak tamu yang harus paman sambut, kembalilah kepada istri mu, Nak!" Untuk pertama kalinya Leo menyebut Hito dengan sebutan itu, mata Hito berkaca-kaca mendengar nya, Hito memeluk Leo dengan cara yang bebeda, kemudian berkata, "Terimakasih karena sudah menjadi pengganti Ayah ku selama ini Paman." Ucap Hito.


Hati Leo terenyuh mendengar ucapan Hito. Tak bisa di pungkiri selama ini Leo lah yang berperan penting dalam kehidupan Hito setelah Kakek Mahendra, Leo sudah menganggap Hito sebagai putra nya sendiri, bahkan kasih sayang yang diberikan Leo kepada Hito bisa dibilang melebihi kasih sayang dan perhatiannya kepada putri kandungnya sendiri, Feli.


***


Semua orang tampak lelah setelah acara pernikahan selesai, termasuk kedua pengantin yang malam itu kembali ke kamarnya masing-masing. Untungnya, Kakek Mahendra tidak menyadari hal itu, dikarenakan sudah lebih dulu beristirahat di kamarnya.


Keesokan hari nya, Melodi bangun lebih awal dan membantu Bi Irah membereskan semua kekacauan sisa pesta tadi malam. Bi Irah menolak bantuan Melodi, akan tetapi Melodi tetap memaksa dan melanjutkan pekerjaannya.


"Hari ini aku libur bekerja Bi, jadi aku memutuskan untuk menbantu Bibi saja." Ujar Melodi.


Melodi menggelengkan kepalanya dan tersenyum lembut, " Kakek tidak akan tahu, jika tak ada yang mengatakannya bukan?"


Melihat kegigihan Melodi untuk membantunya, Bi Irah akhirnya menyerah dan membiarkan Melodi melakukan apa yang ia inginkan.


"Bi, aku yang akan mengantarkan sarapan untuk Kakek. Hari ini, Kakek pasti lelah dan aku akan menyarankan nya untuk sarapan di kamar nya saja." Melodi meminta sarapan yang telah di siapkan Bi Irah untuk ia antarkan sendiri kepada Kakek Mahendra.


Bi Irah mengangguk dan segera menyerahkan apa yang di minta Melodi, "Ini sarapan untuk Tuan Besar, Nona."


"Terimakasih, Bi." Melodi meraih nampan yang berisi sarapan untuk Kakek Mahendra.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Dengan hati-hati Melodi meletakkan beberapa piring yang berisi menu sarapan untuk Kakek Mahendra, Tetapi rupanya indra pendengaran Kakek Mahendra masih sangat tajam, sehigga ia menyadari kedatangan Melodi dan segera terbangun.


"Sayang, apa yang kau lakukan sepagi ini di kamar Kakek?" Tanya Mahendra dengan suara parau karena baru saja bangun tidur.


"Maaf Kakek, apa aku mengganggu tidur Kakek? Aku sudah berusaha pelan-pelan tetapi rupanya Kakek mendengar ku." Melodi menyesali ketidak hati-hatiannya sehingga mengganggu Kakek Mahendra yang masih terlelap.


Kakek Mahendra terseyum lembut, "Tak masalah, biasanya Kakek bangun lebih pagi lagi, mungkin Kakek terlalu lelah tadi malam sampai-sampai bangun sesiang ini." Ujar Mahendra.


Melodi mengangukkan kepalanya, "Ini Kek, aku bawakan sarapan untuk Kakek. Kakek makan dulu, setelah itu baru minum obat. Aku juga membawa beberapa vitamin agar Kakek lebih segar."


Mahendra mengerutkan dahi, merasa ada yang aneh pagi ini, "Kenapa Kakek harus makan di kamar? Bukankah biasanya kita makan bersama di meja makan? Lagi pula Kakek baik-baik saja dan tidak sedang sakit."


Melodi tersenyum canggung, sebetulnya ia sedang tidak ingin bertemu Hito ataupun Rey di meja makan dan berniat menghabiskan sarapannya di kamarnya, "Tidak apa-apa Kek, aku hanya ingin Kakek beristirahat penuh hari ini. Lakukan semua aktifitas Kakek di kamar saja, karena dengan begitu Kakek akan cepat pulih dari kelelahan beberapa hari ini. " Jelas Melodi.


Kakek Mahendra mengangguk dan akhirnya mengikuti saran dari Melodi. Sebelum menghabiskan sarapannya, Kakek Mahendra terlebih dahulu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Melodi menemani Kakek Mahendra menghabiskan sarapan hingga ia selesai memberikan beberapa obat yang biasa di konsumsi oleh Mahendra.


"Kakek, beristirahatlah, aku akan meninggalkan Kakek agar Kakek tidak teganggu." Setelah semua tugas selesai ia lakukan, Melodi meninggalkan Mahendra di kamar nya, dan berniat untuk mengambil sarapannya untuk ia habiskan di kamarnya.


Mahendra menganggukkan kepalanya, lalu berkata, "Terimakah sayang, kau memang cucu yang baik" Ucap Kakek Mahendra sambil tersenyum lembut.


"Melodi, aku mengenalmu sejak kecil, dan tak ada apapun yang bisa kau sembunyikan dari Kakek mu yang tua ini meskipun kau berusaha keras menyembunyikan nya dari ku." Gumam Mahendra dalam hatinya setelah kepergian Melodi.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2