
Tak butuh waktu lama untuk Albert tiba di Apartemen nya, ia membopong tubuh Feli yang sudah tak sadarkan diri. Albert kemudian membaringkan tubuh Feli di atas tempat tidur nya, "Nona, sadarlah! apa kau mendengar ku?" Albert membangunkan Feli dengan menepuk-nepuk lembut pipi Feli dengan ujung telapak tangan nya yang besar.
Feli setengah membuka matanya yang masih terasa berat kemudian melingkarkan tangan nya di leher Albert, "Sayang, kenapa kau mergukan ku?"Gumam Feli membuat Albert kebingungan karena ia tak mengerti kenapa Feli tiba-tiba berbicara seperti itu.
"Andai saja kau tidak tertidur dan dengan sukarela menghabiskan malam itu bersama ku? aku tidak perlu berbohong, dan kita akan saling memiliki bukan?" Feli tak berhenti meracau, ia memang sedang mabuk berat, akan tetapi dengan demikian, Albert menjadi tahu, bahwa gadis yang tengah bersama nya saat ini sedang memiliki masalah dengan kekasihnya.
"Ehm..kenapa kau diam saja?ah..bagaimana jika kita melakukannya sekarang, Sayang?" Feli menunjukkan sikap menggoda, kemudian dengan tak tahu malu ia membuka pakaian nya di hadapan Albert.
Albert hanya diam menyaksikan kegilaan Feli, Albert tak berusaha mencoba menghentikan Feli ketika gadis mabuk itu melucuti satu persatu pakaiannya.
Setelah tubuh Feli benar-benar polos tak berpakaiannya, barulah Albert mulai merasakan sesuatu yang membuatnya bernafsu ingin menikmati tubuh indah Feli.
"Sayang, kau tampan sekali jika sedang malu-malu seperti itu. Muka mu merah seperti tomat, hihi" Goda Feli kepada laki-laki yang ia anggap adalah Hito.
Tanpa di duga Feli memiringkan wajah nya dan menarik leher Arbert agar wajah mereka berdua berdekatan. Feli mencium bibir Albert, mungkin Feli sedang berusaha mengobati kerinduannya kepada Hito yang selama ini terlalu acuh kepada nya.
"Sial..apa ini? bagaimana bisa aku menolak sesuatu yang dapat memabukkan melebihi minuman keras seperti ini?" Gumam Albert dalam hati.
Albert yang semakin tak tahan karena Feli terus saja menggodanya, akhir nya membalas ciuman Feli. Mereka semakin terbawa suasana dan semakin dalam dengan adegan percintaan yang dilakukan karena pengaruh minuman keras itu. Malam itu, Feli akhirnya menyerahkan kesuciannya kepada laki-laki asing yang baru saja ia kenal.
***
__ADS_1
Setelah melewati malam penuh ketegangan karena permintaan yang disampaikan Kakek Mahendra yang mengejutkan, Melodi masih berusaha bersikap tenang dan pagi ini dirinya seperti biasa ikut menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga mereka.
Kakek Mahendra tersenyum lembut ketika Melodi menyapanya, "Selamat pagi Kek, bagaimana tidur Kakek semalam? apa obatnya tidak lupa diminum?" Sapa Melodi.
"Selamat pagi, tentu saja semua sesuai arahan mu, Nona Dokter." Jawab Kakek Mahendra.
Melodi tersenyum karena melihat tak ada yang berubah setelah kejadian semalam, saat ini Kakek Mahendra terlihat baik-baik saja.
Tak lama kemudian, Hito terlihat menuruni anak tangga. Biasanya Hito akan langsung bergabung di meja makan, tetapi pagi ini ia melanjutkan langkahnya melewati meja makan tempat Melodi dan Kakek Mahendra berada dan seperti tak menghiraukan keduanya.
Melodi menyadari sikap Hito yang sepertinya masih sangat kesal kemudian menyusul Hito dan menarik nya ke meja makan.
Sambil melangkah Melodi membisikkan sesuatu, "Kakak, aku tau kau masih sangat kesal, karena aku pun demikian. Tapi berusahalah menyembunyikan nya di depan Kakek. Apa Kakak ingin Kakek sakit?" Bisik Melodi.
Tapi, kenapa ia tak bisa sesabar Melodi? bukankah mereka sama-sama menyayangi Kakek nya itu?
Lagi-lagi ucapan Melodi bisa menenangkan Hito, ia mengikuti Melodi bergabung di meja makan dan menemui Kakek Mahendra.
"Selamat Pagi, Kakek!" Sapa Hito.
Mahendra hanya menjawab dengan anggukkan kepala, dalam hati nya, Kakek Mahendra merasa takjub dan bangga dengan sikap Melodi. Hito yang keras kepala bisa berubah seketika hanya dengan beberapa kalimat dari Melodi, hal itu membuat Kakek Mahendra semakin tidak sabar melihat kedua cucunya itu bisa bersatu dalam sebuah ikatan pernikahan.
__ADS_1
Tak ada hal yang mereka bahas pagi itu di meja makan, Kakek Mahendra memang tak berniat membicarakan nya lagi, apalagi untuk bernegosiasi. Kakek Mahendra hanya akan menyampaikan sesuatu ketika persiapan pernikahan mereka sudah di lakukan. Sedangkan Melodi dan Hito, keduanya sama-sama menghindari pembahasan tentang perjodohan itu. Mereka masih memiliki harapan, Kakek Mahendra akan berubah pikiran dan melupakannya.
***
Feli terbangun ketika Matahari sudah semakin terik di luar sana. Kepalanya masih sangat pusing, tak ada kecemasan di hati nya, karena Feli merasa tak ada yang salah dan ia masih berada di kamar nya.
Feli bangun dari tempat tidur dan hendak ke kamar mandi, tetapi ia begitu terkejut ketika mendapati tubuh nya polos tanpa sehelaipun pakaian yang menutupinya.
Feli menjerit dan segera meyilangkan kedua tangan nya di depan dadanya, "Apa yang terjadi? aku dimana?" Gumam Feli sambil melihat disekeliling ruangan tempatnya berada.
Feli semakin terkejut ketika melihat seorang pria asing yang tengah berbaring di ranjang yang sama dengannya. Feli semakin berteriak, membuat Albert yang sebetulnya masih ingin melanjutkan tidurnya, terpaksa harus bangun dan kemudian bertanya kepada Feli, "Ah, kenapa berteriak? apa kepala mu masih pusing?" Tanya Albert.
Feli berusaha mengingat wajah laki-laki yang sepertinya tidak asing itu, "Ah, kau..kau pria yang semalam minum di kelab bersama ku bukan? lalu kenapa aku ada disini? dan apa yang kau lakukan?" Feli kembali mengingat Albert, tetapi dirinya sama sekali tak mengingat kejadian setelah mereka meninggalkan kelab itu.
Feli kembali tersadar dengan tubuh nya yang polos, dengan cepat menarik selimut yang ada di dekatnya untuk dibalutkan ketubuh nya. Tetapi rupanya tindakan nya itu malah menambah masalah baru, karena selimut yang di tarik Feli adalah selimut yang sama dengan yang Albert gunakan untuk menutupi tubuhnya yang belum sempat mengenakan pakaiannya kembali.
Feli melebarkan matanya, mulutnya terbuka, seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat. Sebagai wanita dewasa, Feli menyadari, jika ia dan Albert sama-sama tak berpakaian, dan tidur dalam ranjang yang sama, lalu apalagi yang telah mereka lakukan selain bercinta.
Tapi, bagaimana bisa ia tak menyadarinya sama sekali?
"Tunggu...katakan kepada ku? siapa kau sebenarnya? dan apa kau berniat menjebakku? aku tak mengingat apapun hingga aku berada disini. Apa kau sudah merencanakan semuanya?" Feli berusaha menerka semua kejadian, ia belajar dari pengalaman beberapa waktu lalu dirinya menjebak Hito, atas dasar itulah Feli melayangkan tuduhan bahwa Albert telah menjebaknya.
__ADS_1
*Bersambung...