
Keesokan harinya setelah Albert menyerahkan sample rambut yang di gunakan untuk tes DNA, Albert menerima hasilnya yang dikirimkan oleh pihak rumah sakit ke alamat Apartemen nya. Tangan Albert bergetar ketika ia hendak membuka amplop surat ditangan nya.
Dengan perlahan Albert merobek ujung amplop berwarna putih itu, ada selembar kertas hvs yang bertuliskan laporan hasil tes DNA. Pelan-pelan Albert membuka matanya yang sebelumnya ia pejamkan. Albert menghela nafas panjang dan kemudian membaca satu demi satu kalimat yang tertulis dalam kertas.
Albert menjatuhkan kertas ditangannya sesaat ia membaca hasil tes DNA itu, tertulis bahwa hasil tes menunjukkan hasil yang menyatakan ada kecocokan DNA antara dirinya dan Melodi. Perasaan Albert bercampur aduk, entah ia harus bahagia atau sedih ketika mengetahui kebenaran bahwa Melodi ternyata adalah adik kandung yang selama ini ia cari.
"Melodi adalah Caren, adik ku." Gumam Albert.
Albert dan Caren hanya terpaut usia dua tahun, Ibu Albert mengandung Caren ketika Albert baru berusia satu tahun. Jarak kelahiran yang begitu dekat, membuat kondisi Ibu mereka lemah, sampai akhirnya Ibu Albert mengalami pendarahan hebat hingga meninggal dunia ketika melahirkan Caren yang tak lain adalah Melodi.
Albert dan Caren tumbuh bersama dan selalu menghabiskan waktu bermain mereka bersama-sama, hal itu dikarenakan status keluarga mereka yang menjadi keluarga terkaya dan terpandang di Negaranya hingga tak ada teman sebaya yang bisa mereka ajak bermain. Hingga suatu ketika Caren berusia lima tahun mengalami penculikan oleh seorang musuh dari keluarga Adalard. Albert yang saat itu berusia tujuh tahun sudah bisa mengingat dengan baik setiap kejadian yang ia alami. Caren di culik di depan matanya ketika mereka sedang berjalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan. Ada huru hara yang saat itu tiba-tiba terjadi, hingga para pengawal mereka kurang memperhatikan dua anak kecil yang tengah mereka jaga. Albert melihat seseorang membawa Caren dan langsung mengejarnya, akan tetapi Albert ketika itu hanyalah seorang anak kecil yang tak memiliki kemampuan untuk mengejar seorang penculik. Hingga akhirnya, Albert dan keluarganya harus menerima kenyataan pahit karena kehilangan Caren dalam peristiwa penculikan itu.
Segala upaya telah dilakukan oleh keluarga Adalard, jika saja penculik itu masih berada di Negara tempat mereka tinggal, tak akan sulit untuk mereka menemukan Caren. Setelah beberapa tahun berjalan, rahasia penculikan itu barulah terbongkar. Seorang wanita yang ketika itu sedang mendekati Tuan Adalard memerintahkan seseorang untuk menculik kedua anak keturunan Adalard. Wanita yang akhirnya berhasil menjadi istri Tuan Adalard berencana menyingkirkan semua keturunan dari istri pertamanya, ia tak ingin jika suatu saat memiliki keturunan dari Tuan Adalard, kemudian harus berbagi warisan dengan Kakak-kakak tirinya. Rencana mereka berhasil meskipun pada akhirnya mereka hanya bisa menculik salah satu dari dua kakak beradik itu. Sialnya, wanita itu seperti mendapat karmanya, karena setelah bertahun-tahun mereka menikah, wanita tersebut tak berhasil memberikan satupun keturunan. Hingga suatu hari semua rahasia yang telah tersimpan selama bertahun-tahun itu terbongkar. Tuan Adalard menghukum keras istrinya hingga tak adalagi masa depan yang bisa wanita itu dapatkan. Albert yang telah tumbuh dewasa dan mengerti dengan setiap kejadian yang menimpa keluarga mereka, akhirnya memutuskan untuk mencari jejak adiknya seorang diri. Dan hari ini, usaha Albert pun telah membuahkan hasil, ia telah menemukan Caren, akan tetapi jauh dari bayangan Albert, kebahagiaan yang ia dapatkan saat ini, harus bercampur dengan kesedihan, dikarenakan kenyataan pahit yang menerangkan bahwa Caren adalah Melodi, satu-satunya wanita yang ia impikan suatu saat nanti bisa menjadi istrinya.
Air mata Albert tiba-tiba mengalir dengan sendirinya, jika saja Caren bukan Melodi, mungkin saat ini ia sudah berlari menghampirinya, dan mengatakan bahwa ia begitu merindukan adik nya itu.
"Kenapa aku harus mengalami dua hal secara bersamaan? aku harus kehilangan kebahagiaan ku ketika aku hampir saja mendapatkan nya?" Gumam Albert.
__ADS_1
***
Setelah beberapa hari persiapan acara pernikahan untuk Hito dan Melodi tampaknya hampir mendekati sempurna. Selama beberapa hari ini pula Melodi tampak murung dan tak seperti biasanya. Hito menghampiri Melodi di kamar nya bermaksud untuk mengajak gadis itu bicara.
"Kau sedang apa?" Tanya Hito.
Melodi menengok kearah Hito yang baru saja masuk. Pintu kamar Melodi memang tidak di kunci dan sedikit terbuka. Hito sempat mengetuk pintu, akan tetapi Melodi seperti tak mendengar suara ketukan pintu dan tampak sedang melamun.
"Tidak sedang apa-apa. Apa Kakek memanggilku?" Jawab Melodi kemudian menebak maksud kedatangan Hito.
Melodi kembali mengalihkan pandangannya dan menatap kearah jendela dengan tatapan kosong.
Hito mendekati Melodi, menyentuh pundak gadis itu dan sedikit mengelusnya berusaha memberi semangat.
"Melo, aku tahu kau sedang memikirkan pernikahan kita." Hito menghela nafas panjang karena dalam hati nya ia pun tak ingin pernikahan itu terjadi, terlebih lagi jika pernikahan itu hanya membuat Melodi bersedih.
"Sepertinya tak ada pilihan lain, aku harus menceritakan seluruh rencana ku kepada Melodi." Gumam Hito dalam hati.
__ADS_1
Melodi mengerutkan dahi ketika tiba-tiba Hito berhenti bicara dan tampak sedang memikirkan sesuatu, "Apa Kakak sedang memikirkan sesuatu?" Tanya Melodi.
"Ya, kau benar, ada sesuatu yang aku rencanakan selama ini, dan aku berencana akan menceritakan nya kepada mu." Jawab Hito.
Melodi menjadi antusias ketika mengetahui Hito telah memiliki rencana, kemudian bertanya, " Rencana? apa yang Kakak rencana kan? katakanlah!" Desak Melodi.
"Baiklah-baiklah, aku akan mengatakan nya dengan satu syarat!" Ujar Hito.
Melodi kembali mengerutkan dahinya, "Kenapa harus ada syarat? hemh..baiklah, katakan apa syaratnya!" Jawab Melodi.
Hito tersenyum nakal, kemudian berkata sambil menggelitik pinggang Melodi, "Syaratnya adalah, kau harus kembali ceria dan tak boleh murung lagi seperti ini!" Jawab Hito.
Melodi tertawa geli dan mencoba melepaskan tangan Hito dari pinggang nya. Hal tersebut membuat Hito lebih tenang dan ikut tertawa lepas bersamanya.
Hito melepaskan tangan nya, kemudian duduk tepat di sebelah Melodi dan bersiap untuk memberitahukan rencananya.
Bersambung....
__ADS_1