Terjerat Cinta Segitiga Kakak

Terjerat Cinta Segitiga Kakak
Apartemen


__ADS_3

Melodi menjadi gugup, satu tangannya menarik ujung baju yang tak sampai menutupi lututnya, sedangkan tangan yang lainnya menutupi bagian dadanya.


Mata Hito spontan mengikuti gerakan tangan Melodi, hingga membuat gadis itu menjerit dan segera membalikkan tubuh nya membelakangi Hito, "Ah, Kakak! Jangan menatap ku dalam keadaan aku tak menggunakan pakaian dalam seperti ini!" Jerit Melodi.


Hito bahkan tak menyadari saat itu Melodi sedang tak mengenakan pakaian dalam jika saja Melodi tak mengatakannya sendiri.


"Maafkan aku! Aku akan berjalan ke kamar mandi tanpa menoleh ke arah mu. Kau bisa pergi sekarang!" Ucap Hito sambil menutup matanya dengan telapak tangan.


Karena tak mendapat jawaban dari Melodi, Hito khawatir gadis itu pingsan karena ketakutan. Hito membuka sedikit matanya, ia sudah tak mendapati Melodi di posisi terakhirnya tadi. Rupanya Melodi sudah lari sejak Hito menutup mata dan belum selesai bicara.


Hito tertawa kecil, sudah lama ia tak melihat sikap Melodi yang kekanak-kanakan seperti itu.


.


.


.


.


Di dalam kamar mandi, Hito melakukan hal yang sama seperti yang Melodi lakukan, yaitu merendam tubuhnya dengan air hangat yang tercampur dengan sabun aromaterapi. Hito memejamkan matanya menikmati kehangatan yang mulai meresap kedalam tubuhnya. Tiba-tiba saja, muncul bayangan Melodi yang beberapa saat lalu berada di depannya. Hito spontan tersenyum dan merasa ada sesuatu yang hangat dalam hatinya.


"Seandainya saja dia bukan adik ku, mungkin saat ini aku sudah menjalani kehidupan bahagia bersama istri secantik dan selucu Melodi." Gumam Hito.


Hito yang sebelumnya bergumam tanpa sadar, memukul kepalanya sendiri, "Dasar bodoh! Apa yang aku pikirkan? Melodi berhak bahagia dengan kehidupannya, dan aku bisa mencari wanita lain yang mirip seperti Melodi."


Selama ini Hito memang mengagumi kepribadian Melodi dan selalu berkeinginan suatu saat ia akan memiliki istri yang mirip dengannya, tetapi tentu saja Hito tak pernah berkeinginan untuk menikahi Melodi yang selama ini telah ia anggap sebagai adik kandung nya sendiri.


***


Melodi baru saja hendak tertidur, tetapi suara ponsel Hito yang terus saja berdering sangat mengganggunya. Melodi melihat ke arah kamar mandi, tetapi rupanya Hito masih berada disana.

__ADS_1


Melodi bangkit dan menghampiri meja dimana Hito meletakkan ponselnya. Ia tak lupa membalut tubuh nya dengan selimut, khawatir setiap saat Hito akan keluar dari kamar mandi dan melihatnya.


"Kak Rey? Ada apa Kak Rey menelpon malam-malam begini?" Gumam Melodi.


Melodi awalnya ingin mengabaikan panggilan Rey, akan tetapi ia teringat Kakek Mahendra, dan khawatir Rey menelpon untuk sesuatu yang penting dan berhubungan dengan Kakek Mahendra.


Melodi menjawab panggilan Rey di ponsel Hito, "Hallo Kak Rey, aku Melodi. Kakak sedang mandi, apa ada sesuatu yang penting?"


Rey mengerutkan dahi ketika suara Melodi lah yang ia dengar melalui sambungan ponsel milik Hito, "Melodi? Jika saat ini Hito sedang mandi dan kau yang menjawab teleponku, itu berarti kau dan Hito benar-benar bermalam di Apartemen?"


"Benar, kami berdua memutuskan untuk tidur di Apartemen. Apa ada sesuatu yang penting? Akan aku sampaikan jika Kakak sudah selesai mandi." Melodi menjawab tanpa sadar lawan bicaranya saat ini sedang merasa cemburu.


"Kak Rey? Jawab aku? Apa Kakek baik-baik saja?" Melodi kembali bertanya ketika Rey tak menjawab nya.


"Ti-tidak, Kakek baik-baik saja dan saat ini pasti sudah tidur. Hito meminta ku membawakan baju ganti untuk mu dan aku hanya ingin memastikan saja."


"Benar, aku yang meminta nya. Katakan saja pada Bi Irah untuk menyiapkan pakaian kerja ku dan.., " Melodi ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


"Dan...ah, jangan lupa untuk membawakan ku pakaian dalam juga." Melodi berkata pelan karena menahan malu.


Rey melebarkan matanya "Pakaian dalam? Apa Melodi saat ini tak mengenakan pakaian dalam?" Gumam Rey dalam hatinya. Membayangkan semua itu membuat Rey gelisah dan ingin segera menemui mereka.


"Ba-Baiklah, apa kau ingin aku mengantarkan nya sekarang juga?" Rey bertanya antusias.


Melodi menggelengkan kepalanya seakan Rey bisa melihatnya, "Tidak perlu! Besok pagi saja, aku tidak membutuhkan nya sekarang karena aku bisa meminjam baju Kakak. Maaf karena sudah merepotkan mu!" Jawab Melodi.


Rey semakin kepanasan ketika membayangkan Melodi saat ini hanya mengenakan sebuah kaos yang kebesaran dan tanpa pakaian dalamnya. Rey ingin memaksa dan mencari alasan agar dirinya bisa menemui Melodi dan Hito di Apartemen.


"Tidak masalah Melodi, dengan senang hati aku akan mengantarnya, lagi pula tak baik jika kau dan Hito bermalam di Apartemen hanya berdua saja. Aku bisa menemani kalian!"


Setelah berkata demikian, Rey mendengar seseorang memakinya di ujung telepon dan tentu saja itu suara Hito.

__ADS_1


"Omong kosong!! Apa maksudmu tidak baik jika kami hanya berduaan?" Hito yang baru selesai mandi mendapati Melodi sedang melakukan percakapan menggunakan ponsel miliknya. Hito merebut ponsel itu dari tangan Melodi dan mendengar suara Rey yang ucapannya kali itu membuat Hito marah.


"Hito? Kau?"


"Ya, kau pikir siapa? Bukankah yang kau hubungi itu adalah ponsel ku?"


"Ma-af, aku hanya ingin memastikan kalian sedang berada dimana ketika kau mengirim pesan untuk membawakan baju Melodi ke Apartemen mu." Jawab Rey lebih hati-hati.


Hito menggelengkan kepalanya, "Bukankah sudah jelas aku dan Melodi sedang berada di Apartemen? Karena aku meminta mu mengantar pakaian Melodi ke Apartemen ku. Jadi untuk apa kau berbicara omong kosong?"


"Aku tidak berbicara omong kosong. Aku hanya mengatakan tidak baik kalian bermalam berduaan disana, untuk itu aku menawarkan diri untuk menemani kalian." Jelas Rey tanpa sadar membuat Hito kembali marah, " Tentu saja itu omong kosong! Kenapa kau berpikir tidak baik jika sepasang suami istri bermalam bersama di sebuah Apartemen?"


Melodi yang menyaksikan Hito tengah berdebat dengan Rey melalui sambungan telepon mencoba menenangkan Hito, "Kakak sudahlah! Kak Rey tidak salah, jangan marahi dia?"


Tanpa Melodi sadari, perkataan nya menyinggung perasaan Hito, "Jika Rey tidak salah? Lalu siapa yang salah menurut mu? Aku?" Bentak Hito.


Melodi tersentak kaget karena Hito membentaknya, kemudian berlari untuk kembali ke tempat tidur.


"Ah, sudahlah! Ini semua gara-gara kau!" Hito mengumpat kesal kepada Rey, kemudian mematikan sambungan teleponnya.


Hito menjatuhkan tubuhnya di sofa dan mengusap kasar wajahnya.


"Arghh...ada apa dengan ku?" Umpat Hito mengutuk tindakannya sendiri.


Hito melihat Melodi sudah berada di tempat tidur dengan menutup seleuruh bagian tubuhnya hingga kepala dengan selimut, dan memutuskan untuk tidur di atas sofa tempatnya duduk saat ini.


"Aku akan meminta maaf pada Melodi besok saja!" Gumam Hito yang sudah merasa sangat lelah dengan aktivitasnya hari ini.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2