Terjerat Cinta Segitiga Kakak

Terjerat Cinta Segitiga Kakak
Surat Wasiat


__ADS_3

Setelah Melodi mendapatkan ketenangannya kembali, Mahendra melanjutkan apa yang sebelumnya ingin ia sampaikan di depan kedua cucu yang sangat disayanginya itu.


"Ayolah, Kakek minta kalian tetap tenang dalam menanggapi setiap hal yang akan Kakek sampaikan. Bukankah kalian sudah dewasa dan berubah menjadi sosok-sosok tangguh saat ini? jadi, berhentilah bersikap seperti anak-anak di hadapan Kakek! setidaknya, untuk malam ini saja." Ujar Mahendra kepada kedua cucunya yang kembali duduk berdampingan.


Bukannya menjadi tenang, Melodi dan Hito malah semakin khawatir dengan sikap Kakek Mahendra malam ini.


Sebetulnya, keputusan apa yang ingin Kakek Mahendra sampaikan?


"Sebelumnya Kakek ingin bertanya terlebih dahulu kepada kalian, dan kalian hanya boleh menjawabnya dengan anggukkan atau gelengan kepala saja." Jelas Mahendra.


Hito dan Melodi sama-sama mengangguk mengiyakan permintaan Kakek Mahendra.


"Apa kalian berdua sayang kepada Kakek?" Pertanyaan pertama yang di lontarkan Kakek Mahendra.


Tentu saja Melodi dan Hito segera mengangguk secara bersamaan.


Mahendra mengangguk dan tersenyum lembut kepada keduanya, dalam hati Mahendra memang merasakan bahwa kedua cucu nya itu sangat menyayanginya meskipun ia sebetulnya tak perlu mempertanyakan hal itu kepada mereka.


Kakek Mahendra kembali bertanya, "Apa selama aku hidup, aku pernah mengajukan permintaan kepada kalian?" Ucap Mahendra.


Hito dan Melodi kali ini menggeleng secara bersamaan, mereka memiliki pikiran yang sama, bahwa selama ini Kakek Mahendra memang tidak pernah meminta atau menuntut apapun kepada mereka, apalagi memaksakan kehendak.


"Hemh...baguslah jika kalian mengingat nya." Ungkap Kakek Mahendra kemudian.


Hito menjadi semakin bingung dan akhirnya angkat bicara,"Kakek, katakan saja apa yang ingin Kakek bicarakan! kenapa kita seperti sedang main tebak-tebakan seperti ini?" Protes Hito yang semakin penasaran dengan maksud Kakek nya itu.


"Sabarlah, dengarkan dan ikuti Kakek saja dulu! Kakek belum mengijinkan kalian berdua berkomentar." Sahut Kakek Mahendra.

__ADS_1


Melodi menenangkan Hito dengan menepuk-nepuk punggung tangan Hito dan berbisik, "Kakak ikuti saja dulu permintaan Kakek!" Ujar Melodi.


Hito yang hampir habis kesabarannya kembali tenang sesaat setelah Melodi menenangkan nya, sentuhan Melodi begitu menenangkan untuk Hito, seperti sentuhan seorang Ibu kepada putranya yang sejak lama ia rindukan.


"Kalian menyayangi Kakek, selama ini Kakek pun tidak pernah mengajukan permintaan kepada kalian, lalu, jika kali ini Kakek memiliki satu permintaan yang pertama dan terakhir dalam hidup Kakek, apa kalian akan memenuhi nya?" Lanjut Kekek Mahendra.


Hito dan Melodi mengerutkan dahi, mereka kemudian saling berpandangan penuh isyarat.


"Kakek, mengapa Kakek begitu sungkan kepada kami? bukankah kami cucu-cucu Kakek? jika Kakek menginginkan sesuatu, kenapa Kakek harus bersikap seperti ini? dan jangan pernah katakan bahwa ini permintaan terakhir Kakek, berapa kali pun Kakek meminta sesuatu, aku dan Kakak pasti akan berusaha mengabulkannya. Kakak, bukankah kau sependapat dengan ku?" Ujar Melodi yang kemudian diiringi anggukkan oleh Hito.


Kakek Mahendra tersenyum senang, kali ini ia betul-betul akan mengatakan permintaan nya kepada kedua cucunya.


"Kalian berdua anak-anak yang baik dan selalu menjadi cucu kesayangan Kakek. Baiklah, jika demikian, Kakek tetap saja hanya punya satu permintaan, jika kalian berat melakukannya, kalian boleh menganggap ini sebagai sebuah keputusan Kakek yang tidak bisa kalian tolak." Mahendra menghela nafas panjang kemudian melanjutkan, "Kakek ingin kalian berdua menikah dan menjadi pasangan suami istri!"


"Apa?..." Hito dan Melodi sama-sama terkejut dan spontan berdiri ketika mendengar permintaan Kakek Mahendra yang mereka anggap sungguh tidak masuk akal.


"Kakek..." Melodi hendak menghampiri Kakek Mahendra, akan tetapi tangan Kakek Mahendra lebih cepat memberi isyarat bahwa dia baik-baik saja dan tidak membutuhkan pertolongan.


"Kalian sungguh mengejutkan ku, aku hanya minta satu hal kepada kalian, tetapi reaksi kalian hampir saja membunuhku!" Ujar Mahendra setelah detak jantungnya kembali normal.


"Kakek, permintaan macam apa yang Kakek ajukan kepada kami? kenapa Kakek ingin kami menikah dan menjadi pasangan suami istri? bukankah kami sudah saling menyayangi sebagai sepasang saudara yang layaknya saudara kandung?" Jawab Hito masih tak habis pikir dengan permintaan Kakek Mahendra yang tidak masuk akal.


"Kakek, kakak benar. Kakek boleh mengajukan seribu permohonan, dan kami berjanji, kami akan berusaha mengabulkan permintaan Kakek, tapi tidak untuk meminta aku dan Kakak menikah!" Melodi membenarkan pendapat Hito, dan ikut menolak perjodohan itu.


"Bukankah Kakek sudah bilang, jika kalian tidak bisa mengabulkan permintaan ku, anggap saja ini sebagai perintah Kakek untuk kalian berdua!" Seru Kakek Mahendra.


Melodi dan Hito hendak menjawab, akan tetapi Kakek Mahendra tidak memberikan kesempatan untuk mereka berbicara. Mahendra meminta Theo pengacaranya untuk mengeluarkan berkas yang sebelumnya sudah mereka persiapkan.

__ADS_1


"Theo, beritahukan isi surat itu kepada mereka!" Perintah Kakek Mahendra kepada Tuan Theo.


"Baik, Tuan." Jawab Theo.


Theo kemudian membacakan surat keputusan yang merupakan wasiat dari Kakek Mahendra.


"Tuan dan Nona Muda, dalam surat ini, Tuan Besar menyatakan, setalah Tuan Besar meninggal, seluruh kekayaan Tuan Besar Mahendra akan diwariskan kepada keturunan dari Tuan dan Nona Muda jika anda berdua menikah. Dalam surat ini juga dijelaskan, jika anda berdua menolak untuk menikah, seluruh kekayaan Tuan Besar akan dilimpahkan seluruh nya kepada panti sosial."


Sungguh keputusan yang begitu mengejutkan Hito dan Melodi, bahkan Leo yang berada disana pun ikut terkejut. Leo mengetahui, selama ini Hito tengah menjalin hubungan asmara bersama putrinya, meskipun hal itu sangat mereka rahasiakan dari Mahendra, tetap saja, hal itu tidak akan mudah untuk mereka bisa menerima perjodohan itu. Leo berpikir keras, jika Hito dan Melodi menikah, bagaimana dengan perasaan Feli. Meskipun selama ini Leo lebih mengutamakan urusan keluarga Mahendra, tapi ia sungguh tidak tega jika harus melihat putrinya patah hati.


"Tidak...!! Kakek, kenapa Kakek membuat keputusan konyol seperti itu?" Hito menolak keras keputusan yang di buat Kakek Mahendra.


"Kakek, aku sama sekali tidak keberatan jika aku tidak mendapatkan sepeser pun harta Kakek. Tapi Kakak? Kak Hito adalah cucu kandung Kakek, satu-satunya keturunan dan darah daging Kakek, aku rasa keputusan yang Kakek buat, sangat tidak adil untuk Kakak." Ujar Melodi.


Kakek Mahendra masih dalam keadaan tenang, dirinya memang sudah memprediksi reaksi dari Hito dan Melodi yang tidak akan mudah menerima keputusan terbesar nya itu.


"Melo, Kakek tau, kau tidak pernah menginginkan harta Kakek, untuk itulah, Kakek semakin yakin, kau adalah wanita yang tepat untuk mendampingi Hito, dan kelak menjadi ibu dari anak-anak nya." , Mahendra terdiam sejenak, matanya tampak berkaca-kaca, "Entah berapa lama lagi Kakek hidup, setidaknya, Kakek bisa pergi dengan tenang jika sebelum aku mati, aku bisa melihat kalian bersatu dan saling menyayangi, bukan sebagai saudara tetapi, sebagai sepasang yang saling mencintai." Lanjut Mahendra.


Beda halnya dengan Hito yang masih mencoba protes kepada Mahendra, Melodi hanya termenung, ada butiran air mata yang tiba-tiba melintas di pipinya. Jika saja, Kakek Mahendra meminta nya menikahi laki-laki lain, ia akan menerima pernikahan itu meskipun harus ia lakukan dengan laki-laki yang tidak ia cintai. Tapi, Kakek Mahendra meminta nya menikah dengan Hito, seseorang yang selama ini ia anggap sebagai Kakak kandung nya sendiri.


Dan Feli, bagaimana dengan nasib Feli?


Bukankah Hito saat ini sedang memiliki hubungan dengan Feli yang bahkan sudah terlalu dalam. Tentu saja Melodi tidak ingin dirinya terjerat dalam cinta segitiga Hito dan Feli.


*Bersambung....


.

__ADS_1


__ADS_2