Terjerat Cinta Segitiga Kakak

Terjerat Cinta Segitiga Kakak
Mencari cara


__ADS_3

"Ayah, benarkah yang Hito katakan?" Feli berbalik dan bertanya kepada Leo untuk memastikan kebenaran ucapan Hito.


Diluar dugaan, Leo tidak menjawab Feli melainkan hendak menyeretnya ke luar ruangan, "Cukup Feli, berhentilah bersikap lancang kepada Tuan dan Nona muda! ini sama sekali bukan urusan mu!" Bentak Leo sambil menarik tangan putrinya.


Feli melepaskan tangan nya kemudian berkata keras, "Apa maksudmu Ayah? tentu saja ini menjadi urusan ku! Hito kekasih ku, dan kami, kami pernah tidur bersama. Jadi seharusnya akulah yang menikah dengan nya, bukan anak pungut itu!"


"Plakkk...." Sebuah tamparan lebih keras kembali mendarat di pipi Feli, kali ini bukan hanya menyakiti fisik nya, melainkan harga diri Feli yang merasa tercabik karena sudah dua kali di tampar ayah kandung nya sendiri di hadapan orang lain.


Feli tersungkur di lantai menangis keras kemudian berharap Hito akan datang dan membela nya. Akan tetapi kali ini Hito sama sekali tidak memperdulikan Feli, Hito mengepalkan tangannya, ikut marah karena Feli lagi-lagi menghina Melodi dihadapannya.


Feli berdiri tertatih menghampiri Hito, "Sayang, kenapa kau diam? apa kau masih tidak percaya jika malam itu kita tidur bersama? aku datang kesini untuk melakukan visum seperti permintaan mu, akan tetapi...." Feli tak sampai menyelesaikan kalimatnya, Leo yang sudah habis kesabaran kali ini benar-benar menyeret nya dengan sekuat tenaga, "Dasar anak tak tau di untung, dimana harga dirimu sebagai seorang wanita, hah?" Leo berhasil menyeret Feli hingga keluar ruangan dan meminta petugas keamanan untuk membawa Feli keluar dari gedung rumah sakit itu.


.


.


.


.


.


Albert menyaksikan ketika Feli dibawa paksa oleh seorang petugas keamanan keluar gedung, Albert berlari dan menghampiri Feli. Albert semakin tak habis pikir ketika melihat keadaan Feli yang tampak kacau.


"Nona Feli, ada apa dengan mu? kenapa kau menangis?" Tanya Albert sambil berjongkok mensejajarkan tubuh nya dengan tubuh Feli yang sudah tak sanggup lagi berdiri.


Feli tak bergeming, tatapan nya kosong. Albert menjadi khawatir kemudian membopong tubuh Feli untuk masuk kedalam mobil nya.


Di dalam mobil, Albert bertanya, kemana ia harus mengantar Feli, akan tetapi Feli sama sekali tak menjawab bahkan tak mengeluarkan sepatah kata pun.

__ADS_1


Albert kehabisan akal, kemudian memutuskan untuk membawa Feli ke Apartemen milik nya.


***


Sepulang nya Leo, Hito dan Melodi sama-sama bingung dan tak tahu dengan cara apa mereka akan meyakinkan Kakek Mahendra untuk membatalkan rencana pernikahan itu.


"Kakak, bagaimana ini? Kakek akan menikahkan kita dua Minggu lagi. Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Melodi.


Hito menghela nafas panjang, "Entahlah, apa menurutmu kesehatan Kakek tidak akan menjadi buruk ketika kita menolak keras keinginannya? jika menurut mu itu mungkin, aku yang akan sekuat tenaga melawan Kakek." Sahut Hito.


"Tanpa Kakek sadari, kita menolak perjodohan itu bukan hanya karena harta warisan, melainkan karena kesehatan Kakek yang akhir-akhir ini semakin tidak stabil. Kakak, aku ingin kau menjawab jujur! apa Kakak sama sekali tidak keberatan jika kau tidak mendapatkan harta warisan itu sama sekali?" Tanya Melodi kemudian.


Hito mengerutkan dahi, "Apa maksud mu? tentu saja aku keberatan. Kita berdua adalah cucu Kakek, dan sudah seharusnya kita menjadi penerusnya kelak. Apa jadi nya aku jika suatu saat aku harus kehilangan semuanya. Siapa yang akan menerima aku bekerja? dan jika pun ada, mungkin posisi ku kelak hanya sebagai karyawan biasa. Sedangkan kau? Kau adalah seorang dokter ahli. Aku yakin, tak akan ada rumah sakit yang akan menolak mu jika kau meminta bergabung bersama mereka." Ujar Hito.


Melodi mengangguk membenarkan perkataan Hito, kemudian berkata, "Baiklah, jika demikian ayo pikirkan cara yang lebih baik lagi, Kakak!"


Hito dan Melodi sama-sama berpikir keras, tetapi mereka sama sekali tidak bisa mendapatkan cara yang tepat.


"Menikah dengan Feli? apa tidak ada cara yang lebih baik selain aku harus menikahi Feli?" Tanya Hito.


Mendengar perkataan Hito, Melodi mengerutkan dahi, "Bukankah selama ini kalian berpacaran, dan itu berarti Kakak dan Feli sudah saling mencintai. Lalu apalagi kelanjutan hubungan kalian jika bukan menikah?" Melodi menegaskan hubungan Hito dan Feli selama ini.


Hito tak menyangkal ucapan Melodi, Hito memang menjalin kasih bersama Feli selama ini, tetapi Hito sendiri tidak yakin, apakah dirinya benar mencintai Feli?


"Apa aku mencintai Feli dan ingin menikah dengannya?" Batin Hito.


"Kakak, kenapa kau diam saja?" Tanya Melodi menyadarkan Hito yang tengah merenung.


"Melo, selama ini Feli memang kekasihku, tetapi aku tidak pernah berpikir suatu hari aku akan menikah dengan nya. Bisakah kau memikirkan cara lain?" Ujar Hito.

__ADS_1


Melodi semakin tak mengerti jalan pikiran Hito, ia berpikir mungkin saja Hito masih marah karena sikap Feli tadi. Melodi mencoba memikirkan cara lain untuk membatalkan rencana pernikahan nya bersama Hito.


***


Albert sedang merawat Feli, ada bercak darah di bibir Feli yang terlihat seperti habis terkena tamparan keras.


"Nona..ah..Feli...apa sebenarnya yang telah terjadi? kenapa dirimu seperti ini? jika kau ingin, kau bisa ceritakan semuanya kepada ku!" Tanya Albert.


Kali ini Feli merespon ucapan Albert. Feli menatap Albert, kemudian entah apa yang membuatnya ingin menangis sejadi-jadinya hingga ia kini bersandar pada bahu Albert.


Albert menepuk-nepuk punggung Feli, mencoba menenangkan gadis dihadapannya itu.


"Menangislah! kau bisa bercerita setelah kau puas menangis." Ujar Albert.


Feli menegakkan kepala nya lalu berkata lirih, "Terimakasih." Ucap Feli.


"Sama-sama, kau tak perlu sungkan. Katakanlah seperti kau sedang bercerita dengan seorang teman. Siapa yang tega menampar mu, Feli?" Tanya Albert dengan lembut.


"Ayah ku." Jawab Feli singkat.


"Ayah mu? apa aku tidak salah dengar? jika benar, mengapa Ayah mu sampai hati memukul putri nya sendiri?" Tanya Albert.


Feli menatap dalam Albert kemudian berkata, "Sudahlah, aku tidak ingin membicarakan Ayah ku yang tak berperasaan itu. Terimakasih atas bantuan mu. Aku permisi pulang!" Feli beranjak berdiri dan berniat meninggalkan Albert.


"Tunggu!" Albert menghentikan langkah Feli.


Feli berhenti kemudian bertanya kenapa Albert menahannya, "Apa aku harus membayar kebaikan mu dengan tubuh ku? jangan bermimpi!" Dengus kesal Feli.


Albert tertawa geli mendengar tuduhan Feli, "Hahaha...., kenapa otak mu menjadi mesum? aku tidak ingin kau membayar ku dengan tubuh mu, kau tak perlu khawatir, aku tidak akan melakukan nya, kecuali jika kau sendiri yang meminta." Ujar Albert.

__ADS_1


*Bersambung..


__ADS_2