Terjerat Perjodohan

Terjerat Perjodohan
The heart of Ocean


__ADS_3

Selama beberapa hari ini aku di sibukan dengan persiapan pernikahan yang pelaksanaannya tinggal beberapa hari lagi. Karena kesibukanku ini, aku jarang bisa datang ke Khansallium untuk memeriksa perkembangan restauranku. Tapi dari Wiwi dan Juga Anya, aku tahu seperti apa pengunjungnya. Restauran utama, yang sudah ada sejak jaman aku kecil, karena restauran ini salah satu usaha papi yang memang khusus buat aku, seperti restauranku di Singapura. Enggak heran kalau pengunjung di sini itu lintas generasi. Orang seusia papi pun kerap menghabiskan momen nongkrong hanya untuk bernostalgia.


Kami enggak pernah membatasi jam berapa restauran tutup, tetapi khusus malam Jum'at, aku sengaja mengharuskan restauran tutup pada pukul sembilan.


Karena di malam jum'at aku selalu mendapat pesanan nasi kotak, atau cemilan ringan dalam jumlah besar untuk acara kegiatan muslim di salah satu masjid dekat Khansallium, selain itu juga sebagai bentuk menghormati acara rutinan di masjid.


Malam ini aku berada di rumah besar milik kakek neneknya mas Aksa. Untuk pertama kalinya aku datang kesini karena mas Aksa bilang, nenek ingin bertemu denganku. Dan tepatnya, saat ini aku di dalam kamar mendiang papa mamanya mas Aksa.


Mataku menghangat saat menatap foto sepasang suami istri yang tergantung di dinding. Aku yakin itu adalah foto papa mamanya mas Aksa.


Saat mataku terus tertuju pada bingkai besar itu, aku nggak bisa membayangkan jika aku yang berada di posisi mas Aksa, di tinggalkan oleh dua orang sekaligus. Sampai aku ngga paham bagaimana hancurnya perasaan mas Aksa saat itu. Aku berusaha sekuat tenaga menahan genangan air di kelopak mata. Hanya membayangkan di posisi mas Aksa saja sampai menguras air mata begini, apalagi mengalaminya, mungkin seperti kehilangan separuh organ tubuhku.


"Sayang" Panggil nenek yang menurutku masih terlihat sangat cantik, meskipun sudah nampak jelas kerutan di wajahnya.


"Iya nek" jawabkku gugup, beliau menggiringku duduk di tepian ranjang.


Ketika kami sudah sama-sama duduk, tangan nenek terulur menarik laci meja di sisi tempat tidur. Ia mengeluarkan kotak perhiasan yang menurutku bentuknya sangat antik dan langka.


Bibirnya mengulas senyum, kemudian tanganya bergerak membuka kotak itu.


Aku tak bergeming selama nenek membuka kotak yang ku tahu berisi kalung, dia memperhatikan lekat-lekat berlian itu.


The Heart Of The Ocean. Kalung ini menjadi kalung yang sangat populer saat pertama kali muncul dalam film romantis, salah satunya film Titanic (film yang menceritakan kisah cinta yang berakhir tragis dari Rose DeWitt Bukater dengan Jack Dawson). Dalam hati aku berharap kisah cintaku dengan Aksa nggak berakhir seperti mereka, melainkan seperti orang tuanya yang di pisahkan oleh maut secara bersamaan.


Kalung dengan bentuk yang sangat simple namun mampu memperlihatkan kesan elegan bagi pemakainya.


"Ini milik nenek" ucapnya parau "Tapi sudah menjadi milik Shafira karena nenek memberikannya saat menjelang pernikahan papa mamanya Aksa, dan sebelum mamah Aksa meninggal, dia sempat menitipkan Aksa pada nenek untuk menjaga dan merawatnya" Nenek berhenti sejenak untuk mengambil napas. Sekian detik berlalu, beliau kembali bersuara. "Serta kalung ini agar di berikan pada wanita yang akan mendampingi Aksa. Dan sekarang, nenek serahkan ini padamu, ini hadiah pernikahan kalian dari mamah mertuamu"


Omongan nenek, benar-benar membuatku tersentuh, dan nggak bisa lagi menahan air yang menggenang.


Nenek menutup kotak itu lalu menyerahkannya padaku. "Terimalah dan pakai di hari pernikahanmu nanti"

__ADS_1


Aku menerimanya dengan ragu. Kalau boleh jujur, sebenarnya ini sangat berlebihan, apalagi kalung ini turun temurun dari keluarga Gallileo. Dan yang ku tahu harganya sangat mahal. Aku merasa menjadi orang yang spesial di keluarga mereka.


Ku pikir kalung ini adalah simbol penghargaan tertinggi yang pernah aku gapai. Dari dalam hati aku berjanji akan menyimpan baik-baik pemberian mamah mertuaku, walaupun aku nggak sempat bertemu secara langsung, mereka nggak datang di acara sakral putranya, tapi dengan memakai kalung ini di hari pernikahan kami, semoga bisa merasakan kehadiran papa dan mama untuk memberikan restu.


"Makasih sudah mau menerima Aksa" ucapan nenek membuatku mendongak mempertemukan netra kami. "Satu kebiasaan buruk yang Aksa miliki" lanjutnya dan seketika keningku mengerut.


"Dia sangat malas dan paling enggak suka bangun pagi"


Waah Meira ke dua ini. Setiap kali aku membangunkan adikku itu sampai geleng-geleng kepala, di tambah harus bangunin suami, sepertinya aku harus sedia stok sabar banyak-banyak.


"Memangnya nggak sholat subuh nek?"


"Dia bilangnya si habis sholat tidur lagi" aku nenek


Fix ini kembarannya Meira. Kayaknya aku kena tulahnya dia karena udah cerewetin dia tiap pagi.


"Nek" tiba-tiba ada seseorang yang memanggil dari ambang pintu. Kami kompak menoleh ke arah suara.


"Lama nggak ke kamar ini" ucapnya dengan posisi menelungkup sembari menyangga sebelah sisi kepalanya dengan tangan kiri. Manik hitamnya bergerak mengedarkan ke seluruh sudut.


Tampak seulas senyum di bibir sang nenek.


"Kamu yang nggak pernah nyempetin buat masuk ke sini" sahut nenek menimpali ucapan mas Aksa.


"Kasihan kamu, nikahnya sama orang yang udah nggak punya papa mama, jadinya nggak punya mertua kan?" ledek mas Aksa. Aku nggak tahu terbuat dari apa isi kepalanya, aku saja sedih begitu memasuki kamar ini, dia malah melontarkan candaan yang memantik rasa kesalku.


"Memangnya kamu nggak sedih ingat mereka?" tanyaku mengernyit


"Sedih" jawab Mas Aksa dengan tenang. "Sedihnya udah dari dulu, ibarat makan tuh udah yang paling kenyang sampai nggak bisa ngelakuin apapun, sekarang saatnya ngedoain mereka"


Benar juga apa yang di katakan mas Aksa. Tapi tetap saja sedih kalau aku yang mengalaminya. Seperti mamih yang terkadang sampai nggak nafsu makan jika mengingat orang tuanya, dan papi yang kadang sampai pusing kalau lagi kangen sama mami Puspa.

__ADS_1


Ya, papi memang suka ingat istrinya yang udah meninggal, tapi mami sama sekali nggak cemburu. Justru malah mami yang selalu ingatin papi buat nengokin mami Puspa. Ketulusan mami itulah yang membuat papi menerima mami. Apalagi sayangnya mami ke abang-abangku sama sekali nggak beda-beda dengan aku dan Meira.


"Udah selesai kan nek urusannya?"


Nenek hanya tersenyum merespon pertanyaan mas Aksa.


"Di antar pulang yuk" lanjutnya melirikku.


Aku pun sama seperti nenek yang meresponnya dengan bahasa tubuhku, Mengangguk.


******


"Bisa kamu ceritakan sedikit tentang papah dan mamah?"


Dia sempat melirikku sekilas, lalu kembali fokus pada kemudinya. "Papah orangnya diam, nggak suka membantah omongan mamah. Tapi meskipun papah begitu, mamah nggak pernah berani sama papah, dan selalu ngurus papah dengan baik" Mas Aksa mengatakannya sambil terus fokus ke arah depan, seraya mengendalikan mobilnya. "Kalau mamah orangnya tegas, tapi baik, dia orang pertama yang akan mengomeliku habis-habisan jika aku nakal"


"Memangnya kamu suka nakal?"


"Sedikit" sahutnya singkat. Hingga tak terasa kami sudah sampai di depan gerbang rumah papi. Sementara mas Aksa sengaja nggak langsung masuk dan memarkirkan mobilnya ke depan rumah.


"Tunggu beberapa hari lagi aku akan menghajarmu"


Aku merasa geli mendengar ucapan mas Aksa barusan, dan tiba-tiba jantungku berdetak nggak karuan. Dia meraih tanganku lalu mendekat. "Itu salah satu alasan kenapa aku mau secepatnya" lanjut mas Aksa dengan jarak wajah yang sangat dekat dengan wajahku.


Saat mataku memicing, dia malah mencuri kecup di bibirku, lalu kembali mengulangnya kali ini nggak sekedar mencium, mas Aksa menyapu bibirku lembut, ciuman yang sama ku rasakan seperti beberapa waktu lalu saat di restauran.


Ketika aku meminta jeda, napas kami saling memburu dengan kening nyaris bersentuhan. Entah kenapa semenjak menerima kehadirannya, aku jadi sulit mengendalikan diri, terutama untuk masalah skinship seperti ini, aku benar-benar di bawa hanyut hingga ke lautan terdalam.


Aku semakin bergerak mendekatinya untuk menciumnya lagi dan mas Aksa menyambutnya dengan hangat, hingga suara ketukan kaca mobil, membuat ciuaman kami mendadak terputus.


Meira!

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2