Terjerat Perjodohan

Terjerat Perjodohan
Awal yang baru


__ADS_3

Selama empat hari aku dan mas Aksa berada di paris, kami hanya stay di hotel dan sesekali keluar untuk makan dan belanja oleh-oleh. Karena memang aku dan mas Aksa sebelumnya sudah beberapa kali kesini, jadi nggak ada keinginan untuk jalan-jalan, yang kata mas Aksa hanya buang-buang tenaga. Dan aku setuju, karena ini ke tiga kalinya aku menikmati udara di Paris. Pertama saat kami merayakan ulang tahun Meira yang ke 17, kami sekeluarga berlibur kesini, kedua dengan teman-temanku, dan ketiga dengan mas Aksa. Begitu juga dengan mas Aksa yang sudah beberapa kali berkunjung ke sini.


Tadinya aku berharap bisa melihat mba Gina dan papa mertuanya lagi, tapi sepertinya yang kulihat kemarin memang bukan mereka, jadi nggak mungkin bertemu dengannya.


Setelah melewati beberapa pemeriksaan dokumen, akhirnya kami sama-sama lolos dan di ijinkan melakukan boarding pas. Dan saat ini, aku dan mas Aksa sudah duduk manis di dalam pesawat sembari menunggu waktu take of yang sebentar lagi akan kami lakukan.


"Mas" panggilku lirih


"Hmm"


"Mbak Gina tahu nggak kita ke Paris"


"Enggak kenapa?"


"Nggak kenapa-kenapa" jawabku lalu mengatupkan bibir, selang dua detik aku kembali bersuara "Tapi masa iya kakek nggak cerita?, atau seenggaknya dengar dari siapa gitu"


"Kalau soal itu aku nggak tahu, kenapa si?"


Aku menggelengkan kepala lalu menatap ke arah jendela yang masih bisa ku lihat suasana bandara Charles de Gaulle, yang selalu ramai karena bandara ini termasuk salah satu pusat penerbangan utama dunia, juga bandar udara internasional utama di Prancis.


"Kamu kenapa sayang, tiba-tiba nanyain mbak Gina?"


"Nggak kenapa-kenapa, cuma nanya aja"


"Jangan di pikirin tatapan mbak Gina ke kamu" kata mas Aksa sambil meraih genggaman tanganku. "Aku sebenarnya juga kurang suka sama dia"


Mendengar ucapan mas Aksa, kepalaku reflek menoleh dan memindai wajahnya.


"Kenapa?" tanyaku penasaran.


"Dia kan dulu yang ngenalin aku sama Sesilia, dia berharap aku nikahnya sama Sesil"


"Sesil teman mbak Gina gitu?" Aku memicingkan mataku.


Belum sempat mas Aksa menjawab, suara operator yang mengatakan pesawat akan segera take of terdengar. Tangan mas Aksa tiba-tiba mengeratkan sabuk pengamanku sebelum kemudian melakukan hal yang sama pada sabuk pengaman milik dia sendiri.


"Kita belum selesai loh"


"Iya" sahut mas Aksa yang sepertinya memang sudah paham maksud ucapanku.


Setelah lebih dari sepuluh menit melewati momen crusial dalam penerbangan, dan pesawat sudah bergerak stabil, aku kembali melanjutkan pembahasan tentang mbak Gina dan Sesilia.


"Jadi kamu kenal mbak Sesil lewat mbak Gina, begitu mas?" tanyaku karena rasa penasaranku kian memuncak.

__ADS_1


"Iya"


"Jadi mereka temenan?"


"Sesil itu langganan barang-barang branded di butik mbak Gina, aku kenal Sesil waktu itu pas aku nganterin kukuh ke butiknya, dan di sana pas ada Sesil"


Aku dengan cermat mendengar cerita mas Aksa.


"Awalnya aku biasa aja ke dia, tapi mbak Gina tiba-tiba chat aku dan bilang ada yang mau kenalan" lanjut mas Aksa. "Kamu nggak apa-apa aku cerita gini?"


"Nggak apa-apa, aku tipikal orang yang nggak cemburuan kok"


"Itu artinya, kamu nggak akan cemburu kalau aku deket-deket cewek?" mas Aksa bertanya dengan tatapan tajam menghunus ke netraku.


"Ya enggak gitu, aku tetap cemburu, tapi bisa menahannya, sama kayak pas aku bangun dan kamu ada si sampingku waktu di Spore, itu sebenarnya pengin marah, tapi aku berusaha untuk enggak meluapkannya di depanmu"


"Berati sabar banget ya"


"Nggak juga si" sahutku sekenanya. "Ayo di lanjut lagi" tambahku lalu menggamit lengan mas Aksa.


"Ya itu, aku kenal Sesil dari mbak Gina, karena Sesil adalah seorang artis, dan termasuk tipe orang yang jiwa sosialnya tinggi, dia bawa teman-teman sesama artis untuk berlangganan juga di toko mbak Gina. Dan dalam sekejap butiknya meraih omset ratusan juta"


"Apa aja isi butiknya mbak Gina?"


"Banyak, hampir semua kebutuhan wanita dia sediakan, seperti tas, baju, sepatu, sandal, hingga ke pakaian dalam wanita. Butiknya terkenal juga kok"


"In and out"


"In and out" ulangku terkejut, seraya mengurai tanganku yang melingkar di lengan mas Aksa. Sementara mas Aksa meresponku dengan anggukan kepala.


"Aku kayaknya pernah deh beli tas di situ, tapi aku belinya di mall"


"Cabangnya memang banyak Sa, dan langganan para artis juga, karena Sesilia yang endorse, jadi laku keras"


Ternyata mbak Gina bukan orang sembarangan, bisikku dalam hati, dia owner in and out dan bisa di bilang seorang pengusaha.


Karena menikah dengan mas Aksa seperti membeli kucing dalam karung dan termasuk pernikahan yang di rencanakan dalam waktu singkat, aku baru tahu tentang keluarga mas Aksa setelah menjadi istrinya.


Mengatupkan bibir, aku menutup jendela pesawat karena sinar matahari tampak silau di mataku.


"Kamu nggak tidur Sa?"


"Kamu sendiri nggak tidur?" tanyaku balik.

__ADS_1


"Di tanya malah nanya, pantas saja Meira suka protes"


Mendengar ucapan mas Aksa, seketika aku kembali melingkarkan tangan di lengan kokohnya lalu mendaratkan kepalaku di pundaknya.


"Sa"


"Hmm" sahutku merespon panggilan mas Aksa.


"Kamu belum pernah bilang cinta ke aku"


"Kamu saja nggak pernah bilang" jawabku ketus


"I Love you Sa" bisik mas Aksa.


"I love you too" bisikku tak kalah lirih.


"Harus sering-sering bilang gitu Sa"


"Nggak bosen memangnya?" tanyaku yang mungkin alisku sudah menukik tajam.


"Kamu sendiri nggak bosen kalau aku bilang itu setiap hari?"


Entah mas Aksa ngomong apa, mataku rasanya sudah nggak bisa di ajak kompromi, membuat pendengaranku pun nggak bisa bekerja dengan baik.


"Aku ngantuk mas"


Sayup-sayup mataku terpejam karena semalam, kami nyaris tidur di waktu menjelang pagi.


***


"Bapak ibu yang terhormat, kita telah mendarat di bandara International Soekarno Hatta di Tangerang Banten. Selamat datang di Jakarta. Silahkan tetap duduk sampai pesawat telah berhenti dengan sempurna, dan lampu tanda kenakan sabuk pengaman telah di padamkan. Sebelum meninggalkan pesawat, pastikan tidak ada barang bawaan anda yang tertinggal. Kami ucapkan selamat berpisah dan terimakasih atas penerbangan anda bersama kami"


Aku membangunkan mas Aksa yang masih terlelap selagi awak kabin menginformasikan bahwa pesawat sudah mendarat.


Bulan madu selesai, kini sudah mulai kembali pada aktivitas keseharianku dengan status baruku sebagai nyonya Aksara.


Entah rumah tangga seperti apa yang akan aku jalani, aku berharap bisa melalui ujian rumah tangga seperti papi dan mamiku.


"Kita di jemput siapa?" tanyaku sambil terus berjalan menuju gate penjemputan penumpang


"Fajar, sayang"


Bersamaan dengan jawaban mas Aksa, netraku langsung menemukan sosok Fajar sedang melambaikan tangan ke arah kami.

__ADS_1


BERSAMBUNG


Kangen naik pesawat iiihhh... 😀😀 Good Morning


__ADS_2