Terjerat Perjodohan

Terjerat Perjodohan
Berita yang entah apa isinya


__ADS_3

Aku mengerutkan kening saat mengetahui dering ponsel panggilan masuk atas nama mas Aksa. Aku sempat menggerakkan bola mata sebelum kemudian menggeser ikon hijau pada ponselku.


"Assalamu'alaikum?"


"Waalaikumsalam. Kamu sibuk nggak Sa?"


"Sedikit. Ada apa? kenapa?"


Alih-alih menjawab, dia malah bertanya balik "Sibuk apa? bukannya pesanan sudah beres dari dua jam yang lalu?"


"Ini jamnya makan siang mas, restauran penuh, aku lagi jadi waitres sekarang" Aku menjawab sambil melirik jam yang tergantung di belakang kasir, lalu memutar pandangan ke para pengunjung yang tampak memenuhi ruangan resto. "Ada apa si?"


"Aku harus ke Papua malam ini, bisa kamu pulang lebih awal, dan bantu aku packing? aku masih di rumah sakit paling tidak sampai pukul empat nanti "


"Bukannya besok pagi?"


"Jadwalnya di majuin Sa"


"Oh, ok bisa"


"Ok Sayang makasih ya, aku tutup dulu, aku sibuk Assalamualaikum"


Setelah membalas salam, aku langsung menutup panggilannya, dan kembali fokus untuk melanjutkan pekerjaanku.


Namun, baru saja hendak meraih baki untuk menarik piring-piring bekas pengunjung, aku di kejutkan dengan suara Anya yang mengabarkan sesuatu yang membuat alisku seketika menukik tajam.


"Mbak, Khansallium Barbeque and sukiyaki ada masalah"


"Masalah?"


Anya mengerjap lengkap dengan anggukan kepala. Tangannya yang sibuk mengendalikan ponselnya membuatku heran.


"Masalah apa Nya?"


"Lihat deh mbak" Dia menyodorkan ponsel miliknya ke hadapanku.


"Coba Sini" kataku lalu mengambil gawai dari tangan pemiliknya.


"Owner Khansallium Barbeque and Suki, menjadi orang ketiga di antara artis cantik dan dokter tampan"


Baru judulnya saja yang ku baca, tapi sudah membuat pikiranku kacau, dan mendadak jantungku seperti tersengat listrik.


Bukan karena beritanya yang mengusikku, tapi aku seperti nggak terima jika mas Aksa masih di sangkut pautkan dengan Sesilia.


"Mbak Sasa nggak buka dan baca isi beritanya?" tanya Anya mengernyit. "Isinya tentang perselingkuhan mbak Sasa dan mas Aksa, serta menjelekkan Khansallium mbak. Sekarang Khansallium Barbeque and Sukiyaki yang sedang di hujat habis-habisan oleh netizen"


Aku langsung merespon dengan gelengan kepala. Apa jadinya kalau baca isinya, sudah ku pastikan kekacauan dalam otakku akan naik level. Lagi pula berita itu juga nggak benar, aku nggak pernah nyela-nyela dalam hububungan mas Aksa dan dia.


"Kamu baca komentar-komentarnya?"


Kini giliran Anya yang merespon dengan bahasa tubuh. "Komentarnya jahat banget mbak. Tapi aku percaya sama mbak Sasa, kalau mbak Sasa nggak mungkin jadi perusak"


"Biar aja Nya, aku nggak tertarik buat baca" sahutku. Dan aku pastikan wajahku saat ini sudah memucat. Aku nggak mau pikiranku tambah kacau kalau baca berita itu beserta komentar-komentar jahatnya. "Tolong kamu kirim ini ke aku"


Aku menyuruh Anya untuk mengirimkan judul berita yang sudah ku scren shot tadi.


Detik itu juga Anya melakukan perintahku.


"Sudah mbak"


Enggak berapa lama, ponselku berdering, lalu pesan dari Anya barusan, langsung ku teruskan pada mas Aksa.


Pesanku masih centang abu-abu, itu artinya mas Aksa belum membacanya.


Aku pikir Sesilia akan memenuhi ucapannya supaya nggak memperkeruh keadaan, nyatanya dia malah membuat opini negatif tentangku.


Dua jam berlalu, saat ku lirik jam di tanganku, menunjukan jarum pendek di angka tiga dan jarum panjang di angka sepuluh. Aku segera bersiap-siap pulang karena mas Aksa akan sampai di rumah kurang lebih pukul lima, dan sebelum mas Aksa sampai rumah, aku harus menyiapkan makanan atau cemilan.


Saat tengah membereskan meja kerjaku, tiba-tiba ponselku berdering dan panggilan video itu dari mas Aksa.


"Halo"

__ADS_1


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" jawabku sambil menatap wajahnya melalui layar ponsel.


"Itu berita kapan?" tanyanya tanpa basa basi.


"Kamu bisa lihat itu berita kapan kan mas?"


Kerutan di dahi mas Aksa mendadak muncul usai aku melempar pertanyaan balik.


"Aku yakin ini ulah Sesilia" katanya tanpa mengalihkan wajah. Dia terus menatapku tanpa mengerjap barang sebentar.


"Jangan asal menuduh kalau belum ada bukti"


"Tapi siapa lagi kalau bukan dia. Kamu ada baca isinya?"


Aku menggeleng "Kamu nggak sibuk?" tanyaku mencoba mengalihkan topik.


"Baru selesai saesar tadi"


"Oh, lancarkan?"


"Hmm" sahutnya singkat.


"Sampai rumah jam lima?" tanyaku.


"Kayaknya agak telat"


"Loh bukannya tadi bilang di rumah sakit sampai pukul empat?"


"Aku mau nemuin Sesil dulu"


"Untuk apa?"


"Untuk bicara dengannya supaya stop membuat narasi yang menyudutkanmu, sampai-sampai berdampak pada restauranmu" Ucap mas Aksa tanpa jeda. "Sudah pernah ku katakan dia harus berhenti menyalahkanmu"


"Sepertinya nggak perlu mas, nanti juga reda sendiri"


"Kasihan Khansallium kan, nggak tahu apa-apa tapi ikut kena imbasnya, kamu juga kan, nggak tahu apa-apa tapi dapat bulian yang nggak masuk akal"


"Nggak usah memperpanjang si?"


"Aku nggak memperpanjang, aku cuma mau ngingetin dia supaya nggak mengganggu rumah tangga kita. Caranya dia itu sudah sangat mengusik kehidupan kita"


"Itu artinya kamu akan berjumpa dengannya"


"Ya itu pasti? kenapa?"


""Enggak"


"Kamu cemburu ya aku nemuin mantan?"


"Enggak" elakku.


"Aku senang kalau kamu cemburu Sa"


"Tapi aku nggak cemburu"


"Berati kamu nggak cinta sama aku"


"Jadinya jam berapa sampai rumah?"


"Sebelum maghrib di usahain ya"


Aku mengangguk, setelah itu sambungan kami di interupsi oleh suara teman mas Aksa yang menyuruhnya untuk melakukan observasi pada pasien. Mas Aksa langsung menutup panggilan telfon begitu mengiyakan ucapan rekan kerjanya.


Aku dan Nenek tengah menyiapkan makan malam. Saat sedang memarut keju, dan nenek tengah menata hasil masakan yang sebagian sudah matang, tiba-tiba terdengar suara mas Aksa mengucapkan salam. Dan karena kebetulan kakek sedang berada di ruang tengah, kakek yang menjawab salam mas Aksa.


Aku yakin dia akan langsung masuk ke dapur karena bau masakan yang menusuk hidungnya. Sudah pasti dia berfikir aku sedang memasak saat ini.


"Sudah pulang" tanya Nenek padanya. Ku lirik dia sedang mengecup punggung tangan neneknya.

__ADS_1


"Cuci tangan dulu mas" ucapku lalu meraih punggung tangannya.


"Udah tadi di depan"


"Kalau gitu lebih baik mandi dulu" Perintah nenek dan mas Aksa langsung pergi dari ruang makan.


"Sa, kamu urus suamimu, ini biar mbak Ani yang lanjutin"


Aku langsung menuju ke kamar begitu di perintah oleh nenek.


Sesaat setelah membuka pintu, ku lihat mas Aksa sedang menerima telfon sembari melepas kancing kemejanya satu persatu. Aku melangkah mendekatinya lalu menggantikan tangannya melepas kancing bajunya.


"Setengah sembilan dari rumah"


"Ok ketemu di bandara saja"


"Waalaikumsalam"


"Siapa?" tanyaku setelah mas Aksa menutup telponnya.


"Rian" jawab mas Aksa lalu melempar ponselnya ke atas ranjang.


"Tadi gimana ketemu mantan, seneng nggak?" Aku masih bertahan di hadapannya setelah melepas kemejanya.


"Kamu pasti cemburu kan?" tanya mas Aksa lalu melingkarkan tangan di pingganggku. Jarak wajah kami kian terkikis, wangi napasnya tercium dengan sangat jelas di hidungku.


"Emang nggak bisa mengartikan raut wajahku, dan memahami kalimatku?"


"Tiap orang punya pemahaman masing-masing kan?" kata mas Aksa, satu tangannya masih melingkar di pinggangku, sementara tangan lain bergerak menuju kening menyelipkan juntaian rambutku ke belakang telinga. "Coba tepikan cemburumu"


Aku terdiam sambil melirik tangan mas Aksa yang kembali melingkar di pinggangku. Merasa mas Aksa tak memberiku jawaban yang lugas, aku berniat melepaskan diri, namun dengan cepat dia mengeratkan lengannya.


"Aku hanya menemui Sesilia untuk nggak lagi mengusik hidup kita"


"Dengan jarak berapa meter tadi ngobrol sama mantan?" sungutku tanpa sadar.


Mas Aksa tersenyum miring. Dan senyumannya itu, memantikku untuk mencubit pinggangnya. Bukannya mengaduh kesakitan, dia justru terkekeh lalu mengecup bibirku kilat.


"Terus ngomong apa aja sama dia?, ketemunya sampai berapa jam?"


"Tanyanya satu-satu"


"Kamu bukan anak TK nggak perlu aku tanya satu-satu"


"Baiklah" ucap mas Aksa kalem. "Tadi nggak deket-deket ngobrol sama Sesil, terus ngomong supaya berhenti memojokanmu di depan media, ketemunya cuma setengah jam saja"


Sepasang mataku mencari kesungguhan dalam sorot kalem milik mas Aksa.


"Kamu jangan baca beritanya ya" perintah mas Aksa ketika kami sama-sama tak bersuara.


Usai mengatakan itu, ia mengecup bibirku, lalu turun mencium batang leherku.


"Kenapa?" tanyaku berusaha menahan diri agar tak mend*esah karena bibir mas Aksa di leherku kian intens.


"Pokoknya jangan baca" sahutnya lalu menggigit lembut area tulang selangkaku, kemudian menyesapnya kuat-kuat. Aku yakin ulah mas Aksa barusan meninggalkan jejak merah di sana.


Ah tapi kenapa aku jadi penasaran dengan berita itu.


"Kamu mandi dulu, aku siapin baju"


Karena dia masih terus menjamah ceruk leherku, sekuat tenaga aku berusaha menghentikan apa yang sedang di lakukannya. lalu menangkup wajahnya.


"Mandi dulu" ulangku.


"Lebih baik kita refresing dulu sebentar, setelah itu baru mandi"


Mas Aksa langsung menyapu bibirku, tangannya sangat liar berjalan-jalan menyusup kedalam pakaianku, dan tanpa sadar kami sudah berada di atas ranjang.


Di tengah-tengah peraduan kami, pikiranku terbagi dua. Antara menikmati sentuhan mas Aksa, dan berita yang nggak boleh aku lihat.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2