Terjerat Perjodohan

Terjerat Perjodohan
Kepanikan Setya


__ADS_3

"Pah, itu rumahnya aunty Anya ya?" tanya Vita saat dia melihat Anya memasuki rumah Rendi.


"Bukan"


"Terus rumah siapa?"


"Rumah orang" Balas Setya singkat. "Tadi kok Ita bilang aunty Anya mau di panggil ibu gimana ceritanya?"


"Ya kan auntynya nggak mau di panggil aunty, terus kata aunty panggilnya kakak aja. Terus Ita bilang enakan panggil aunty. Udah gitu malah aunty bilang, panggil ibu aja atau nenek. Gitu pah"


"Oh"


Sahutan Setya bersamaan dengan suara tembakan yang berasal dari rumah Rendi. Membuat Setya langsung memusatkan perhatian ke arah rumah mewah berlantai tiga.


Tidak berapa lama, terdengar lagi suara itu, dan kali ini sedikit lebih keras dari sebelumnya.


Dorr...


"Anya" Reflek Setya menyebut namanya ketika terdengar suara tembakan untuk yang kedua kalinya. Peluru itu mengenai punggung Anya sebelah kiri bagian atas.


Karena rasa penasaran yang begitu tinggi, dan seperti tidak peduli lagi dengan rencananya, Setya langsung melajukan mobilnya menuju gerbang rumah Rendi.


Sementara Anya yang mendapat dua luka tembak, berusaha melarikan diri dengan sisa-sisa tenaganya sembari terus mempertahankan ponsel di tangan kanannya.


Saat Setya hendak turun dari mobil, dan bertekad masuk ke rumah mereka, tiba-tiba Anya muncul melewati pintu gerbang setinggi dua meter.


Kesadaran Anya yang belum sepenuhnya menghilang, bergegas masuk ke mobil Setya yang sebelumnya sudah di bukakan pintu olehnya.


Wanita itu pingsan begitu sudah duduk di dalam mobil tanpa sempat menutup kembali pintunya.


Setya bergerak sedikit melewati atas tubuh Anya, tangan kirinya berpegangan pada sandara jok, dan tangan kanan segera menutup pintu.


Ia langsung melajukan mobilnya menjauh dari rumah Rendi dengan tingkat kepanikan di atas normal. Pria satu anak itu bahkan sama sekali tak mempedulikan rengekan Vita yang menangis ketakutan melihat Anya sudah berlumur cairan warna merah.


Yang ia pikirkan hanyalah pergi dari rumah Rendi untuk menyelamatkan diri terutama keselamatan Anya dan sang putri.


Andai Rendi berlari lebih cepat sedikit saja, dia pasti mengetahui siapa yang mengendarai mobil itu dan membantu sang ART kabur. Sebab begitu Rendi keluar dari gerbang, mobil Setya melaju tepat di hadapan Rendi.


"Aahhh **!*... sial.. Siapa kau sebenarnya Cici? kurang ajar kau" pekik Rendi.


"Gimana dad?" Gina yang ikut berlari di belakang Rendi langsung melempar pertanyaan begitu sampai di dekatnya.


"Siapa Cici sebenarnya Gin?" Tanyanya dengan wajah memanas menahan marah.


"A-aku nggak tahu dad, tiba-tiba dia ada di depan gerbang rumah kita dan bilang sedang mencari pekerjaan. Karena kita pas lagi butuh ART ya udah aku langsung kasih dia kerjaan gantiin Susi"


"Aarggg" geram Rendi, mereka kembali memasuki rumahnya. "Periksa kamarnya dan barang-barang miliknya" Perintah Rendi pada Gina sembari terus melangkah.


*****


Melihat Anya yang sudah tak sadarkan diri, Setya menaikan kecepatannya agar segera sampai di rumah sakit. Kepanikannya kian bertambah ketika wajah wanita berhijab itu terus memucat.

__ADS_1


Tubuhnya terkulai lemas, matanya tertutup rapat, dengan darah yang sudah membasahi bajunya.


Kepala Setya menggeleng selagi terus mencoba membangunkan Anya, Fokusnya terbagi antara padatnya jalan di hari minggu malam, Anya, dan Vita yang terus ketakutan.


"Tidak" gumamnya, karena Setya tengah membayangkan hal buruk terjadi pada Anya. "Anya, bertahanlah, kita akan segera sampai di rumah sakit"


Setibanya di rumah sakit, Setya langsung membopong Anya dan menyuruh Vita untuk berjalan mengikutinya dari belakang.


"Ita terus ikuti papi ya, dan jangan nangis, bantu papah dengan jadi anak baik, okey"


Vita mengangguk dan tangisannya sedikit reda.


Dengan tergopoh, Setya terus berlari memasuki gedung rumah sakit.


"Suster tolong saya sus"


"Ada apa pak?" tanya Salah satu suster sedangkan suster lainnya bergegas lari mengambil brankar.


"Dia tertembak"


Jantung Setya seolah bekerja ekstra keras apalagi ketika sudah berada di depan ruang IGD, dan perawat menyuruhnya menunggu di luar.


Setya duduk sambil memangku Vita selagi paramedis mengambil tindakan untuk Anya.


Gadis kecil itu masih ketakutan sehingga ia terus memeluk tubuh papahnya. Tangan Setya pun tak berhenti mengusap punggung Vita berusaha untuk membuat anak gadisnya tenang.


Saat Ruang itu terbuka dan muncul seorang suster, Setya berdiri lalu berjalan tiga langkah menghampirinya.


"Istri anda harus segera di operasi. Silakan bapak tanda tangan di sini" ucapnya dengan nada gugup.


Bola mata Setya bergerak mengikuti brankar yang tampak melewati ambang pintu IGD.


"Mari ikut kami, kita menuju ruang operasi, bapak dan putri bapak bisa menunggu di sana"


"Baik Suster"


Beberapa kali Setya menghubungi Sasa dan Aksa melalui sambungan telfon, namun pasangan suami istri itu tak jua mengangkatnya. Hingga setengah jam berlalu masih belum ada respon, Setya akhirnya mengirimkan pesan ke nomor Aksa.


"Anya di rumah sakit dan sedang menjalani operasi sekarang. Kamu kesini secepatnya"


Cemas campur panik, itulah yang terlukis di wajah Setya. Belum lagi saat netranya memindai wajah sang putri yang bersemburat takut. Ia seperti merasakan bahwa dunia ini sedang berhenti berputar. Otaknya berfikir keras mengapa Rendi bisa menembak Anya hingga dua kali.


Apa yang Rendi temukan?


Atau apa yang Anya perbuat?


Apakah Rendi sudah mengetahui identitas Anya?


Pertanyaan demi pertanyaan terlintas di benaknya. Hingga getaran ponsel membuat Setya tersentak lalu tersadar dari lamunannya.


"Assalamualaikum"

__ADS_1


"Waalaikumsalam" jawab Setya parau.


"Ada apa dengan Anya mas?"


"Ke rumah sakitmu sekarang, ku jelaskan nanti kalau sudah di sini"


"Baik mas" Sahut Aksa yang langsung di tutup olehnya.


Segalanya seakan melambat luar biasa. Ini benar-benar kejadian ektrim sepanjang hidup Setya yang membuat tingkat kepanikannya di luar batas maksimal.


Sudah lebih dari satu jam berlalu, namun lampu di atas pintu masih menyala merah. Hampir setiap menit Setya terus mengalihkan pandangan ke arah pintu yang tertutup rapat. Pintu yang menghalanginya dengan Wanita berusia 23 tahun. Wanita yang selama seharian ini menemaninya mengisi hari libur dengan sang putri.


"Apa yang terjadi mas" tanya Aksa ketika baru saja sampai di depan ruang operasi.


"Dia tertembak" jawab Setya dengan ekpsresi muram.


Mendengar jawaban Setya, persekian detik mata Khansa dan Aksa kompak memindai baju Setya yang berlumur darah, seketika khansa meneguk ludahnya sendiri.


"Ita sama aunty yuk. Kita duduk sini, papah mau ngomong dulu sebentar sama Uncle"


"Ita mau sama papa"


"Nanti sama papah lagi, cuma sebentar kok"


Begitu Vita mengiyakan ucapan Khansa, Setya menyunggingkan senyum untuk Vita kemudian beranjak bersama Aksa.


Keduanya bicara sekitar 7 meter dari Khansa yang saat ini tengah duduk memangku Vita.


Pembicaraan dua pria yang tampak tenang, namun serius. Setelah hampir sepuluh menit, Setya dan Aksa kembali berjalan ke arah Khansa.


"Sa, tadi mas Setya belum sempat registrasi. Kamu kan yang tahu identitas Anya, kita ke loker pendaftaran ya"


"Iya mas"


"Ayo Ita sama papah lagi" ajak Setya.


Lima belas menit setelah kepergian Aksa dan Khansa, tiba-tiba terdengar suara lampu berubah hijau, detik kemudian keluar salah satu dokter dari ruangan operasi. Membuat Setya berdiri dan berjalan menghampirinya.


"Bagaimana operasinya dokter?"


Sang dokter tersenyum sebelum menjawab. "Operasinya berjalan lancar, istri bapak sangat beruntung, karena saat ini golongan darah yang istri bapak butuhkan tersedia cukup banyak di rumah sakit kami"


"Terimakasih dokter"


"Jangan nangis lagi ya dedek, mamanya akan baik-baik saja. Doain mama terus biar cepat sembuh"


Usai mengatakan itu, si dokter langsung pergi meninggalkan Setya yang masih bingung kenapa mereka menyangka bahwa Anya adalah istrinya, padahal menurut perkiraan Setya, jarak usia mereka terpaut cukup jauh hingga sembilan sampai sepuluh tahun.


Bersambung


Aku enggak galau enggak. Cuma lagi pusing dikit dikit aja...

__ADS_1


Las****etya



__ADS_2