
Di setiap malam menjelang tidur, berulang kali Anya harus menampar dirinya sendiri karena teringat dengan sikap Setya yang lembut datang lagi dan lagi seolah mengusik ketenangannya.
Pria mapan dan berbadan kokoh yang selalu membuat otaknya berkelana, mengingat betapa tampan dan dewasanya pria itu sampai dia kekurangan jam tidur.
Dering ponsel menyadarkan dia yang tengah larut dalam pikirannya.
Pak Setya : "Saya di halaman Khansallium"
Anya menatap layar ponsel selama beberapa saat, ada keraguan dalam hatinya ketika hendak membalas pesannya.
Pak Setya : "Saya tunggu ya"
Mata Anya mengerjap tak percaya membaca pesan kedua darinya.
Ternyata mbak Khansa serius, pak Setya menjemputku.
Setelah memastikan dengan membaca kembali pesan dari Setya, Anya akhirnya mengemasi barang dan mengambil tas di ruang kerjanya.
"Wi, aku keluar dulu ya, nanti kalau ada waktu, aku bantu tutup restaurannya"
"Kamu mau kemana?"
"Ketemuan sama mbak Sasa" sahutnya sambil berlari menuruni anak tangga, karena ruang kerjanya berada di lantai dua.
Saat akan membuka pintu restauran yang berbahan kaca, sepasang mata Anya menangkap tubuh pria memakai kemeja yang di padukan dengan celana bahan.
Sangat dewasa, itulah kesan Anya ketika melihat pria itu.
Tampak disana Setya berdiri, bersandar di samping pintu penumpang bagian depan. dengan kedua tangan ia masukan ke dalam saku celana.
Ketika melihat Anya berjalan menghampirinya, pria itu langsung berdiri tegak bersamaan dengan tangan yang ia keluarkan dari dalam saku.
"Kita berangkat sekarang" ucap Anya ketika berdiri di hadapannya.
"Iya" sahutnya lalu membuka dan menutup pintu untuk Anya.
Setya berjalan memutar selagi Anya memakai sabuk pengaman.
Mata Anya sempat menangkap sebuah kotak perhiasan berada di samping tuas rem tangan.
Kotak perhiasan? apa pak Setya baru saja melamar seorang wanita? Ah Anya kamu terlalu berharap, dia itu seorang bos besar, sedangkan kamu, hanya se enggok manusia layaknya sayur kangkung. Selama ini kamu cuma di manfaatkan untuk jadi pengasuh putrinya, jadi jangan terlalu berharap Anya, karena jelas cintamu bertepuk sebelah tangan.
Entah kenapa ada rasa nyeri yang menjalari tubuh Anya.
Ketika Setya memasuki mobilnya, dan duduk di kursi kemudi, Anya langsung memalingkan wajah ke arah jendela sebelah kiri.
Sunyi, sebab Setya tengah memakai seatbelt.
"Anya" panggil Setya. Mau tidak mau ia harus menoleh ke wajahnya. Namun bukan wajah Setya yang ia lihat melainkan roda kemudi.
Dengan kondisi dadanya yang terasa nyeri dan sesak karena melihat kotak itu, jelas Anya tak berani menatap wajah Setya, apalagi jarak mereka tak kurang dari satu meter.
"Ada apa pak?"
"Ini untukmu"
Kotak itu, ia berikan untuk Anya. Kotak yang sempat membuatnya ingin menangis, ternyata untuk dirinya.
Anya menerima kotak itu.
"Bukalah"
Mendengar perintah Setya, detik itu juga Anya bergegas membukanya.
__ADS_1
"Apa ini pak?"
"Itu ban mobil" Balas Setya sekenanya.
"Ini gelang pak"
"Ya kalau sudah tahu kenapa kamu nanya ini apa?"
"Maksudku, ini untuk apa?"
Bersamaan dengan kalimat tanya dari Anya, Setya memutar roda kemudi ke arah kiri, detik berikutnya, kaki kanannya menginjak pedal gas dan persekian detik mobil mulai melaju.
"Untukmu sebagai tanda terimakasih saya sudah bersedia meluangkan waktu untuk Ita, dan sebagai tanda pertemanan kita"
Bukan jawaban itu yang Anya inginkan sebenarnya, tapi tak mungkin juga mengharapkan sesuatu yang lebih dari pria di sampingnya.
"Nggak perlu" ucap Anya seraya menutup kembali kotak itu lalu menaruhnya di atas dashboard.
Setya yang fokus mengemudi, melirik Anya sekilas.
"Kenapa?"
"Saya senang bisa menemani Ita, karena bagi saya Ita anaknya pintar dan baik, siapa saja pasti tidak akan keberatan jika di suruh menemaninya"
"Apa kamu mengira ini sebuah bayaran?"
"Bukan bayaran tepatnya si pak, kalau bayaran kan pakai uang ya, mungkin lebih tepatnya imbalan"
"Bukan Nya, itu bukan imbalan" sanggah Setya cepat. "Tadi sebelum kesini, saya mampir ke toko perhiasan, karena saya ingin berbagi kebahagiaan denganmu. Dan saya pikir ini cocok untukmu jadi saya membelinya"
"Berbagi kebahagiaan?" ulang Anya memicing.
"Iya, kemarin-kemarin kan kamu sudah bersedia menampung kesedihan saya, kekecewaan saya, dan sekarang saya ingin membagi kebahagiaan juga denganmu"
"Kalau begitu saya ralat" sergahnya tanpa melihat Anya di samping kirinya. "Itu untukmu dari saya pribadi. Saya dan Gina sudah sah bercerai secara hukum negara, Saya bahagia sudah lepas dari wanita itu"
"Oh" Sahut Anya seraya mengalihkan kembali pandangannya ke samping kiri.
"Makasih selama ini sudah mau menjadi teman untuk berbagi"
"Bapak tidak perlu berterimakasih"
"Kalau begitu, terimalah hadiah dari saya" Setya meraih kotak itu kembali lalu menyerahkannya ke tangan Anya.
"Saya akan tambah bahagia jika kamu memakainya"
"Apa saya harus menerimanya?"
"Harus, harus banget malah"
Usai mengatakan itu, mereka kembali terjerat kebisuan hingga mobil tahu-tahu sudah sampai di pelataran rumah kakek Rudito.
Sama-sama keluar dari mobil, Setya dan Anya berjalan bersisian menuju taman belakang rumah dimana mereka tengah berkumpul.
Saat sampai di lokasi, mereka tengah duduk di gazebo dan hendak memakan daging bakar beserta lalap yang sudah di masak oleh Aksa dan Khansa serta ARTnya.
"Assalamualaikum" Salam Anya dan Setya kompak.
"Waalaikumsalam"
"Aunty" teriak Ita riang, dia berdiri di atas panggung gazebo seraya merentangkan kedua tangan. "Mau duduk dekat-dekat aunty"
Dengan cepat Aksa menuntun Ita berjalan menghampiri Anya.
__ADS_1
"Pas banget, kita mau makan" kata Ami tersenyum. "Ayo nak Anya kita makan sama-sama"
Mungkin ini adalah acara makan sore yang bahagia bagi keluarga mereka, namun bagi Ami, ini belum sepenuhnya membahagiakan karena dia belum berhasil menyatukan putra semata wayangnya dengan Anya.
Tepat pukul setengah enam sore, mereka selesai makan. Kukuh dan Ita kembali bermain lari-lari, bahkan dua anak itu menolak untuk mandi karena masih asik bermain.
Selang beberapa menit, Mereka seperti mendengar keributan dari arah luar.
Tanpa ragu-ragu lagi, kakek dan yang lainnya langsung melangkahkan kaki hendak menuju ke depan rumah. Mereka berjalan melalui samping rumahnya.
Tepat ketika di langkah ke empat, Kakek, Setya, dan Aksa terhenyak menatap seorang wanita tengah mengarahkan pistol ke arah mereka dengan jarak sekitar tujuh meter. Keterkejutan yang mendadak, membuat mereka berdiri tercengang.
"Angkat tangan kalian" Teriaknya. Satpam yang tadi sempat menghalangipun langsung mundur begitu melihat wanita itu mengeluarkan pistol dari dalam tasnya.
“Berani bicara, berani melawan, kutembak kepala kalian satu persatu"
Sontak keluarga Rudito kian panik, apalagi Ami yang jelas sangat mengenalnya. Sahabat lama yang menjadi musuh hanya karena mereka mencintai pria yang sama.
"Ami, sudah cukup lama aku ingin membunuhmu, dan sekarang aku tidak peduli lagi jika aku harus di hukum mati sekalipun" pungkasnya seraya menatap Ami penuh benci. "Aku akan melenyapkanmu saat ini juga"
Mata Ami yang bening memancarkan ketakutan di level teratas. Tak hanya dia. Khansa, Anya dan nenek pun merasakan hal yang sama, terlebih lagi Ita yang berada dalam dekapan Anya, dan Kukuh dalam dekapan Khansa.
"Dan kamu" pistol itu mengarah ke arah Anya. Membuat jantung Anya sepersekian detik berdebam sangat kencang.
Andai tidak ada Ita yang harus ia lindungi, mungkin ia sudah jatuh pingsan.
"Gara-gara kamu, semua rencana kami hancur berantakan" lanjutnya dengan amarah yang kian memuncak. "Sepertinya aku harus membunuhmu terlebih dulu Cici, baru kemudian kamu Ami"
"Linda" Potong Ami dengan keberanian yang sedikit terkumpul. "Masalahmu denganku, bukan dengannya" tangan Ami menunjuk Anya yang tengah memeluk Ita.
Sementara Setya, ia menatap Ami dan Anya bergantian.
"Oma" rengek Kukuh lalu berlari ke arah omanya yang hendak berjalan mendekat ke arah Linda.
"Jangan tembak omaku" ucap Kukuh sembari terisak. "Tolong oma jangan tembak oma Ami, nanti kalau mama nggak pulang Kukuh sama Vita mandi sama siapa kalau nggak sama oma Ami?"
Setya dan Aksa benar-benar tak bisa berbuat apa-apa sebab senapan itu terus tertuju ke arah mereka. Jika lalai sedikit saja, mungkin pistol itu akan melesat dan pelurunya akan mengenai salah satu di antara mereka.
Disana, Diam-diam Khansa mencuri celah supaya bisa menelpon polisi untuk datang sesegera mungkin.
"Kukuh" Ami berlutut di hadapan kukuh untuk menyamakan tinggi mereka. "Kukuh kenal sama dia?" tanya Ami.
"Kenal oma" jawabnya menahan sesenggukan "Dia oma yang sering jalan-jalan sama mamah sama Kukuh"
"Heh Ami, aku tidak akan buang-buang waktu untuk berdrama, mari kita sama-sama menyusul Gani, Setelah aku menembakmu, aku akan menembak diriku sendiri" desisnya frustasi.
Tanpa aba-aba, Linda langsung melepaskan peluru dari pistol milik Rendi. Pistol yang sama untuk menembak Anya ketika itu.
Dorr...!
Karena tak ahli menembak, peluru itu justru melesat tepat di leher Kukuh.
"Kukuh" Teriak Ami, dia langsung menangkap tubuh Kukuh yang seketika tumbang.
"Kukuh" Ucap Aksa dan Setya kompak. Sedangkan Kakek nenek, Khansa, hanya diam dengan sorot tak percaya.
Lalu Anya, selain menenangkan dirinya sendiri, dia juga tengah menenangkan Vita yang menangis histeris melihat kakaknya berdarah. Ingatan Anyapun tiba-tiba singgah pada penembakan yang dia alami.
Dua kali gadis kecil itu harus menyaksikan darah mengalir dari tubuh seseorang.
Dari arah berlawanan, bersamaan dengan suara tembakan, Polisi datang dan diam-diam segera melumpuhkan Linda.
Linda yang masih shock karena ternyata Kukuhlah yang tertembak, dengan sangat mudah polisi mencengkram tangan Linda lalu memborgolnya.
__ADS_1
Bersambung...