Terjerat Perjodohan

Terjerat Perjodohan
Nadine Paramita


__ADS_3

Setelah sekian jam, dan Khansa sudah sadar dari pengaruh anestasi, Sudah ada Aksa yang tersenyum sembari terus mengecup tangannya.


"Sudah sadar?" tanya Aksa lembut.


Khansa mengangguk tersenyum.


"Anak kita?"


"Dia ada di kamar bayi, sedang menunggu mommynya sadar"


"Cewek apa cowok?" tanya Khansa penasaran.


"Seperti tebakan mas"


"Cewek?" sahut Khansa cepat.


"Hmm"


"Selamat sudah jadi papah"


"Panggilnya daddy aja sayang" balas Aksa sambil menyunggingkan senyum.


Detik kemudian Aksa menekan tombol di atas headboard, lalu bicara melalui audio phone yang sudah di sediakan oleh pihak rumah sakit di setiap bed. Agar tak perlu repot keluar jika butuh sesuatu.


Cukup menekan tombol Call, maka akan terhubung ke ruangan para suster dan dokter yang mendapat jatah piket.


"Suster ini dokter Aksa"


"Oh iya ada yang bisa saya bantu dok?"


"Infus istri saya habis, tolong ganti, dan sekalian bawa bayi kami kemari, karena mommynya sudah sadar"


"Baik dokter"


Tak menunggu lama, dua orang suster datang dengan membawa wadah berisi botol infus, suster lainnya membawa bayi.


"Selamat malam bu Khansa?" sapanya sopan lengkap dengan bibir tersenyum ramah.


"Selamat malam"


"Selamat atas kelahiran putrinya bu, bu Khansa bisa langsung memberinya kolostrum Asi ya" pungkas suster seraya meletakan beyinya di samping Khansa. Sementara suster lainnya mengganti infus Khansa.


"Kami permisi dulu bu Khansa, dokter Aksa" pamitnya setelah selesai melakukan tugasnya.


"Ya terimakasih sus"


"Sama-sama dok" jawab mereka kompak.


"Lucu kan?" tanya Aksa dengan pandangan terus tertuju ke bayinya yang tengan menyesap bulatan kecil di dada khansa.


"Mirip mas bibir sama hidungnya"


"Matanya mirip kamu" timpal Aksa. "Kita rawat dan besarkan sama-sama ya"


"Siapa namanya?"


"Nadine Paramita Gallileo"


******


Di tempat lain


Anya menggandeng tangan Vita selagi kakinya melangkah menuju rutan dimana mama kandung Vita berada. Tak ada Setya yang menemani mereka karena tiba-tiba, kliennya meminta meeting saat itu juga, sehingga dia terpaksa membatalkan janji untuk menemani Vita menjenguk mama kandungnya.


Karena hari ini adalah hari ulang tahun Vita yang ke lima, Anya berniat merayakannya dengan Gina.


Baik Setya maupun Anya, sama sekali tak berniat memisahkan Vita dari ibu yang telah melahirkannya.


Ini adalah pertama kalinya Vita dan Anya menemui Gina. Lain hal dengan Setya yang sudah pernah menemui Gina, tepatnya seminggu setelah menikahi Anya.


Saat itu, Setya menemui Gina untuk memperlihatkan akta cerai, dan respon Gina justru meminta Setya untuk membebaskan dia dan kembali rujuk demi Vita.


Namun, saat Setya memberitahukan bahwa dirinya sudah membina rumah tangga kembali dengan seorang wanita.


Kepercayaan diri Gina langsung menipis begitu Setya mengatakan bahwa dia sudah tak mencintainya. Apalagi ketika bilang istri barunya adalah wanita yang pernah menjadi pembantu di rumah mewahnya, detik itu juga, Gina langsung bisa menebak siapa istri baru Setya.

__ADS_1


"Mamah Gina tinggal di sini ya mah?"


"Iya kak"


Setelah memasuki ruangan, Anya dan Vita di persilakan menunggu selagi penjaga membawa Gina ke hadapan mereka.


"Dia polisi ya mah?" Bisik Vita lirih.


"Iya sayang, kenapa? kakak takut?"


Vita menggeleng lalu diam sembari mengitari pandangan ke seluruh ruangan.


"Kok lama si mah, mama Gina ada enggak?" tanya Vita sambil mendongak menatap Anya.


"Sabar ya kak, sebentar lagi pasti datang"


Baru saja Anya mengatakan itu, tiba-tiba terdengar suara sepatu dan sandal menapak lantai. Tak berapa lama sosok Gina muncul dengan raut terkejut begitu sepasang matanya menangkap Anya dan Vita.


Anya dan Gina saling tatap dengan pikiran yang berbeda.


Anya dengan tatapan takut dan tak enak hati, sementara Gina menatapnya dengan sorot benci.


"Mamah" Seruan Vita membuat mereka tersadar dari aksi saling tatap.


Menyadari panggilan Vita, dengan sigap dia berlutut dengan tangan terlentang. Selang dua detik Vita berlari sambil merentangkan tangan lalu memeluk mamahnya.


"Apa kabar anak mamah?" tanyanya sambil menciumi wajah Vita bertubi-tubi.


"Baik" Sahut Vita dengan seulas senyum. "Mamah kenapa tinggal di sini?"


Alih-alih menjawab, Gina justru terus menghujani Vita dengan kecupan.


"Mama kangen banget sama anak mama ini" ujarnya lalu kembali mencium pipi Vita.


Jujur saja tiba-tiba Anya merasa terusik dengan tingkah mereka yang tampak begitu akrab. Namun dia tak bisa protes karena Gina berhak atas Vita.


"Vita datang kesini mau tiup lilin sama mama, Ita hari ini ulang tahun"


"Iya mamah ingat sayang"


Usai mengatakan itu, Gina membawa Vita duduk di sebuah kursi.


Sempat terkejut, Anya menatap Gina lalu Vita. Sama sekali tak menyangka, dia akan meminta untuk berdua saja dengan Vita.


Entah apa yang membuatnya cemas, tapi ia berusaha menepisnya sebab ia yakin Vita akan baik-baik saja bersama mamanya.


"Aku ingin menghabiskan waktu jenguk hanya berdua dengannya, tanpa ada orang lain yang mengawasi kami"


Anya menarik napas pelan, sebelum kemudian mengangguk. Detik kemudian Anya mengalihkan pandangan pada Vita.


"Mamah keluar ya sayang, Vita kangen-kangenan dulu sama mama Gina"


"Kenapa mama keluar, mama nggak ikut tiup lilin?"


"Ita sama mama Gina aja tiup lilinnya, mama Anya tunggu di luar"


"Mama jangan tinggalin Ita tapi ya"


"Engga, mamah akan tungguin Ita sampai Ita puas main sama mama Gina"


Dengan berat hati Vita pun mengangguk, dan dengan langkah berat, Anya meninggalkan mereka.


Entah kenapa tiba-tiba ada rasa cemas di hati dan fikiran Anya, perasaannya benar-benar gelisah.


Hanya menunggu satu jam saja terasa sangat lama, berkali-kali ia ingin menelpon Setya, namun urung di lakukan karena takut mengganggu pertemuannya dengan klien.


Setelah sekian menit, waktu besuk pun habis, Ita di antar oleh penjaga menghampiri Anya yang duduk di luar ruangan.


Begitu melihat Vita keluar, Anya langsung menoleh ke arahnya.


"Sudah kak?"


"Sudah" jawab Vita singkat, dengan raut wajah yang tak sumringah seperti sebelum bertemu Gina.


"Kita pulang sekarang?"

__ADS_1


"Iya" Ita menjawab tanpa menatap Anya.


Ada apa dengan Ita, kenapa dia terlihat sangat lesu, pasti ada yang tidak beres disini.


Setelah membawa Vita keluar dari rutan dan melangkah masuk ke mobil, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut gadis kecil itu, membuat Anya kian heran. Apalagi saat Anya mendekatinya, dan Vita justru seperti menghindar.


Sang sopir bahkan sempat melihat Vita dengan sorot bingung.


Setibanya di rumah, sikap Vita masih dingin tak tersentuh, ia bahkan mengabaikan sapaan dari omanya dan langsung melangkah menaiki tangga menuju kamar.


"Ada apa dengan Ita Nya?" tanya Ami penuh selidik.


"Nggak tahu mah, pas keluar dari ruangan tempat besuk mbak Gina, dia sudah muram seperti itu"


"Apa Gina mengatakan sesuatu?"


"Soal itu aku juga nggak tahu, tadi mbak Gina menyuruhku keluar, sebab mbak Gina hanya ingin berdua saja dengan Ita"


Ami berdecih geram mendengar Anya mengatakan itu. "Pasti Gina ngomong yang enggak-enggak sama Vita"


"Jangan dulu berprasangka mah, aku akan coba tanya ke Ita"


"Iya sebaiknya kamu tanyakan, pelan-pelan saja ya Nak"


"Iya mah"


Anya lalu melangkahkan kaki menyusul Vita yang di pastikan berada di kamarnya.


Sesampainya di kamar, terlihat Vita tengah duduk di tepi ranjang sembari memeluk boneka beruang kesayangannya.


Duduk di sampingnya, Anya mengusap lembut belakang kepala Vita.


"Kakak kenapa?"


Vita menggeleng dengan wajah muramnya.


Mulai saat ini, Setya menyuruh siapa saja agar memanggilnya kakak, dengan harapan ia akan segera memiliki adik.


"Apa mamah boleh tanya?"


Kali ini gadis kecil itu mengangguk.


"Apa yang terjadi, kenapa kakak jadi diam-diam sama mama?"


Cukup lama Vita tak merespon, dengan sabarnya Anya tetap menunggu anak gadisnya mengatakan sesuatu. Tapi hingga beberapa menit, Vita tak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Kalau ada sesuatu, kakak bisa cerita ke mamah, kakak bisa beritahu mamah apapun yang membuat kakak jadi sedih begini"


"Mamah kenapa rebut papa dari mama Gina?"


Pertanyaan Vita membuat Anya persekian detik terpaku karena shock.


"Kenapa mamah jahat sama mamah Gina, kenapa mamah membuat mamah Gina tinggal di sana? Mamah Gina nggak bisa tinggal sama papah karena mamah Anya udah jahat sama mamah"


Rentetan pertanyaan dari mulut Vita yang membuat Anya langsung meneteskan air mata.


"Ita sayang sama mama Anya, tapi Ita juga sayang sama mamah Gina, tapi mama Anya malah ambil papa dari mamah Gina"


Usai mengatakan itu, tangis Vita pecah.


Dan Anya hanya bisa membatu melihatnya menangis kejer di hadapannya. Ia tak bisa memberikan penjelasan pada Vita karena dia sendiri tidak tahu apa yang akan dia jelaskan. Ia memilih menunggu sang suami untuk menjelaskannya pada Vita.


"Boleh mamah peluk kakak?"


Tanpa menjawab, Vita segera menghamburkan diri ke dalam dekapan Anya.


Anya menahan diri untuk tak mengatakan apapun. Yang ia ingin lakukan hanya memeluk Vita untuk menenangkannya.


Tangan Vita melingkar begitu erat, ketika memeluk tubuh Anya. Gadis itu semakin meraung ketika Anya menyuruhnya untuk menangis sekencang-kencangnya.


"Maafin mamah ya nak, mamah nggak bermaksud rebut papa dari mama Gina. Ada sesuatu yang mengharuskan papa dan mama Gina nggak tinggal bersama, bukan karena mamah Anya. Nanti kalau kakak sudah besar pasti kakak akan mengerti"


Bersambung...


Visualnya Mita ada di next novel...

__ADS_1


Menggapai rindu



__ADS_2