Terjerat Perjodohan

Terjerat Perjodohan
tes DNA


__ADS_3

"Dari mana kamu dapat video ini?"


"Aku suruh Hanan buat mata-matai mereka"


"Kenapa kamu bergerak sendiri?"


"Kamu sendiri yang bilang supaya aku nggak berprasangka buruk pada mbak Gina kan?"


Mas Aksa mengusap lembut belakang kepalaku, lalu mengecup puncak kepalaku. Setelah itu ia berdiri hendak pergi. Aku yakin dia akan menemui om Rendi.


"Kamu mau kemana?" cegahku cepat.


"Apalagi?" sahutnya, ku lihat tangan mas Aksa mengepal kuat. "Memberikan pelajaran pada mereka" setelah mengatakan itu, mas aksa kembali melangkahkan kakinya. Aku kembali mencegahnya.


"Memberikan pelajaran yang seperti apa, aku dan mas Setya sedang berjuang merebut kembali saham 70% darinya, kamu jangan merusak rencana kami"


"Apa maksud kamu?"


"70% sudah beralih ke tangannya tanpa sepengetahuan kita, jika kamu emosi seperti ini, itu akan membuat om Rendi menguasai saham lebih banyak dari kita. Aku, Anita dan Nara, sedang merencanakan sesuatu untuk mendapat tanda tangannya"


Ucapanku yang tanpa jeda, membuat mas Aksa akhirnya mengurungkan niatnya lalu duduk di tepian ranjang.


"Bantu kakek menyelesaikan ini" lanjutku yang juga ikut duduk di sampingnya. "dulu perusahaan kakek hampir saja bangkrut dan papiku menolongnya, apa kamu mau meminta tolong lagi pada papi? aku nggak akan ijinkan itu mas, kita bisa selesaikan sendiri. Banyak kesalahan yang tak kasat mata di perusahaan kita, bahkan om Rendi sudah menggelapkan dana milyaran rupiah untuk keperluan pribadinya. Aku dan mas Setya sedang memulihkannya saat ini, jadi nggak ada gunanya kalau kamu emosi, akan lebih baik kamu bantu kami"


"Bagaimana dengan tante Ami?" tanyanya dengan tatapan menyorot kosong.


"Nggak ada yang tahu selain kita. Aku, kamu, dan mas Setya, serta Fajar dan kedua temanku"


"Maafkan aku Sa, aku sudah nggak percaya sama kamu, aku lalai padamu"


Tersenyum tipis, aku merespon ucapannya. "Untuk sekarang, bantu mas Setya tes DNA"


"Maksud kamu?" tanya mas Aksa mengernyit.


"Mereka sudah hubungan cukup lama, mas Setya meragukan Kukuh dan Vita"


"Apa kukuh dan Vita bukan anak mas Setya?"


"Kami belum tahu, tapi akan segera tahu jika kamu mengecek DNA mereka"


"Aku akan meminta dokter Noval untuk mengeceknya"


"Mandi dulu, kamu sudah janji sama Vita mau main lama-lama sama dia kan?"


"Kalau Vita bukan anak mas Setya, itu artinya dia bukan siapa-siapa kita kan?"


"Kamu yang dokter, harusnya kamu yang lebih tahu tentang gender dan keturunan"


Hening, kami terdiam untuk beberapa detik.


"Kalau Vita bukan anak mas Setya, dan bukan siapa-siapa kita, memangnya kenapa?" tanyaku penuh selidik "Jangan libatkan anak-anak. Mereka nggak salah, kita tetap harus menyayanginya" Tambahku terus menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Good. I love you" Ucap mas Aksa lalu mencuri kecup di pipiku singkat. Kemudian melangkah memasuki kamar mandi.


*****


"Gimana, sudah beres semua kan?"


"Sudah dong"


"Kamu gimana Na?" tanyaku kali ini pada Nara.


"Aku hanya memperbaharui laporan bulan ini sesuai perintahmu. Karena sudah jelas bulan-bulan kemarin hingga beberapa tahun lalu dananya di korupsi olehnya. aku hanya melakukan penyesuaian untuk di jadikan bukti jika kamu akan menuntutnya"


"Soal tuntut menuntut akan kita lakukan paling akhir kan Na?"


"Tentu, sampai saham itu kembali berpindah atas nama kakek, kamu bisa langsung lempar dia"


"Nanti aku bantu lemparin Sa" seloroh Anita pandangannya menunduk karena tengah fokus menulis sesuatu di atas kertas.


Aku dan Nara kompak menggeleng merespon candaannya.


"Beres" ucap Anita tiba-tiba, yang langsung membuatku dan Nara menoleh ke arahnya.


"Apanya yang beres" Tanyaku dengan tatapan miring.


"Kerjaannyalah"


"Apa rencanamu Ta?" tanya Nara.


"Pasti kamu mengancamnya kan?" tanyaku.


"Begitulah, dalam mengurus perusahaan. Selain menerapkan ilmu tentang menejemen, kita juga harus menerapkan ilmu pengancaman, terutama untuk karyawan yang seperti mereka. Kalau kita melawan kelicikan dengan teori nggak akan bisa, kita juga harus licik-licik dikit"


"Kamu gunakan ancaman apa untuk mereka?" pertanyaan Nara mewakili pertanyaanku.


"Nama besar papihku"


"Sudah ku duga" ucap Nara, dan kali ini ucapannya memantikku untuk menatapnya. "Beruntung aku punya teman sepertimu, nanti aku bisa gunakan nama besar papihmu untuk menyombongkan diri di depan bu Rania"


"Rania?" tanyaku, aku dan Anita sama-sama terkejut. "Siapa dia?" kali ini Anita yang bertanya seraya menegakkan duduknya.


"B-bukan siapa-siapa?" jawabnya dengan gugup.


Ketika aku ingin menanyakan tentang Rania, mas Setya malah memasuki ruanganku.


"Sa, ini kasihkan ke Aksa, sebentar lagi dia kesini"


"Apa ini mas?" Aku dan kedua temanku sama-sama melirik mas Setya.


"Persyaratan untuk DNA"


Tak ada yang di katakan lagi, mas Setya langsung keluar dari ruanganku.

__ADS_1


"Kuat banget mas Setya, dia bisa sesantai itu ketika di khianati oleh istri dan papa tirinya" kata Anita ketika mas Setya benar-benar sudah menghilang dari ruanganku.


"Rapuh juga si, tapi nggak dia tunjukan"


"Sembuhin Na kalau bisa"


"Apa?" respon Nara langsung mengerjap mencari netra Anita yang ceplas ceplos. Lalu menatapnya tajam.


"Pura-pura nggak nyambung" Desis Anita "sekarang jelaskan siapa Rania?"


"Nggak ada yang perlu di jelaskan, karena dia bukan siapa-siapa. Aku cuma bercanda tadi"


Sebenarnya aku menangkap gelagat aneh dari Nara, Aku yakin dia lagi ada masalah, aku dan Anita sudah mendesaknya untuk bercerita, tapi sepertinya dia belum mau cerita.


"Na, kalau ada masalah, cerita ke kita, kita pasti bantu"


Belum sempat Nara menjawab, salam mas Aksa memutus pembicaraan kami


"Waalaikumsalam" jawab kami nyaris kompak. dan mata kami menatap mas Aksa nyaris bersamaan.


"Berkasnya mas Setya mana?" tanya mas Aksa tanpa basa-basa, tentu saja setelah menyapa Anita dan Nara. Aku langsung menyerahkannya pada mas Akas.


"Berapa hari hasilnya keluar?"


"Dua mingguan"


"Langsung pergi lagi ya" pamit mas Aksa.


"Nggak nyesep dulu bang" Celetuk Anita. Mata kami kompak memindai wajahnya.


"Nyesep apa?" tanya mas Aksa.


Aku dan Nara yang sudah tahu maksud Anita hanya mendengkus geli.


"Bibir" jawab Anita singkat. Lalu memeletkan lidahnya, dan langsung di balas pukulan sangat pelan di atas kepala Anita menggunakan map yang mas Aksa pegang.


"Nyesep bibirmu"


"Langkahin dulu bang Emir"


*****


Sebentar lagi


kami akan tahu Kukuh dan Vita anak siapa, kalau bukan anak mas Setya, itu bisa menjadi tambahan bukti untuk menjebloskannya ke penjara.


Bersambung


Khansa, atas Anita, bawah Naraya


__ADS_1


__ADS_2