Terjerat Perjodohan

Terjerat Perjodohan
Ektra part 7


__ADS_3

Di bawah umur minggir dulu...😀😀😀


Perlahan Anya membuka mata ketika merasakan sentuhan lembut di pipinya. Sentuhan itu berasal dari tangan mungil milik Vita yang berada dalam dekapannya.


Ada tangan kokoh berasal dari arah belakang yang melingkupi tubuh Anya sekaligus Vita.


"Ita sudah bangun?"


"Ita senang bisa bobo sambil di peluk papa sama mama Anya"


Mendengar ungkapan Vita, Anya langsung menyunggingkan senyum lalu mengecup pucuk kepalanya.


"Mama sayang Ita banyak-banyak" bisik Anya lirih.


"Sayang papa banyak-banyak juga?"


"Iya" jawabnya masih dengan suara lirih takut jika pria yang kini masih tidur di balik punggungnya akan mendengar.


"Papa selalu temani Ita, soalnya papa sayang banyak-banyak sama Ita, kalau mama sayang papa banyak-banyak, mama selalu temani papa ya! temani bobo, temani jalan-jalan, temani makan. Kasihan papa dulu-dulu mamah Gina nggak sering-sering temani papa"


"Ita tahu?"


Gadis itu mengerjap sebelum kemudian bersuara. "Mama seringnya marah-marah sama papa, papa diam aja kalau di marah-marah sama mama, terus kemarin-kemarin papa marah banyak-banyak sama mama. Mama Gina pergi, abang juga pergi, mama Anya jangan ikut pergi ya, selalu temani Ita sama papa"


"Iya sayang"


Usai mendengar respon Anya, Vita tersenyum sebelum kemudian mengecup hidung sang mama.


Tanpa Anya duga, tiba-tiba ada suara parau dari seorang pria.


"Papah juga sayang mamah banyak-banyak. Sayang Ita juga banyak-banyak. Papa janji akan selalu temani kalian"


"Papa sudah bangun?" tanya Ita seraya bangkit


Sementara Anya kian salah tingkah dan semakin kikuk. Sama sekali tak menyangka jika Setya juga sudah terjaga dan mendengar percakapannya dengan Vita.


"Sudah. Kita sholat subuh yuk"


"Ayok" Sahut Vita cepat.


Anya bergerak bangkit lalu menggelung rambutnya asal. Ia masih mengantuk sebenarnya, sebab semalam terjaga hingga pukul satu dini hari. Tapi melihat jam di dinding sudah menunjuk di angka lima, mau tidak mau Ia harus bangun untuk melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim.


Biasanya selepas sholat, ia akan ke dapur membantu sang ibu memasak sarapan.


Mengingat pak Ismail adalah seorang guru di SMA, jadi sebelum pukul tujuh, sarapan sudah harus siap di atas meja makan.


Selesai sholat, Anya menyuruh Vita untuk mengecup punggung tangan papanya. Setelahnya, giliran Anya melakukan hal yang sama seperti Vita.


"Mama masak dulu ya"


"Ita ikut"


"Mau ikut masak"


"Eughh" jawab Ita sembari mengangguk.


*****


Ini adalah sarapan pertama yang Anya lalui dengan suaminya. Setya begitu antusias mencoba semua makanan yang Anya buat. Sebab dari pertama menikah dengan Gina dulu, dia sama sekali tak pernah makan hasil olahan darinya.


Jangankan memasak, hanya menyiapkan pakaianpun tak pernah Gina lakukan. Dia bahkan masih terlelap saat Setya akan pergi ke kantor.


Dan ini adalah sesuatu yang luar biasa bagi Setya. Memiliki istri yang polos, tapi pintar dalam segala hal. Apalagi jika menyangkut soal keuangan, Khansa bahkan selalu memuji pekerjaannya yang mengatur tentang menejemen keuangan di restaurannya.


"Nenek mau kemana? bawa tasnya besar-besar?"


"Mau ke pasar. Ita mau ikut?"


"Mau, mau"


"Ijin dulu ke mama Anya"


Tanpa menjawabnya, Vita langsung berlari ke arah dapur dimana Anya tengah mencuci piring bekas makan mereka.


"Mah, Ita mau ikut nenek ke pasar ya"


"Mau ikut ke pasar?" tanya Anya setelah melihat Vita sekilas, lalu kembali fokus dengan piring kotor di atas wastafle. "Jauh loh"


"Tapi pengin ikut"


"Tapi nggak boleh nakal ya!"


"Janji nggak nakal-nakal, Ita nurut sama nenek"


"Ok deh, hati-hati"


"Ok mama" Sahut Ita riang, lalu dengan cepat berlari sembari berseru-seru bahagia.


Sekian menit berlalu, Anya juga sudah selesai mencuci semua piring-piringnya, Tiba-tiba tubuhnya berjengit ketika mendapat sentuhan di pinggangnya.


"Ita kemana?" tanyanya.


"Ke pasar" jawab Anya tanpa melihat wajah yang bertanya. Ia tengah sibuk mengelap piring lalu akan memindahkannya ke rak piring.


"Sama siapa?"


"Ibu"


"Naik apa?"


"Naik motor tadi ikut bapak sekalian ke sekolah"


"Terus pulangnya gimana?"


"Naik ojek paling"


"Berati nggak ada orang dong?"


"Enggak, kenapa?" Anya sedikit mengangkat kepala dan menoleh untuk menatapnya.


"Mau memastikan bahwa kamu milikku seutuhnya" sahut Setya yang tiba-tiba mengangkat tubuh Anya dengan sangat mudah.


"A-aku mau di bawa kemana?"


"Ke kamar, masa ke lapangan"


"T-tapi ini masih terlalu pagi"


"Kamu tahu kalau suami istri bisa melakukan kapanpun" sahut Setya santai "Entah itu siang, malam, atau bahkan pagi hari" lanjutnya sembari membuka dan menutup pintu kamar.


Entah bagaimana caranya, bahkan pria itu bisa memutar kunci dalam kondisi tangan masih mengangkat tubuh istrinya.


Hanya selang tiga detik, Setya sudah membaringkan tubuh Anya di atas kasur.

__ADS_1


Tanpa basa-basi, Setya langsung meraup bibir Anya. Tangannya tak kalah liar menelusup ke balik bajunya.


Sentuhan yang bagi Anya sangat aneh karena ini adalah pengalaman pertama.


"N-nanti Ita pu_"


Kalimatnya terpotong ketika tiba-tiba Setya kembali menempelkan bibirnya. Sapuan yang terasa begitu lembut dan menenangkan, tapi tak serta merta membuat jantung Anya bekerja secara normal. Jantung di dalam sana seolah semakin ribut mendapat perlakuan dari suaminya.


"Dia baru saja pergi, pasti masih lama" Kata Setya seolah tahu apa yang Anya pikirkan.


Usai mengatakan itu, ia beralih menempelkan bibir di area leher, tulang selangka, kemudian turun ke dada.


Sebagian dari pikiran Anya menikmati sentuhan Setya, sebagian lagi berusaha menormalkan detak jantung yang kian menggila. Apalagi ketika tangan sang suami bergerak melepas kancing piyamanya, benar-benar jantungnya amat kurang ajar, detakannya seperti tak tahu aturan.


Entah butuh waktu berapa lama, tahu-tahu Setya dan Anya sudah tak mengenakan pakaian barang sehelaipun. Itu membuat Anya kian beringsut. Malu tentunya.


Sentuhan demi sentuhan, membuat akal sehat Anya melayang entah kemana, apalagi ketika tangan Setya semakin intens menjamah tubuhnya, bibirnya tak kalah intens menyapu bibirnya, membuatnya berkali-kali harus menahan napas.


Tadinya ia merasakan hawa dingin karena cuaca masih pagi, tapi sekarang, tubuhnya merasakan panas yang luar biasa.


Sampai ketika sepasang matanya saling menatap begitu lekat, tubuhnya menempel begitu rapat.


Ada rasa perih yang membuatnya harus menghentikan aktifitasnya.


"Berhenti dulu" pintanya memelas.


"Tapi belum berhasil dek"


Sebuah panggilan baru dari Setya, sebab teringat pak Ismail yang memanggil istrinya dengan sebutan itu. Dan dia berniat meniru ayah mertuanya.


"Istirahat lima menit?" ucap Setya seperti memohon.


Selang beberapa detik, Anya akhirnya menggangguk.


Hingga lima menit berlalu, Setya kembali mencobanya.


Masih sulit, bahkan sangat-sangat sulit, sampai wajah Anya memerah, akhirnya Setya pun menyerah karena tak tega dengan istri yang terus meneteskan air mata menahan sakit.


"Oke, next time saja" Ucap Setya lalu mengecup keningnya. "Maaf ya" tambahnya lalu kali ini mengecup bibirnya singkat.


******


Setya sudah lebih dulu membersihkan diri, dan saat ini ia tengah memanaskan mobilnya sembari menunggu Ita dan bu Riyanti pulang dari pasar.


"Assalamualaikum?"


"Waalaikumsalam" jawab Setya langsung memusatkan perhatian ke arah Ibu dan Vita yang baru saja turun dari taxi.


Melihat sang mertua kerepotan, Setya bergegas membantu membawakan barang belanjaannya.


"Tadi Ita lihat ikan di pasar banyak-banyak"


"Oh ya, apa ikannya masih hidup?" tanya Setya sambil berjalan memasuki rumah.


"Ada yang masih hidup, ada yang udah meninggal. Tapi yang udah meninggal mata ikannya nggak merem pah"


"Kok gitu?"


"Nggak tahu"___


"Mamah mana pah?" tanya Vita ketika sudah di dalam rumah.


"Lagi mandi"


"Sudah"


"Ita belum"


"Tunggu mamah selesai mandi, nanti giliran Ita"


Bersamaan dengan kalimat Setya, terdengar decitan pintu dari arah kamar.


"Sudah pulang dari pasar?"


"Sudah"


"Mandi yuk"


"Ayo"


Anya membantu Vita melepas pakaiannya satu persatu, anak itu tak berhenti mengoceh menceritakan pengalamannya pergi ke pasar untuk pertama kali. Anya yang mendengar cerita Vita, sesekali tersenyum dan melempar pertanyaan.


"Nanti habis Ita mandi mau jalan-jalan"


"Jalan-jalan, sama siapa?"


"Sama papa sama mama"


"Siapa yang bilang Ta?" Anya dan Vita bersama-sama melangkahkan kaki menuju bathtub.


"Papah tadi waktu nyuruh Ita mandi. Selesai mandi mau ajak jalan-jalan katanya"


"Oh" jawab Anya singkat. "Merem sebentar ya Ta"


"Keramas ya mah"


"Iya, Ita kan habis keluar, banyak kuman yang nempel"


"Jangan lama-lama tapi meremnya"


"Enggak sayang, sebentar saja kok"


Anya dan Ita terus berbincang tentang banyak hal, seolah mereka adalah anak dan ibu kandung. Tak ada anak tiri bagi Anya. Meskipun dia mencintai papahnya, tapi cinta terhadap putrinya juga amat besar.


"Di tutup lagi matanya Ta, mama mau bilas rambut Ita" ucap Anya ketika selesai mencuci rambutnya. Sementara Ita pun menurut.


"Tadi Ita bilang papa mau ajak jalan-jalan, papa ada bilang mau jalan-jalan kemana?"


"Nggak ada, papa cuma bilang habis Ita mandi terus jalan-jalan, besoknya mau pulang ke Jakarta"


"Papa bilang gitu?" tanya Anya seraya mengguyur tubuh Ita setelah menyabuninya.


"Iya"


Sekian detik sudah lewat, Anya sudah selesai membantu Vita membersihkan badan dan membalutnya dengan handuk.


"Ita tunggu mama di atas kasur ya, mama mau beresin perlengkapan mandi Ita dulu"


"Iya" sahut Vita sambil berlari kecil ke arah ranjang.


***


Sesuai janjinya, setelah selesai Vita mandi, Setya akan mengajak istri serta anaknya jalan-jalan, ia akan membawanya ke kota lama.

__ADS_1


Tempat wisata yang merupakan jejak peninggalan kolonial di Semarang, dapat dijumpai di kawasan Kota Lama.


Setya sangat menyukai suasana Kota Lama. Dia akan merasakan sensasi seperti berada di luar negeri. Sebab, bangunan di sana memiliki gaya khas Eropa yang tak hanya menarik tetapi juga pas dijadikan latar berfoto.


Entah kapan terakhir Setya berkunjung ke sini, itu sebabnya saat ada kesempatan berada di rumah mertuanya, dia begitu antusias mengunjungi tempat ini.


Di Kota Lama, pengunjung juga dapat bersantai di Taman Srigunting, membeli barang-barang antik, berkeliling dengan sepeda, atau berkunjung ke Galeri Semarang dan Gereja Blenduk.


Sampai ketika di malam hari, ia baru pulang dan Ita sudah tertidur sejak dalam perjalanan pulang.


Ketika Setya membopong Vita hendak di bawa ke kamarnya, tiba-tiba bu Riyanti meminta Setya untuk menidurkan Ita di kamarnya.


"Besok kalian pulang ke Jakarta, ibu pengin bobo sama Vita" Begitulah alasannya, padahal yang sebenarnya, bu Riyanti hanya ingin memberikan Setya dan Anya kesempatan untuk berdua dan melalui malam pengantin tanpa gangguan Vita.


Setya pun menurut dan sepertinya alasan ibu memang masuk akal, jadi melarangnya justru akan terkesan konyol.


"Loh, Ita mana?" Tanya Anya ketika Setya sudah memasuki kamarnya. Tadi saat baru sampai, karena sudah tidak tahan, Anya langsung berlari masuk ke kamar mandi sekalian membersihkan diri.


"Tidur di kamar ibu"


"Nggak nangis memangnya?"


"Enggak, dia nggak akan bangun kalau sudah tidur" jawab Setya sambil memeluk Anya dari arah belakang.


"Pak Setya mandi dulu"


"Kamu masih panggil aku pak?, aku suamimu loh, kamu nggak lupa kan?"


"La-lalu aku panggil a-apa?"


"Mas" sahutnya cepat, dan itu membuat Anya seketika menelan ludahnya.


"Ok, mas mau mandi, kamu jangan tidur dulu"


Selagi Setya mandi, Anya berusaha menormalkan detak jantung yang sudah di pastikan akan memporak-porandakan pikirannya. Ini benar-benar sesuatu yang sudah tidak dapat di hindari. Ia bahkan membayangkan rasa nyeri yang menyergapnya saat pagi tadi.


Semua wanita pasti merasakan, dan mereka baik-baik saja setelah melakukannya.


Rileks saja Anya, sakitnya cuma sebentar. Tahan dan tenang, pasti bisa.


Hingga tiba-tiba pintu kamar mandi pun terbuka, membuat Anya langsung tersadar dari lamunan.


Sepasang matanya menangkap pesona Setya yang begitu tampan baginya. Tubuhnya yang hanya berbalut handuk setengah pinggang, sepersekian detik jantungnya mulai kehilangan ritmenya.


"Sudah siap kan?"


Pertanyaan Setya membuatnya menelan saliva berulang kali.


"A-aku"


"Jangan takut" ucap Setya sembari merebahkan diri di atasnya.


Waktu terus begerak maju, tangan dan bibir Setya semakin dalam dan liar. Ada sesuatu yang menuntut ingin segera menyusuri goa yang masih tertutup rapat.


Ia mencoba dengan sangat pelan, namun lagi-lagi Anya merintih kesakitan dan menyerah.


Pria itu kembali memberikan jeda waktu lima menit.


Panas, itulah yang mereka rasakan.


Menit berikutnya Setya kembali mencoba. Ia seolah tak memperdulikan Anya yang terus meneteskan buliran bening, sementara tangannya dengan sangat kuat mencengkram selimut yang menutupi tubuh mereka.


Anya kembali mendorong tubuh Setya dengan paksa.


"Kita coba besok" ucap Anya.


"Nggak bisa dek, udah mupeng ini, panas, sakit juga"


"Aku nggak kuat, sakit sekali mas"


"Istirahat lagi sebentar ya"


"Nggak mau, lanjut besok saja" tolak Anya cepat.


Menghirup napas dalam, Setya pun akhirnya menurut begitu saja, lalu membaringkan diri di samping tubuhnya.


Mereka pun tertidur hingga pukul dua dini hari, Setya terbangun dan ingin mencobanya sekali lagi.


"Dek, bangun. Kita coba lagi yuk"


"Jam berapa ini?"


"Jam dua"


"Tapi nanti kalau belum bisa juga, jangan di paksa ya"


"Iya sayang"


Setelah mendapat ijin, dengan lincahnya Setya terus bergerilya memberikan sentuhan yang membuat Anya seperti tersengat oleh sebuah tegangan tinggi.


Apalagi ketika tubuh Setya menindih tubuhnya, hanya panas dan gelisah, akan sesuatu yang terasa semakin menyiksa.


Susah payah Setya menerjang pintu yang baginya sangat kokoh, dengan sekuat tenaga pula Anya menahan rasa sakit dan nyeri yang terasa semakin menusuk.


Hingga lewat bermenit-menit ada bagian yang terkoyak. Masuk secara perlahan hingga berhasil sempuna, Setya menghentikan gerakannya sejenak.


Dengan nafas mereka yang masih memburu, mereka hanya diam dan lekat saling menatap. Berkali-kali Setya mengucapkan permintaan maaf.


"Masih sakit?" tanya Setya yang sempat melihat cairan merah di bawah sana.


"Sedikit, tapi mas bisa lanjutkan sekarang"


"Nggak apa-apa?"


Ragu-ragu Anya mengangguk.


"Ok mas akan pelan-pelan"


Baru saja akan melakukan pergerakan, tiba-tiba terdengar suara Vita yang menangis di depan kamarnya.


"Papah, mamah" Rengekannya di iringi dengan suara ketukan pintu.


"Ahh Sial"


Kalimat Setya terpenggal ketika Anya membungkam mulutnya.


"Dia anak mas, jangan mengumpat"


Dengan terpaksa Setya mencabut benda pusaka miliknya yang sudah tertanam sempurna.


"Papa" teriaknya lagi membuat Setya dan Anya kian gugup.


Mereka mengenakan pakaiannya dengan asal dan terburu-buru. Seolah seperti maling yang sedang tertangkap basah.

__ADS_1


__ADS_2