Terjerat Perjodohan

Terjerat Perjodohan
Hotel dan tiket pesawat


__ADS_3

Selesai membersihkan diri, aku langsung turun menuju ruang makan. Di atas meja, bisa ku lihat menu untuk sarapan pagi berupa lontong sayur, lengkap dengan suwiran ayam dan kerupuk yang masih terpisah.


"Ini kok belum pada kumpul buat sarapan mbak"


"Iya bu, tadi pak Aksa bilang nunggu ibu yang lagi mandi katanya"


"Mereka dimana sekarang?"


"Ada di halaman belakang"


"Kalau masih ada yang mau di siapin, mbak Ani bisa siapin dulu, aku mau panggil mereka"


"Iya bu"


Untuk menuju ke halaman belakang, aku hanya perlu menerobos pintu dapur, dan berjalan melewati jemuran baju.


Dari ruang khusus untuk mencuci dan menjemur, aku bisa melihat taman belakang yang tertata rapi dan tampak begitu asri. Ada berbagai macam tanaman bunga yang tumbuh begitu subur dan terkadang wanginya tercium hingga ke ruangan kamarku. Serta ada gazebo berukuran tiga meter persegi untuk sekedar duduk santai menikmati indahnya taman dan semilir udara yang tertiup angin.


Disana ada kakek, nenek dan mas Aksa yang tengah terlibat perbincangan. Mungkin mereka sedang membicarakan tentang bunga, sebab tangan kakek sempat menunjuk pada bunga anggrek ungu yang bunganya tampak lebat.


Keluarga mas Aksa memang penyuka bunga, terbukti dengan nama perusahaanya yang berasal dari salah satu nama bunga. Dan keindahan taman inipun menjadi bukti. Siapapun yang merawat tanaman di sini, aku yakin memiliki kesabaran dan ketelatenan yang luar biasa, sebab nggak ada satupun tanaman yang layu. Orang itu adalah mereka bertiga, dari tangan merekalah bunga ini selalu mekar secara berkesinambungan dan terus menerus.


"Kayaknya sarapan di gazebo enak nek" celetuku saat sudah berada di samping mas Aksa yang tengah memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana.


"Ide yang bagus Sa" timpal kakek.


"Beneran mau makan di gazebo kek?" Aku mengatakan sambil melirik ke arah mas Aksa yang sedang tersenyum padaku.


"Nggak apa-apa kan sekali-kali"


"Udah langsung suruh mbak Ani buat bawain semua menu ke gazebo" pungkas Nenek sambil menyunggingkan senyum. "Mumpung ini hari minggu, kakek nggak buru-buru ke kantor seperti hari biasa"


Aku langsung menuruti ucapan kakek dan nenek.


"Aku bantu siapin Sa" ucap mas Aksa lalu berjalan mensejajarkan langkahku.


"Tadi ada pesan dari Fajar"


"Pesan" Mas Aksa tampak mengernyitkan dahinya. "Pesan apa?" tanyanya sambil terus melangkah.


"Cuma nunjukan tiket dan hotel untuk om Rendi, dia sudah memesankannya"


"Oh" sahutnya singkat. "Hari ini mau ke restauran?"


"Kenapa?"


"Rencana mau ngumpul sama Jerri dan Rian"


"Terus?" tanyaku. Saat ini kami sudah berada di ruang makan. "

__ADS_1


"Ya aku mau ajak kamulah, apa lagi"


"Mbak Ani, tolong bawain ini semua ke gazebo belakang ya" kataku pada mbak Ani. "Kami mau makan di sana"


"Baik bu" jawabnya singkat, dan langsung melaksanakan apa yang ku perintahkan.


"Nggak mau kalau aku cewek sendiri" Aku membalas ucapan mas Aksa yang tadi belum sempat ku jawab, sambil mengangkat wadah berisi lontong plastik.


"Ya enggaklah sayang, ada istri dan anak Jerry, ada tunangan Rian juga. Kamu baru sekali bertemu dengannya kan, pas nikahan kita"


"Jam berapa?"


"Siangan sekalian makan siang, nanti biasanya lanjut main time zone"


Begitu mendengar ucapan mas Aksa, aku langsung menghentikan langkahku lalu memindai wajahnya.


"Kalian main time zone?"


Mas Aksa mengangguk merespon ucapanku.


"Buat hiburan aja Sa" Kami kembali melangkah, tangan mas Aksa membawa setumpukan piring di atasnya ada beberapa sendok untuk sarapan kami. "Mumpung libur" tambahnya.


****


Aku terdiam duduk di atas kasur sembari menyenderkan punggung pada kepala ranjang. Pandanganku kosong menatap layar televisi yang menyala terang. Aku benar-benar melamun sampai nggak tahu kalau mas Aksa memanggilku. Bahkan aku nggak sadar bahwa mas Aksa sudah duduk di sebelahku.


Kalau saja dia nggak mengusap pa*haku, aku pasti masih hanyut dalam lamunanku tentang mbak Gina dan om Rendi. Entahlah, aku punya filing selain mereka ada hubungan, dia juga melakukan kelicikan di perusahaan kakek. Dan bahkan pikiranku berspekulasi bahwa om Rendilah yang menyebabkan mertuaku dan papah kandung mas Setya kecelakaan.


Aku tersenyum lalu menepuk-nepuk pipi kirinya lembut. "Aku cuma masih belum percaya kalau aku hamil" dustaku. Pandanganku yang tadinya nggak lepas dari wajah mas Aksa, kini teralih ke tangan kirinya yang meraih tangan kananku lalu menggenggamnya.


"Kamu tahu, kalau wanita hamil harus selalu mengutarakan apa yang sedang ada di pikirannya" kata mas Aksa, matanya terus menyoroti netraku. "Baik itu yang nggak di sukai, atau di sukainya"


Aku diam sembari mendengarkan penjelasannya, lalu menarik napas panjang, kemudian mengeluarkan perlahan.


"Harus banget ya di utarakan?"


Mas Aksa mengangguk, detik berikutnya ku rasakan jemari mas Aksa menyentuh cicin di jari manisku.


"Jangan menyimpannya sendiri, jangan sok bisa ngatasin sendiri, Ngerti?"


Mengatupkan bibir, aku merespon ucapan mas Aksa dengan bahasa tubuhku, mengangguk.


"Besok ikut aku ke rumah sakit, kita cek kandungan, aku sudah konfirmasi pada dokter Rea dan dapat nomor antrian lima"


"Terus habis dari rumah sakit kamu balik lagi nganterin aku ke Khansallium?"


"Kamu tunggu aku di ruanganku selagi aku mengecek pasien, setelah selesai, nanti baru ku antar ke restauran"


"Lama nggak?"

__ADS_1


"Kalau lama memangnya kenapa?" tanya mas Aksa lengakap dengan dahinya yang membentuk lipatan.


"Bosenlah"


"Cuma sampai jam makan siang"


Selang beberapa detik, terdengar suara pintu di ketuk. Aku dan mas Aksa sama-sama mengalihkan pandangan pada pintu berwarna coklat.


"Masuk" ucap mas Aksa. Saat pintu terbuka, menampilkan sosok ART kami. "Ada apa mbak?"


"Ada pak Rendi di bawah"


"Oh iya suruh tunggu di ruang kerja kakek"


"Om Rendi kesini?" tanyaku heran.


"Iya, mau siapkan dokumen buat pertemuannya besok di Spore" Jawab mas Aksa. Dia menyibakkan selimutnya lalu mengecup keningku singkat sebelum beranjak. "Kamu istirahat lihat tivi, tapi jangan tidur dulu"


"Kenapa?"


"Nanti aku naik sekalian bawain susu buat kamu" sahutnya lalu mengecup keningku sekali lagi.


Seperginya mas Aksa, aku mengirim pesan pada Hanan.


"Besok bisa langsung cek in di bandara. Jangan lupa bawa keperluan ID card dan paspor"


Pesanku beserta foto hasil screnshoot berupa e-ticket.


Hanan. : "Siap bu, laksanakan"


Usai membaca balasannya, aku langsung menghapus pesannya, takut jika nanti ketahuan oleh mas Aksa.


"Aunty" teriak Vita dari ambang pintu, dia langsung berlari menaiki ranjangku. "Vita kangen banyak-banyak sama aunty"


Anak itu memelukku begitu sudah berada di atas tempat tidur.


"Kesini sama siapa?" tanyaku seraya menciumi pipinya.


"Sama papah sama opa juga"


"Nggak sama mamah?"


"Enggak" jawabnya sambil menggeleng. "Mamah nggak di rumah"


"Dimana?" tanyaku penasaran.


"Pergi-pergi"


Jawaban Vita, membuatku berfikir yang tidak-tidak. Aku jadi ragu buat ngawasin mereka, tapi apa salahnya di coba, lagipula sudah di tengah jalan, nggak bisa kalau harus putar balik rencana kan?

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2