
"Gimana pak Sofyan" Tanya Aksa setibanya dia di dalam ruangannya.
"Pak Rendi baru saja mengecek keseluruhannya pak, tapi Nona Nara sudah menghandle dan itu persis seperti yang kami lakukan saat mengecoh pak Rudito"
"Apa pria itu curiga?"
"Dia sepertinya curiga, tapi aku meyakinkannya. Dia juga menanyakan tentang Nona Nara dan Nona Anita kenapa bisa bekerja disini"
"Terus kamu jawab apa?"
"Saya jawab kalau mbak Khansa cuma mau nolong nona Nara dan nona Anita yang butuh kerjaan, dan pak Rendi langsung percaya"
Aksa menganggukan kepalanya paham "Dia belum tahu kan kalau kalian sudah berada di pihak kami?"
"Belum pak, pak Rendi mengira kami masih setia melakukan apa yang dia perintahkan"
"Bagus" Kata Aksa. "Sekarang apa yang akan kamu lakukan?"
"Kami menunggu perintah dari Nona Nara, Nona Anita, dan pak Fajar pak, mereka masih mengaudit dokumen tentang kuasa perusahaan dan saham. Nanti kalau dokumen itu selesai, kita tinggal mencari cara agar pak Rendi menandatanganinya"
"Baiklah, tetap pertahankan situasi seperti ini, sampai asset-asset itu berpindah ke tangan kakek"
"Siap pak"
*****
"Astaghfirullah, Itu orang makannya apa ya, bisa jahat gitu?" Anita bertanya sembari menikmati makan siang di dalam ruangan Khansa.
Khansa baru saja menceritakan tentang perbuatan Rendi yang sudah mencelakai mertua dan papahnya Setya pada kedua sahabatnya.
"Selama ini dia cari uang dangan cara yang haram, jadi ya gitu" sahut Nara sambil mengunyah "Otaknya pun selalu ingin melakukan hal-hal yang keji. Utang banyak kamu sama Anya Sa, dia sudah membongkar rahasia besar mereka, sampai mengorbankan nyawanya. Entah kalau kita nggak memasukan Anya ke rumah mereka, mungkin hal itu belum terbongkar"
"Tentu, aku banyak terimakasih pada Anya. pada kalian juga. Aku nggak tahu kalau nggak ada kalian, mungkin aku dan suamiku sudah tinggal di jalanan sekarang"
"Dan kita nggak akan membiarkan sahabat kita tinggal di jalanan, iya kan Na?"
"Betul, meskipun aku orang nggak punya, setidaknya punya rumah buat nampung kalian" timpal Nara sembari tersenyum meringis. "Nggak rela banget kalau kamu tinggal di jalanan, apalagi sedang hamil begitu"
"Kalian membuatku terharu"
"Nggak apa-apa mellow dikit, banyak absurtnya ntar bang Aksa ngira kita kehabisan obat" Anita yang memang tipikal orang ceplas-ceplos dan bicaranya buka-bukaan, tapi tidak sampai bikin orang terganggu. Hanya saja terkadang tingkah konyolnya ngalahin orang yang benar-benar kehabisan obat.
Khansa dan Nara hanya menggelengkan kepala merespon perkataan Anita. Lalu hening selama sekian detik.
"Kalau menurut kalian" ucap Khansa memecah keheningan. "Mereka pantas dapat hukuman yang seperti apa?"
"Seumur hidup. Karena perbuatannya sudah berlapis-lapis, apalagi tentang pembunuhan terencana untuk mertua dan om kamu"
"Mati aja Na, nanggung kalau seumur hidup" Celetuk Anita. "Udah berlapis-lapis kayak kue lapis, tinggal serahkan kasih makan ke binatang buas"
__ADS_1
"Setuju juga kalau di hukum mati, Coba deh Sa, bayangin, sudah melakukan penipuan, pembunuhan berencana sampai tiga nyawa, pernikahan siri mereka, penggelapan dana, korupsi, penipuan tentang anak mereka, perselingkuhan, Apa lagi Ta?" tanya Nara.
"Yang jelas mereka mau mengulang perbuatannya pada kamu" Anita menunjuk Khansa dengan dagunya "Suamimu, dan mas Setya, jelas sekali kan dalam rekaman itu bahwa Gina menyuruh Rendi buat membunuh kalian sama seperti membunuh orang tua bang Aksa dan mas Setya"
"Kamu nggak takut Sa, kalau Rendi dan Gina tiba-tiba mencelakai kakek, nenek dan tante Ami?" kali ini Nara bertanya dengan sorot serius.
"Takut juga si, tapi kan rencana kita dari awal memang sembunyi-sembunyi, biar Rendi sama Gina nyangkanya semua baik-baik saja terus tahu-tahu kami sekeluarga terusir dari rumah"
"Tapi harus tetap hati-hati juga si menurutku" timpal Anita.
"Ada Hanan di rumah dan satu temannya lagi, yang kami pekerjaan jadi tukang kebun sambil menjaga nenek. Terus ada pak Annas yang selalu dampingin kakek, kami juga selalu mengingatkan pak Annas supaya hati-hati. Benar-benar rencana kita ini nggak kecium sama kakek. Dan ini semua karena kalian juga membantuku"
"Sa" panggil Nara serius. Anita dan Khansa kompak memindai wajahnya.
"Ada apa Na?" tanya Khansa tak kalah serius.
"Ini kan bentar lagi clear, kita tinggal dapatin tanda tangan manusia keji itu, nah nanti aku langsung resign ya"
"Kenapa Na?" tanya Anita cepat.
"Aku sudah tidak di ijinkan kerja sama suamiku?"
"Suami" ucap Khansa dan Anita nyaris bersamaan.
Nara mengangguk tak berani menatap sahabatnya. "Aku sebenarnya sudah nikah satu bulan lalu"
"he'em Nggak lucu tahu Na"
"Aku serius udah nikah"
Khansa dan Anita tampak lebih serius dari sebelumnya, menegakkan duduknya, lalu menatap Nara lekat-lekat.
"Kamu udah nikah?" tanya Anita memicing "Coba mana ponselmu?"
"Buat apa Ta?"
"Kalau benar udah nikah, pasti ada photo pernikahan di ponselmu kan?. Cepat kesiniin ponselmu, aku mau memastikan"
Nara segera meraih ponsel di saku jasnya, dan Anita langsung merebutnya.
"Beneran Sa, dia udah nikah"
"Coba mana ponselnya?"
Setelah puas, Anitapun menyerahkan ponsel Nara ke Khansa.
"Na, kenapa kamu lakukan tanpa sepengetahuan kami" tanya Khansa setelah melihat beberapa pose poto pernikahan Nara.
"Maaf, pernikahanku di gelar sangat sederhana" Usai mengatakan itu, wajah Nara berubah muram, itu membuat Khansa dan Anita mengernyit. "Pernikahanku nggak di setujui sama bundanya suamiku, kami menikah tanpa keluarga suamiku"
__ADS_1
"Kenapa mereka nggak setuju?" tanya Anita penuh selidik. "Kamu sempurna, pintar, cantik, baik, ramah. Harusnya mereka beruntung dapat menantu sepertimu"
"Tapi faktanya enggak Ta, mereka menolakku"
"Why?" tanya Khansa kali ini"
"Nanti akan aku ceritakan kalau aku sudah siap"
"Tapi kamu bahagia kan?"
"Bahagia"
"Beneran ya bahagia" Khansa berdiri lalu melangkah menghampiri dua sahabatnya yang sedari tadi duduk di depan meja kerjanya.
"Beneran Sa, suamiku mencintaiku. Itu sudah cukup membuatku bahagia. Mengenai restu orang tuanya, kami sedang pelan-pelan merayu mereka"
"Semoga bahagia selalu ya"
Ketiga wanita itu sudah sama-sama berdiri, mereka lalu saling berpelukan.
Sampai ketika jam pulang kantor tiba, Khansa dan Aksa mampir ke rumah sakit untuk menjenguk Anya.
Sebelumnya, Aksa sudah mempekerjakan dua orang mekanik yang akan stand di parkiran kantor untuk menjaga mobilnya, mobil Setya, dan karyawan lain terutama Anita, sementara Nara, selalu di antar pulang oleh Setya dan terkadang oleh Aksa Khansa, Emir Anita.
Seperti hari ini, karena Setya sedang tidak di kantor, sementara Aksa dan Khansa juga akan ke rumah sakit, Emir dan Anitalah yang mengantar Nara.
Sesampainya di rumah sakit, sudah ada ibu dan kakak dari Anya yang sedang menjaganya.
"Mas Setya kemana?" tanya Khansa setelah menyalami ibu dan kakaknya Anya.
"Sudah pulang beberapa jam lalu mbak, katanya mau jemput Ita di TPA dan Kukuh ke sekolah"
"Kamu gimana?"
"Udah lebih baikan mbak, dan kata dokter nggak boleh rebahan terus, harus di bawa duduk"
"Hmm kamu sebaiknya nurut"
"Mbak, tadi pak Setya ngabarin kalau Ita crita ke mbak Gina soal malam penembakan itu"
Aksa dan Khansa tertegun begitu mendengar Anya mengatakan itu. Suami istri itu saling pandang dengan sorot terkejut.
"Terus Nya?"
"Pak Setya lagi ngatasin sekarang, dia cuma menyuruhku untuk hati-hati di sini. Mbak Sasa sama pak Aksa juga hati-hati ya, sepertinya mereka mencurigai kalau Cici suruhan kalian"
Takut campur panik yang Khansa rasakan saat ini. Andai saja dia tidak dalam keadaan hamil, mungkin tidak setakut ini, karena selain melindungi dirinya sendiri, dia juga harus melindungi calon buah hatinya. Membuat pikiran Khansa melayang kemana-mana, dan ketakutan itu kian besar.
Bersambung
__ADS_1