Terjerat Perjodohan

Terjerat Perjodohan
Kembali berprasangka buruk


__ADS_3

"Kamu beneran akan ngomong ke mbak Gina soal ketidak sukaannya padaku?" tanyaku sambil mengusap lengan mas Aksa yang melingkar di perutku. Saat ini posisi kami berbaring dan mas Aksa tengah memelukku dari arah belakang.


"Hmm" gumamnya lalu mengecupi ceruk leherku.


"Itu nggak penting tahu nggak?"


"Kalau kamu merasa terusik, jelas itu penting"


Aku langsung melepas pelukan mas Aksa begitu mendengar ucapannya, lalu bangkit dan bersandar pada headboard. Sementara mas Aksa duduk bersila menghadapku.


Membuang napas pasrah, aku mendongak mempertemukan netra kami. Detik berikutnya mas Aksa meraih tanganku.


"Ada sesuatu yang lebih membuatku terusik" ucapaku tanpa ragu, dan mas Aksa langsung mengangkat satu alisnya.


"Apa?" tanyanya penasaran.


"Mbak Gina dan om Rendi?"


"Kenapa dengan mereka?"


Terdiam sejenak, aku kemudian memberitahukan pada mas Aksa apa yang kulihat saat di Paris.


"Sebenarnya aku seperti melihat mbak Gina dan om Rendi saat kita sarapan pada hari pertama di Paris"


Entah sudah berapa kali pria di depanku mengangkat satu alisnya malam ini. Mas Aksa lalu menatapku dengan tatapan bingung.


"Serius" tambahku ketika mas Aksa hanya termangu menatapku.


"Mungkin kamu salah lihat"


"Aku berharap juga begitu, tapi seolah filingku menolaknya"


"Maksudmu?"


"Aku berusaha menolak bahwa yang ku lihat memang bukan mereka, tapi enggak bisa"


"Atau mungkin mereka nggak sengaja bertemu" sergah mas Aksa.


"Ya sudah kita tidur saja" ucapku sambil merebahkan diri membelakanginya lalu menarik selimut hingga batas dada.


"Jangan berprasangka buruk pada orang lain, nanti cepet tua" dia berkata seraya membalikkan badanku. "Nggak mungkin kan, Gina ke paris dengan papah mertuanya"


Aku menatap mas Aksa yang juga sedang menatapku, perlahan ku lihat senyumnya terbit di wajahnya.


"Andai saja kita datang ke restauran lebih pagi saat itu, kita pasti akan tahu siapa orang yang mirip mbak Gina dan om Rendi" ujarku kali ini dengan nada pelan.

__ADS_1


Mengingat kembali bagaimana sosok pria itu menggandeng tangan mbak Gina dengan begitu mesra, rasa penasaranku jelas semakin naik.


"Kenapa seyakin itu kalau itu mbak Gina dan om Rendi?"


Aku menggeleng sebab nggak bisa menjawab pertanyaannya.


Selang dua detik mas Aksa menciumku. Hangat dan lembut, ciuman yang terasa semakin dalam dan memabukkan. Ada kemungkinan kami akan mengulang aktifitas beberapa menit yang lalu.


"Kita lakukan lagi?" tanya mas Aksa tanpa mengikis jarak wajah kami usai ciuman terlepas.


Aku mengangguk ragu namun di balasnya dengan senyuman.


"Jangan berfikiran yang enggak-enggak" bisik mas Aksa di depan wajahku lalu mencuri kecup di bibirku sekilas. "Apalagi memikirkan orang lain, kita fokus saja bikin dedek bayi"


"Aku nggak memi_" Suaraku menghilang seiring dengan bibirnya yang menempel di bibirku. Ciuman yang semakin lama kian intens, semakin dalam dan... panas. Hingga tahu-tahu aku sudah berada di bawah kungkungannya.


Kedua tanganku melingkar di lehernya, sementara mas Aksa semakin merapatkan tubuhnya ke tubuhku.


Jantungku berdetak sangat cepat, paru-paruku juga rasanya seperti akan meledak.


*****


"Bangun mas ini sudah lewat pukul enam" Teriakanku di pagi hari, merupakan sarapan utamanya. "Ayo bangun" perintahku lagi sembari menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Kami sudah bangun subuh tadi sebenarnya, tapi mas Aksa kembali tidur setelah sholat.


"Bentar lagi Sa, lagian mau ngapain bangun pagi-pagi, aku ke rumah sakit jam sembilan, ini masih jam enam"


"Pergilah! hati-hati di jalan. Jangan lupa sarapan"


"Assalamualaikum" pamitku lalu mencium punggung tangan dan mengecup keningnya singkat.


"Nanti malam nggak lembur kan?" tanya mas Aksa ketika aku hendak melangkah keluar. Aku berhenti lalu berbalik "Enggak, kenapa memangnya?"


"Besok pagi aku herus ke Papua sama Rian, bantu packing nanti malam"


Setelah mengiyakan ucapan mas Aksa, aku kembali melanjutkan langkahku. Di bawah, sudah ada kakek dan nenek tengah duduk di kursi makan hendak menikmati sarapan yang ku buat tadi pagi.


"Nek aku langsung berangkat ya" pamitku setelah sudah berada di ruang makan.


"Kamu nggak sarapan nak?"


"Nanti nek di restauran" jawabku sambil meraih kotak makan. "Ini aku bawa bekal"


"Aksa belum bangun?" tanya kakek, dan aku langsung memalingkan wajahku ke arahnya.


"Belum kek?"

__ADS_1


"Anak itu benar-benar susah. Kalau nggak ada Lasetya sama Fajar, entah bagaimana perusahaan kakek" kakek mengatakannya sembari menggelengkan kepala. "Bilangnya mau usaha bangun pagi, cuma usaha-usaha saja dan nggak ada niat"


"Nanti aku coba ngomong ke mas Aksa kek"


"Ya di coba Sa, kalau berhasil kakek kasih kamu hadiah"


Aku mengernyit mendengar ucapan kakek, sementara tanganku masih sibuk memasukan kotak makan ke dalam goodie bag.


"Tantangan yang enggak menyenangkan Sa" celetuk nenek, tapi aku nggak tahu apa maksudnya. Detik berikutnya reflek alisku terangkat satu.


"Tantangan kita sama" imbuh nenek yang sepertinya paham akan kebingunganku. "Nenek aja belum berhasil dapat hadiah dari kakek"


Aku tersenyum kecut merespon keluhan nenek. lalu segera meninggalkan ruang makan setelah berpamitan pada mereka. Saat hendak melangkah menuju pintu keluar, aku di kejutkan oleh mas Setya yang melangkah memasuki rumah kakek dengan membawa serta Vita.


"Assalamualaikum Aunty" Ucap mereka kompak.


"Waalaikumsalam"


"Aunty mau berangkat?"


"Iya mas"


"Aunty mau kerja?" tanya Vita polos.


"Iya sayang"


"Nggak bisa main-main sama Ita?"


"Main-mainnya nanti ya kalau auntnya udah nggak sibuk"


"Aksa Ada ty?"


"Masih tidur mas"


"Kalau di rumah Gina yang belum bangun, disini Aksa yang masih nyungsep di kamar"


"Mbak Gina belum bangun mas?" tanyaku menanggapi gerutuan mas Setya. "Belum sarapan dong"


"Belum"


"Ya udah mas sama Vita sarapan dulu, kakek sama nenek ada di ruang makan"


Setelah mengatakan itu, aku langsung buru-buru keluar dengan prasangka buruk tentang mbak Gina. Kalau mas Aksa si masih bisa ku maklumi, tapi mbak Gina, wanita yang sudah bersuami dan memiliki dua anak kayaknya kurang elok kalau jam segini belum bangun. Dan aku yakin sekali mas Setya yang udah ngurus Kukuh sampai di sekolahnya.


Entahlah, dua orang itu benar-benar mengganggu pikiranku, padahal jelas itu bukan urusanku.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2