Terjerat Perjodohan

Terjerat Perjodohan
Hasil DNA


__ADS_3

Dua minggu berlalu, Anya sudah masuk rumah mewah milik om Rendy dan mbak Gina. Ia menyamar sebagai asisten rumah tangga di rumah mereka.


Anya bilang ada wanita paruh baya seusia mami Diana dan bisa di pastikan wanita itu adalah mamah dari mbak Gina.


Saat kami bertiga tengah berkumpul di jam istirahat, mas Aksa yang sudah meluangkan waktu sepenuhnya untuk perusahaan, tiba-tiba memasuki ruanganku dengan membawa sebuah amplop. Amplop itu berisi hasil DNA milik Kukuh dan Vita yang memang baru keluar tadi pagi.


Kami bertiga kompak menoleh ke arah pintu.


"Kalian berdua nggak keluar buat makan siang?" tanya mas Aksa sambil menutup pintu, Jelas pertanyaan itu ia tunjukan untuk Naraya dan Anita.


"Kami lagi pesan makanan" jawab Anita matanya fokus ke layar ponsel.


"Kenapa nggak makan di luar?"


Alih-alih menjawab Anita justru melempar candaan yang membuat mas Aksa terdiam.


"Seharian di kantor yang sama, di rumah juga semalaman bareng, masih kurang juga"


Selagi Anita mengatakan itu, aku bangkit dari duduku dan mempersilakan mas Aksa duduk di tempatku. Aku langsung ambil posisi duduk di sofa panjang sebelah Anita duduk.


"Mas ke ruangan sasa sekarang!" Mas Aksa menelfon mas Setya dan menyuruhnya untuk menuju ke ruanganku.


Nggak berapa lama, mas Setya pun masuk lalu duduk di depan meja mas Aksa berdampingan dengan Nara.


"Sudah keluar hasilnya Sa?"


"Sudah mas" sahut mas Aksa lalu menyerahkan amplop itu ke mas Setya. "Mas bisa lihat sekarang"


"Kamu saja yang buka, kamu lebih paham maksudnya. Setelah itu kamu bisa jelaskan ke aku"


"Ok" Mas Aksa kembali meraih amplop itu lalu membukanya.


Perhatianku, kedua temanku dan mas Setya, kompak menatap tangan mas Aksa yang perlahan merobek amplop berwarna coklat itu dengan sangat hati-hati.


Sampai ketika mas Aksa mengeluarkan kertas putih, ku lirik mas Setya duduk dengan raut gelisah sekaligus tegang, kedua sikunya yang bertumpu pada lengan kursi, jarinya menyatu seperti saling meremat. Sementara punggunya bersender dan kakinya menyilang.


Tapi bukan hanya mas Setya yang tegang, aku sendiri juga sangat tegang, mungkin Anita dan Naraya juga merasakan hal yang sama.


Diam sambil terus menatap mas Aksa yang tengah membaca kertas itu dalam hati. Sesekali aku menelan ludahku seolah sudah tak sabar ingin segera mengetahui hasilnya.

__ADS_1


"99% Vita cocok dengan mas, sedangkan Kukuh 0%" Nggak sampai di situ mas Aksa membuat kami tegang. Karena detik berikutnya, mas Aksa kembali bersuara.


"99% Kukuh cocok dengan DNA om Rendi"


Usai mengatakan itu, nggak cuma mas Setya yang menarik napas panjang, aku dan kedua temanku pun sama. Kami menarik napas dalam nyaris bersamaan.


"Yang sabar ya mas" ucap Anita.


"Udah sabar banget Ta" lirih mas Setya sambil mengusap wajahnya. Mungkin dia menangis karena tiba-tiba ku lihat Nara mengulurkan selembar tisu. Dia yang duduk di sebelah mas Setya, bisa dengan jelas menatap wajahnya. Beda denganku dan Anita yang duduk di sofa tempat untuk menerima tamu. Kami sama sekali nggak tahu seperti apa ekspresi mas Setya.


"Pasti ada hikmahnya mas" kata Nara setelah tisu dari tangannya di terima oleh mas Setya.


Mas Setya hanya mengangguk merespon ucapan Nara.


Dan aku yakin, mas Aksa senang dengan hasil Vita yang mengatakan kalau dia anak biologis mas Setya, meskipun hasil itu mengecewakan, setidaknya nggak seratus persen. Karena salah satu dari mereka adalah keturunan keluarga kami.


*****


"Mikirin apa?" tanyaku saat aku baru saja keluar dari kamar mandi. Ku lihat mas Aksa tengah duduk di tepian ranjang dengan tatapan kosong. Ia langsung melirikku begitu aku bertanya.


"Kukuh"


Aku mengeluarkan lotion dari tube kemudian mengoleskannya ke perut yang sudah tampak sedikit membesar, sebab usia kandunganku sudah sekitar tiga bulanan lebih.


"Entah seperti apa ekspresi kakek dan nenek nanti, apalagi tante Ami"


"Ya kita harus persiapkan cara untuk menghibur dan menguatkan mereka"


"Aunty__ uncle"


Obrolan kami di interupsi oleh panggilan Vita. Dia langsung naik ke atas tempat tidur dan nempel di punggung mas Aksa.


"Tara" teriaknya sembari menyerahkan bentuk bunga yang ia lipat dari kertas origami.


"Wow bunga" kata mas Aksa dengan nada seolah seperti anak kecil. "Bunga apa ini warnanya biru?"


"Unclenya kan suka warna biru, jadi di buatkan pakai kertas warna biru"


"Aunty nggak di bikinin?" protesku ikut nimbrung di sebelah mas Aksa.

__ADS_1


"Auntynya suka warna apa? besok-besok ita bikinin yang banyak-banyak"


Aku tersenyum melihat bagaimana Vita meresponku. "Aunty suka warna pink, sama warna merah juga"


"Ok besok di bikinin pakai warna pink"


"Ita datanya sama siapa?" tanya mas Aska ketika sudah membawa Vita ke pangkuannya.


"Sama papah"


"Terus?"


"Udah"


"Nggak sama mamah atau sama abang Kukuh?"


"Nggak, abang Kukuh nggak di bolehin sama mamah, soalnya harus belajar banyak-banyak. biar pintarnya juga banyak-banyak. Kata papah Itanya boleh nginep sini, boleh bobo sama kakek sama nenek"


"Bobo sama uncle aja ya!"


"Boleh?" tanya Vita sembari memalingkan wajah dan sedikit mendongak mencari netra mas Aksa.


"Boleh dong, nanti bobonya di tengah"


Aku hanya diam menyimak percakapan mereka.


"Kalau di tengah nanti unclenya nggak bisa peluk-peluk aunty. kayak papah sekarang nggak pernah peluk-peluk mamah kalau bobo, soalnya ita bobonya di tengah"


Mendengar ucapan Vita, aku dan mas Aksa saling pandang.


"Papah sama mamah lagi marah-marahan ya uncle, aunty?"


"Kenapa memangnya?" tanya mas Aksa menyelidik.


"Papah sekarang udah nggak pegang-pegang tangan mama kalau jalan, bobonya juga jauh-jauh" sahut Vita ia menurunkan nada suaranya. "Kata teman-teman Ita di TPA, kalau papa mama nggak pegang-pegang tangan, artinya lagi marah-marah, terus udah nggak sayang-sayang"


Aku dan mas Aksa seketika diam. Ternyata anak sekecil Vita sudah pintar mengobservasi orang tuanya. Reflek tanganku mengusap perutku lembut.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2