Terjerat Perjodohan

Terjerat Perjodohan
Ektra part 6


__ADS_3

Begitu sampai di kamar, Anya langsung masuk ke kamar mandi mengganti pakaiannya dengan piyama.


"Kok jilbabnya nggak di lepas?" tanya Setya ketika melihatnya baru saja keluar dari toilet dan masih mengenakan penutup rambut. "Duduk sini" lanjutnya sambil menarik tangan Anya lalu memerintahkan duduk bersandar pada headboard. Di susul oleh Setya yang duduk di tepi ranjang menghadap sang Istri.


"Makan, saya suapi"


"Saya nggak lapar pak"


"Kamu tadi cuma makan sedikit kan? ayo sekarang buka mulutmu"


"Biar saya makan sendiri" balas Anya sambil mengulurkan tangan. Tapi Setya justru menjauhkan piring dari jangkauannya.


"Tatap aku Anya!"


Jelas Anya tak mau menuruti perintah Setya sebab masih gugup dan malu.


"Aku suamimu, bukan musuhmu"


Mendengar perkataannya, perlahan Anya mengumpulkan keberanian mengangkat kepala berusaha untuk menatap bola mata Setya.


"Kenapa?" tanya Setya sembari melepas hijab. "Masih malu?"


"A-aku_"


"Aku mencintaimu" potong Setya. Ini pertama kalinya dia mengucapkan kata cinta untuk Anya. Dan itu langsung membuat jantung Anya berdebam dengan tidak sopan.


Melihat rambut Anya di gulung dengan asal, Setya menarik ikatan rambutnya, dan seketika rambut panjangnya tergerai.


"Kamu cantik"


Tak ada sepatah katapun yang mampu Anya keluarkan dari mulutnya, ia masih merasa aneh dengan keberadaan Setya yang selalu membuatnya merasa kikuk.


"Makan ya" kata Setya sambil menyendokkan nasi lalu mengarahkan ke mulut Anya.


Sempat ragu, akhirnya Anya membuka mulutnya dengan susah payah.


"Dua minggu di sini ngapain saja?"


"Di rumah aja"


"Kenapa nggak menelfon saya untuk sekedar nanyain Ita"


"Saya telfon mbak Sasa"


Mendengar jawaban Anya, Setya mengangkat satu alisnya.


"Saya nanyain Ita ke mbak Sasa" lanjut Anya.


"Kenapa nanyanya nggak ke saya?"


"Saya pikir pak Setya sibuk, karena mbak Sasa bilang bapak mau menikah"


"Dia nggak bilang saya yang akan menikahimu?"


Anya menggelengkan kepala tepat pada suapan yang kesekian kalinya.


"Saya juga nggak tahu kalau calon istri saya itu kamu?"


"Jadi?"

__ADS_1


"Ya, saya baru tahu pas ijab qobul namamu yang di sebut" Sahut Setya cepat. "Kita sudah di kerjai habis-habisan sama Sasa dan juga mama. Kamu menerima pernikahan ini kan?"


Hening, bukannya tak mau menjawab apalagi menolak pernikahannya, tapi Anya masih malu dan diamnya justru sangat menerima pernikahan ini.


"Terima apa enggak?"


"Iya" jawab Anya lirih. Tentu saja tanpa menatap suaminya.


"Iya apa?"


"Iya terima"


"Terima apa?"


Alih-alih menjawab, Anya justru memalingkan wajah ke arah nakas, lalu meraih gelas berisi air.


"Terima pernikahan ini kan?"


Anya mengangguk setelah meneguk air di dalam gelas.


"Papah, mamah" teriak Vita setelah berhasil membuka pintu kamar, dan dengan cepat menutupnya kembali. Anak itu bergegas lari lalu naik ke atas kasur.


"Ita belum bobo?" tanya Setya.


"Ita mau bobo sama papa"


"Tapi kan kemarin-kemarin udah bobo sama papa"


"Emangnya kenapa. kalau kemarin-kemarin bobonya sama papa?"


"Kan udah bobo sama papah banyak-banyak, jadi sekarang gantian papa bobo sama mama Anya"


"Kan papah belum pernah bobo sama mamah"


"Ita juga belum pernah bobo sama mama"


Jawaban Ita bagai tamparan keras untuk Setya. Sementara Anya yang sedari tadi hanya diam menyimak, seketika tersenyum geli melihat raut wajah suami dan anak gadisnya.


"Ita kan pengin bobo sama mama juga"


"Ya udah Ita bobo sama aunty" sahut Anya.


Mendengar Anya yang masih menyebut dirinya, aunty, Setya langsung melirik ke wajah istrinya. "Bukan aunty, tapi mamah"


"Iya kan Ta?" kali ini pandangannya ia alihkan pada putrinya.


"Iya" Bersamaan dengan sahutan Vita, terdengar suara pintu di ketuk. Membuat Anya dan Setya melirik ke arah pintu. Selang dua detik, Setya bergerak bangkit, dan berjalan untuk membukanya.


"Ihh Rambut mama panjang-panjang, jadi cantiknya banyak-banyak kayak aunty Sasa"


"Ita juga cantik" balas Anya sembari mencubit hidung Ita lembut, lalu membawanya duduk di atas pangkuan menghadap ke dirinya.


"Iya bu?" kata Setya begitu pintu terbuka.


"Vita di sini?"


"Iya, dia mau tidur sama kami"


"Ndak apa-apa to?"

__ADS_1


"Nggak apa bu, dia pengin tidur sama mamanya"


"Oh ya sudah, ini baju tidur sama sikat giginya" Bu Riyanti menyerahkan piyama serta sikat gigi yang memang sudah di titipkan oleh Ami padanya.


"Makasih ya bu"


Usai mengatakan itu, dan setelah bu Riyanti pergi, Setya langsung menutup pintunya dengan pelan.


Saat Setya berbalik dan hendak menuju ranjang, tiba-tiba bibirnya tersungging ketika sepasang matanya melihat bagaimana Anya memangku Vita dan bercanda layaknya dengan anak kandung. Jari Vita yang seperti mengulun rambut panjang milik Anya, memantik bibir Setya tersungging semakin lebar.


"Ita belum gosok gigi ya?"


Pertanyaan Setya, membuat Anya dan Ita kompak menatap wajahnya.


"Belum" Jawab Ita.


"Gosok gigi dulu yuk" Ajak Anya ketika Ita kembali menatap wajahnya.


"Tapi sama mamah"


"Iya sama aunty sama siapa lagi"


"Mama bukan aunty, masa lupa-lupa terus"


Anya hanya tersenyum menanggapi ucapan Vita.


"Ita gosok gigi sama mamah ya, papah bawain piring bekas mamah ke dapur, sekalian bikin susu buat Ita"


***


Waktu menunjukkan hampir pukul sebelas malam ketika Anya selesai membantu Vita menggosok gigi dan berganti pakaian tidur.


Sudah ada Susu di atas nakas, sementara Setya tengah menerima telfon dari Fajar. Dia memberitahukan bahwa rumah mewah yang sebelumnya di huni oleh Rendi dan Gina sudah mendapatkan pembeli. Dan si pembeli ingin melihat-lihat rumah mewah berlantai tiga itu besok.


Karena Setya masih berada di Semarang, Ia menyerahkan segalanya pada Fajar, atau bisa menghubungi Aksa yang kemungkinan sudah kembali ke Jakarta esok hari.


"Ita bobonya ke tengah"


"Mamah aja yang di tengah. Biar Ita sama papa bisa sama-sama peluk mama"


"Nanti kalau Ita di pinggir terus jatuh gimana?"


"Nggak akan jatuh" Setya ikut nimbrung dalam obrolan Anya dan Ita. "Nanti di peluk-peluk papa"


"Iya kalau mama di tengah nanti papa bisa peluk mama sekalian bisa peluk Ita, tangan papa kan panjang-panjang"


Ternyata selain pintar, Vita juga anak yang cepat tanggap, pandai sekali menyangkal ucapan orang dewasa. Dan itu, membuat Anya pasrah dengan keputusan Ita dan juga Setya.


"Tunggu apa lagi, ini sudah mau jam sebelas, lebih baik sekarang bobo"


Segera Anya merebahkan diri di tengah ranjang. Jantungnya bertambah ritmenya selagi menuruti perintah Setya. Ia langsung berhadapan dengan Vita, tangannya memeluk tubuh mungilnya, sembari mengusap lembut punggungnya.


Tak berapa lama, Setya ikut merebahkan diri di samping Anya yang memunggunginya. Dalam hitungan detik, tiba-tiba tangan kokoh Setya melingkar di pinggang Anya.


Wangi pria itu tercium sangat kuat oleh hidung Anya. Ketika Setya merapatkan tubuhnya sambil memeluknya, jantung Anya kembali berdetak dengan sangat cepat.


"Tidurlah" ucap Setya lirih tepat di belakang kepala Anya. "Main-mainnya besok saja"


Mendengar kalimat Setya, otomatis jantung Anya semakin tak terkendali. Ia mengeratkan pelukannya pada Ita yang tahu-tahu sudah terlelap.

__ADS_1


Bagaimana aku bisa tidur kalau detak jantungku tidak sopan seperti ini??!!! Anya.


__ADS_2