
Satu bulan sudah berlalu semenjak kepergian Kukuh. Khansa dan Aksa sempat mendengar berita tentang Gina yang depresi karena kehilangan Kukuh. Ia bahkan tak lagi semangat dalam menjalani hari-harinya di dalam penjara.
"Sa, menurutmu seperti apa hubungan Setya dan Anya?" tanya Ami ketika sedang membuat kudapan di sore hari.
"Kurang tahu te, tapi aku sempat dengar dari Wiwi, Anya sangat bahagia jika mas Setya datang ke restauran. Mas Setya sendiri gimana te?"
"Tante nggak tau Sa, sepertinya dia takut di tolak sama Anya, soalnya sampai sekarang mereka tak menunjukan tanda-tanda ada hubungan kecuali pertemanan"
"Kita jodohin aja yuk te, kita langsung saja lamar Anya ke orang tuanya, kita nikahkan tanpa sepengetahuan mas Setya dan Anya"
"Nanti kalau mereka justru marah gimana?"
"Sepertinya si enggak, dari raut wajah mereka, ku lihat mereka saling cinta, cuma ya mereka sama-sama nggak berani maju dulu"
"Terus gimana maksud kamu nikahin mereka diam-diam?"
"Pertama-tama" jawab Khansa sambil memakan buah yang ia kupas. "Kita lamar Anya langsung ke orang tuanya di kampung, kita bilang sama mereka jangan kasih tahu ke Anya kalau pria yang melamar itu mas Setya. Kita juga jangan beritahu mas Setya kalau Anya mempelai wanitanya"
"Terus" tanya Ami mengernyit.
"Kita bilang aja, akan menjodohkan mas Setya"
"Kamu tahu alamat Anya di kampung
"Soal itu nanti aku tanya ke papi"
"Terus kita langsung ke rumah Anya begitu?"
"Hmmm"
"Ok deh, tante setuju. Lagi pula kan Ita juga sudah dekat dengan Anya"
*****
"Setya, mama mau bicara"
Mendengar ucapan sang mama, Setya yang tadinya fokus berkutat di depan laptop, kini menatap wajah mamanya yang tahu-tahu sudah duduk di sofa.
"Bicara apa mah"
"Mama mau kamu segera menikah dengan anak teman mama"
Setya melipat laptopnya sembari menarik napas dalam-dalam.
"Mah, aku kan sudah bilang mau cari sendiri. Mama jangan desak aku seperti mama mendesakku dulu saat menikahi Gina"
"Tapi kan waktu itu mama di desak sama Rendi, supaya kamu menikahinya"
"Kalau gitu sekarang siapa lagi yang mendesak mama?"
"Mama sendiri" jawab Ami cepat.
Setya mengambil napas berat sebelum kemudian merespon ucapan mamanya.
"Sama siapa?"
"Yang jelas anaknya cantik, mau menerima Ita juga"
"Ya tapi siapa?"
"Yang jelas wanita, pokoknya kamu harus mau, mama sudah melamarnya untukmu. Dan dua minggu lagi ijab qobul di adakan di rumah mempelai wanita"
Usai mengatakan itu, Ami berdiri lalu melangkah menuju kamar.
Dua hari lalu, Ami dan Khansa pergi ke Semarang di temani oleh Pak Annas untuk melamar Anya ke orang tuanya.
Kehadiran mereka di sambut hangat oleh keluarga Anya, mengingat Khansa adalah anak Anjar menantu bu Retno.
Niat Ami untuk melamar Anya pun sudah di setujui oleh Kakek dan juga nenek.
__ADS_1
Mereka sepakat untuk menikahkan Setya dan Anya dua minggu kemudian. Hanya ijab kobul saja yang akan di laksanakan di rumah Anya. Tanpa undangan, dan tanpa pemotretan apapun.
Khansa sudah merencanakan resepsi pernikahan kakak iparnya yang akan di adakan di Jakarta satu bulan setelah ijab qobul.
Sepasang mata Setya terus menatap punggung mamanya yang semakin menjauh dan hilang dari pandangannya.
Pria itu mengusap wajahnya gusar. Padahal dia berencana ingin melamar Anya besok.
Pertama, aku harus mengungkapkan perasaanku pada Anya. Jika Anya juga mencintaiku, aku akan langsung menolak ide mama, setelah itu baru aku melamar ke orang tuanya.
Setya langsung menghubungi Anya melalui telfon.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam. Maaf mengganggu malam-malam"
"Enggak kok pak, kebetulan saya belum tidur"
"Jam segini belum tidur, ngapain?"
"Ngerjain laporan keuangan restauran"
"Oh"
"Ada apa ya pak ?"
"Besok bisa ketemu?"
"Jam berapa?"
"Sepulang saya dari kantor"
"Sepertinya tidak bisa pak?"
"Kenapa?"
"Saya harus pulang kampung, soalnya dua minggu lagi saya akan menikah"
"Menikah?"
"Iya pak, bapak sama ibu menjodohkan saya"
"Terus kamu menerimanya?"
"Mau bagaimana lagi, bapak sudah menerima lamaran dari pria itu, saya tidak bisa menolaknya" Jawab Anya yang tidak di ketahui seperti apa ekspresinya.
"Kok gitu si"
"Iya pak, tadinya saya mau menolaknya, tapi bapak bilang pamali anak gadis menolak lamaran pria"
"Ya sudah kalau tidak bisa. Maaf sudah mengganggu"
Setya memutuskan panggilan secara sepihak, lalu melempar ponselnya ke atas sofa begitu saja.
Itu artinya, kebersamaanku dan Anya sudah cukup sampai di sini. Ah Setya kamu telat, coba ungkapkan dari dulu niatmu meminangnya, pasti sekarang Anya sudah melengkapi hari-harimu. Benar ucapan Gina, kamu pria bodoh.
*****
Di rumah kakek Rudito, Aksa yang baru saja keluar dari kamar mandi, menatap heran pada sang istri yang tengah tersenyum geli dengan pandangan luru ke arah depan.
Aksa langsung mengalihkan perhatian pada telivisi di mana pandangan Khansa jatuh.
Tv mati, kenapa dia senyum-senyum sendiri?
"Kamu kenapa Sa?" tanya Aksa lalu duduk bersandar di samping Khansa.
"Enggak"
"Enggak tapi kok senyum-senyum?. Cepat katakan ada apa?"
__ADS_1
Bukannya menjawab, Khansa malah menatap sang suami lekat-lekat, lalu tangannya terulur mengecek rambut suaminya yang masih tampak basah.
Selang Dua detik ia mengambil handuk kecil berwarna putih.
Khansa berdiri dan mulai mengeringkan rambut Aksa.
"Mas Setya mau nikah" ucap Khansa yang membuat Aksa otomatis langsung mencari netranya.
"Nikah"
"Iya"
"Sama siapa?"
"Anya"
"Anya?" ulang Setya. "Kapan?"
"2 Minggu ke depan?"
"Hah?"
"Kenapa kaget?"
"Kok mendadak?"
"Ya ngapain nunggu lama-lama" jawab khansa santai. Tangannya masih bergerak di atas kepala Aksa.
"Kamu serius Sa?"
"Serius lah"
"Kok pas aku ke kantor kemarin, mas Setya nggak ngomong apa-apa?"
"Mungkin lupa kali"
"Masa lupa si, aneh!"
"Mas jangan ngomong ke mas Setya ya, kami memang nggak bilang kalau yang mau menikah dengannya itu Anya"
"Loh kok gitu?"
"Biar surprise"
"Tapi kalau mereka nggak saling cinta gimana?"
"Mereka saling cinta kok. Kemarin pas bapak Anya telfon dan memberitahu supaya segera pulang untuk menikah, Anya sempat nangis, dia juga ngaku ke Wiwi udah nggak bisa lagi jalan bareng sama Ita. Sebelumnya juga tante Ami mergokin mas Setya lagi lihat foto Anya di ponselnya. Sudah jelas kan secara tersirat mereka saling cinta"
"Tapi kalau ada apa-apa aku nggak tanggung jawab loh"
"Kakek yang mau tanggung jawab"
Aksa menatap Khansa dengan alis menukik tajam. "Kakek tahu?"
"Nenek juga" sahut Khansa. "Orang tua Anya juga setuju banget"
"Jadi kalian sudah merencanakannya?"
"Hemm, dan kalau sampai bocor ke telinga mas Setya, berarti mas yang ngasih tahu"
"Ide siapa itu?" tanya Aksa memicing.
"Ideku, tapi kakek nenek dan tante Ami setuju"
"Wah, keluargaku sudah terkontaminasi oleh virus jahilmu"
"Aku juga sudah kena virusnya Ita, suka ngomong banyak-banyak, sampai aku harus ngulur sabar panjang-panjang buat bangunin mas di pagi hari"
"Kalau gitu kamu harus sedia stok sabar banyak-banyak"
__ADS_1
Detik berikutnya Aksa mengusap perut Khansa yang sudah membesar.
"Benar kata aunty Meira, mommymu usil banget dek" kata Aksa merujuk ke bayinya. Usai mengatakan itu, ia mengecup perut Khansa sedikit lebih lama.