Terjerat Perjodohan

Terjerat Perjodohan
Ketakutan Gina


__ADS_3

Setelah berjalan dari pintu gerbang sampai kamar yang ditempati Anya, Gina dan Rendi langsung membongkar lemari pakaian miliknya. Hanya terdapat beberapa baju, sebab Anya memang tak membawa baju terlalu banyak.


Mereka tak menemukan apapun yang bisa di jadikan petunjuk di kamar untuk menyelidiki Anya yang merubah namanya menjadi Cici.


Semua memang sudah di rencanakan oleh Khansa, Anita dan Nara seapik mungkin mengenai penyamaran Cici.


Bahkan tiga wanita itu memerintahkan Anya untuk tak membawa baik catatan kecil, atau apapun itu, kecuali hanya baju.


Sebelum pergi berlibur, Khansa pun sudah mewanti-wanti agar Anya tak meninggalkan sesuatu yang membuat mereka curiga dan mengecek kamarnya.


Benar saja, saat keluar dari rumah itu, hanya baju-baju Anya yang tertinggal, sebab semua identitas penting ada di dalam slimbagnya yang ia bawa berlibur.


"Bisa-bisanya kamu seceroboh ini Gina?" pekik Rendi. "Lihatlah, sama sekali tidak ada hal yang bisa di jadikan petunjuk"


"Lalu siapa yang membawa dia kabur dad?"


"Ya mana aku tahu"


"Bukan Aksa atau Setya kan?"


"Entahlah, aku tidak sempat melihat siapa orang di balik kemudi, mobil itu juga bukan milik Keluarga Rudito"


"Dad, aku takut"


"Ketakutanmu karena ulahmu sendiri, coba kamu cek sebelum mempekerjakannya, pasti nggak akan seperti ini"


"Bukan Khansa kan? karena menurutku dia terlalu cerdik"


"Aku nggak tahu Gina"


"Coba deh bayangin, semenjak Khansa masuk perusahaan nggak lama setelah itu Aksa juga ikut masuk, yakin di perusahaan nggak terjadi apa-apa dad?"


Mereka kini sudah duduk kembali di ruang tengah.


Tidak hanya Rendi dan Gina, Linda pun ikut panik, takut jika semua rencana yang sudah mereka susun bertahun-tahun akan gagal tanpa membuahkan hasil yang manis. Apalagi sebentar lagi rencana mereka akan berhasil.


"Setahuku masih aman, mereka masih bekerja sesuai kendaliku"


"Yakin kan?"


mendengar pertanyaan Gina, keyakinan Rendi seakan menurun drastis, bahkan keyakinan itu berbalik menjadi tidak yakin sama sekali.


Rendi menatap Gina dengan sorot serius.


"Kenapa dad?"


"Khansa juga menggandeng dua temannya masuk ke perusahaan, jangan-jangan"


"Jangan-jangan apa Rendi?" tanya Linda mengintimidasi.


"Arrgghh, entahlah" Desisnya frustasi. "Semua tangan kananku masih bekerja sesuai dengan yang ku perintahkan, tapi aku tak pernah mengecek, mereka hanya mengatakan semua beres"


"Lalu sekarang bagaimana?"


"Sofyan" cicit Rendi. "Aku harus hubungi dia untuk menanyakannya"


Rendi langsung merogoh ponsel di dalam sakunya lalu menghubungi Sofyan yang mengatur keseluruhan rencana Rendi.


"Iya pak?"


"Bagaimana perusahaan, apakah semua beres?"


"Beres pak"


"Kamu yakin kan?"

__ADS_1


"Yakin pak"


"Besok pagi langsung ke ruanganku"


"Baik pak"


"Lebih baik kalian pulang sekarang, takut mereka curiga" Ucap Linda mama Gina setelah terdiam cukup lama "Soal pembantu sialan itu besok kita fikirkan lagi. Kamu pulang duluan Ren, biar Gina belakangan"


******


"Sabar ya pak" kata Anya Akhirnya. Ia benar-benar merasa iba, apalagi saat mengingat Gina pernah mengatakan bahwa Setya adalah pria bodoh yang plin-plan, umpatan yang selalu Gina ucapkan di depan Linda sang mama. Jujur saja itu membuat Anya ikut merasakan kesedihannya.


Mendengar perkataan Anya, seakan Setya tak bisa lagi menahan sesegukan yang ia tahan sedari tadi.


"Nggak apa-apa pak, keluarin semua sedihnya bapak" Bisik Anya ketika menyadari Nafas Setya yang tersengal. "Jangan di tahan, keluarin saja semuanya" lanjutnya sambil mengusap punggung. Bahkan Anya melupakan rasa nyeri bekas jahitan demi pria yang sedang membagi beban padanya.


Rapuh itulah yang di rasakan oleh kedua pria dari keluarga Rudito.


Hampir lima belas menit bertahan dalam pelukan, Anya kembali bersuara.


"Sudah ya pak, takut mbak Khansa dan pak Aksa tiba-tiba masuk"


Setya menarik napas panjang, sebelum kemudian mengurai pelukannya.


"Makasih Nya, sedikit berkurang beban saya"


"Sama-sama pak, kalau bapak butuh teman curhat, saya siap mendengarkan"


Ucapan Anya sama sekali tak bermaksud apapun, kecuali hanya ingin memberi suport padanya. Karena bagi Anya, Setya adalah sesosok pria yang nggak mungkin di jadikan kekasih apalagi suami.


Sama seperti Anya, di tempat duduk depan kamar, Khansa juga tengah menjadi tempat tumpahnya air mata Aksa, pria yang harus kehilangan dua orang kesayangannya sekaligus dalam waktu dua hari.


"Kita masuk yuk, mas Setya juga pasti sangat terpukul, selain papanya yang juga ikut meninggal, mamahnya juga sudah menjadi korban dari kebusukan Rendi. Di tambah istrinya juga menghianatinya. Coba bayangkan bagaimana hancurnya perasaan mas Setya"


Aksa terus menatap istrinya.


Aksa mengangguk meski pelan.


Sebelum bangkit, Khansa mengeluarkan selembar tisu di dalam tasnya lalu mengusapkan di area mata sang suami.


"Kita masuk yuk"


Mereka berdiri lalu memasuki kamar Anya.


Begitu membuka pintu, pandangan Aksa dan Setya bertemu. Tanpa pikir panjang, Aksa segera menghampiri Setya lalu memeluknya.


Mereka saling berpelukan untuk saling berbagi kesedihan. Pelukan sarat akan kekuatan yang sama-sama mereka berikan. Pelukan yang menyiratkan sebuah pengaduan dua pria kakak beradik meski bukan saudara kandung.


Sikap kedua pria itu memantik air mata Khansa dan Anya tiba-tiba berjatuhan.


"Kita akan membalasnya"


"Iya mas" sahut Aksa.


Lima menit berlalu, pelukan mereka terurai karena ponsel Khansa tiba-tiba berbunyi.


Anita Calling....


"Assalamualaikum Ta"


"Waalaikumsalam, Ini bos kita kok nggak ada yang masuk si?" Tanya Tata dari balik telfon.


"Maaf Ta, aku mas Aksa dan mas Setya sedang di rumah sakit"


"Rumah sakit? kenapa? ada apa?"

__ADS_1


"Anya, dia tertembak"


"What? terus gimana kondisinya sekarang?"


"Sudah baik-baik saja, untung saja pelurunya nggak mengenai organ tubuh yang penting"


"Syukurlah. Terus kalian mau kesini nggak?"


"Ya kesitu bentar lagi"


"Ok kita tunggu ya, ini pak Sofyan dapat masalah soalnya. Tapi Nara lagi nyelesein, lagi berusaha bikin laporan palsu buat mengecoh pria itu"


"Ok"


Panggilan di tutup oleh Khansa. Ia kembali memasukan benda tipis miliknya ke dalam tas.


"Gimana mas, ini pak Sofyan katanya lagi merasa kesulitan. Apa sebaiknya kalian ke sana. Nanti Anya aku yang tunggu"


"Enggak Sa, kamu sama aku yang ke kantor. Kamu harus ada di dekatku, Rendi dan Gina sedang mengincar kita" Pungkas Aksa tegas. "Mereka bahkan merencanakan pembunuhan seperti mama papa dan om Gani. Biar mas Setya yang jagain Anya. Kamu yang memegang peran penting dalam hidupku, aku nggak mau pisah sama kamu. Jadi kamu yang ikut aku ke kantor, mas Setya bisa kerja lewat jaringan" Tegasnya sekali lagi.


"Benar juga Sa, kami nggak tega jika kalian sendirian, Anya pun sekarang menjadi incaran mereka" timpal Setya.


Khansa rasa apa yang di katakan dua pria itu ada benarnya.


"Kamu nggak apa-apa kan Anya, sama mas Setya dulu? katanya ibu dan kakakmu sedang dalam perjalanan kemari, dan sorean mereka baru sampai"


"Mbak Sasa ngabarin ibuku?"


"Hem"


"Kenapa ngabarin, nanti kalau mereka khawatir gimana?"


Khansa, Aksa, dan Setya mengernyit nyaris kompak.


"Kenapa memangnya?" tanya Khansa dengan alis menukik tajam.


"Aku pasti nanti di suruh balik kampung mbak"


"Ya nggak apa-apa kan, malah aman buatmu. Kamu juga bisa istirahat, nanti kalau sudah pulih bisa kesini lagi"


"Enggak" ucap Anya dan Setya kompak.


Khansa dan Aksa menatap mereka bergantian, dengan tatapan bingung sekaligus heran.


"Nggak kenapa mas?" tanya Aksa memicing


"B-bukan apa-apa" sahutnya gugup.


"Kamu enggak kenapa Nya?" tanya Khansa.


"Nggak mau pulang kampung, aku udah nyaman di sini mbak"


"Haist gitu aja di bahas, ayo Sa, kita pergi sekarang" Ajak Aksa. "Kita ke kantor dulu ya mas"


"Iya hati-hati kalian selalu cek kendaraan kalian sebelum di pakai"


"Iya" jawab Aksa sambil berlalu.


"Asalamualaikum mas"


"Waalaikumsalam"


Mereka kini lebih hati-hati setelah mendengar rekaman dalam posel Anya yang mengatakan akan membunuh Khansa, Aksa, serta Setya.


Bersambung

__ADS_1


Gas pol rem blong.. mumpung lagi nggak ada kerjaan πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€bisa fokus


__ADS_2