
"Aura mas beda banget hari ini, ada apa?" tanya Khansa yang menopang dagu di depan Setya. Saat ini Khansa sedang berada di kantor tepatnya di dalam ruangan Setya. Mereka baru saja selesai meeting.
"Beda gimana Sa?"
"Beda aja, kayak lagi nanggung beban berton-ton gitu. Apa ada hal buruk yang menimpa mas, atau ada hubungannya dengan perjodohan dari tante Ami?"
Mendengar kalimat Khansa yang panjang kali lebar, sontak mata Setya memicing melirik wanita yang duduk bersebrangan dengannya.
"Kamu tahu Sa, wanita yang akan di jodohkan denganku" Tanya Setya sembari mencondongkan badannya, sehingga dadanya nyaris menempel pada sisi meja.
"Memangnya mas nggak tahu?"
"Nggak Sa, tanya ke mama jawabnya nggak boleh lihat karena katanya lagi di pingit"
"Jadi mas belum tahu seperti apa istri mas?" tanya Khansa pura-pura.
Setya menggeleng sembari menghempaskan punggungnya di sandaran kursi.
"Kalau nggak tahu seperti apa calon mas, kenapa nggak nolak aja?"
"Penginnya si gitu, tapi mama ngancam mau pergi dari rumah kalau mas nolak"
"Ya sudah kalau gitu terima saja, pilihan orang tua biasanya tepat kan?"
"Kalau pilihan orang tua tepat, lalu Gina?"
"Gina kan pilihan Rendi bukan pilihan tante Ami. Aku keluar dulu ya mas?" kata Khansa seraya bangkit. "Masih banyak kerjaan"
Ketika Khansa hendak berbalik, dengan cepat Setya mencegahnya.
"Sa?" panggil Setya.
"Iya?"
"Kamu benar-benar nggak tahu calon istri mas itu?"
"Aku tahu, tapi kan dia lagi di pingit sama mas, nggak boleh lihat wajahnya"
"Ya paling tidak namanya Sa?"
"Oh tidak bisa, nanti mas seacrh di laman facebook, terus nama gadis itu muncul, kan gawat"
"Ah kamu, itu tradisi apaan coba"
"Ya tradisinya dari pihak perempuanlah, karena, katanya kalau sampai lihat wajahnya, nanti mbayangin yang gimana-gimana?"
"Mbayangin gimana-gimana, bagaimana?" tanya Setya memicing.
"Haiiisss, mbayangin malam pertamalah, kan calon mas itu gadis, beda pasti nanti sama malam pertama pas sama Gina"
"Sepertinya kamu yang bayangin aneh-aneh"
"Hehehe" Khansa tersenyum meringis. "Balik ke ruangan dulu mas" lanjutnya lalu beranjak.
Dalam kesendiriannya, Setya lagi-lagi membayangkan wajah Anya yang sebentar lagi akan menikah.
"Beruntung calon suaminya si Anya, cantik pintar, berhijab pula" Gumam Setya.
__ADS_1
"Ahh kenapa aku bodoh sekali, nggak mengutarakan perasaanku dari dulu, sekarang semua hanya tinggal kenangan, aku akan menikah, diapun akan menikah"
****
Sudah satu Minggu Anya berada di kampung halamannya, itu artinya, satu minggu lagi statusnya akan berubah. Dia akan menjadi seorang istri dari pria yang entah seperti apa wajahnya.
"Lihat fotonya saja deh bu"
"Pokokknya ndak boleh nduk, pamali. Kamu itu lagi di pingit. Mempelai wanita, kalau lagi di pingit ndak boleh, ketemu, ndak boleh telfon-telfon, apa lagi lihat fotonya, Gak ilok nduk, nurut sama ibu, ngerti?"
"Ish ibu mah gitu, masa mau nikah sama sekali nggak tahu seperti apa calon suaminya, yang benar saja" gerutu Anya sembari mencebik.
"Sabar nduk, setelah ijab, kamu bisa puas-puasin lihat suamimu, bisa puas-puasin habisin waktumu dari pagi ke pagi lagi"
"Tapi kalau aku nggak cinta ya mana bisa bu"
"Urusan cinta bisa tumbuh perlahan, kayak ibu dan bapakmu, dulu juga ndak cinta, tapi karena sering bersama, akhirnya kami saling cinta"
"Itu zaman dulu bu"
"Wes ndak usah protes terus, pokoknya kamu nurut sama ibu sama bapak"
Menarik napas dalam-dalam, Anya menghembuskannya dengan pasrah.
Pak Setya, bawa aku kabur dari sini. Huufttt semoga saja besok ada keajaiban. Tiba-tiba pas calon suamiku mau ngucapin qobul, pak Setya datang membatalkan pernikahan kami, kayak di tivi-tivi.
Haaiiiss.. Imposible!
Ita, aunty Anya kangen Ita banyak-banyak, kangen sama papah Ita juga banyak-banyak. Ish ish ish, mikir apa si aku ini"
Tunggu... batin Anya.
Katanya mau ada pernikahan, kenapa nggak ada persiapan sama sekali? Harus di tanyain ke ibu nih.
Anya yang tadinya tengah mengiris bawang, ia hentikan sementara lalu keluar dari area dapur untuk mencari sang ibu.
"Bu" panggilnya ketika berpapasan di ruang keluarga.
"Apa lagi nduk?"
"Katanya mau ada pernikahan, tapi kok ibu nggak nyiapin apapun"
"Cuma ijab qobul saja nduk, resepsinya nanti akan di adain di Jakarta"
"Hah, Jakarta?"
"Iya, kenapa?"
"Kok di Jakarta?" tanya Anya mengernyit.
"Ya suamimu kan kerjanya di sana, ini permintaan dari keluarga calon suamimu juga, di sini kita cuma akan adakan ijab qobul saja ba'da maghrib, setelah sah, nanti kita akan makan malam bersama keluarga"
"Nggak ada undangan gitu bu?"
"Nggak ada, cuma mendatangkan mempelai pria dan keluarganya, penghulu, saksi, dan wali"
"Kok gitu"
__ADS_1
"Kamu itu protes terus dari tadi. Sekarang ibu minta kamu diam saja, semua sudah di atur sama bapak ibu, dan keluarga dari calon suamimu. Satu lagi" Kata Ibu galak " jangan tanya-tanya lagi seperti apa wajah calon suamimu. Sekali lagi ibu bilang. KAMU LAGI DI PINGIT. FAHAM!!
"Faham bu" Jawab Anya takut-takut. Tanpa sadar bibirnya mengerucut kedua tengannya saling meremat.
Tanpa sepengetahuan Anya, sang ibu justru terkikik melihat ekspresi anak gadisnya.
****
Hari sudah berganti sampai pada saatnya hari ini. Keluarga Setya sudah berada di Semarang sejak kemarin.
Malam ini selepas maghrib, Setya akan melaksanakan Ijab qobul di rumah Anya, Setya masih belum sadar jika calon istrinya adalah Anya, gadis yang ia taksir semenjak membantunya membongkar kejahatan Rendi dan mantan istrinya.
Dan sejak kemarin hingga malam ini, keluarga Rudito menginap di sebuah hotel berbintang di kota Semarang.
Setya yang memang sudah di rias layaknya pengantin pria, berkali-kali mendengkus pelan, ingin sekali kabur dari sini dan andai bisa, ia ingin sekali mendatangi rumah wanita itu lalu membatalkan pernikahannya yang juga akan di laksanakan pada minggu-minggu ini.
Setya dan rombongan kini sudah berada di rumah Anya. Sementara Anya masih di sembunyikan di dalam kamar sampai Setya selesai mengucapkan ijab qobul, dan kata sah keluar dari mulut para saksi.
Begitulah tradisi di kampung Anya. Pengantin wanita akan berada di dalam kamar, sampai mempelai pria mengatakan sumpah di depan wali dan penghulu, baru setelah itu mempelai wanita di bawa keluar dan akan di sandingkan dengan mempelai pria.
"Sudah siap nak Setya?" tanya penghulu.
"Siap nggak siap pak" jawabnya tanpa sadar, membuat Ami yang duduk di belakang Setya menoel pinggangnya.
Persekian detik, Setya menoleh ke belakang. "Mama, memang gitu kan, bahkan aku tidak tahu siapa nama calon istriku, padahal aku ingin tahu supaya bisa latihan qobul terlebih dahulu"
Mendengar ucapan sang putra, Ami langsung melempar tatapan tajam padanya. "Nanti juga di ajarin sama penghulunya, kamu kan udah pernah dulu, tinggal ganti nama Gina dengan nama calon istrimu"
"Kita mulai ya nak Setya" ucap penghulu memotong pembicaraannya dengan sang mama yang bisik-bisik.
"Iya pak" jawabnya lesu sekaligus pasrah.
"Baik, mari kita mulai" balas si penghulu. "Wali dari mempelai wanita sudah siap?"
"Insyaa Allah siap pak"
"Bissmillahirrahmaanirrahiim,
"Saudara Lasetya Arif Firdaus, bin Almarhum Ghani Firdaus, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan pinanganmu, Sauamdari Anya Larasati Devi_"
"Hah?" potong Setya. Suaranya sangat keras karena tangan kirinya memegang mikrofon yang ia arahkan tepat di depan mulutnya. sementara tangan kanannya menjabat tangan Pak Ismail. Membuat penghulu dan yang lainnya terkejut campur Heran.
Pandangan Setya yang tadi menunduk, kini sedikit mendongak begitu mendengar nama Anyalah yang di sebutkan.
Khansa yang memiliki ide tersebut justru terkikik geli menyaksikan respons Setya.
"Anya?" tanya Setya dengan wajah yang sudah memerah, dan jantung yang nyaris keluar dari tempatnya.
Pak penghulu menatap Setya dan pak Ismail secara bergantian. Tentunya dengan tatapan heran campur bingung
Sementara Anya yang berada di dalam kamar, Ia masih hanyut dengan lamunan tentang Setya. Sehingga ia tak mendengar dengan jelas ketika nama panjang Setya di sebut oleh bapaknya.
Bersambung
😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂
mau tambah part lagi malam ini??
__ADS_1