Terjerat Perjodohan

Terjerat Perjodohan
Hamil


__ADS_3

Seperti biasa, usai sholat subuh mas Aksa sudah tidur kembali, dan aku bisa bersiap-siap menemui Hanan untuk meminta bantuannya.


Saat ku lirik jam di atas nakas, jarum panjang menunjuk ke angka lima, sementara jarum pendeknya tak jauh di depan jarum panjang. Aku bahkan meninggalkan tespek di kamar mandi begitu saja karena sudah tidak punya banyak waktu untuk menunggu hasilnya keluar.


"Mbak Ani maaf ya, nggak bisa bantu masak, aku ada urusan" kataku saat sudah berdiri di dapur dekat mbak Ani. "Nanti kalau nenek atau mas Aksa tanya, bilang saja lagi olahraga ke taman kota"


"Baik bu"


"Aku pergi ya mbak"


Setelah di anggukan oleh mbak Ani, aku langsung menuju garasi lewat pintu samping. Karena mobilku berada di depan mobil mas Aksa, dan akan sulit untuk mengeluarkannya, aku sudah memutuskan untuk memakai mobil mas Aksa.


Setibanya di area taman kota, tanganku memutar roda kemudi ke arah kiri, berjalan sebentar, posisiku sudah berada di pelataran Crystal Delima.


Setelah mematikan mesin mobil dan sebelum turun, aku memeriksa ponselku berniat untuk menghubungi Hanan. Namun saat baru menyalakannya, tampak ada dua pesan dari Hanan yang terkirim sekitar tiga menit yang lalu.


Hanan : "Saya ada di meja nomor tujuh bu" (05:52)


Hanan : "Saya pakai jaket hitam" (05:52)


Karena aku hanya pernah bertemu sekali dan itu sudah lama, membuatku lupa dan nggak mengenali wajahnya.


Dengan sedikit terburu-buru, aku berjalan menuju cafe, dan netraku langsung melihat Hanan begitu pandanganku arahkan ke meja bernomor tujuh. Dia tengah duduk sambil melipat kedua tangannya di atas meja.


"Selamat pagi bu" sapanya seraya berdiri, kepalanya sedikit tertunduk ramah. "Silakan duduk bu" tambahnya sopan.


"Selamat pagi" jawabku lalu duduk.


"Sebelumnya saya minta maaf untuk kejadian saat di Singapura bu. Saya sudah salah membawa orang"


"Iya, aku maafkan, tapi lain kali konfirmasi dulu sebelum melaksanakan tugas, jangan asal bawa orang"


"Baik bu" jawabnya menunduk. "Ada yang bisa saya bantu bu?"


"Begini" ucapku, dan entah kenapa tiba-tiba jantungku berdesir. Ini pertama kalinya aku terlibat urusan dengan seorang yang bisa di katakan preman, ataupun bodyguard. "Aku minta kamu awasi orang ini" Aku menunjukan layar ponsel yang menampilkan foto om Rendi. "Besok dia akan ke Singapura, kamu mata-matai dia, dan laporkan semua aktivitasnya selama di sana"


"Baik bu"


"Tapi aku minta suamiku nggak boleh tahu tentang ini"


"Siap bu"


"Nanti akan saya pesankan tiket beserta hotel untuk kamu menginap"


"Kalau begitu, bisa tolong kirim fotonya ke ponsel saya bu"


"Ok bisa" balasku sambil menyentuh ikon share lalu memilih kontak bernama Hanan. "Sudah aku kirim. Untuk tiket dan hotel nanti tunggu konfirmasi lagi dariku"


"Ok bu"


"Ingat ya, ini nggak boleh ada yang tahu, baik mas Aksa, atau siapapun"


"Beres bu"


Aku membuka tasku lalu meraih amplop berwarna coklat. "Ini untukmu, nanti kalau berhasil aku kasih bonus"


"Siap bu"


Aku mengangguk merespon ucapannya. "Kamu bisa siap-siap dari sekarang. Dan maaf aku nggak bisa lama, aku permisi dulu" imbuhku sambil berdiri.


"Iya bu"


"Permisi selamat pagi" pamitku


"Selamat pagi bu"


Suami istri sama-sama suka memata-matai orang.

__ADS_1


Samar-samar aku mendengar gumaman yang keluar dari mulut Hanan. Dan persekian detik, aku menghentikan langkahku lalu berbalik "Kamu ngomong apa?" tanyaku dengan alis menukik tajam.


"S-saya bu?"


"Hmm"


"En-enggak ada bu" sahutnya dengan raut gugup.


Aku kembali melangkahkan kaki, sebab tak ingin berurusan lebih lama lagi dengannya.


Ketika mataku tertuju pada jam di pergelangan tanganku, waktu menunjukan pukul setengah tujuh kurang sepuluh menit. Itu artinya, pertemuanku dengan Hanan nggak sampai tiga puluh menit. Setelah dari sini, aku akan mampir ke pasar agar kepergianku bisa jadi alasan jika nenek ataupun kakek menanyakanku, karena sebelum kakek ke kantor atau di hari minggu seperti ini, biasanya beliau akan berolahraga di halaman rumah, atau nggak di belakang rumah, berbeda dengan mas Aksa yang justru akan berolah raga di sore harinya.


****


"Dari mana Sa?" tanya Kakek sedikit berteriak. Karena jarak kami ada sekitar sepuluh meter.


"Dari pasar kek" jawabku sambil menutup pintu mobil kemudian berjalan ke arah belakang mobil untuk membuka bagasi. Ku keluarkan satu persatu barang belanjaan yang sudah ku beli tadi di pasar.


"Jangan bawa sendiri Sa?" teriakan mas Aksa dari atas balkon. Aku sempat bingung dengan suaranya yang tidak ku tahu dari arah mana, tapi itu hanya sesaat, sebab selang dua detik aku menyadari bahwa mas Aksa berada di atas balkon. Aku, kakek, dan nenek langsung mendongakkan kepala nyaris bersamaan.


"Jangan bawa sendiri" ulangnya sambil menggoyangkan tangan, yang ku tahu itu merupakan sebuah kode larangan.


Karena barang belanjaan yang nggak terlalu berat, paling hanya sekitar tujuh kilo, aku tak mengindahi larangan mas Aksa. Saat aku akan mengangkat beberapa kantong plastik berisi ikan, daging, sayuran dan beberapa bumbu dapur, sekali lagi aku mendengar teriakan mas Aksa dari atas sana.


"No" Pekiknya. Dan aku kembali mendongakkan kepala. "Biar pak Annas yang bawain"


Aku nggak tahu kenapa mas Aksa nyuruh sopir kakek buat bantuin angkat barang belanjaanku.


"Makasih ya pak" ucapku ketika pak Annas dengan sigap meraih kantong plastik yang bagi dia sama sekali enggak berat.


"Sama-sama bu Khansa" jawabnya dengan seulas senyum.


Sebelum masuk, aku melangkah menghampiri kakek dan nenek untuk mencium punggung tangannya.


"Olahraganya jauh amat Sa di taman kota" kata nenek saat aku mencium punggung tangannya.


"Sekalian mampir pasar nek"


Tersenyum, sebelum kemudian mengiyakan ucapan nenek. "Aku masuk dulu kek, nek"


"Iya" jawab mereka kompak.


"Dari mana kamu?" tanya mas Aksa ketika aku sampai di kamar.


Bukannya menjawab, aku justru melempar pertanyaan balik. "Kok tumben udah bangun, ini baru jam delapan lho" kataku tangan kananku bergerak menutup pintu. "Nggak salah lihat jam kan?"


"Suamimu nanya, harusnya di jawab dulu"


"Dari taman kota, pingin lihat pemandangan pagi"


"Besok-besok jangan pergi sendiri"


Tadinya aku mau ke kamar mandi, berniat untuk melihat hasil tespek yang sempat ku tinggalkan, tapi saat baru sampai di depan pintu, tangan mas Aksa keburu memegang tanganku.


Reflek aku memindai pandangan pada pergelangan tangan yang berada dalam cengkraman tangan mas Aksa sekilas, lalu beralih menatap wajahnya. "Ada apa?" tanyaku penuh selidik.


"Jangan angkat yang berat-berat" ucapnya sambil berjalan membawaku duduk di tepian ranjang.


"Kenapa?" tanyaku lagi dengan sorot mata lekat menatap wajahnya.


Saat ini kami duduk saling berhadapan.


"Ada dedeknya dalam sini" Mas Aksa mengatakannya seraya mengusap perutku. "Kurangi aktivitas berat, istirahat yang cukup. Ingat, katakan apa yang mengganggu pikiranmu" lanjut mas Aksa. "Karena yang ada disini" mas Aksa menunjuk bagian pelipisku. "Dan disini" kali ini menunjuk bagian dada" aku nggak tahu apa yang kamu pikirkan dan kamu rasakan kalau kamu nggak ngomong"


Butuh beberapa detik untuk mencerna ucapan mas Aksa sebelum kepalaku mengangguk.


"Kok diam?" kata mas Aksa sambil mengangkat satu alisnya. "Seneng nggak?"

__ADS_1


Sejujurnya aku masih belum percaya. "Coba mana alat itu?" tanyaku karena aku ingin membuktikannya sendiri.


"Tuh" sahutnya sambil melirik sekaligus menunjuk dengan dagunya ke arah nakas. Dan sepersekian detik aku memalingkan wajahku.


Tanganku terulur meraih benda pipih di atas nakas. Aku di buat terkejut saat sepasang mataku menemukan dua garis berwarna merah.


"Aku hamil ya mas"


Mas Aksa mengangguk lengkap dengan senyum manisnya. Sementara tanganku reflek melingkar di lehernya, lalu bergerak mendekat dan jarak kami kian terkikis. Ku kecup pipi dahi dan bibir mas Aksa bertubi-tubi.


Mas Aksa tak berkutik saat aku melakukannya, yang dia lakukan hanya memegang kedua sisi pinggangku, sambil memejamkan matanya.


"Jangan terlalu cape ya"


"Iya" jawabku bersamaan dengan dering ponsel yang berasal dari ponsel mas Aksa.


Karena aku yang lebih dekat dari jangkauan ponselnya, aku mengambil ponsel itu yang ternyata sebuah panggilan dari Fajar.


"Siapa?" tanya mas Aksa penasaran.


"Fajar"


Aku menyerahkan ponsel ke tangannya.


"Assalamualaikum" sapa mas Aksa.


"Iya selamat pagi"


"Udah di kirimin filenya, kamu print semua terus berikan ke om Rendy besok pagi"


"Belum, kamu sekalian pesankan tiket"


"Ok selamat pagi, Waalaikumsalam"


"Sekarang kamu mandi kita sarapan" perintah mas Aksa setelah mematikan telfonnya.


"Kamu sudah mandi?"


"Sudah" sahutnya. "Aku tunggu di bawah Sa" lanjutnya.


Begitu mas Aksa keluar, dengan gerak cepat aku kembali menelpon Fajar untuk menanyakan jam berapa pesawatnya melakukan boardingpas, dan dimana hotel yang akan di pesan olehnya.


"Assalamualaikum pak Aksa"


""Waalaikumsalam"


Fajar tak langsung meresponku, mungkin dia terkejut dengan suaraku.


"Bu Khansa"


"Tadi mas Aksa menyuruhku supaya pak Fajar pesan tiket sekalian hotel. Apa sudah di pesankan pak?"


"Sudah bu, penerbangan pukul sembilan kurang lima belas menit, dan hotel sudah saya pesankan selama dua hari di Lanson Residance hotel"


"Kalau bisa, tolong screnshoot atau fotoin tiket pesawat dan pemesanan hotelnya ya, biar nanti aku cukup tunjukin ke mas Aksa"


"Siap Bu"


"Ok, makasih pak Fajar"


"Sama-sama bu"


Nggak berapa lama pesan berisi foto tiket pesawat dan hotel masuk ke ponsel mas Aksa. Aku nggak perlu menghapus pesan itu, tapi cukup hapus panggilan keluar pada Fajar.


Setelah mendapat informasi darinya, aku langsung memesan tiket ke Singapura untuk penerbangan di jam yang sama, dan kamar hotel tepat di depan kamar yang akan di tempati om Rendi.


Done!

__ADS_1


Aku meletakan ponselku di atas kasur, lalu melangkah menuju kamar mandi. Entah kenapa Aku kambali merasakan jantungku yang bertalu-talu dengan tidak sopannya.


Bersambung...


__ADS_2