
Sebuah pesawat dengan nomor penerbangan GA570 berhasil landing dengan sempurna di bandara International Changi. Pesawat yang membawa Aksa dari Jakarta menuju Singapura sempat mengalami delay sebelum terbang karena masalah cuaca.
Begitu mendarat di bandara tujuan, Aksa langsung melangkah menuju terminal kedatangan. Ia akan melakukan cek paspor imigrasi serta dokumen lain. Karena tak ada barang yang ia titipkan di bagasi pesawat, dia tak perlu menuju ke baggage claim.
Setelah semua pengecekan selesai, Aksa bergegas mencari taxi untuk mengantarkan ke hotel yang sudah ia pesan, dan hotel itu adalah hotel yang sama dimana Sesilia menginap bersama Satria.
Setibanya di kamar hotel, Aksa langsung menuju kamar mandi untuk bersih-bersih sebelum kemudian merebahkan diri di atas tempat tidur. Karena ini sudah hampir tengah malam waktu Singapura, selain itu kondisi badan Aksa yang cukup lelah setelah seharian di rumah sakit dan malamnya melakukan perjalannan udara, tak butuh waktu lama ia memejamkan mata dan kesadarannya menghilang sempurna.
Semua benar-benar sudah di persiapkan oleh Fajar serapi mungkin. Bahkan dua orang suruhannya yang bertugas mengawasi Sesilia pun bekerja dengan sangat baik.
Aksa sudah mengambil keputusan bahwa dia akan mengakhiri hubungannya dengan sang kekasih, jika terbukti melakukan perselingkuhan, dan memilih untuk menerima perjodohan yang di rencanakan oleh kakeknya.
Pagi menyapa, dalam kondisi mata masih setengah terpejam, pria itu bergerak menggeliat dengan kedua tangan terangkat menyentuh kepala ranjang selagi tubuhnya meregang.
Tidak lama kemudian, Aksa bangun dan terduduk dengan wajah mengantuk dan rambut yang berantakan. Bertelanjang dada, dia menyenderkan punggung pada headboard, pandangannya ia alihkan ke arah nakas dimana ia meletakan ponselnya. Saat melihat jam di ponsel, waktu sudah menunjuk di angka delapan. Dia bergegas menyingkirkan selimut, turun dari ranjang lalu berjalan memasuki kamar mandi.
Berdiri di depan wastafel, ia mengeluarkan krim dari dalam tube untuk membersihkan salah satu bagian wajahnya, mulai mencukur dagunya setelah krim cukur memenuhi area sekitar bibir. Usai melakukan itu, ia mencermati wajahnya melalui cermin sambil sesekali membersihkan alat cukur yang di penuhi krim.
Pria itu mulai membersihkan badan di bawah kucuran shower yang menyemburkan air dingin. Hingga beberapa menit berlalu, ia keluar dengan kondisi badan yang tampak lebih segar.
Saat hendak memilih baju yang akan ia kenakan, ia mendapati layar ponsel tengah berkedip tanpa menimbulkan suara, karena sejak semalam ponselnya di atur dalam mode silent.
Beberapa pesan masuk ke ponselnya, Aksa memilih membuka pesan dari orang yang bertugas mengawasi Sesilia.
Hanan : "Target sedang sarapan bersama teman prianya di restauran hotel bos"
Pesan itu di kirim pada pukul 08:15, itu artinya sudah sekitar satu jam yang lalu. Tak berniat membalas, Aksa langsung menekan tombol dial untuk menghubungi Hanan.
"Halo bos" Sapanya dengan intonasi tegas.
"Sekarang mereka dimana?"
"Mereka baru saja selesai sarapan dan melangkah keluar restauran, sepertinya akan pergi jalan-jalan bos"
"Awasi terus gerak-geriknya, ambil poto-potonya dan laporkan segera jika ada pergerakan"
"Siap bos"
Usai mendapat jawaban dari anak buahnya, Aksa langsung menutup sambungan telfonnya. Ia melempar gawai ke atas tempat tidur. Menghirup napas frustasi, jantung Aksa seketika mencelos saat menerima laporan dari Hanan barusan, entah kenapa rasanya seperti ada yang meremas hatinya dengan sangat kuat.
"Kurang ajar kamu Sesilia, aku berusaha keras supaya mendapatkan restu dari kakek dan nenek, tapi kamu yang aku perjuangkan justru memilih berkhianat"
__ADS_1
"Sudah berapa kali kalian melakukannya?"
"Aarrrgghh"
Aksa berdecak geram, ia merasa heran pada dirinya sendiri kenapa bisa mencintai wanita laknat seperti Sesilia.
"Brengsek kamu Sesil. Kesetiaanku, benar-benar tak ada harganya di matamu"
Hampir satu jam Aksa bertahan di dalam kamar, seolah tidak bisa lagi mengendalikan logika dan tubuhnya, Ia mengasihani dirinya sendiri yang begitu bodoh sudah memberikan cinta sebesar gunung untuk wanita tak tahu diri seperti Sesilia.
Dengan emosi yang masih belum reda, pria itu akhirnya keluar dari kamar hotel hendak menuju restauran, berniat mengisi perut yang meronta ingin segera di isi sesuatu.
"Aku pasti akan baik-baik saja, ada begitu banyak wanita cantik dan baik yang mau menerima cinta dan setiaku dengan tulus"
"Bukan wanita seperti dia yang mengobral kehormatannya pada pria tanpa ikatan yang sah di mata hukum dan agama"
Aksa terus membatin sembari terus melangkah.
"Aku pastikan kamu akan menyesal karena sudah menghianatiku Sesilia"
Sesampainya di restauran, Aksa duduk di salah satu meja sambil menunggu pesanan yang beberapa detik lalu sudah ia pesan.
Tiba-tiba tangannya bergetar saat membuka ponsel menampilkan pesan vidio berdurasi sekitar satu menit, vidio itu di ambil dengan jarak yang lumayan jauh dan secara tersembunyi. Sudah pasti orang suruhan Aksa yang merekam aktivitas mereka.
Mereka tertawa seperti pasangan suami istri yang tengah menikmati bulan madu.
"Tidak tahu malu" Gumam Aksa dengan senyum sinis. "Pengkhianat" imbuhnya dengan amarah yang tertahan serta tangan mengepal kuat.
******
Satu jam, dua jam, hingga beralih menjadi beberapa jam, membuat langit berubah menjadi gelap.
Rasanya hari ini waktu berjalan begitu singkat, meskipun hanya tinggal di dalam kamar hotel, namun tetap saja Aksa harus menyelesaikan pekerjaan kantornya untuk mempertahankan perusahaan sang kakek agar tetap jaya. Melalui jaringan, Aksa beberapa kali terhubung dengan Fajar guna membahas beberapa masalah yang sudah biasa terjadi dalam perusahaannya.
Melipat laptop, Aksa berdiri di depan jendela, menatap lampu-lampu yang menyala terang menghiasi gelapnya malam. Terlihat begitu memukau dengan warna lampu yang bervariasi, ada banyak kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya, termasuk para pejalan kaki yang mungkin saja baru pulang setelah seharian bekerja.
Sembari menikmati semilir angin dimalam hari, ia memasukan salah satu tangan ke dalam saku celannya, dan tangan lain memegang kertas berukuran mini.
Udara terasa begitu menenangkan, lengkap dengan indahnya cahaya bulan yang sesekali tertutup awan hitam, membuatnya semakin larut dalam lamunan. Sebuah lamunan harapan dan berbagai kemungkinan.
Satu nama yang tiba-tiba hadir dalam lamunannya, bahkan mampu mengacak-acak isi kepalanya. "Khansa Laura Dhaniswara". Nama yang tertera pada kertas yang sedang ia pegang.
__ADS_1
Tersenyum, Aksa teringat wajah panik Khansa yang saat itu menabrak mobilnya. Gadis cantik dengan perawakan tinggi sekitar 170 Cm, tak kalah cantik dengan seorang model bernama Sesilia Ananta.
Ketika mendengar suara deringan ponsel, refleks senyum Aksa memudar, ia menoleh ke arah tempat tidur lalu berjalan meraih benda itu.
Hanan Calling...
"Iya Han?"
"Target sudah masuk kamar bos"
"Dengan pria itu"
"Benar?"
"Kapan?" tanya Aksa dengan pandangan kosong.
"Sekitar setengah jam yang lalu"
"Ok aku segera kesana"
Seketika panggilan terputus, Aksa bergegas keluar kamar menuju kamar Sesilia, ia akan memergokinya yang mungkin sedang melakukan aktivitas panas bersama pria selingkuhannya.
Suara bel pintu yang timbul dari tangan Aksa, bisa jadi membuat Satria dan Sesilia merasa terganggu. Dia berusaha setenang mungkin sambil menunggu seseorang membukakan pintu. Untuk kedua kalinya Aksa memencet bel, sekian detik kemudian, pintu terbuka dan persekian detik Aksa langsung menerobos pintu itu.
Sepasang matanya menangkap wanita yang dia cintai tengah bersembunyi di balik selimut dengan raut gelisah yang memuncak. Aksa yakin bahwa saat ini Sesilia tak mengenakan pakaian sehelaipun. Buktinya, dia tetap mempertahankan tangannya memegang ujung selimut yang menutupi bagian tubuh hingga lehernya.
Menarik napas dalam-dalam, rasa nyeri itu tiba-tiba terasa kuat mencengkeram, bahkan oksigen yang masuk ke dalam paru-paru Aksa, mampu menyakiti hingga ke sel-sel tubuhnya.
"Berapa banyak uang yang kamu hasilkan sampai harus stay di hotel bersama pria itu?" tanya Aksa dengan sorot mata berkilat merah, menahan gelegak amarah yang kian menjadi.
Tak ada jawaban dari Sesil, gadis itu memilih bungkam sebab merasa tidak percaya dengan kedatangan Aksa.
"Pekerjaan apa yang kalian lakukuan tanpa dampingan dari menejer yang mengurus kerja sama kalian?" pekiknya dengan suara tertahan.
"A-aku bisa jelasin" ucap Sesil dengan terbata.
"Apa yang akan kamu jelaskan?" Aksa bertanya masih dengan sorot mata tajam. "Tentang perselingkuhan kalian, atau tanda merah di lehermu itu?"
Ucapan Aksa membuat Sesil melirik ke lehernya.
"Selama ini aku menulikan telinga ketika menerima laporan tentang perselingkuhanmu, aku membutakan mata dengan gosip yang beredar di televisi, karena apa?" ujar Aksa dengan nada sedikit tinggi. "Karena aku belum melihatnya sendiri. Tetapi mulai detik ini, aku tegaskan bahwa hubungan kita selesai" Setelah mengatakan itu, Aksa buru-buru keluar dari kamar yang menyisakan sepasang kekasih.
__ADS_1
Bersambung