Terjerat Perjodohan

Terjerat Perjodohan
baby breath white


__ADS_3

Aku menerima pesanan chatering dari teman kuliahku untuk acara aqiqah putra pertamanya sebanyak seribu dus, dan harus ku antar besok pagi sekitar pukul sepuluh. Itu sebabnya malam ini aku dan beberapa chef serta karyawanku akan lembur hingga pukul sebelas malam, dan akan di lanjut pukul empat pagi harinya.


Ketika aku tengah sibuk mempersiapkan dus, terdengar gemerincing lonceng dari arah pintu. Aku tahu siapa yang datang, karena selain mas Aksa, tidak ada lagi seseorang yang menyembunyikan lonceng seliar itu.


Suara itu membuatku yang tengah memegang steples reflek menoleh ke arah pintu masuk dapur, dan kulihat mas Aksa masih mengenakan snelinya melangkah menghampiriku. Tangan kanannya menenteng tas kerja yang ku tahu berisi alat-alat medis miliknya.


"Kamu lembur malam ini?" tanya mas Aksa sambil melangkah masuk.


Aku mengerutkan kening melihat mas Aksa berjalan gontai ke arahku, lalu meletakan tas kerjanya, dia menarik kursi dan duduk di sebelahku.


"Nggak salah masuk? ini dapur loh, nanti snelimu bau dapur"


Alih-alih menjawab, mas Aksa justru melempar pertanyaan balik. "Kamu sudah sembuh memangnya? kenapa ke restauran?" tanyanya dengan mata memicing.


"Aku ada pesanan aqiqah, jadi harus kesini, lagian kerjaanku kan nggak berat-berat amat, jadi nggak apa-apa. Lagian aku sakit tuh bukan gara-gara telat makan"


"Tapi gara-gara aku telat bangun terus kamunya darting" celetuk mas Aksa. Dan ucapannya barusan memantik bibirku untuk tersenyum.


"Bukan" sahutku cepat.


Mas Aksa langsung mengangkat satu alisnya begitu mendengar sanggahan cepatku.


"Aku kecapaian karena kamu ngajakin lembur tiap malam, jadinya sakit" aku mengatakannya tanpa melihat wajah mas Aksa, aku terlalu malu untuk menatap wajahnya, nyaliku benar-benar nggak ada sama sekali. Dan fokusku terus pada kardus bertuliskan Khansallium cafe and resto, jadi nggak tahu seperti apa ekspresinya.


"Ini mau di apain?" Mas Aksa menunjuk tisu serta sendok makan dan garpu atom.


"Kenapa?" tanyaku lembut.


"Aku bantu kerjain"


"Nggak usah, kamu ke depan saja, aku buatkan makan malam" tolakku. "Mau di buatin makanan apa?"


"Apa aja" jawab mas Aksa. "Di sini aja nggak apa-apa kan?"


"Ya nggak apa-apa kalau kamu mau"


"Mau lah, kangennya masih belum terobati, kalau udah bobo bareng baru sembuh-sembuh kangennya" kata mas Aksa masih dengan fokus tertuju ke atas meja. Dan aku nggak bisa untuk nggak tersenyum saat mas Aksa mengucap kata dobel-dobel kayak Vita.


Dan detik itu juga aku langsung memukul lengannya sedikit keras. Aku heran dengan diriku sendiri, dapat suami yang absurt dan kadar kepercayaan dirinya sangat tinggi.


Detik kemudian aku melangkahkan kaki ke arah kompor. Terlihat mas Aksa mengusap lengan bekas pukulanku, matanya lekat menatapku, sambil tersenyum jahil.


"Aku kira kamu nggak suka kekerasan"


Tak ku pedulikan tingkah mas Aksa yang terus meledekku, aku hanya meliriknya sekilas, lalu kembali meneruskan pekerjaanku.


Mas Aksa sama sekali nggak mengatakan apapun lagi, benar-benar hanya duduk sembari terus memperhatikanku memasak. Saat aku mencuri pandang, mas Aksa mengangkat dagunya sedikit semacam kode agar aku segera menyelesaikan aktifitas memasaknya.


Begitu makanan selesai ku buat, aku menghidangkannya di atas meja, lalu mengeluarkan piring dan sendok dari dalam lemari.

__ADS_1


"Makan" ujarku lebih ke memerintahkan sebenarnya.


"Kamu nggak makan?"


"Aku sudah makan tadi" jawabku lalu menopang daguku dengan tangan kiri.


"Kamu nggak ada program diet kan, jadi nggak apa-apa makan lagi"


Aku mengerjap lalu menghembuskan napas pelan. "Aku udah kenyang sayang"


Mas Aksa justru tersenyum mendengar sahutanku. "Kalau mau makan lagi, aku suapin nanti"


"Enteng sekali mas ngomong gitu" timpalku sambil berdecak sebal. "Sekalian aja cium di sini"


"Kamu mau aku cium disini?"


"Tentu saja nggak mau, kayaknya mas juga nggak mau nyium-nyium aku kalau pas ada orang"


Sunyi, aku hanya menonton mas Aksa yang sedang melahap makanan yang ku buat.


"Mas nggak merayuku dengan bahasa bunga kayak pas di Singapura?" tanyaku selagi dia menikmati suapan kesekian kalinya. Entah kenapa aku merindukan mas Aksa berceramah tentang bunga.


Mas Aksa tersenyum sembari mengunyah makannan di dalam mulut.


"Bunga baby breath putih. Aku lagi pengin memiliki bunga itu, atau setiap hari membeli bunga itu untukmu"


"Baby breath putih? Aku baru denger nama bunga itu"


"Bunga itu" ucap mas Aksa setelah menelan kunyahannya. "Dapat didefinisikan sebagai nafas bayi. Nafas bayi dapat berarti sebuah kepolosan, kesucian hingga putih bersih. Banyak pula yang memakainya untuk acara pernikahan. Yang mana memiliki arti selaras dan sakral serta hubungan yang suci agar segera melahirkan anak setelah pernikahan"


"Mas ingin aku segera hamil begitu"


"Setiap pasangan yang menikah pasti ingin punya anak kan?" tanyanya lembut. "Bukan keinginan yang harus di segerakan atau di paksakan, tetapi harapan yang semoga segera di kabulkan"


"Aamiin"


"Kembar ya?" seloroh mas Aksa. "Kembar cewek kalau bisa"


"Ish terserah yang mau kasih lah"


"Tapi kan sebagai manusia perlu usaha, dan ada tehniknya loh"


Waktu aku meliriknya, mas Aksa justru tersenyum dengan mulut penuh dengan makanan.


"Sibuk apa aja tadi di rumah sakit?" tanyaku saat kami sama-sama nggak bersuara.


"Sibuk bujukin diri supaya nggak cepet-cepet pulang padahal masih banyak kerjaan"


Sontak aku langsung memukul lengannya kembali, kali ini dengan tatapan sinisku.

__ADS_1


"Kenapa, nggak percaya?" tanya mas Aksa, dan aku nggak bisa menjawab.


"Mas" panggilku.


"Tadi siang mbak Gina ke rumah"


"Jangan kaget, dia pasti sering ke rumah nenek seperti sebelum kita menikah" respon mas Aksa sembari menikmati suapan terakhirnya. "Tapi dia nggak akan lama-lama di rumah nenek"


"Apa karena kamu sering berkomunikasi dengan Vita, jadi ikut-ikutan cara bicaranya?"


Mas Aksa mengedikan bahu. "Dia nggak aneh-aneh kan?" mas Aksa meraih gelas berisi air minum lalu meneguknya hingga tandas.


"Sedikit" balasku jujur.


"Dia bikin onar?"


"Bukan onar si sebenarnya, dia bilang kalau dia memang nggak suka sama aku"


"Loh kenapa?"


"Katanya aku udah bikin omsetnya menurun, gara-gara nikah sama kamu"


"Kok gitu?" tanya mas Aksa penasaran.


"Katanya Sesil udah nggak mau promosiin dagangannya mba Gina ke teman-teman sesama artis, dia justru menyuruh teman-temannya untuk berhenti berlangganan"


"Cuma karena itu dia kesal sama kamu"


"Hu'um"


"Nanti aku ngomong ke mbak Gina"


"Jangan mas?" cegahku cepat. "Nanti dia malah tambah nggak suka ke aku"


"Dia harus sadar kalau dia bukannya tanpa cela Sa, jadi dia nggak berhak membencimu"


"Aku cuma minta untuk nggak di perpanjang, nggak enak juga sama mas Setya"


"Aku akan tetap bicara sama mbak Gina"


"Huuftt tahu gini aku nggak cerita tadi" gerutuku lirih.


"Kamu nyesel ngomong ke suamimu?"


"Bukan gitu"


"Aku justru akan marah kalau kamu menyimpannya sendiri"


Mengatupkan bibir rapat-rapat, aku bangkit dari dudukku lalu membawa peralatan makan ke wastafel.

__ADS_1


Aku memilih menyudahi argumenku karena kalau enggak, mas Aksa pasti akan terus ngomong, karena sabarnya dia sangat minim kalau urusan begini


__ADS_2