
"Ah,, sial, kurang ajar" umpat Rendi ketika sudah sampai di taman kota.
Berkali-kali ia menghubungi nomor yang tadi mengancamnya, namun nomor itu sudah tak bisa di hubungi. Dan sepertinya tak ada satu orangpun di sekitar taman yang mencurigakan.
Membuat Rendi mengumpat untuk yang ke sekian kali.
"Awas kau! akan ku cari kau sampai ketemu"
Puas berkeliling di area taman, Rendi pun kembali berniat ke kantor.
Setibanya di kantor, Rendi menyuruh Sofyan untuk memasuki ruangannya. Ia akan bergerak cepat meminta Sofyan agar Rudito segera menandatangani persetujuan pengalihan aset perusahaannya hari ini juga.
Melihat bagaimana wanita tadi mengancamnya, membuat Rendi ingin sekali mengakhiri sandiwara dan keluar sebagai pemenang. Ia akan mengusir keluarga Rudito dari rumah karena rumah itu sudah menjadi asetnya.
Ia bergegas meraih gagang telfon di atas meja kerja, dan menghubungkan ke ruangan Sofyan.
"Ke ruanganku sekarang juga" Ucapnya dan langsung menutup panggilannya. Menaruh gagang telfon itu kembali dengan sedikit kasar.
Selang sepuluh menit, Sofyan sudah berada di dalam ruangan Rendi.
"Iya pak"
"Dapatkan tanda tangan Rudito hari ini juga"
"Tanda tangan itu sudah saya dapatkan pak"
"Apa!" sahutnya terperanjat seolah tak percaya.
"Kamu serius?"
"Serius pak, kalau bapak tidak percaya, pak Rendi bisa cek berkas ini" Sofyan menaruh Dokumen itu di atas meja. Sofyan berharap Rendi tak menyadari kepalsuan dari dokumen yang sudah di buat oleh tim Khansa selama hampir tiga bulan.
Dengan cepat Rendi meraih map berwarna hijau, ia tak mengecek sepenuhnya, yang ia ingin lihat hanya tanda tangan milik Rudito.
"Hahaha" pekiknya setelah melihat ada tanda tangan atas nama Rudito. "Kerja bagus Sofyan" lanjutnya dengan sorot penuh kemenangan. Lalu kembali menaruh map itu di atas meja.
Sementara Sofyan, sedikit bisa bernapas lega, sebab Rendi benar-benar tak menyadari bahwa dokumen itu palsu.
"Kamu boleh keluar sekarang"
"Baik pak"
Usai dari ruangan Rendi, dengan langkah lebar capur takut, ia menuju ruangan Setya.
"Masuk" ucap pemilik ruangan.
"Pak Setya, saya sudah menyerahkan dokumen itu, saya sarankan bapak secepatnya menjebloskan dia ke penjara"
"Tentu pak, Aksa dan Khansa sedang membuat laporan ke kantor polisi. Kami sudah menyerahkan semua bukti-bukti itu. Dan malam ini, keluarga kami akan menjebloskannya ke penjara" pungkasnya dengat sorot sepenuhnya ke wajah Sofyan.
"Untuk sekarang pak Sofyan bisa pulang, dan amankan keluarga sampai besok. Bapak bisa menginap di hotel untuk malam ini, takutnya Rendi tiba-tiba sadar dengan dokumen palsu itu dan langsung mencari keluarga bapak"
"Baik pak"
"Saya juga sudah menugaskan polisi untuk menjaga rumah bapak"
"Terimakasih pak Setya"
"Saya yang harus berterimakasih" Tersenyum, Setya mempersilakan Sofyan untuk segera pulang.
Nara dan Anita sudah bergerak cepat untuk menutup kantor ini lebih awal, sehingga sebagian karyawan sudah pulang ke rumah masing-masing. Sebagian lagi menunggu perintah dari Setya.
__ADS_1
Beberapa saat setelah Sofyan keluar dari ruangannya, Setya hendak menuju ruangan Rendi untuk sedikit bersandiwara.
"Om" ucapnya ketika baru saja membuka pintu.
"Eh Setya, ada apa?"
"Nggak ada apa-apa, cuma mau melaporkan bahwa semua klien kita sudah memperpanjang kontraknya"
"Itu bagus Setya"
"Om, malam ini seperti biasa makan malam di rumah kakek kan, mamah sudah ada di sana sejak tadi siang"
"Iya Setya, sekalian om mau membicarakan sesuatu"
"Membicarakan apa om?"
"Nanti saja" jawab Rendi dengan senyum miringnya.
"Apa om mau pulang sekarang? kalau iya kita bisa pulang sama-sama"
"Kamu pulang saja dulu, om masih ada urusan"
"Ya sudah aku juga akan mampir ke butik Gina untuk menjemputnya dan langsung ke rumah nenek"
******
Setya menatap jarum jam di tangannya mencoba menerka-nerka. Sedang apa Anya di dalam apartemennya. Sepulang dari rumah sakit, Setya memang menyuruh Anya tinggal di apartemennya untuk sementara waktu, sebab takut jika keberadaan Anya di ketahui oleh Rendi, atau suruhannya, membuat Setya mengungsikan Anya di apartemen. Sementara orang tua Anya sudah pulang beberapa hari lalu. Itu artinya saat ini Anya sedang sendirian di sana.
Menghembus napas berat, Setya kembali memasang seatbeltnya lalu segera melajukan mobil hendak menuju butik milik Gina.
Selama ini, Setya sudah merasa di bohongi oleh istrinya sendiri. Selain penghianatan, ia juga merasa kalau Gina sudah begitu banyak menghamburkan uangnya untuk keperluan pribadi Gina.
Bahkan Setya harus merogoh tabungannya untuk biaya listrik dan kebutuhan rumah tangga dimana seharusnya Gina yang mengatur. Sebab 70% dari gaji Setya, Ginalah yang menguasai. Sementara 30% sengaja Setya tahan untuk keperluan mendadak.
Hampir lima belas menit Setya mengendarai mobilnya, kini telah sampai di butik Gina. Namun alangkah terkejutnya ketika sepasang netranya menangkap Rendi sedang merangkul tubuh Gina keluar dari butik.
Terusik dan sesak. Ingatan Setya memutar kembali rekaman-rekaman percakapan yang dia dengar hasil dari kerja Anya, dan juga Video menjijikan tentang perselingkuhannya dengan Rendi.
Umpatan pria bodoh, pria plin-plan, dan pria datar tak romantis, terus berputar di otaknya.
Menghela napas panjang, lalu mengeluarkan perlahan, Setya menginjak pedal gas. Bukan rumahnya, atau rumah nenek tujuannya, melainkan apartemen yang saat ini di tempati Anya.
Entah kenapa Setya seperti menemukan kedamaian batin setiap kali sedang bersama wanita itu.
Meskipun usianya sangat jauh di bawahnya, tapi sikap dewasa yang dia miliki bahkan mengalahkan istrinya yang saat ini sudah ia ceraikan secata diam-diam dan sedang menunggu keputusan hakim.
"Assalamualaikum"
Tak ada jawaban, Setya langsung masuk karena dia memiliki kunci cadangan, ia berjalan menuju kamar dengan sangat pelan dan tak bersuara.
Ketika mendapati Anya tengah melaksanakan sholat ashar, Ia kembali melangkahkan kaki menuju sofa ruang tv.
Berbaring di atas sofa, lengan kanannya mendarat di bagian kening, sementara tangan kirinya di atas perut. Matanya terpejam dengan fikiran terus merutuki nasibnya.
Selang lima menit, tiba-tiba pria itu di kagetkan oleh suara Anya yang terlonjak kaget saat melihat ada seorang pria tengah tertidur.
"Siapa kamu?" pekik Anya, dan persekian detik Setya langsung bangkit lalu duduk.
"P-pak Setya" ucapnya dengan terbata.
"Anya, kamu ngagetin saya"
__ADS_1
"B-bukannya bapak yang mengagetkan saya, tiba-tiba saja tidur di sini"
Alih-alih merespon ucapannya, Setya justru mengeluh lapar.
"Saya belum makan siang, saya lapar, apa kamu punya makanan?"
"S-saya tidak punya pak, t-tapi kalau bapak mau, bisa saya buatkan"
"Baiklah saya mau" sahutnya lalu kembali merebahkan diri.
"Bapak mau di buatkan apa?"
"Apa saja"
Mendengar jawaban singkatnya, Anya langsung menuju ke dapur. Dengan gesit ia memasak tumis taoge yang ia campur dengan irisan tipis daging sapi, dan Nila bakar.
Hanya itu yang ia masak.
Setelah selesai, dengan ragu Anya membangunkan Setya lirih dan pelan.
"Makanan sudah siap pak"
Tak ada respon darinya hingga sepuluh detik.
"Pak Setya"
Karena masih belum mendapat respon, Anya memberanikan diri menyentuh lengannya lembut.
"Pak, pak Setya bisa makan sekarang"
Bergerak sedikit, Kemudian bangkit. Setya sempat terduduk hingga beberapa detik sebelum kemudian berdiri dan menuju dapur untuk mencuci tangannnya. Lalu duduk di meja makan.
Dengan cemas Anya menunggu komplenan dari pria itu karena memasak untuk dirinya hanya dua macam menu.
Namun mulai dari pria itu menyiduk nasi hingga selesai makan, mulutnya tak juga bersuara.
Syukurlah pria itu nggak komplen dengan masakanku, bahkan satu ekor nila bakarnya habis termakan.
"Anya nanti malam siap-siap ya, supir saya akan menjemputmu"
"Siap-siap pak, kemana pak?"
"Kita makan malam di rumah kakek"
"Kenapa saya harus datang?"
"Karena saya harus memberitahu kakek bahwa kamu yang sudah membongkar tentang pembunuhan papa saya dan orang tua Aksa"
"Itu tidak perlu pak"
"Itu perlu"
"Tapi untuk apa pak?"
Mendapat tatapan tajam dari Setya karena terlalu banyak protes, mulut Anya seketika terkatup rapat.
"Baik pak"
"Kamu siap-siap saja, sekitar pukul delapan supir akan datang kesini" ujarnya "Terimakasih untuk makanannya, saya permisi"
"Sama-sama pak, hati-hati"
__ADS_1
Bersambung