
Setelah aku bisa merilekskan otakku dari carut marut permasalahan rumah tangga, kini pikiranku mendadak kacau, bukan lagi karena gosip yang menjulukiku sebagai pelakor, tapi karena mbak Gina dan om Rendi yang sudah mengusik ketenangan otakku.
Memang itu bukan urusanku, tapi melihat mereka tertawa, hatiku merasa tercubit dan seolah nggak terima jika tante Ami dan mas Lasetya tersakiti.
Karena dugaan sementaraku adalah mereka menjalin hubungan. Dan entah kenapa, instingku mengatakan aku perlu menyelidiki mereka.
Menepikan mobil, Aku mencoba menuruti kata hati sembari terus berdoa semoga instingku keliru.
Saat mobil yang om Rendi kendarai perlahan melaju, aku memaksakan diri dan memutuskan untuk mengikuti mobil mereka yang sudah mulai menjauh dari area hotel.
Sambil terus mengendalikan roda kemudi, fokusku terbagi antara mobil om Rendi yang nggak boleh hilang dari pandanganku, dan juga tentang hubungan mereka.
Aku yakin ini bukan pertama kalinya, mengingat hal itu juga pernah ku lihat sewaktu di Paris.
Tapi kenapa kalian sama sekali tak terlihat canggung, nggak ada gelegat aneh yang kalian tunjukan di depan keluarga kami kalau kalian ada hubungan?.
Aku berharap firasatku ini salah, tapi jika benar, sudah berapa lama ini berlangsung di belakang tante Ami dan mas Lasetya?
Dengan jarak yang ku yakin tak akan pernah mereka sadari, mobilku terus melaju di belakang mobilnya. Aku yakin sekali jika mereka nggak paham dengan mobilku sebab aku selalu memarkirkan mobilku di depan mobil mas Aksa jika di garasi rumah.
Perlahan mobil mereka menuju kawasan rumah elit berlantai tiga. Di sini aku harus hati-hati karena tak ada kendaraan yang menutupi kendaraanku.
Aku sengaja memarkirkan mobilku di kantor pos kecil yang letaknya tak jauh dari rumah yang mereka tuju.
Melihat mobil om Rendi terparkir di depan pintu gerbang salah satu rumah mewah di kawasan sini, jantungku tiba-tiba berdetak tak karuan. Rasanya seperti ada yang meremas hatiku dengan sangat kuat. Bukan mas Aksa yang aku selidiki, tapi mampu membuatku berkeringat dingin. Aku benar-benar nggak bisa membayangkan kalau pria itu adalah suamiku.
Kini mereka tengah menunggu seseorang membukakan pintu gerbang setinggi dua meter, sempat terdengar juga dua kali suara klakson dari mobil om Rendi.
Detik berlalu, seorang Satpam paruh baya membukakan pintu gerbang lebar-lebar, nggak berapa lama seorang wanita seusia mbak Ani menyapa mbak Gina. Dari kejauhan, terlihat jelas mbak Gina memberikan uang pada wanita itu, penampilannya seperti ART, tapi apa maksudnya?
Aku benar-benar nggak bisa menerka di balik ini semua.
Si satpam kambali menutup pintu gerbang setelah di perintah oleh om Rendi, tapi hanya sebagian. Selang beberapa menit, wanita yang tadi menyapa mbak Gina keluar menggunakan motor matic.
Sepertinya aku harus bertanya pada wanita itu.
Aku kembali melajukan mobilku untuk membuntutinya.
Ketika jalanan tampak sepi, aku melaju tepat di samping motornya lalu membuka penuh kaca pada pintu mobil sebelah kiri, Aku memberi kode agar dia berhenti, dengan membunyikan klakson lengkap dengan kepalaku yang mengangguk.
Wanita itu pun berhenti, perlahan aku menepikan mobilku. Sebelum turun, aku sengaja memakai masker dan kacamata jaga-jaga agar dia tidak mengenaliku. Sebab beberapa jam lalu wajahku sempat viral karena gosip perselingkuhan dengan suamiku sendiri.
"Maaf mbak mengganggu sebentar" kataku saat sudah berdiri di samping motornya. Dia masih duduk di atas motor dan nggak mematikan mesinnya.
__ADS_1
"Iya ada apa?"
"Saya lagi cari-cari rumah pak Rendi, dimana ya?"
"Oh rumah pak Rendi, ada di sana mbak" Dia menunjuk ke arah utara dengan tangan kanannya. "mbaknya lurus saja, nanti belok kanan nggak jauh, ada gerbang dengan nomor 16 itu rumahnya. Kebetulan saya ARTnya"
"Oh mbaknya ARTnya" ucapku dengan seulas senyum, meskipun dia tak menyadari senyumku sebab tertutup masker. "Lurus terus belok kanan ya mbak?" tambahku sambil mengarahkan tangan sesuai arahan darinya.
"Iya"
"Kira-kira jam segini pak Rendinya ada di rumah nggak mbak, atau sudah berangkat ke kantor mungkin?"
"Tadi si ada mbak baru pulang sama istrinya, tapi kayaknya sebentar lagi akan berangkat ke kantor"
Mendengar apa yang di katakan oleh ARTnya, mendadak tubuhku gemetar dan lemas secara bersamaan.
"Istrinya mbak?" tanyaku kaget.
"Iya mbak"
"Istrinya Gi_" Aku sengaja menggantung ucapanku sendiri, berharap si ART meneruskan kalimatku.
"Bu Gina mbak"
Wanita itu mengangguk sebelum kemudian kembali melajukan motornya. Sementara aku, mematung tak percaya.
Om Rendi, Gina, suami istri? bagaimana bisa mereka menikah padahal sama-sama memiliki pasangan yang sah di mata hukum?
Apa mereka menikah siri? Tapi sejak kapan hubungan itu terjalin?
Entah dari mana datangnya, tiba-tiba sekelebat bayangan si kecil kukuh dan Vita memenuhi isi kepalaku. Aku merasa jika Kukuh sama sekali nggak mirip dengan mbak Gina ataupun mas Lasetya. Beda dengan Vita, hanya melihat matanya saja sudah seperti melihat mata mas Setya.
Tak ingin berlama-lama berdiri di tepi jalan, aku kembali memasuki mobilku. Sebelum menyalakan mesin, aku sedikit terganggu dengan notif pesan di ponselku yang berkali-kali mengeluarkan bunyi.
Saat ku buka, Aku sempat melirik jam yang sudah menunjukan waktu pukul sepuluh. Dari layar ponsel, terlihat ada banyak sekali notif pesan masuk dari teman-teman, Anya, Meira, mas Aksa, dan Kakek.
Aku buka pesan dari mas Aksa terlebih dulu.
Mas Aksa : "Aku udah sampai sayang"
Pesan sejak semalam dan baru terkirim pagi ini. Aku kembali membaca pesan ke dua darinya.
Mas Aksa : "Layar ponsel menunjukan indikasi sinyal kosong Sa, pengin denger suara istri nggak ada sinyal satu garispun. Baik-baik di rumah ya"
__ADS_1
Mataku sempat menghangat membaca pesannya, senyum tipis pun langsung terbit dari bibirku. Namun senyum itu nggak bertahan lama ketika aku membuka pesan video dari Kakek.
Kakek Dito : "Sa, benar di video ini kamu dan Aksa?"
Ku buka video yang dikirim kakek. Dan betapa terkejutnya saat vidio itu menampilkan aku keluar dari sebuah kamar hotel, sekian detik kemudian di susul mas Aksa yang juga keluar dari kamar yang sama, mas Aksa berlari menghampiriku lalu menyerahkan sesuatu ketika tepat di depanku.
Jantungku kembali berdetak sangat liar pas aku buka pesan video yang sama dari Meira.
Meira : "Pagi-pagi kakak keluar dari kamar hotel dan di susul kak Aksa? Kakak nginep bareng kak Aksa di hotel?" itu waktu kakak di Spore kan?"
Aku langsung membuka berita di jejaring sosial setelah membaca pesan dari teman dan keluarga. Satu judul yang berhasil membuatku mengeluarkan keringat dingin.
Hubungan terlarang seorang dokter dan pengusaha muda.
Perselingkuhan antara dokter Aksara Gallileo dan Khansa Laura Dhaniswara, membuat hubungan asmara Sesilia Ananta tak bisa lagi dipertahankan. Pasangan yang dianggap fans paling ideal itu pun resmi berpisah satu bulan sebelum pernikahan sang dokter dan pengusaha muda itu berlangsung.
Kabarnya, mereka tertangkap kamera CCTV saat menginap di salah satu hotel bintang lima di Singapura.
Sangat di sayangkan terutama oleh fans dari Sesilia Ananta, padahal hubungan mereka sudah terjalin selama dua tahun, akan tetapi tatapan cantik dari wanita pemilik restauran Khansallium mampu menggoyahkan hati Aksara.
Rekaman yang di ambil pada satu bulan lalu, menjadi bukti atas perselingkuhan si dokter tampan dengan seorang pengusaha kuliner.
Hingga berita ini viral, belum ada konfirmasi apapun baik dari Sesilia, dokter Aksara dan Khansa Laura.
Itu sebagian berita yang ku klik tadi, entah dorongan dari mana, mataku ingin sekali membaca komentar para netizen.
"Wah ternyata mereka udah bobo bareng di hotel"
"Nikah dulu dong dok baru ehem-ehem"
"Sabar ya kak Sesil, pasti ada gantinya"
"Tampan, tajir, dokter pula tapi nyelingkuhin artis top yang cantiknya kebangetan"
"Selingkuhannya nggak kalah cantik, pantesan si dokter milih doi"
"Ternyata covernya aja yang bagus, dalamnya mana tahu"
"Harusnya bawa ke KUA dulu sebelum enak-enak di hotel"
"Salut buat mbak Sesil, sabar banget dan memilih cuek dengan perselingkuhan pacarnya. Tetap semangat mbak, dokter itu bukan yang terbaik buat mbak Sesil"
Komentar itu, membuat wajahku memanas, dan persekian detik tubuhku lemas.
__ADS_1
Bersambung