
Aku memutuskan merebahkan diri di atas kasur sembari menunggu mas Aksa pulang. Dia bilang akan sampai di rumah sekitar pukul sembilan. Karena pikiranku cukup lelah, di tambah badan yang sedikit meriang, dengan mudahnya aku terlelap. Aku yang tadinya berniat menunggu mas Aksa, justru kesadaranku perlahan menghilang.
Aku terbangun hampir di pertengahan malam. Saat ku edarkan pandangan, aku merasa ada yang berubah dari sebelum aku tidur. Pintu kamar mandi yang tadinya tertutup rapat dengan lampu aku padamkan, kini terbuka sedikit dan lampu dalam kondisi menyala. Aku kembali mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, ada sebuah koper mini teronggok di samping lemari. Itu punya mas Aksa.
Saat pandanganku jatuh ke atas nakas, ada satu buket bunga mawar merah campur pink dan aku yakin pasti mas Aksa sudah pulang.
Dugaanku di perkuat dengan adanya jaket mas Aksa yang terselampir di lengan sofa, dan layar komputer di meja kerjanya menyala terang. Karena rasa penasaran yang mengusikku, aku akhirnya beranjak dari tempat tidur dan mencari mas Aksa.
Saat sudah berada di lantai bawah, aku mendengar suara dari arah dapur. Ku temukan mas Aksa tengah berdiri di sisi meja dapur, tangannya bergerak seperti sedang mengaduk sesuatu di dalam gelas. Karena arah kedatanganku dari belakang punggung mas Aksa, dia tidak menyadari bahwa aku berjalan mendekatinya.
Aku merasa sangat merindukannya saat ini. Selain itu, juga ingin meluapkan semua hal yang berkecamuk di dalam pikiranku padanya.
Langkahku kian dekat, sampai akhirnya berada tepat di balik punggungnya, aku melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya, lalu menyesap dalam-dalam aroma tubuhnya. Sendok yang tadinya berbunyi karena beradu dengan gelas, tiba-tiba tak ku dengar lagi suaranya. Detik berikutnya, ku tempelkan salah satu sisi wajahku di punggungnya.
Ku rasakan tangan mas Aksa bergerak mengusap lembut lenganku.
"Kok bangun?" tanyanya lirih.
"Aku kebangun" jawabku sambil bergerak menempelkan kening di punggungnya, kembali menghirup aroma mas Aksa yang sudah ku hafal.
"Kita tidur lagi! ucap Mas Aksa yang terdengar seperti ajakan.
"Aku baru saja bangun, nggak mungkin bisa langsung tidur lagi" aku meresponnya sambil memejamkan mataku.
"Tapi ini masih di pertengahan malam" sahutnya sembari membalikkan badan, dan otomatis tubuhku berada di dalam dekapannya. "Katanya sakit, kamu harus istirahat kan"
"Tapi aku nggak ngantuk"
"Kalau gitu kita kejar tayang yuk"
"Kejar tayang apa?" tanyaku mendongak, daguku menempel di dada bidangnya. Mas Aksa menunduk, pandangan kami pun bertemu. Wajah yang nggak aku lihat selama tiga hari, kali ini tampak kuyu, dan matanya menyorot lelah.
Alih-alih menjawab, dia malah menerbitkan senyum miring, lalu mencium bibirku kilat.
"Kita bikin Khansa kecil" Mendengar ucapan mas Aksa, persekian detik aku mencubit pinggangnya.
"Bures banget si" Celetukku lalu mengeratkan pelukanku. Tangan mas Aksa yang tadi memelukku, kini menangkup wajahku.
"Lihat, wajahmu pucat, kita lebih baik masuk kamar, kita tidur"
Setelah mengatakan itu, mas Aksa mengurai pelukan kami, tangan kirinya meraih gelas berisi minuman bervitamin yang baru dia bikin, sementara tangan lainnya menggandeng tanganku. Kami berjalan beriringan menaiki tangga.
*****
Setelah selesai memasak sarapan, aku kembali menuju kamar berniat membangunkan mas Aksa yang semalam aku paksa untuk begadang menemaniku.
Setibanya di kamar, aku tersenyum menatap wajah yang tengah terlelap dengan tenang. Saat langkahku sudah sampai di tepian ranjang, terlihat ada lipatan di dahi mas Aksa. Reflek tanganku terulur mengusap lembut kening yang memunculkan lipatan itu, dan perlahan kerutan itu pun menghilang.
__ADS_1
Ku kecup keningnya, pelan-pelan aku akan membangunkannya.
"Sudah jam delapan" bisikku di telinganya.
Mas Aksa menarik napas panjang, bukannya bangun dia justru melingkarkan tangannya di pinggangku.
"Sudah siang, hari ini ngga ke rumah sakit kan, antarin aku ke restauran" bisikku ke dua kalinya.
"Sudah jam delapan aku belum sarapan"
Mendengar kalimatku yang terakhir, mas Aksa sedikit mengangkat kepalanya, lalu mendongak menatapku.
"Kenapa belum sarapan?"
"Nunggu kamu, sekalian pengin ngomong juga"
"Ngomong apa?"
"Makannya bangun, mandi terus kita sarapan. Nanti kita bisa bicara sambil makan"
"Kakek udah berangkat ke kantor?" tanyanya sambil bergerak bangkit.
"Sudah dari satu jam yang lalu"
Selagi mas Aksa berjalan menuju kamar mandi, aku menyiapkan pakaian ganti untuknya.
...🌷🌷🌷...
"Cuma stay di restauran" Aku melirik mas Aksa sekilas lalu kembali fokus menyiduk nasi untuknya. "kenapa?"
"Harusnya Khansallium udah membaik" ucap mas Aksa sambil menyuap nasi di sendoknya.
Aku mengangkat bahuku merespon ucapannya. "Kenapa memangnya?"
"Dia sudah konfirmasi soal berita tentang kita"
"Oh ya?" sahutku "Aku nggak tahu"
"Harusnya udah di liput di berita artis"
"Seumpama ngga konfirmasi juga nggak apa-apa" balasku tanpa menatapnya. "Aku nggak peduli, yang aku peduliin malah tante Ami sama mas Lasetya"
Mas Aksa langsung berhenti mengunyah begitu mendengar ucapanku, satu alisnya terangkat sesuai gaya khas miliknya.
"Ada apa dengan mereka?" tanyanya lekat menatapku.
"Aku merasa mbak Gina dan om Rendi ada hubungan"
__ADS_1
Kini mas Aksa nggak hanya mengangkat satu alisnya, tapi dahinyapun mengernyit.
"Kamu ngomong apa si?"
Mulutku terkatup rapat, sementara mas Aksa menatapku kian dalam.
"Kamu jangan ngaco" imbuhnya.
Aku maklum jika mas Aksa nggak percaya dengan ucapanku. Itu karena mas Aksa belum melihatnya sendiri. Selain itu, mereka juga sangat pandai menutupi hubungan gelapnya.
"Aku memang nggak punya bukti" ucapku pelan, takut kalau nenek mendengar jika aku bicara keras. "Tapi aku akan coba cari bukti lain" lanjutku lalu meneguk air dalam gelas.
"Kamu nggak usah ikut campur Sa, lebih baik urusi urusan kita"
"Tapi mereka sudah keterlaluan mas"
"Keterlaluan bagaimana?"
"Ya mereka sudah diam-diam menjadi sepasang suami istri"
"Apa maksud kamu?" potong mas Aksa cepat.
"Aku akan buktikan ucapanku kalau mereka memang suami istri"
"Lebih baik kamu fokus sama diri kamu sendiri, mereka nggak mungkin ada hubungan apalagi hubungan suami istri. Jangan aneh-aneh kamu"
"Tapi aku memang melihatnya sendiri mas"
"Melihat apa? melihat mereka di paris?" tanya mas Aksa mengernyit. "Jangan mentang-mentang mbak Gina membencimu, lantas kamu fitnah dia punya hubungan dengan om Rendi, mertuanya sendiri. Ya meskipun usia om Rendi jauh lebih muda di banding tante Ami, dan dia juga kurang pantas jadi mertuanya mbak Gina, tapi nyatanya pernikahan tante sama om Rendi bertahan hingga sepuluh tahun lebih"
Wah, ini nggak bisa di lanjutin, takutnya kalau terus di bahas, mas Aksa justru akan emosi dan mengira aku yang enggak-enggak, apalagi dia sudah bilang aku memfitnah mbak Gina.
Menghela napas pasrah, otakku berfikir keras bagaimana cara membuktikan bahwa filingku itu benar.
"Aku temani kamu ke restauran, sorenya kita pulang ke rumah mami sekalian makan malam di sana"
Setelah mengatakan itu, mas Aksa langsung berdiri lalu keluar menuju ruang tengah. Selang beberapa detik, terdengar suara tv di nyalakan.
Dan yang membuat alisku menukik tajam, adalah suara di balik televisi.
"Saya memang mamihnya, tapi nggak berhak menjelaskan soal video itu. Kita tunggu Anak dan menantu saya menjelaskan ya"
Suara itu seperti suara mami. Persekian detik aku lari menuju ruang tengah, dimana mas Aksa tengah duduk sembari menatap layar televisi yang menampilkan wajah mamih.
"Kenapa mereka mengusik mamih mas?" tanyaku pada mas Aksa. "Pokoknya aku nggak mau tahu, kamu harus selesaikan ini, bila perlu kamu jujur dengan niatmu yang sebenarnya waktu itu kalau kamu akan menyewa gadis untuk menemanimu tidur, dan anak buahmu sudah salah membawaku ke kamarmu. Katakan juga kalau aku hanya korbanmu"
Entahlah aku jadi ketus dan seolah nggak terima jika keluargaku harus ikut di libatkan.
__ADS_1
Mas Aksa menatapku tak percaya, mungkin nadaku sangat ketus, jadi dia tak berani menyanggahnya. Aku langsung pergi ke dapur untuk membersihkan meja makan dan nggak berniat menunggu sanggahan mas Aksa.
Bersambung