
"Gimana mas oprasinya?"
"Dokter bilang berhasil, tapi Anya masih belum sadar" Setya menjawab pertanyaan Aksa yang baru saja kembali "Sudah registrasi?"
"Sudah. Sebentar lagi katanya mau di pindah ke ruang perawatan"
Setya merespon dengan anggukan kepalanya.
"Mas Setya sama Ita bisa pulang, nanti biar aku sama mas Aksa yang tunggu"
"Nggak apa-apa Sa, biar mas yang tunggu, kamu lagi hamil. Kamu sama Aksa pulang saja, bawa Ita ke rumah nenek, nanti suruh pak Annas ke rumah mamah suruh ambil baju ganti buat mas"
Selagi Setya mengatakan itu, Aksa mengambil alih Ita dari gendongan Setya yang sudah tertidur pulas.
"Sudah di hubungi keluarganya?" Tanya Setya.
"Aku sudah hubungi papi mas, karena papi yang tahu keluarga Anya di kampung. Anya kerabat jauh Almarhumah mami Puspa soalnya. Papi bilang keluarganya baru bisa datang besok"
"Mami Puspa?"
"Hmm, Istri pertama papi, mami kandung bang kembar"
"Oh"
"Asli dari mana memangnya si Anya?"
"Semarang mas"
"Oh"
Aksa hanya diam sambil terus menepuk-nepuk punggung Ita yang berada dalam gendongannya.
"Beneran kami yang pulang mas?" tanya Aksa memastikan.
"Iya beneran, lagi pula mas malas di rumah kalau harus ketemu Gina sama Rendi"
"Ya sudah kita pulang mas"
"Ya pulanglah, kasihan Ita pasti capek. Nanti kalau mamah tanya ke pak Anas, bilang saja mas lembur"
"Iya"
"Hati-hati kalian"
"Tadi mas Setya ngomong apa mas?" tanya Khansa saat mereka sudah di jalan pulang. "Kenapa Anya bisa tertembak, terus kenapa bisa bareng sama mas Setya?" lanjutnya sembari mengusap belakang kepala Vita yang duduk di pangkuannya.
"Kemarin malam kamu suruh mas Setya buat jemput Anya kan, nemuin dia untuk menanyakan kondisi rumah Rendi?"
"Hmm, terus"
"Nah si Anya cerita semua tentang mereka, ke mas Setya" Balas Aksa sambil terus fokus menyetir. "Terus karena mereka sama-sama libur, si Itanya ngajak jalan-jalan. Jadi seharian mereka nikamatin liburan. Pas waktunya Anya pulang, di antar sama mas Setya. Baru sekitar lima menit Anya masuk kerumah mereka, mas Setya dengar suara tembakan. Dan tahu-tahu Anya sudah berjalan terseok dengan memegangi luka tembaknya"
Khansa terhenyak mendengar penjelasan Aksa, dan detik itu juga pikirannya di buat kalang kabut. "Kira-kira ada apa ya mas?"
"Mas Setya yang disana saja nggak tahu apa lagi aku"
"Kan aku tanya, kira-kira kenapa?"
"Kira-kira ya?" jawab Aksa sambil melambatkan laju mobil karena lampu merah menyala.
"Ya antara om Rendi tahu tentang Anya yang tak lain adalah suruhan kita, atau bisa jadi hal lain. Untuk lebih tepatnya, kita tunggu Anya sadar"
"Aku jadi takut"
"Makannya mulai sekarang jangan pergi sendiri. Dan ingat, jangan makan pemberian orang lain, kecuali kamu masak sendiri"
"Kenapa memangnya?" tanya Khansa sambil memicingkan mata.
"Siapa tahu mereka suruhan Gina buat nabur sianida di makannan itu"
"Ishh.." desis Khansa lalu memalingkan wajah ke arah jedela sebelah kiri. Sementara Aksa terkekeh melihat ekspresi istrinya.
__ADS_1
"Kita tunggu saja besok, bagaimana om Rendi ngadepin kita di kantor" tambah Aksa tanpa melihat Khansa "Kamu tetap hati-hati, kalau butuh sesuatu panggil aku. Dan jangan bahas Anya di rumah, atau dimanapun, tadi mas Setya bilang kalau kejadian ini nggak boleh ada yang tahu. Kita simpan Anya tetap aman dari jangkauan Rendi dan Gina. Jangan sampai mereka bertemu setelah ini"
"Aku jadi nyesel ngirim Anya ke rumah mereka"
"Berdoa saja semoga nggak ada apa-apa sama Anya. Kita akan terus lindungi dia Karena Anya pasti jadi incaran Rendi dan Gina sekarang"
*****
Pagi harinya, Setya bangun untuk melaksanakan sholat subuh. Ia keluar dari kamar Anya dan menuju mobil berniat mengambil kain sarung. Saat membuka pintu mobil, ia menemukan slimbag milik Anya berada di atas jok. Tak hanya itu, netranya juga menangkap ponsel Anya berada di bagian bawah.
Duduk sejenak di dalam mobil, dengan tidak sopan ia membuka slimbagnya dan mulai mengobrak-abrik isinya.
Ada dompet, bedak dan lipstik, tisu, serta sisir. Pria itu meraih dompet, dan melihat isinya.
Ia menarik sebuah ID card dan membaca mulai dari nama hingga status.
Anya Larasati Devi, berusia dua puluh tiga tahun, status single, golongan darah B, Agama Islam.
"Benar kan, selisihku dengannya sembilan tahun, bahkan lebih" Gumam Setya lirih. "Tapi mereka malah mengira dia istriku" Tambahnya sembari menggeleng.
Puas dengan isi tas, kini dengan sangat lancang ia berniat membuka ponselnya. Namun tak bisa di buka karena Anya menguncinya dengan kata sandi.
Beberapa kali Setya mencoba membuka dengan berbagai kombinasi angka termasuk tanggal lahir Anya yang ia lihat di KTP, tapi tak juga berhasil, hingga layar menunjukan indikasi low baterry. Ia mendesah pelan dan akhirnya menyerah sebelum kemudian keluar dan akan membawa tas serta ponsel ke kamarnya.
Usai sholat di dalam kamar, Setya kembali merebahkan diri dan kesadarannya kembali lenyap di telan mimpi.
Perlahan Anya membuka mata dan mengedarkan pandangan ke seluruh sudut. Netranya menangkap Setya yang masih tertidur di sofa panjang dekat ranjang, dalam kondisi masih mengenakan kain sarung.
Pemandangan itu, sepersekian detik membuat jantung Anya berdetak sangat kencang. Menelan saliva, ia berusaha menormalkan kembali detak jantungnya yang menggila.
Sekian detik berlalu, ia merasakan nyeri di bagian punggung dan lengan kanan bagian atas. Dengan sangat pelan ia berusaha bangkit untuk duduk berniat mengambil air minum.
Namun usahanya sia-sia karena rasa ngilu dan perih bekas jahitan begitu terasa.
Mendengar suara berisik dari arah ranjang, Setya menggeliat dan sedikit meregang lalu mengalihkan pandangan ke arah Anya.
"Kamu sudah sadar? Kenapa nggak bangunin saya?" ucapnya seraya bangkit kemudian menghampirinya.
"Kerudungmu kotor"
Hening selama beberapa saat.
"S-saya haus pak" katanya tanpa menatap Setya.
"Ok, saya bantu minum"
Dengan bantuan Setya, Pelan-pelan Anya menyesap minumannya menggunakan sedotan.
Jarak mereka yang sedekat ini, jantung keduanya seolah saling berpacu mengalahkan detakan jarum jam. Usai melakukan itu, Setya menaruh kembali gelasnya di atas nakas samping tempat pembaringan.
"Saya panggilkan suster dulu ya" ucapnya kemudian.
"Tunggu" Cegah Anya ketika Setya hendak pergi.
Setya berbalik lengkap dengan dahi yang mengerut.
"Iya?"
"En-enggak jadi" sahut Anya gugup.
Setya kembali melangkahkan kaki menuju pintu. Selang dua detik Anya kembali memanggilnya.
"Pak Setya"
Ia yang tadinya akan memutar knop pintu, urung di lakukan karena telinganya menangkap suara Anya.
"Ada apa, apa kamu butuh sesuatu?" tanyanya saat Setya memalingkan wajah ke belakang
"H-hati-hati"
Mendengar ucapan Anya, Reflek Setya mengeratkan rahang lalu berusaha menelan salivanya. Jantung di dalam sana pun seakan ikut berontak
__ADS_1
"Iya"
"Ponsel" Gumam Anya saat ia teringat kejadian tadi malam.
"Aku harus beritahu mbak Khansa tentang rencana mereka yang akan mencelakai dirinya dan keluarganya"
"Tapi kemana ponselku, apa terjatuh? Oohh jangan, jika ponselku jatuh, tamat semuanya. Di sana ada banyak fotoku dan mbak Khansa. Kemarin juga sempat selfie sama Vita"
"Enggak"
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.
"Kamu kenapa Nya, kok pucat?" Tanya Setya.
"Ibu tidak apa-apa?" kali ini suster yang tanya.
"S-saya_"
"Saya periksa ya bu, jangan banyak bergerak dulu, ibu baru oprasi"
"Iya suster"
Dalam hati, Anya sebenarnya merutuki sang suster yang memanggilnya ibu, namun ia tak berani protes karena pasti akan terlihat konyol dan memang nggak penting untuk di bahas.
"Tunggu pemeriksaan dokter ya bu"
"Iya"
"Saya permisi dulu"
Usai kepergian si suster, Anya melihat Setya yang sedang berdiri dengan melipat tangannya di dada.
"Kenapa pak Setya senyum-senyum"
"Di panggil aunty saja nggak mau, ini malah di panggil ibu"
"Iya, apa saya setua itu?"
"Kalau boleh jujur" kata Setya dengan sorot serius. "Kamu memang terlihat seperti ibu-ibu dengan satu anak"
Mendengar kalimat Setya, mata Anya langsung melirik tajam ke arah Setya.
"Jangan ngelirik-ngelirik gitu, matamu hampir lepas dari tempatnya"
"Pak Setya mengejek saya?"
"Enggak"
"Lalu tadi apa?"
"Cuma berpendapat"
Anya merespon sanggahan Setya dengan mengerucutkan bibir.
"Pak"
"Iya"
"Apa bapak melihat ponsel saya?"
"Kenapa?"
"Nggak tertinggal di rumah pak Rendi kan?"
"Kenapa memangnya?"
"Soalnya di ponsel saya banyak foto saya dan mbak Khansa. Ada foto saya juga dan Vita kemarin, kalau sampai jatuh di sana kan bahaya"
"Ponselmu ada kok, tapi batrenya habis"
"Syukurlah" ucap Anya sambil menarik napas panjang.
__ADS_1
Bersambung