Terjerat Perjodohan

Terjerat Perjodohan
Akhirnya Aksa tahu


__ADS_3

"Mau makan nggak?, kalau nggak mama pergi"


"Ita nggak mau ma, ita kenyang"


"Ita kenyang makan apa? ayo sekarang buka mulutnya"


Aku menatap bagaimana mbak Gina mengancam Vita. Dia memang sedang disini sejak pagi. Ku dengar dari mas Setya, kalau sebelum ke kantor, mas Setya mengantar kukuh ke sekolah lalu setelahnya mengantar Vita ke rumah nenek. Dan sore ini sepulang aku dari kantor, mbak Gina sudah disini berniat menjemput Vita di rumah nenek.


Aku tahu kalau dia sedang melampiaskan kekesalannya pada anak sendiri, karena om Rendi pasti sudah cerita padanya kalau perusahaan sedang bermasalah. Aku yakin om Rendi sudah menyadari kalau dirinya terancam.


"Jangan di paksa mbak. Mungkin dia memang sudah kenyang" ucapku ketika menghampiri mereka.


"Tahu apa kamu" jawabnya ngegas "Kamu nggak tahu kalau sejak siang dia belum makan"


Begitulah kalau awalnya benci, mau sebaik apapun, aku tetap di benci olehnya. Padahal aku dan mas Aksa justru yang sering bantu dia jagain anak-anaknya.


"Ita kenapa nggak makan?" tanyaku lembut.


"Nggak lapar aunty"


"Ok kalau nggak mau makan nasi, mau makan apa?"


Tahu-tahu anak ini naik ke sofa lalu berdiri dan mendekatkan mulutnya ke telingaku.


"Mau makan yupi, tapi nggak di bolehin sama mama" bisiknya sangat lirih. "mau makan jelly nggak boleh juga"


"Ok ita makan nasi dulu, setelah itu aunty bolehin makan yupi"


"Boleh banyak-banyak?"


"Nggak dong, anak kecil nggak boleh makan manis banyak-banyak"


"Assalamualaikum" Suara yang sudah ku tahu siapa pemiliknya.


"Waalaikumsalam" jawabku. Vita langsung berlari menghambur ke gendongan mas Aksa. Anak itu lebih pantas jadi anaknya ketimbang anak mas Setya. Di tambah mas Aksanya yang suka banget sama anak perempuan.


"Nggak mau makan tuh ancle" kataku meledeknya "Jangan mau gendong anak yang nggak mau makan"


"Ooh jadi nggak makan dari siang?"


"Mau makan, tapi habis makan langsung boleh makan yupi sama jelly"


Ketika mas Aksa sudah berada di depanku, aku langsung mengecup punggung tangannya. Aku sempat melirik mbak Gina yang berjalan menuju ruang makan. Nggak berapa lama dia kembali lagi ke ruang tengah dimana kami berada lalu segera menyambar slimbagnya.


"Mama mau jemput abang les, ita harus makan, kalau nggak makan mama nggak mau bobo sama Ita"


Usai mengatakan itu dia pergi begitu saja, sementara aku dan mas Aksa saling pandang, dan Ita menyerukkan kepala di leher mas Aksa.


"Nggak sayang, mama bohong" ucapku menghibur "Ita kan mau makan ya"


"Habis makan nasi boleh makan yupi sama jelly, iya"


"Makan jelly aja, yupinya buat besok lagi, okey" kata mas Aksa.


"Euggghh" sahut Vita sambil menganggukkan kepalanya yang mungil.


Aku dan mas Aksa melangkah menaiki tangga.


"Kalian sudah pulang" tanya nenek ketika kami menapaki anak tangga ke dua, kami langsung turun kembali dan menghampiri untuk mengecup punggung tangannya.

__ADS_1


"Gina kemana?"


"Jemput kukuh les katanya" jawab mas Aksa.


"Vita sama nenek yuk. Uncle sama aunty mau mandi dulu"


"Mau ikut uncle" Tolaknya sambil menyenderkan kepala di dada mas Aksa.


"Uncle sama auntynya capek-capek, mau bersih-bersih dulu, nanti setelah itu main lagi"


Ternyata nggak cuma mas Aksa yang suka bicara dobel-dobel seperti gaya bicaranya Vita, nenek juga, dan aku pun kadang suka ikut-ikutan.


"Tapi boleh lama-lama mainnya?"


"Ok" sahut mas Aksa cepat. "Kita nanti mainnya yang lama-lama banget"


******


"Kamu baru pulang?" tanya mas Aksa.


"Iya"


"Nggak bareng sama kakek atau mas Setya?"


"Kakek masih ada urusan sama mas Setya"


"Kalian ada perombakan jabatan, perusahaan nggak ada masalah kan?"


"Nggak ada"


"Yakin nggak ada masalah?" Pertanyaan mas Aksa yang bernada mengintimidasi, seketika membuatku menahan napas sesaat, lalu menghembuskannya dengan berat hati.


Mas Aksa langsung bergeser ketika kami sampai di depan kamar kami, lalu memberiku ruang untuk membuka pintu kamar. Dia langsung menarik kursi yang ada di depan meja rias lalu duduk, sementara tangannya menarikku untuk duduk di tepian ranjang. Posisi kami yang berhadapan seperti ini, entah kenapa malah membuatku gugup.


"Kamu mau apa?" tanyaku setelah menunggu beberapa saat. Sebab dia tak kunjung bersuara. Hanya duduk diam dan menatapku lekat.


"Ada masalah apa di kantor?"


"Hah?" sahutku keheranan lalu reflek menelan ludah.


"Kenapa mas Setya sering pulang malam, dan bilang kalau dia selalu lembur di kantor pas tante Ami bertanya, dia juga lebih sering pulang ke apartemennya. Perusahaan ada masalah?"


Mas Aksa duduk dengan tangan bersedakap dan sorot mata tajamnya lurus padaku. Tak langsung menjawab, Aku terdiam sambil menatapnya.


Selang beberapa detik, aku baru bersuara. "Kamu tahu dari mana kalau mas Setya sering lembur?"


"Beberapa waktu lalu tante Ami bilang pas kami sarapan sama-sama"


"Sarapan sama-sama?"


"Waktu itu kamu dan kakek sudah berangkat ke kantor" sahutnya cepat.


Disini aku diam sembari menimbang-nimbang haruskah aku memberi tahu mas Aksa alasan kenapa mas Setya selalu pulang larut.


Sejujurnya aku baru tahu kalau mas Setya sering lembur dan nggak pulang, tapi aku sudah bisa menerka kenapa mas Setya melakukannya. Dia ingin menghindari mbak Gina dan om Rendi di rumahnya.


"Kamu benar-benar nggak tahu?"


"Aku"

__ADS_1


Mas Aksa diam tanpa melepas pandangannya dariku. "Aku apa?"


"Itu bukan urusan kita kan?" ujarku mencoba menghindar.


"Pertama, ada perombakan jabatan di kantor, ke dua, mas Setya sering lembur akhir-akhir ini, bagian mananya yang bukan menjadi urusan kita?. itu urusan kantor, jelas itu urusan kita"


Melihatku tak kunjung menjawab, mas Aksa yang tadinya duduk dengan posisi tegak dan tangan terlipat di dada, bergerak menumpukkan kedua siku di atas lutut dan kedua tangan saling bertaut. Dengan posisinya sekarang, sorot matanya jauh terlihat lebih menakutkan.


Napasku terembus berat. "Karena mas Setya..."


Aku tak sanggup melanjutkan kalimatku. Apalagi ketika mas Aksa mengangkat satu alisnya. Lidahku seolah kelu untuk memberitahukan tentang penghianatan dari keluarganya sendiri. Dan tatapannya itu mengartikan bahwa dia tengah menungguku menyelesaikan kalimatku yang menggantung.


"Mas Setya kenapa?"


"Kita mandi dulu saja gimana?"


Salah satu ujung alis mas Aksa naik. "Kenapa nggak bicara dulu, setelah itu mandi" Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku.


Aku sedikit beringsut karena hidung mas Aksa nyaris menyentuh hidungku.


Hening, aku benar-benar tak fokus. Jika aku memberitahunya, aku takut dia akan berontak dan menjadi emosi.


Sekian detik kemudian mas Aksa tiba-tiba mengecup bibirku singkat lalu berkata. "Ini bibir cuma buat pajangan doang?" celetuknya sambil melirik bibirku. "Nggak di fungsikan untuk ngomong?"


Setelah mengucapkan itu, kurasakan bibirnya kembali menyentuh bibirku. Nggak sekedar menyentuh tapi melum@tnya.


Aku hanya diam dan tak membalas ciumannya.


Baiklah, aku akan memberitahu mas Aksa sekarang. Aku membatin di tengah-tengah ciuman kami.


Usai ciuman, aku segera berdiri lalu berjalan menuju meja kerja milik mas Aksa.


Aku sibuk berkutat di depan laptop untuk membuka rekaman video dengan menyambungkan kabel di ponselku.


"Mas lihat ini" ucapku tanpa melihatnya. Dan dengan cepat mas Aksa melangkah menghampiriku.


"Apa"


Sebelum aku buka, aku menyuruhnya duduk di tempatku dan aku berjalan mengambil kursi rias yang tadi di pakai duduk oleh mas Aksa. lalu menaruhnya di samping kursi kerjanya.


"Ada apa Sa?" tanyanya dengan sorot bingung.


Sebelum bicara, aku coba menarik nafas agar bisa menyampaikannya dengan tenang.


"Setelah kamu melihatnya" ucapku tanpa ragu. Sepasang mata kami saling bertabrakan. "Kamu tolong kendalikan dirimu, kita selesaikan sama-sama okey"


"Iya tapi apa?"


"Janji ya, harus sabar dan tenang menanggapinya. Soalnya kita sudah setengah jalan mengatasi ini"


Karena sudah tidak sabar sebab bagi dia mungkin aku terlalu bertele-tele. Mas Aksa yang memiliki kesabaran minim langsung memalingkan wajah ke arah laptopku.


Tangannya bergerak di atas touchpad yang berfungsi layaknya sebuah mouse.


Ia mengetukkan jarinya mengklik folder dengan nama Video 545.


Entah seperti apa perasaannya. Yang ku tahu dia hanya diam sambil menyimak baik-baik selama video itu di putar. Terlihat jakunnya bergerak naik turun, dengan rahang mengeras seperti menahan sesuatu.


Bersambung

__ADS_1


Nantu typonya di revisi lagi ya...☺☺


__ADS_2