Terjerat Perjodohan

Terjerat Perjodohan
Mengecoh Rendi


__ADS_3

Kelengkapan dokumen untuk pengalihan nama perusahaan dan saham telah selesai di buat oleh tim Khansa.


Hari ini, Nara dan Anita yang di tugasi untuk meminta tanda tangan dari Rendi, sudah siap untuk melancarkan aksinya.


Nara akan masuk ke ruangan Rendi dan mengecohnya bahwa tanda tangan yang ia minta, adalah untuk keperluan kontrak kerja sama dengan para klien, sementara Anita akan mengganggu dengan menelfonnya, lalu mengancam tentang kejahatan yang Rendi lakukan selama ini.


Setya, Aksa, Khansa, serta Anita, akan menunggu di ruangan Khansa.


"Sudah siap Na?" tanya Setya dengan sorot serius. "Fajar bilang dia sedia senapan di laci mejanya, kamu hati-hati ya"


Mengatupkan bibir, Nara tak langsung menjawab pertanyaan Setya. Ia malah memejamkan mata berusaha menormalkan perasaan gugupnya.


"Na" panggil Anita "Jangan ekting deh"


"Entah lah Ta, aku jadi deg-degan gini"


"Aku akan mengalihkan perhatian jika dia mulai membaca dokumen itu"


"Kalau belum siap kita coba lain kali" Sela Khansa lirih.


"Aku siap. Aku ke ruangan dia sekarang"


"Nana" panggil Anita.


"Apa?"


"Normalin dulu debaran jantungmu, jangan sampai Rendi dengar detakannya, pasang betul-betul earphonenya"


"Udah si Ta" balasnya lalu meraih map di atas meja. "Aku go sekarang, ingat loh Ta, cuma satu kali deheman, kamu langsung hubungi ponselnya"


"Iya" sahut Anita


"Rilex aja Na, jangan sampai kelihatan earphonenya"


"Hemmm" Nara merespon ucapan Setya dengan deheman tanpa menatap wajahnya, lalu bergegas membuka pintu ruangan Khansa dan melangkahkan kaki menuju ruangan Rendi.


"Selamat siang pak?"


"Selamat siang"


"Ini pak, ada berkas yang harus di tanda tangani"


"Berkas mengenai apa?" tanya Rendi penuh menyelidik.


"Tentang perpanjangan kontrak" Ragu-ragu Nara meletakan map di atas meja lalu sedikit menggesernya ke hadapan Rendi. Tentu saja di iringi dengan detakan jantung yang getarannya semakin kurang ajar.


"Saya baca dulu ya?"


"Oh silakan pak"


Rendi mulai membuka berkas itu, baru saja akan membaca, ponselnya berdering membuat perhatian Rendi kini beralih ke layar yang berkedip.


Pria yang masih terlihat perkasa di usia empat puluh lima tahun itu tampak mengernyit saat melihat tak ada nama atas panggilan yang masuk ke ponselnya. Melainkan deretan nomor baru tanpa nama.


"Bapak bisa angkat dulu" ucap Nara berusaha tenang.


"Sebentar ya"

__ADS_1


"Iya pak"


"Halo"


"Halo, dengan pak Rendi?"


"Siapa ini?"


"Saya saksi penembakan atas nama Cici"


"Apa maksud kamu" Nada suaranya sedikit meninggi.


"Saya tahu semua tentang rahasia anda"


Usai mengatakan itu, Anita langsung mematikan panggilannya, membuat konsentrasi Rendi menghilang entah kemana, sementara Nara terus mendesak agar Rendi segera menandatanganinya.


"Ayo pak di cek lagi dan segera tanda tangani, biar langsung bisa saya urus mengenai kerja sama itu" desak Nara. Dan Rendi kembali memusatkan perhatian pada berkas di atas meja, namun dengan pikiran yang bercabang dan tak lagi fokus.


Kedua kalinya saat akan memulai membaca, Ponsel kembali berdering dari nomor yang berbeda.


"Halo" Sapanya sesaat setelah menggeser ikon hijau.


"Saya tahu anda pelaku pembunuhan sepuluh tahun yang lalu" Dengan sangat elegan dan santai Anita mengatakannya.


"Siapa kamu?"


"Saya saksi pembunuhan itu"


"Apa maksud kamu?"


"Akan saya kirimkan semua bukti itu ke kantor polisi"


"Perselingkuhanmu dengan menantumu mungkin" Menelan ludah, Rendi tak bisa lagi menahan raut gelisah yang tiba-tiba terlukis di wajahnya. "Atau tentang penembakan terhadap Cici"


"Jangan mengada-ada kamu?"


"Temui saya di taman kota jika rahasiamu tidak ingin terbongkar" lanjut Anita dengan ketenangan luar biasa.


"Siapa kamu sebenarnya?"


"Sudah ku bilang, saya saksi atas semua kejahatanmu. Temui saya sekarang juga jika anda ingin tahu siapa saya"


Tut..tut..


Anita kembali mematikan panggilannya secara sepihak. Hal itu membuat wajah Rendi memanas, dengan dada bergerak naik turun serta nafas yang memburu.


Sedangkan Nara kian gugup sekaligus pasrah. Yang bisa ia lakukan hanya berdoa dalam hati supaya Rendi tak sadar dengan dokumen yang akan di tanda tangani.


"Nara, ini nanti saya pelajari lagi, karena saya harus keluar saat ini juga"


"Tapi pak, klien kita meminta untuk segera di setujui. Bapak bisa baca lima menit saja dan langsung menandatangani setelah itu bisa keluar. Atau bapak tanda tangani dulu, dan bapak bisa baca nanti"


Ponsel lagi-lagi berbunyi.


"Halo"


"Saya tidak punya banyak waktu, cepat temui saya"

__ADS_1


Tut..tut.


Rasa penasaran Rendi semakin tinggi membuatnya begitu antusias menemui wanita yang bersuara lembut di balik telfon.


"Silakan bapak tanda tangani dulu, nanti salinannya saya taruh di meja bapak untuk bapak pelajari"


Tanpa pikir panjang, Rendi segera menandatangani berkas berisi pengalihan kekuasaan atas Dandelion beserta saham dan asset-assetnya kembali ke atas nama Rudito Gallileo sepenuhnya. Detik kemudian ia melangkah dengan terburu-buru hendak menemui seseorang yang menelfonnya.


"Hati-hati pak" ucap Nara sembari menyunggingkan senyum miring dengan penuh kemenangan. Ekspresi Nara, tentu saja tanpa sepengetahuan Rendi yang sudah sedang membuka pintu.


Ketika Rendi sudah sepenuhnya keluar, dan sudah lepas dari pandangan Nara, dengan cepat Ia ikut keluar dan segera berlari menuju ruangan Khansa sembari berjingkrak kegirangan serta raut wajah bahagia, seakan telah mendapat juara satu di kelasnya.


"Kita berhasill Ta" teriaknya begitu membuka pintu ruangan Khansa.


Aksa, Setya, Khansa dan Anita menatap Nara bingung.


Wanita itu langsung mengecup pipi Anita kemudian Khansa. Ketika Aksa menyodorkan pipi kanannya, calon ayah itu justru mendapat lemparan tamparan dengan menggunakan map dari tangan Nara.


"Nih, di jaga baik-baik" Nara menaruh berkas yang baru saja di tanda tangani oleh Rendi ke atas meja.


"Pria itu menandatanganinya Na?" tanya Setya.


"Hemm" sahut Nara lengkap dengan anggukan kepala dan senyum yang melebar. "Sekarang giliran kalian membongkar kejahatannya"


"Serius Na?" tanya Khansa.


"Serius lah" Nara mendudukan dirinya di samping Anita. Lalu menyilangkan kaki dengan bangganya persis seperti nyonya CEO.


Setya segera membuka berkas itu dan melihatnya dengan sorot serius.


"Kamu berhasil Na" Gumam Setya lalu menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi, ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan lembut.


Detik itu juga Aksa meraih dokumen itu dan melihatnya. Benar saja, tanda tangan itu tertera di atas materai atas nama Rendi Purnama.


"Makasih Sa, Na, Ta, kalian hebat" kata Aksa tanpa melihat ketiga wanita yang duduk berjejer di sofa panjang.


"Mendingan cepet-cepet di pecel atau di rujak deh dua orang itu, biar nggak bikin ulah lagi" ucap Anita. Bersamaan dengan itu, Pak Sofyan dan Fajar mengetuk pintu lalu membukanya.


"Pak Setya, ini dokumen palsu kepemilikan saham, yang suda terdapat tandatangan pak Rudito"


"Sudah beres kan?"


"Sudah pak Silahkan di cek"


Setya bergegas membuka lembar demi lembar, mengecek semua dokumen yang memang di cetak palsu oleh Fajar dan tim.


"Ok, tolong kamu serahkan ini pada Rendi" Setya menyerahkan kembali berkas itu ke pak Sofyan setelah mengeceknya. "Biar dia merasa seolah sudah menang dengan menguasai seluruh Dandelion. Aku ingin tahu apa yang akan dia lakukan jika dia sudah menguasai perusahaan beserta sahamnya, dimana berkas itu adalah palsu"


"Siap pak"


"Setelah ini, akan saya naikan jabatan pak sofyan"


"Terimakasih pak" balasnya sumringah.


"Pak Sofyan bisa pilih, menempati jabatan yang segera akan saya tinggalkan atau menggantikan Nara"


Pak Sofyan langsung mencari wajah Anita. "Nona Anita dan nona Nara mau resign?"

__ADS_1


"Iya saya harus kembali ke Bom & Food, sementara Nara, dia harus jadi ibu rumah tangga untuk suaminya yang juga seorang CEO"


Bersambung


__ADS_2