
Hari pertama di kantor akan aku gunakan untuk memeriksa semua laporan keuangan.
"Ingat, jangan terlalu lelah"
"Enggak sayang"
Aku mengecup punggung tangan mas Aksa lalu bergerak turun dari mobil. Ku lihat di belakang mobil mas Aksa ada mobil kakek yang di kemudikan oleh pak Annas.
Nggak lama setelah itu, pak Annas keluar dan dengan cepat membuka pintu bagian penumpang.
Sosok kakek keluar dari dalam sana, bersamaan dengan gerakan tanganku yang menghempaskan pintu mobil agar tertutup kencang.
"Aku langsung ke rumah sakit ya Sa" pamit mas Aksa yang langsung ku anggukan dengan kepala.
"Hati-hati mas"
"Kalau aku belum jemput, bisa suruh pak Annas buat anterin kamu pulang"
"Iya"
"Kita masuk sama-sama Sa" kata Kakek yang tahu-tahu sudah berdiri di sampingku.
"iya, ayo"
Sebelum pergi, mas Aksa sempat membunyikan klakson sebagai kode pamitnya.
Aku dan kakek berjalan bersisian menuju ruang kami masing-masing. Aku yang sudah dua kali berkujung ke kantor mas Aksa, nggak membuatku bingung dimana letak ruang kerjaku, karena aku akan menempati ruangan mas Aksa.
Justru yang membuatku bingung lengkap dengan dahiku yang mengernyit, adalah tatapan para karyawan. Meskipun mereka menunduk sopan dan mengucapkan salam saat berpapasan denganku dan kakek, tapi aku tahu di wajahnya terlihat gurat bingung yang jelas sekali mereka tampakkan.
Dan aku sama sekali nggak merasa heran, karena mereka pasti bertanya-tanya maksud kedatanganku pagi-pagi tanpa mas Aksa.
Ruang kantor mas Aksa dan kakek berada di lantai yang sama. Hanya saja ketika aku belok kiri, kakek masih berjalan lurus untuk sampai ke ruangannya.
"Sa, nanti pukul delapan langsung menuju ruang meeting, Fajar akan membimbingmu. Sekalian kakek akan memperkenalkan kamu kepada karyawan kalau kamu akan menempati posisi Aksa sampai waktu tak terbatas"
__ADS_1
Kakek mengatakannya sebelum aku berbelok menuju ruanganku.
"Baik kek" sahutku tersenyum. "Mari kek" lanjutku setelah ambil langkah ke arah kiri.
"Iya"
*****
Tepat pukul delapan, aku dan kakek bersama-sama menuju lantai sepuluh. Ada Fajar, dan juga pak Tris yang berjalan mengekor kami.
Pak Tris adalah asisten kakek yang aku tahu, dia menggantikan pak Roby karena pak Roby terbukti melakukan penggelapa dana. Sementara aku belum tahu kepada siapa pak Tris berpihak. Tapi menurut informasi yang kudapat dari Fajar barusan, dia adalah asisiten rektrutannya om Rendi.
Aku yakin pasti baik om Rendi maupun mas Lasetya terkejut dengan adanya aku di ruang meeting, sama seperti Fajar yang tadi sempat bengong karena tahu-tahu aku berjalan melewati ruangannya.
Memang sebelumnya mas Aksa sudah memberitahukan padanya bahwa aku akan datang ke kantor, tapi mungkin anggapan dia aku hanya menemani mas Aksa seperti biasanya jika mas Aksa harus datang kemari.
Sesampainya di ruang meeting, sudah ada jajaran direksi yang menempati kursi merrka masing-masing.
Kakek langsung duduk di kursi kebesarannya di ujung meja yang memanjang. Aku di persilahkan duduk di sebelah mas Lasetya. Di samping mas Lasetya ada Fajar dan sekertaris mas Lasetya.
"Selamat pagi semuanya" ucap kakek mengawali pertemuan meeting pagi ini.
"Selamat pagi" sahut kami kompak.
"Sebelum ke acara inti, saya ingin bertanya, apakah ada masalah yang terjadi di perusahaan kita?"
"Semua beres pak" sahut om Rendi. Selama di kantor, kami memang akan memanggil kakek dengan sebutan pak.
"Ok, kita bisa lanjut ke acara utama. Sebenarnya, tidak ada hal yang harus kita bicarakan di dalam ruangan ini. Hanya saja, saya akan memperkenalkan cucu menantu saya pada kalian, dia akan bekerja menempati posisi suaminya, Aksara"
Selama kakek bicara, mataku terus melirik ke arah om Rendi yang wajahnya kurasakan kian memerah seperti menahan sesuatu.
"Lebih tepatnya hanya membantu pekerjaan Aksa untuk sementara atau sampai Khansa sendiri yang mengundurkan diri. Saya minta kepada kalian, untuk membantunya dalam bekerja. Khansa silahkan perkenalkan diri pada karyawanmu"
"Baik kek" jawabku lalu berdiri. "Selamat pagi para jajaran direksi, Saya Khansa, saya akan menggantikan tugas pak Aksara untuk sementara, dan semua keputusan nanti akan tetap melalui pak Aksa. Mohon bantuan serta kerja samanya, terimakasih"
__ADS_1
Singkat padat, aku nggak mau terlalu banyak omong yang justru nanti akan menyita waktu.
Usai pertemuan di ruang rapat, aku memanggil Fajar untuk masuk ke dalam ruanganku. Aku berniat memberi tahu tentang kelicikan om Rendi padanya. Karena aku tidak sanggup jika harus melangkah sendiri.
Setelah Fajar, kemungkinan mas Setya yang akan aku beritahu.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Duduk pak Fajar" kataku memerintahkan.
Fajar pun segera duduk bersebrangan denganku.
Aku membuka laptop, lalu menyambungkan kabel data pada lubang laptop dan ponselku, kemudian menghadapkan layar monitor di depan Fajar.
Dia begitu terkejut begitu melihat penghianatan om Rendi dan mba Gina. Tampak beberapa kali dia menelan ludahnya sendiri dengan susah payah.
"I-ibu dapat ini dari mana?" tanya Fajar tergagap, pandangannya ia alihkan padaku, lalu kembali lagi menatap layar.
"Hanan"
"Hanan?" ulangnya seolah tak percaya.
Mengangguk pelan, aku menumpukan kedua siku di atas meja. Menyatukan jemariku untuk menopang dagu.
"Hanan pesuruh kalian"
"Apa pak Aksa tahu bu?"
"Belum. Menurutmu apa aku harus memberitahunya sekarang?"
"Kalau menurut saya jangan dulu bu, pak Aksa cenderung ceroboh, lebih baik pak Setya justru yang harus di beri tahu"
"Baiklah, besok kita beri tahu mas Setya sama-sama. Sekarang kita periksa laporan keuangan, kita Audit mulai dari bulan Januari"
"Setuju bu"
__ADS_1
Bersambung...