
Hari ini Aku dan mas Aksa akan berangkat ke Paris untuk berbulan madu. Kami akan menghabiskan waktu lima hari di sana, mengingat waktu cuti mas Aksa hanya sepuluh hari dan sudah di ambil empat hari.
Setelah dari Paris, dia akan ada tugas di Papua untuk memberikan vaksin kepada anak-anak Papua.
Sebenarnya aku kurang setuju jika harus pergi bulan madu, karena seringnya bolak-balik Singapura, jepang dan Korea, aku merasa buang-buang waktu jika harus pergi ke Paris, tapi mau bagaimana lagi, ini adalah keinginan kakek. Dan kakek Rudito adalah orang yang nggak bisa ku hindari.
"Kalian hati-hati" ucap kakek lembut. "Segera kasih kami cucu, biar rumah tambah rame" lanjutnya yang membuatku tersipu.
Kami di antar oleh kakek dan Fajar ke bandara. Dan sudah jauh-jauh hari berpamitan pada mami dan papi.
"Kakek tenang saja, mau cucu berapapun tinggal bilang ke Sasa" Seloroh mas Aksa tanpa malu.
"Kok ke aku" sambarku cepat.
"Loh kan kamu yang mau melahirkan bukan aku"
Reflek tanganku mencubit lengannya lembut, karena ucapan mas Aksa mengundang gelak tawa kakek dan Fajar.
"Tanpa pak dokter mana bisa Nona Sasa melahirkan" kali ini ucapan itu terlontar dari mulut Fajar. Aku yang suka menguliti Meira dan abang-abangku, sekarang aku merasakan gimana di ledekin sama mereka.
"Mas, kenapa harus bahas ini di depan mereka" bisikku di telinga mas Aksa.
Setelah mendapatkan bisikan maut dariku, mas Aksa langsung mengakhiri oborolan mereka dan berpamitan.
*****
"Mas lihat deh artikel ini" Aku berkata sembari memperlihatkan ponselku ke hadapan mas Aksa. Kini kami tengah duduk sembari menunggu waktu boarding pas.
Nampak sekali bibir mas Aksa bergerak membaca judul berita yang ku perlihatkan. Meskipun nggak ada suara tapi sangat jelas dari mimik mulutnya.
"Pengusaha sukses yang menjalankan bisnisnya di bidang kuliner, mampu mengambil alih seorang dokter tampan dari tangan artis ternama,"
Aku diam, pandanganku yang tadinya nggak lepas dari wajah mas Aksa, kini beralih ke tangan mas Aksa yang sedang memegang ponsel.
"Ini pasti ulahnya Sesil, sehingga para media membuat narasi seperti itu. Kita tahu bahwa Sesil memutar balikan fakta untuk menutupi kesalahannya, dengan menuduhku yang melakukan perselingkuhan, lalu menggiring opini negatif padamu"
Aku merapatkan bibir setelah mendengar ucapannya. Menghela napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
"Kalau sampai kita pulang dari Paris dan berita itu menjadi tranding, aku akan meminta Sesil untuk meluruskan tudingan miring yang dia tujukan untukmu. Media nggak akan nulis berita seperti itu kalau bukan Sesil yang mengada-ada kan?"
__ADS_1
"Seyakin itu dia akan menuruti mas untuk meluruskan?" tanyaku sambil menghempaskan punggung di sandaran kursi.
"Aku akan gunakan vidio yang di kirim Hanan sewaktu di Singapura untuk membuatnya diam"
"Vidio?" tanyaku seraya menegakan punggungku kembali. "Vidio apa?"
Alih-alih menjawab, mas Aksa justru mengeluarkan ponsel dari saku celananya, lalu membuka pesan dari Hanan yang belum dia hapus sampai detik ini. Padahal aku sempat membuka ponsel mas Aksa sebelumnya, tapi aku nggak tertarik pada percakapan antara mas Aksa dengan Hanan, yang justru tersimpan sesuatu yang kata mas Aksa bisa membungkam mulut Sesilia.
"Aku akan bilang ke media bahwa dia yang berkhianat selama ini, dengan foto-foto dan vidio yang aku punya, dia nggak akan ngebiarin aku melakukan itu, karena dia nggak mau imagenya buruk dan akhirnya popularitasnya turun"
"Ah aku lupa kalau kalian berpacaran cukup lama, jadi sudah paham satu sama lain"
Aku nggak tahu gimana ekspresi mas Aksa saat aku mengucapkan itu. Hanya selang kurang lebih tiga detik, ku lirik mas Aksa mengerutkan dahinya.
"Kamu lagi cemburu ya?" cicitnya dengan sorot mata terus menyorotiku.
"Aku, cemburu?" Enggak"
"Kamu lucu cemburunya, mukanya bisa merah gitu" celetuknya yang membuat tanganku reflek mengusap salah satu sisi wajahku.
"Cemburu kok lucu" lirihku.
"Kamu juga gini ya kalau sama mbak Sesil?"
"Gini gimana?"
"Suka godain atau gombalin"
"Enggak" jawab mas Aksa singkat.
"Nggak percaya" sinisku masih nggak menatap wajahnya.
"Dia tuh banyak sibuknya ketimbang ketemunya, aku jadinya canggung kalau mau godain dia"
Cukup lama kami mengobrol, panggilan boarding pas dari bagian informasi sudah terdengar, kami langsung berdiri begitu pengumuman itu di sampaikan.
Perjalanan udara dari Jakarta menuju paris di tempuh kurang lebih tujuh belas jam. Ketika kami sampai di bandara tujuan, mas Aksa langsung menghubungi temannya untuk menjemput kami di bandara.
Sopir temannya itu akan menjadi sopir kami selama di sini. Akan mengantar kami kemanapun kami ingin bepergian.
__ADS_1
"Kamu akrab sama temanmu itu?"
"Kalau nggak akrab nggak mungkin aku meminta sopirnya untuk jadi sopir kita. Lagi pula dia yang menawarkan sendiri"
"Oh, jawabku singkat"
Hampir setengah jam kami menaiki mobil dari bandara menuju hotel. Begitu kami sampai, mas Aksa menyuruh sopir temannya itu untuk kembali, mas Aksa juga berkata akan menghubunginya jika kami membutuhkan bantuan.
"Teman kamu menetap di sini?"
"Hmm" jawabnya sambil terus berjalan menuju kamar yang sudah kami pesan.
"Mau tidur saja kita harus jauh-jauh ke Paris"
"Karena ada sensasi tersendiri Sa"
"Enggak" Sanggahku seraya melihat-lihat interior dari hotel ini "Sama saja menurutku"
"Kamu nggak percaya?"
Aku langsung melempar tatapan tajam begitu mas Aksa mengatakan itu. Bukannya takut dengan lirikan galakku, di justru mengerlingkan salah satu matanya, dan tanganku lagi-lagi mencubit lengannya yang ku gamit.
"Kamu benar-benar suka kekerasan ya Sa"
"Omongan kamu itu yang menyebalkan"
"Kamu nggak nyadar kalau omongan kamu juga menyebalkan" sanggahnya tak mau kalah.
Kami sudah sampai di kamar hotel yang menurutku tingkat kemewahannya berada di level teratas. Bagus, itulah yang keluar pertama kali dari mulutku ketika memasuki kamar ini.
"Kamu bersih-bersih dulu Sa, setelah itu kita cari makan malam"
Mendapat interupsi seperti itu dari mas Aksa, aku langsung mengeluarkan pakaian ganti, tak lupa memilih piyama juga untuk mas Aksa kenakan.
Bersambung
Regards
Ane
__ADS_1