
"Khansa, kenapa dia ada di sini?" tanyanya dalam hati, susah payah ia menelan salivanya sendiri.
"Dia gadis yang aku beli seharga delapan puluh juta?" mendesah pelan, Aksa termangu dengan sorot tak percaya. Ia merasa dunia sedang mempermainkannya saat ini. Pertama Sesilia, lalu Khansa. "Apa yang salah dengan nasibku?" gumamnya dengan tarikan napas berat.
"Hufftt...Ku pikir kamu wanita baik-baik, tapi ternyata sama saja dengan wanita kebanyakan, kamu tidak jauh berbeda dengan Sesilia"
"Tapi tunggu" Aksa menjeda ucapannya sendiri karena tiba-tiba teringat ucapan suruhannya. "Hanan bilang dia masih perawan dan baru saja terjun ke dunia malam, itu artinya dia belum pernah melakukannya dengan siapapun"
Mengusap wajahnya dengan kedua tangan, Aksa bergerak bangkit dari duduknya. "Oohh Khansa, maaf sudah menipumu sebesar lima puluh juta di saat kamu sedang mengalami kesulitan uang"
Hening, tak ada suara apapun hingga hampir satu menit.
"Apa aku jebak saja gadis ini dan berpura-pura bahwa aku sudah menidurinya, supaya dia enggak lari dariku dan meminta pertanggungjawabanku?"
"Aah, tapi bagaimana dengan anak teman papa?, kakek pasti marah jika aku enggak menurutinya" Aksa dilema dengan pemikirannya sendiri, ia tampak sangat gusar mendapati situasi seperti ini, sementara Khansa benar-benar sudah mencuri hatinya.
"Khansa, Khansa" halaunya dengan pandangan fokus terarah pada wajah gadis yang masih bergumam lirih "Kenapa kamu memilih menjual diri?, kalau bukan aku yang membelimu bagaimana?, bodoh sekali kamu, jika kamu butuh uang, kenapa nggak minta bantuanku" Aksa terus meracau, dengan pikiran bercabang kemana-mana. Bagaimana bisa Aksa berfikir kalau Khansa akan meminta bantuannya sedangkan mereka tidak saling kenal.
"Tapi aku penasaran kenapa kita bisa bertemu di negara orang?"
Menggelengkan kepala, ia menjawab pertanyaannya sendiri "Aksa, Aksa Sudah pasti dia menjadi wanita malam kelas atas. Wajahnya cantik, tubuhnya menggoda, pantas kalau dia bisa go Internasional, dan harganya sangat mahal"
"Apa aku lebih baik menjebaknya saja, dengan begitu dia pasti akan memintaku menikahinya. Tapi jika aku menjebak dia, itu artinya aku harus membuka semua pakaiannya" Aksa menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ah tidak, aku pasti bisa mendapatkan dia dengan cara yang baik, bukan dengan cara kotor seperti itu" Ia menggelengkan kepala dengan kondisi tangan terlipat di dada.
Merasa bimbang, akhirnya Aksa memilih keluar dari kamar dan meninggalkan Khansa yang perlahan terlelap. Pria itu berniat menghirup udara malam di sekitar hotel, berusaha keras menetralisir rasa yang mengaduk-aduk hati dan pikirannya.
Saat tengah berjalan di area taman hotel, ia berjumpa dengan teman semasa kuliah, tidak begitu akrab, namun mereka saling tahu satu sama lain.
"Aksa, kamu Aksara kan?" Pandangan Aksa yang tadinya kosong menerawang jauh, kini ia fokuskan pada dua pria di depannya.
"Geris"
"Yes, I'm Geris" sahutnya lalu menjabat tangannya.
"Apa kabar Ris"
"Baik, kamu sendiri gimana nih?"
"Baik juga" balas Aksa.
"Oh iya, kenalin ini Gama" Geris memperkenalkan temannya pada Aksa. Dengan cepat Aksa menerima uluran jabatan tangannya.
__ADS_1
"Gama"
"Aksa"
"Ngomong-ngomong, ngapain malam-malam disini, sendirian pula?"
"Menghirup udara malam"
Geris tampak tersenyum seraya menganggukan kepala. "Bagaimana kalau kita duduk di cafe, kita ngobrol-ngobrol sebentar"
"Okey" Aksa menyetujui ajakan Geris, dan ini merupakan kebetulan yang di harapkan olehnya supaya dia bisa terhindar dari godaan wanita cantik yang saat ini berada di kamarnya.
"Sibuk apa sekarang Sa?" tanya Geris ketika mereka sudah duduk di sebuah kursi cafe.
"Biasa Ris merawat pasien,"
"Udah spesial, atau masih umum?"
"Spesial bedah"
"Kalian bakal nyambung nih kalau bicara soal bedah" Geris menunjuk Gama karena dia juga dokter ahli bedah.
"Oh ya" Sahut Aksa melirik Gama.
"Ada acara apa di sini Sa?" Terdengar suara air di tuang ke dalam gelas. Geris telah memesan satu botol minuman beralkohol, dan saat ini dia tengah menuang ke dalam gelas milik Aksa dan Gama.
"Liburan, kamu sendiri?"
"Aku mendampingi pasienku berobat ke sini, takut terjadi apa-apa dengan pasien, jadi pihak keluarga memintaku menemani perjalanan mereka"
"Sakit apa pasienmu?"
"Paru-paru"
"Lalu Gama?" tanya Aksa penasaran, pandangannya ia alihkan pada Gama yang sedang menyesap minumannya.
"Kebetulan aku jadi warga sini Sa" jawab Gama. "Karena Geris memberitahuku dia menginap di hotel ini, jadi aku datang menemuinya, tadinya aku menyuruhnya main ke rumah, tapi dia bilang besok sudah harus kembali ke Jakarta, jadi aku yang ngalah datangi dia"
"Jadi begitu" sahut Aksa singkat.
"Kamu bisa main kerumahnya Sa" Kata Geris.
__ADS_1
"Betul" timpal Gama, ia meraih dompet di dalam saku celananya, lalu mengambil kartu nama dari dalam sana. "Kalau disini, hubungi nomorku, atau kunjungi rumahku" lanjut Gama sambil menyerahkan kartu nama.
"Siap-siap"
"By the way Sa, sudah merrit belum?"
Aksa menjawab pertanyaan Geris dengan gelengan kepala, "Sebantar lagi kalau nggak ada halangan" lanjutnya setelah meneguk minuman memabukan dengan kadar alkohol hingga dua puluh persen.
"Jangan lupa kabar-kabar"
Tersenyum, Aksa kembali meneguk minuman di dalam gelasnya.
Hingga lewat bermenit-menit, mereka akhirnya menyudahi obrolannya. Mereka saling bersalaman sebelum kemudian berpisah.
Aksa kembali ke kamar dalam keadaan setengah sadar, membuatnya berjalan sempoyongan menuju kamar. Dia yang selama ini tidak pernah menyentuh minuman beralkohol, hanya menghabiskan setengah gelas saja sudah nyaris mabuk, dan kesadaran nyaris menghilang sempurna.
Sesampainya di kamar, dia sempat terdiam sesaat, kemudian ingatannya kembali bahwa Khansalah yang sedang tidur di kasurnya.
Berjalan menghampirinya, tiba-tiba pikiran Aksa tergiur ingin menikmati tubuh Khansa. Dalam keadaan setengah sadar, dan entah dorongan dari mana, tahu-tahu tangannya bergerak melepas kancing baju milik wanita itu. Karena merasa kesulitan, Aksa merobek pakaiannya dengan begitu kasar. Kondisi Khansa yang masih terpengaruh dengan obat bius, membuatnya sama sekali tak bergeming.
Usai melucuti semua pakaiannya, kini giliran Aksa melepaskan bajunya sendiri tanpa menyisakan sehelaipun. Kesadarannya benar-benar tidak bisa ia kuasai, kepalanya pusing, pandangan mengabur.
Ketika hendak mencumbunya, reflek kesadarannya kembali.
"Jangan" gumamnya sambil menyipitkan matanya kuat-kuat. "Aku ngga boleh menodainya. Aku memang mengagumi Khansa, tapi nggak harus merenggut kehormatannya, ini bukan cinta, ini hanya sebatas rasa kagum, atau simpatik"
Aksa berusaha keras melawan hawa nafsunya, kepalanya yang terasa berat, dan tubuh yang kian melemah, seketika menjatuhkan diri di samping Khansa.
****
Hujan turun cukup deras pagi ini, di sertai suara guntur yang cukup kuat membangunkan Khansa yang terlelap. Ia merasa tidurnya malam ini begitu nyenyak tapi saat terbangun, justru badannya terasa pegal. Perlahan ia membuka mata, netranya menangkap suasana kamar yang berbeda dari biasanya. Ketika bergerak menggeliat, tangannya terlentang menyentuh wajah seseorang, tubuhnya seketika bangkit dari tidurnya. Saat mendapati seorang pria yang tengah tertidur nyenyak, Reflek mulutnya berteriak memekikan telinga membuat Aksa seketika bangun.
"Kamu siapa?" tanya Khansa dengan dada berdetak sangat kencang. Tangannya menahan selimut menutupi tubuhnya hingga batang leher.
Kesadaran Aksa belum sepenuhnya terkumpul, ia bergerak bangkit lalu duduk menyandar pada headboard dengan bertelanjang dada. Mereka berbagi selimut dan sebagian selimutnya menutupi bagian perut Aksa hingga ke bawah, sebagian lagi membalut tubuh Khansa.
Melihat pria di sampingnya tak mengenakan baju, persekian detik Khansa menunduk membuka sedikit selimut. Betapa terkejutnya ketika dia melihat dirinya tanpa mengenakan pakaian satu helaipun.
Bersambung
Thanyou ya readers udah mau baca
__ADS_1
Regard
Ane