
Samar-samar terdengar suara kran air menyala. Suara itu berasal dari kran shower dari balik kamar mandi.
Membuka mata, Khansa melihat jam waker di atas nakas yang menunjukkan pukul sebelas malam.
Khansa sudah terlelap sebenarnya, tapi karena dia merasa ada perubahan dalam kamarnya, dimana sebelumnya hanya lampu meja yamg menyala, dan kini lampu utama kamar pun ikut menyala membuatnya tiba-tiba membuka mata.
Pintu kamar mandi yang awalnya sedikit terbuka dan gelap, kini tertutup dan menyala terang.
Perlahan Khansa menyibakkan selimut, lalu beranjak dari tempat tidur.
Snelli yang biasa di kenakan Aksa, tergeletak di lengan sofa dekat ranjang. Sementara di atas meja ada ponsel, dompet dan kunci mobil miliknya.
Selama dua hari ini, Aksa memang ke luar kota untuk membantu dokter bedah melakukan operasi bedah orthopaedi di salah satu rumah sakit di Banjar Masin. Sore tadi, dia mengabarkan akan pulang dan sampai di rumah sekitar pukul sebelas.
Berjalan keluar menuju area dapur, Khansa membuatkan teh mint hangat dan membawanya ke kamar untuk menghangatkan tubuh Aksa.
Tepat ketika Khansa kembali ke kamar dan membuka pintunya, pintu kamar mandi terbuka.
Khansa meletakan teh yang ia buat di atas nakas, lalu menghampiri suaminya yang satu tangannya tengah mengeringkan rambutnya yang basah dengan menggunakan handuk, sementara tangan kanannya terulur menerima tangan Khansa.
"Kok bangun?" tanya Aksa setelah Khansa mencium punggung tangannya.
Khansa hanya mengangguk, detik berikutnya dia berjalan menuju lemari berniat memilihkan piyama untuk Aksa kenakan.
Kening Aksa mengernyit ketika Khansa hanya diam.
"Ngapain saja selama nggak ada aku?" tanya Aksa seraya memeluk Khansa dari arah belakang, tangannya mengusap perut besar Khansa yang di perkirakan beberapa hari ke depan akan melahirkan.
"Di rumah aja si, rasanya semakin susah buat gerak. Jadinya cuma duduk aja"
"Vitamin, susu, dan makan nggak telat kan?" Tanya Aksa lagi sambil mengecup bagian belakang kepala Khansa.
"Enggak"
"Siapin sendiri atau nenek?"
"Siapin sendiri, nggak mungkin nyuruh nenek kan?" ucap Khansa sembari berbalik "Paling mbak Ani yang suka bantu"
Melingkarkan tangan di pinggang Aksa, sementara kedua tangan Aksa menangkup wajah Khansa.
Mereka saling menatap sebelum kemudian Aksa mengecup bibirnya kilat.
"Persiapkan diri, tiga hari lagi kamu akan caesar"
"Nggak menakutkan kan?"
"Enggak, aku yang akan handel operasi caesar bersama dokter martha nanti, jadi kamu jangan khawatir, dan jangan takut, aku ada bersama kalian"
"Hmm" sahut Khansa lengkap dengan seulas senyum. "Sekarang mas pakai baju terus di minun tehnya"
Usai mengatakan itu, Khansa dan Aksa saling mengurai pelukannya. Khansa kembali merebahkan diri di atas kasur selagi Aksa memakai piyamanya.
"Kita tidur sekarang ya" ucap Aksa selepas dia memakai baju dan meneguk teh mint buatan Khansa.
Khansa yang merasa kesulitan dalam mencari posisi ternyaman, membuat Aksa bangkit lalu menyuruhnya untuk tidur dalam posisi miring ke kanan memunggunginya, dan Aksa akan memeluknya dari belakang.
"Kamu harus bahagia ya, jangan ada sesuatu yang kamu pikirkan. Kalau ada yang mengganjal hati dan pikiranmu, segera ceritakan padaku"
"Aku bahagia kok" sahut Khansa.
Baik Khansa ataupun Aksa, sama-sama berharap mereka bisa membahagiakan satu sama lain, lahir dan batin.
__ADS_1
"Mas juga harus bahagia, jangan cuma menyuruhku bahagia, tapi mas sendiri nggak bahagia"
"Aku bahagia Sa" Kata Aksa sambil mengecup tengkuk Khansa. Selama kamu ada bersamaku, menjaga visi dan misi kita, dan tetap konsisten dalam komitmen yang sudah kita buat, bahagianya sudah dobel-dobel"
Hening, mereka sempat sama-sama terdiam selama beberapa menit, kemudian Khansa berbalik dan langsung mengambil kecup di kening Aksa.
"Tidurlah, sudah hampir tengah malam"
*****
Dua hari kemudian, saat siang menjelang sore, ketika Khansa tengah membuat kudapan untuk dirinya sendiri, tiba-tiba ada rasa sakit di bagian perutnya.
Ia langsung memanggil Nenek yang tengah berada di taman belakang.
Sama sekali tak mendengar panggilan Khansa yang berat, dia langsung menghubungi Aksa melalui ponselnya.
Aksa memang sudah berpesan pada Khansa untuk selalu membawa ponselnya kemanapun dia melangkah.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Ada apa sayang?"
"Perutku sakit mas"
"Perutmu sakit?" sahut Aksa dengan reaksi terkejut. "Sakit banget nggak?"
"Enggak si"
"Hanan di rumah kan?"
"Ada?"
"Iya" jawab Khansa singkat lalu memutus panggilannya.
Selagi menunggu kedatangan Khansa ke rumah sakit, Aksa menyiapkan kamar yang sudah ia sewa untuk Khansa selama proses persalinan hingga masa nifas. Ruang operasi pun juga sudah ia siapkan.
Rencananya, Aksa akan melakukan operasi caesar malam ini dengan di dampingi oleh dokter spesialis kandungan yang selama ini merawat Khansa yaitu dokter Martha Sp og, dan asistennya Sherina Amd. Keb serta beberapa suster lainnya.
Segalanya sudah di persiapkan secara matang oleh Aksa, ia benar-benar akan memberikan kenyamanan dan perawatan terbaik untuk istri serta anaknya.
Menit berlalu, Khansa sudah tiba di rumah sakit tanpa membawa apapun karena semua perlengkapan untuk calon bayinya sudah berada di kamarnya.
Begitu Turun dari mobil, Aksa segera menyambut Khansa dengan kursi roda dan mendorong sampai ke kamar.
Sudah ada mami dan papinya di sana.
Aksa langsung membaringkan Khansa di ranjang rumah sakit.
Di bantu oleh dua suster, Aksa memasang infus di lengan kanannya.
"Sakitnya gimana sayang?" tanya Aksa setelah selesai dengan pekerjaannya.
"Masih jarang-jarang si mas"
"Mau langsung operasi Sa?" tanya mami ke Aksa.
"Iya mi, aku ambil jadwal pukul tujuh nanti"
"Berikan yang terbaik ya buat Sasa"
__ADS_1
"Itu pasti mih"
"Rileks saja sayang" ucap Anjar. Dia menyuruh Khansa untuk rileks, tapi dia sendiri justru yang berdebar-debar. "Kamu yakin akan ambil tindakan untuk istrimu Sa?" lanjut Anjar bertanya pada Aksa.
"Iya pih, tapi nanti di dampingi juga sama dokter kandungan dan asistennya yang sudah ahli di bidangnya"
"Pasti papi cemas Sa, dia kan orangnya parno'an" timpal Diana meledek. "Dulu saja nangis kejer pas mami lahiran Meira, sampai di ketawain sama dokter-dokter di Singapura"
"Meira lahir di Singapura mih?" tanya Aksa mengernyit.
"Iya, Sasa dan Meira sama-sama lahir di Sana"
"Gara-gara cemburu tuh si mami, dia kabur ke Singapura" Anjar membalas ledekan Diana "Cemburu tanpa konfirmasi terlebih dulu"
"Sudah jangan di bahas"
Mereka mengobrol banyak hal, dan tentang apapun. Hingga tak terasa langit berganti menjadi petang dan gelap, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
"Masuk" Perintah Aksa.
"Ruang operasi sudah siap dok, dokter Martha dan asistennya juga sudah berada di ruangan"
"Oh okey" sahut Aksa. "Sayang kita ambil tindakan sekarang ya"
Khansa mengangguk berat.
"Jangan takut nak, mami pasti doain kamu" ucap Diana lalu mengecup pucuk kepala Khansa. Nenek dan kakek pun sudah berada di sana sejak beberapa jam yang lalu. Sementara Anjar, ada perasaan was-was, rasanya sama persis saat menemani istrinya melahirkan Meira beberapa tahun silam.
"Jangan Gerogi nak" pesan Diana pada Menantunya yang akan ikut menangani proses peesalinan anaknya.
"Iya Mih"
Entah apa yang terjadi di dalam ruangan operasi, yang jelas Aksa merasakan sesuatu yang berbeda saat membedah perut Khansa. Dia yang biasanya melakukan pekerjaannya dengan ketenangan yang luar biasa, justru merasa nervous ketika menangani istrinya sendiri.
Waktu yang biasanya berjalan begitu cepat, dan operasi di lakukan dengan begitu singkat, nyatanya kali ini segalanya seperti melambat luar biasa.
Hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu jam untuk proses Caesar, faktanya saat ini satu jam itu berlangsung sangat lama.
Di bagian rahim, Ketika sayatan secara horizontal sudah di buat oleh Aksa, detik itu juga dia sudah bisa melihat bayinya yang berjenis kelamin perempuan.
Tepat seperti tebakannya selama ini.
Detik berikutnya, Ia memerintahkan dokter Martha sebagai ahli kandungan menarik kepala bayi atau kaki.
Dengan sangat perlahan, Dokter Marta mengeluarkan bayi berjenis kelamin perempuan, dan saat itu juga teriakan bayi terdengar begitu kencang.
Ada perasaan haru dari raut wajah Aksa, ketika mendengar tangisan bayinya.
Tapi fokusnya masih tertuju pada Khansa untuk menutup kembali bagian yang tersayat.
Bayi itu di serahkan pada bidan Sherina untuk di bersihkan dan di rawat olehnya. Di ukur berat badan serta panjangnya, lalu akan membalutnya dengan baju bayi di rangkap kain bedong.
Waktu sudah berlalu, operasi berjalan lancar.
Selagi suster membawa Khansa masuk ke ruang pemulihan setelah operasi berlangsung. Perhatian Aksa beralih pada bayinya yang sudah berhenti menangis. Ia segera menyambut dan mengadzani anak perempuannya dengan penuh suka cita.
Nadine Paramita Gallileo.
...🌷E.N.D🌷...
Hayuk di bukak pesan cinta dari saya 😍
__ADS_1
Nanti aku tambahin bonchap ya..😍