
Setya mulai mendengarkan rekaman itu dengan menggunakan handset. Siku tangan kanannya bertumpu di jendela pintu sebelah kanan, punggung tangannya menempel di pelipis. Sementara tangan kirinya mendarat di roda kemudi.
"Kuatne atimu pak Setya" gumam Anya tapi pria itu tak bisa mendengar karena telinganya terselip benda kecil berwarna putih.
Buruan di selesaikan urusan kalian, mamah sudah pengin tinggal bareng-bareng, mamah kesepian tinggal sendiri. Mama pengin main sama cucu mamah.
Sabar dong mah, tinggal selangkah lagi Daddy berhasil. Bawahannya lagi usaha dapatin tanda tangan Rudito sekali lagi.
Mamah udah pengin lihat keluarga Ami Hancur. Mama masih ingat bagaimana dia membatalkan pernikahan mama dengan Gani.
Dan untung saja aku ketemu dengan daddy, yang juga dendam karena papahnya sudah di bikin masuk penjara oleh Rudito sampai meninggal di dalam sel.
Jangan lupa juga tuh si Setya di bikin nangis karena kehilanganmu, biar si Ami makin kejer liat anak semata wayangnya juga ikut hancur.
Bodo amat sama dia mah, nggak cinta juga
Nggak cinta kok bisa punya Vita.
Lupa minum pil
Usai mendengar rekaman pertama, yang mampu mencabik-cabik hatinya, Setya memutar rekaman kedua berisi tentang asset-asset mereka yang berada di luar negri serta rencana untuk meresmikan pernikahan mereka dengan pesta yang super mewah. Itu rekaman di hari yang berbeda menurut pengakuan Anya.
Menarik napas panjang, rasanya seperti nyeri saat mengeluarkannya.
Sedangkan rekaman ketiga berisi tentang Vita dan Kukuh yang ternyata salah satu di antara mereka bukanlah anak biologis Rendi. Tapi Gina akan tetap membawa Vita untuk ikut bersamanya.
Usai memutar semua rekaman. Setya dan Anya kembali terjerat kebisuan.
Anya menimbang-nimbang apakah harus mengirimkan foto pernikahan siri Rendi dengan Gina yang di gelar secara privat party sekitar delapan tahun lalu, atau mengirimkannya lain kali. Dan dia memutuskan untuk mengirimkan saat ini juga.
Ting...
Aksa yang tadinya memejamkan mata, langsung membukanya begitu ada notif pesan.
Pesan foto masuk dengan di tambahkan sebait caption yang Setya nggak tahu apa artinya.
Anya : "Cekap semanten wae, ojo di terusno, wes jelas garangan iku"
[pict]
Setelah membaca dan melihat pesan itu, persekian detik ia memalingkan wajah untuk menatap Anya. Terlihat wanita itu duduk dengan posisi santai sembari menekan bibirnya ke dalam.
Setya yang ingin bertanya apa artinya, urung ia lakukan karena tiba-tiba irama jantungnya mendadak kacau.
Menelan saliva, Ia memilih membuka laman Google untuk mencari jawaban di sana karena saking penasarannya dengan bahasa yang entah dari mana asalnya.
Cukup segini saja, jangan di teruskan. Sudah jelas itu garangan. (Semacam buaya darat)
"Buaya darat" gumam Setya yang masih di dengar oleh Anya.
"Hah? buaya darat?
__ADS_1
"Maksudmu Gina buaya darat?"
"Yang buaya darat itu pak Rendi, cocok sama garangan seperti istri pak Setya"
"Papah" Suara Vita terdengar cukup keras. kompak Setya dan Anya memalingkan wajah pada gadis kecil yang sedang melambaikan tangannya.
"Biar saya saja yang jemput ke sana. Bapak disini saja, biasanya orang patah hati ngga bisa jalan____"
"Aunty lapar"
Mendengar ucapan Vita, Anya langsung berlutut mensejajarkan tubuhnya dengan Vita.
"Kan udah di bilang panggil kakak, jangan aunty"
"Tapi enak panggil aunty"
"Nggak sekalian panggil ibu atau nenek biar tambah tua?"
Vita seperti termangu mendengar kalimat Anya yang baginya sangat asing. Dia berfikir apa maksud ucapan wanita dewasa di hadapannya.
Sementara Setya mengernyit sambil menatap lekat-lekat ke arah mereka. Ia menerka-nerka apa yang mereka bicarakan sebab kedua wanita beda generasi itu terlihat sangat akrab.
"Kenapa?" tanya Anya.
"Aunty mau di panggil ibu?"
"Bukan begitu sayang"
Anya menghela napas pelan, dia lupa kalau yang di ajak bicara adalah gadis kecil berusia kurang lebih empat tahun. Terlalu rumit kalau harus menjelaskan maksud atas ucapannya. Sebab ia masih terlalu kecil untuk bisa benar-benar mengerti.
"Ok senyaman Ita aja deh, mau panggil kakak atau aunty, aku tetep suka" kata Anya menyerah, ia kembali berdiri lalu menggandeng tangan Vita.
Pria di dalam mobil itu semakin penasaran apa yang mereka bahas.
"Papah"
"Sudah selesai lesnya?"
"Sudah. Aunty duduk di depan aja. Biar Ita nanti bisa bobo-bobo syantik"
Mendesah pelan, Anya tidak jadi masuk di jok bagian belakang. Ia menempatkan dirinya duduk di sebelah kursi kemudi.
"Pah, tadi aunty bilang mau di panggil ibu"
"Hah?" sahut Anya cepat. Ia seperti terkejut "Kapan Ta?"
"Tadi kan, masa lupa"
"Ehemm. Kita jalan ya, cari makan"
"Iya Ita lapar pah"
__ADS_1
Entah mau di taruh mana muka Anya, Ia seperti kehilangan muka di hadapan Setya, jelas malunya setengah mati. Padahal yang ia maksud bukan seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, menjelaskan pun sepertinya tidak mampu sebab Setya langsung mengalihkan pembicaraan begitu Vita mengatakan itu.
****
Seharian ini Anya, Setya dan Vita menghabiskan hari minggu bersama dengan jalan-jalan di mall, bermain time zone, dan makan bersama. Anya dan Vita tertidur di mobil setelah puas bersenang-senang. Sampai waktu hampir pukul tujuh malam, Anya pun tak jadi pulang ke kosan karena sebentar lagi ia harus kembali berakting sebagai pembantu.
"Anya, ibunya Gina namanya siapa?"
"Loh harusnya bapak tahu, bapak kan menantunya"
"Ela bukan?"
"Bukan"
"Siapa?"
"Linda"
"Ok makasih ya, tetap hati-hati"
"Iya, saya permisi pak"
Setelah Anya keluar dari mobilnya, Setya masih bertahan di area dekat rumah Gina dan Rendi.
Sejujurnya ia masih belum percaya dengan apa yang dia alami hingga berlangsung sampai bertahun-tahun.
Perlahan, Anya mulai memasuki rumah mereka. Ia merasa heran kenapa pintunya tak tertutup rapat. Pelan-pelan ia membuka pintu, tampak ada Rendi, Gina dan nyonya Linda sedang terlibat pembicaraan serius. Mendengar nama Sasa di sebut, Anya langsung mengeluarkan gawainya lalu merekam perbincangan mereka di ponselnya.
"Kenapa Daddy nggak bunuh dia aja, dia itu pengacau, aku sudah merasakannya semenjak hari pertama dia masuk ke rumah Rudito" kata Gina yang sepertinya emosinya sedang naik. "Sasa tuh sok pintar dan sok berkuasa"
"Iya Ren bunuh saja dia seperti Gani dan juga dua saudaranya itu. Kamu rencanakan pembunuhan yang sama persis seperti waktu kamu membunuh mertuanya dan juga Gani. Sampai sekarang perbuatanmu benar-benar di anggap sebuah kecelakaan"
"Aku setuju sama mamah. Bunuh sekalian Aksara sama Setya. Biar pasangan tua dan Ami tidak punya orang yang bisa di andalkan" sahut Gina dan bersamaan itu, Anya yang sedang merekam dalam videonya langsung terkejut, sampai reflek tangannya menyentuh sebuah patung hiasan di atas meja sebalah Vas bunga.
Sontak hal itu membuat Rendi, Gina dan Linda memalingkan wajahnya. Anya langsung berlari ketika mereka menyadari aksinya yang sedang merekam mereka.
"Hei kamu?" Teriak Rendi dan langsung berlari mengejar Anya. Beruntung saat ini tak ada satpam yang menjaga pintu gerbang karena jatah libur sampai pukul sembilan.
Dor..
Senapan yang di luncurkan Rendi mengenai bagian lengan Anya.
Bersambung
Fliisss jangan suruh aku bikin novel yang fanas fannas.. hot hot 😂😂😂 nanti aku kena backlis dari mi Sua.
Ngga di ijinin nulis lagi kan miris.. gini aja masih suka di komplen.. apalagi jika ada adegan lum@t *****@*..
pas suami ngintip pas yang adegan itu, dikiranya aku nulis yang itu berdasarkan pengalaman kami. langsung kena siraman rohani tujuh menit kali tujuh 😀😀
haaiissstt buresss
__ADS_1