Terjerat Perjodohan

Terjerat Perjodohan
Ektra part 1 (Menikah = janji suci)


__ADS_3

Suasana duka masih menyelimuti keluarga Rudito terlebih Ami. Dia yang memiliki rencana menyerahkan Kukuh pada anak temannya, karena tak ingin melihat wajah Kukuh pun kini menyesalinya. Ami yang selalu ingat pengkhianatan Rendi dan Gina jika melihat wajah Kukuhlah yang mendorongnya ingin memberikan Kukuh pada orang lain.


Hari ini adalah hari ke tujuh mereka melaksanakan pengajian untuk mendoakan Kukuh.


Setya yang begitu menyayangi anak laki-lakinya, Dadanya selalu bergemuruh jika mengingat kebersamaannya dengan Kukuh.


Air mata yang sejak kemarin ia tahan dan sudah menggenang di pelupuk mata, tak bisa lagi ia cegah, kini luruh sejadi-jadinya.


Bermenit-menit lamanya ia terisak dalam kesendirian di dalam kamar Kukuh, tiba-tiba ada yang mengusap punggungnya lembut.


"Papah"


Mendengar suara dari anak gadisnya dari balik punggung, Ia langsung menoleh ke belakang. Terlihat sangat jelas mata sang putri yang begitu sembab. Persekian detik, ia merengkuh tubuh mungilnya erat-erat.


Rasanya, ia tak ingin lagi kehilangan putrinya di kemudian hari. Ia berjanji akan menjaganya dan tak akan pernah memberikan kesempatan pada orang lain untuk menyakitinya.


"Abang nanti tumbuh jadi pohon ya pah?" Pertanyaan yang juga Vita tanyakan pada Anya beberapa waktu lalu. "Abang kan di tanam, nanti tumbuhnya jadi pohon, namanya pohon anak sholeh"


"Kata siapa?"


"Aunty Anya" sahut Vita sembari menghapus jejak kristal bening di pipi Setya "Aunty Anya bilang, kita harus siram pohon Abang dengan doa, biar bisa tumbuh jadi pohon yang sholeh, nanti Papah sama mamah bisa berlindung di bawah pohonnya abang kalau kepanasan"


Menelan saliva, Setya terhenyak mendengar ucapan Vita. Tak pernah ia sangka bahwa putrinya selalu mengingat dengan baik apa yang orang lain katakan.


"Aunty Anya bilang apa lagi?"


"Aunty Anya bilang, Vita nggak boleh sedih banyak-banyak, nanti abang nangis terus di dalam tanah, terus pohonnya jadi nggak bisa subur"


"Anak pintar. Selalu ingat kata aunty Anya ya, jangan sedih banyak-banyak"


"Papah juga nggak boleh sedih-sedih"


"Iya"


Selang sekian detik, Anya yang merasa di titipi Vita, ia menatap heran sekitar saat Vita tak lagi berada di sampingnya. Menoleh ke kiri dan kanan, netranya sama sekali tak menangkap keberadaan Vita. Ia melirik ke arah Kakek, nenek, Aksa dan khansa yang tampak sedang khusyu membaca surah Yaasin untuk mendoakan Kukuh.


Dimana Ita?


Ia yang duduk di lantai, Pelan bergeser mundur lalu bangkit dari duduknya dan mencari Vita.


"Lihat Ita teh?" tanya Anya pada teh Enok ketika di dapur.


"Enggak mbak, tadi saya lihat duduk di samping mbak Anya kan?"


"Iya tapi tahu-tahu nggak ada"


"Mungkin sama papahnya di kamar mbak"

__ADS_1


"Bisa bantu saya mencarinya?"


"Bisa mbak. Mari kita cari di kamar pak Setya" ajaknya lalu melangkah menaiki tangga.


Ketika sudah sampai di depan kamar Setya, Anya berhenti dan menyuruh Enok untuk mengetuk pintu kamarnya. Rasanya tak elok jika dia harus melihat kamar pria yang belakangan ini membuat jantungnya kebat-kebit. Ia berusaha keras mencari alasan supaya tidak ikut masuk ke dalam kamar pria itu.


"Teh ini kamarnya pak Setya?"


"Iya mbak"


"Kamar Vita yang mana ya mbak, biar saya cari ke kamarnya, teh enok cari di kamar pak Setya"


"Kamar Ita yang ini mbak, barengan sama kamar abang"


Teh Enok menunjuk pintu kamar tepat di depan kamar Setya.


"Kalau gitu, saya yang ke kamar Ita"


Anya yakin kalau Ita pasti sedang di kamar papahnya, itu sebabnya dia memiliki ide untuk mencarinya di kamar Vita supaya bisa terhindar dari sorotan mata Setya yang selalu membuatnya salah tingkah.


Perlahan Anya membuka pintu yang di yakini bahwa kamar ini kosong.


Tapi ternyata instingnya keliru. Disana sangat terlihat jelas, pria dewasa sedang duduk di lantai, dengan punggung bersender pada sisi ranjang sambil memangku gadis kecilnya.


Anya tercengang ketika sepasang matanya langsung bertemu pandang dengan Setya.


"Aunty" Panggil Ita yang masih menyisakan suara parau.


Anya tersenyum merespon panggilan Vita.


"Ya sudah kalau Ita disini, aunty turun lagi ya"


Alih-alih menjawab, Ita justru berlari menghampiri Anya dan berdiri di depan Anya dengan kepala terdongak.


"Aunty Anya sini" ajak Ita seraya menarik tangan Anya. "Papah sedihnya banyak-banyak, aunty tolong peluk papa, supaya nggak sedih lagi. Ita kalau di peluk aunty juga sedihnya hilang"


Ita mengatakannya sembari terus menarik tangannya.


"Ita aunty harus turun lagi, buat doain abang"


"Peluk Ita sama papa sebentar, nanti boleh ngaji lagi"


"Ita" panggil Setya yang sudah berdiri sejak beberapa detik lalu. "papah nggak boleh peluk-peluk aunty"


"Kenapa?" tanyanya polos.


"Kan papa cowok aunty cewek, jadi nggak boleh peluk-peluk"

__ADS_1


"Ita kan juga cewek, tapi papa boleh peluk-peluk Ita" ucapnya masih dengan kepala mendongak, sebab level mata mereka sangat jauh.


"Kan Ita kecil-kecil, jadi boleh, kalau Aunty Anya kan udah gede"


"Tapi Ita pernah lihat papa peluk-peluk mama, kan mama udah gede juga kayak aunty"


"Tapi kan papa udah menikah sama mama, jadi boleh peluk-peluk"


"Terus papah belum menikah sama aunty Anya?" tanyanya polos, menatap Setya dan Anya bergantian.


Setya mengangguk, sementara Anya sedari tadi hanya diam sambil menyimak percakapan ayah dan anak yang terkesan seperti adu debat.


"Menikah itu apa pah?"


Anya tanpa sadar berdehem pelan, membuat Setya melirik ke wajah Anya.


"Menikah itu janji suci biar bisa saling peluk"


Mata bulat Ita mengerjap, seperti tengah memikirkan sesuatu. "Berarti papah harus janji dulu ya, biar bisa peluk-peluk aunty?"


Ya Tuhan, kenapa jadi muter-muter gini. Anya membatin.


"Iya begitu"


"Terus janjinya apa?"


"Ya janji menikah" jawab Pria yang masih sabar menjawab pertanyaan putrinya meski raut wajahnya sempat terlihat kebingungan.


"Ya udah sekarang papah janji"


"Ita, kalau mau menikah, mau janji, harus ada persetujuan dari semua belah pihak" jelas Anya berharap Vita tak lagi mempertanyakannya.


"Semua belah pihak itu siapa?"


"Belah pihak itu kayak papah, aunty Anya, oma, kakek dan nenek, papa mamanya aunty juga"


Usai Setya menjawab pertanyaan Ita, Anya mengajaknya keluar, karena dia tak mau lagi terjebak dalam situasi yang semakin sulit.


"Kita ngaji lagi yuk"


Cukup lama Ita mengiyakan ajakan Anya, sebab gadis itu masih sibuk mencerna jawaban dari sang papah.


"Ayuk"


Anya segera menggandeng tangan Ita dan melangkah meninggalkan kamar.


*****

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2