Terjerat Perjodohan

Terjerat Perjodohan
Pagi hari di paris


__ADS_3

Aku menghela napas berat ketika mendapati mas Aksa masih nyaman di posisinya. Padahal ini sudah lewat pukul delapan pagi, tapi dia seolah membutakan mata bahwa hari sudah siang.


Seperti kesepakatan saat subuh tadi, kami memutuskan akan tinggal seharian di dalam hotel. Selain kondisi badanku yang seakan remuk, mas Aksa juga tak tega jika harus membawaku bepergian dalam kondisi nyeri di salah satu bagian tubuhku.


Sambil menghirup udara paris dari balkon, sesekali aku melirik mas Aksa yang masih bergelayut manja dengan selimut tebalnya. Dia tidur masih dengan tanpa pakaian, jadi nggak berani keluar dari sarangnya karena selain dinginnya AC, suhu udara di luar juga sudah mulai dingin karena saat ini di paris sedang berada di pertengahan musim gugur. Itu artinya sebentar lagi akan berubah menjadi musim dingin, hingga saking dinginnya sampai-sampai turun salju.


Saat pandanganku beralih pada ranjang yang berantakan, ku lihat mas Aksa menggeliat, aku kira ada tanda-tanda bangun, ternyata enggak. Dia justru kembali meruyup ke dalam selimut, bersamaan dengan itu, wajahku terasa hangat ketika ingat apa yang sudah ku lalui di sana semalam.


Menghembuskan napas, aku berjalan masuk menuju kursi dekat tempat tidur. Ku raih mug berisi teh matcha jepang yang sudah tidak sepanas ketika aku memesannya.


Menyesapnya pelan, sembari melihat siaran berita di tv pagi ini.


Samar ku dengar helaan napas panjang dari mas Aksa dan seketika ku alihkan pandanganku menatapnya. Dia yang sudah terduduk di tepian ranjang, langsung bertemu pandang denganku.


"Sudah sarapan?" tanyanya lalu menguap.


"Aku menunggumu?"


Nampaknya mas Aksa langsung melirik jam setelah aku mengatakan itu.


"Sudah lebih dari jam sembilan kenapa nggak pesan makanan dulu"


"Makannya kamu bangunnya pagi-pagi" sahutku lalu menyesap manisnya teh matcha.


Ku lirik mas Aksa berjalan menuju kamar mandi. Detik berikutnya aku membersihkan tempat tidur kami yang sangat berantakan dan tak sebersih sebelumnya. Usai membereskannya, kini giliran menyiapkan baju untuknya.

__ADS_1


Selang beberapa menit, aku kembali duduk di kursi sembari menikmati kue kering yang memang di sediakan oleh pihak hotel.


Suara pintu membuatku memalingkan wajah ke arah mas Aksa. Dan sosoknya tengah berjalan santai sambil mengeringkan rambut dengan handuk. Masih bertelanjang dada, mas Aksa menghampiriku, lalu mencondongkan badan di depanku dan mencuri kecup di bibirku. Menarik sekaligus menggeser kursi dan menempatkannya di sampingku seraya meraih cangkir teh lemon hangatnya.


Aku meletakan mug yang ku pegang, lalu menggantikan tangannya mengeringkan rambutnya.


"Mau pesan makannan, atau kita keluar?" tanya mas Aksa setelah meletakan cangkir dia atas meja.


"Kita keluar saja gimana?" usulku sambil menyampirkan handuk di lengan kursi yang ku duduki dan mas Aksa langsung menoleh.


"Kenapa lihatin aku kayak gitu?" tanyaku sambil merapikan rambutnya yang sudah setengah kering.


"Kamu udah nggak apa-apa?"


Pertanyaannya membuatku tertawa, dan nggak berapa lama, dia ikut mengulas senyum dengan sorot sepenuhnya menatapku lekat-lekat.


"Memangnya kamu, nyebelin, datar pas aku nabrak mobil kamu."Apalagi jika nyetir sambil melamun, bahayanya nggak cuma buat kamu, tapi buat orang lain juga" Sindirku mengulang ucapan mas Aksa saat pertama kali bertemu.


"Ingat nggak muka kamu pas ngomong gitu?"


"Kenapa memangnya?" tanyanya sambil memicingkan mata.


"Mukanya kayak mau ngajak aku berantem"


Sontak mas Aksa tertawa, dan entah kenapa aku senang melihatnya riang seperti ini. Sejak aku menyetujui rencana papi, dan ajakan mas Aksa untuk menikah, aku benar-benar membuka diri untuknya. Apalagi dia yang seorang yatim piatu, aku nggak tega kalau harus menyakitinya dan membuatnya sedih. Layaknya sebuah buku, rasanya ingin terus membuka lembar demi lembar, hingga di lembar terakhir. Ingin mengulang kembali awal-awal pertemuan kami, serta kejadian yang membuat kami sama-sama shock terutama kejadian saat kami terbangun dalam satu ranjang dan satu selimut, dengan kondisi badan tak mengenakan pakaian.

__ADS_1


Saat tawanya mulai reda, dan kami melakukan kontak mata, mas Aksa menggeser kursinya agar lebih dekat denganku, lengannya tiba-tiba terulur merangkul bahuku sedikit menariknya, lalu tanpa mengatakan apapun bibir kami bertemu.


Hangat dan lembut, hingga tak ku sadari tahu-tahu mas Aksa membopongku lalu membawaku dan membaringkanku di atas tempat tidur. Kami hanya saling menatap dan berbalas senyum ketika pertemuan bibir kami urai. Wajahnya kembali mendekat ke wajahku hingga aroma nafasnya yang wangi menusuk hidungku sekaligus membuat bulu kudukku kian meremang.


Dan akhirnya, kami mengulang aktivitas kami semalam.


*****


"Mau makan apa?" tanyaku ketika kami sudah berada di restauran.


"Aku ikut kamu" jawabnya tetap fokus menatap layar ponselnya.


Mendengar jawabannya, aku langsung memilih menu yang ku sukai. Meskipun aku belum tahu apa yang dia suka, tapi cukup paham jika mas Aksa nggak suka makan pedas, asam, serta goreng-goreng yang mengandung banyak minyak. Dan makannan itu yang harus ku hindari.


Selagi menunggu menu siap, mataku seolah di buat takjub dengan interior restauran, membuat jiwaku ingin meniru tata letak, dan suasana yang seperti ini untuk kemajuan restauran-restauranku. Dan ketika mataku terus menyusuri sudut ruangan, mataku melebar saat menangkap sosok yang nggak asing bagiku.


Sosok itu seperti mbak Gina dan om Rendi, suami tante Ami, yang tak lain adalah ayah sambung mas Lasetya. Mereka berjalan keluar dari area restauran. Mungkin jika kami datang kesini lebih pagi, akan bertemu dengan mereka.


Tapi aku nggak yakin juga si, karena kami bertemu hanya dua kali, aku belum begitu paham dengan wajahnya, apalagi saat ini aku melihatnya dari kejauhan, dan aku berharap dugaanku ini salah.


BERSAMBUNG


Untuk novel melewatkanmu, mohon maaf ya, bener-bener nggak bisa lanjut.


karena ada banyak cerita yang menyerupai, seperti komen di sini, jadi aku stop publish.. karena memang aku pribadi kurang sreg jika novel yang aku buat sama dengan novel orang lain, cuma beda nama dan tempat saja 😀😀😀

__ADS_1


kalau mau lanjut baca, bisa langsung ke author yang punya plot dan alur seperti melewatkanmu ya...😀😀



__ADS_2